
Davin dan Aluna turun dari kamarnya menuju lantai bawah untuk sarapan kemudian ke kantor. Namun, saat sampai di meja makan mereka tidak melihat kedua orang tuanya.
"Ayah sama Mommy mana, Mbok?" tanya Davin saat Mbok Nah datang menyiapkan sarapan mereka.
"Tuan dan Nyonya sedang ke rumah sakit menjemput Nona Shania karena Nona Shania sudah boleh pulang Tuan Muda," jawab Mbok Nah sopan.
"Kak Shania mau pulang kemana, Mbok?" tanya Davin lagi. Aluna hanya fokus mengambilkan sarapan untuk Davin.
"Ke Mansion ini Tuan Muda, karena Tuan Marvel tidak bisa cuti." Mendengar jawaban Mbok Nah wajah Davin tersenyum sumringah.
"Benarkah?" tanya Davin antusias dan itu tidak luput dari pendangan mata Aluna.
Begitu bahagianya kamu mendengar akan ada bayi di rumah ini.
Aluna menghembuskan nafasnya kasar sambil melahap sarapan itu.
"Kamu dengar sayang? Bayi Kak Marvel bakal di bawa kesini dan rumah ini akan ramai," ucap Davin heboh. Aluna menyunggingkan senyumnya, senyum yang Aluna paksa.
"Aku bisa belajar mengasuh bayi kak Shania, jadi jika aku punya anak nanti, aku sudah terbiasa." Ada nada getir dalam suara Aluna dan Davin menyadari itu. Dia menggenggam tangan Aluna erat, memberi kekuatan bahwa semua baik-baik saja.
"Ayo sayang kita berangkat," ajak Davin begitu sarapan mereka telah habis. Mereka berdua berjalan keluar Mansion. Asisten Jo telah menunggu mereka diluar.
"Em aku mau naik motor saja boleh tidak? Sekali ini saja," pinta Aluna lirih, dia takut Davin marah. Davin menatap Aluna penuh arti.
"Aku mohon kali ini saja," Aluna menangkupkan tangannya dengan muka yang memohon. Davin menggangguk pelan meski hatinya tak rela tetapi melihat wajah memohon Aluna, dia menjadi tak tega. Melihat Davin mengangguk, Aluna langsung sumringah.
"Terima kasih banyak sayang," Aluna mencium punggung tangan Davin lalu mengecup pipi Davin. Tubuh Davin menegang, jarang sekali Aluna mau mencium dia terlebih dulu.
"Sebegitu bahagia nya kah kamu bisa naik motor sendiri?" Davin menatap Aluna yang sedang bersiap mengendarai motornya dengan senyum yang mengembang.
"Tentu saja Tuan. Bukankah anda tahu Nona Aluna itu seorang pembalap motor, sudah pasti motor itu separuh hidupnya Tuan," sahut Asisten Jo.
__ADS_1
"Kita ikuti dari belakang, Jo." Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Dari dalam mobil Davin menatap Aluna yang sedang memakai headset dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Tidak lupa juga helm serta body protektor lainnya.
"Ayo sayang, mamahmu ini lagi galau. Kita lepaskan beban hidup mamahmu ini," kata Aluna sambil menstarter motornya. Asisten Jo mengikuti di belakangnya. Begitu keluar dari gerbang mansion, Aluna langsung melajukan motornya dengan sangat kencang membuat Asisten Jo tidak bisa mengikutinya sama sekali membuat Davin di dalam mobil menggeram kesal.
"Kita kehilangan jejak Tuan," kata Asisten Jo karena mobil mereka terjebak macet.
"Sial!" umpat Davin kesal sambil menendang jok belakang kemudi. Asisten Jo hanya menghela nafas panjang. Asisten Jo pun melajukan mobilnya menuju ke perusahaan karena mereka yakin Aluna pasti sudah sampai di kantor.
🍀🍀🍀🍀🍀
Davin menatap layar CCTV tapi dia tidak melihat keberadaan Aluna sama sekali. Bahkan, dia menatap seluruh penjuru tampilan CCTV tetapi tidak ada satupun postur tubuh Aluna yang terlihat.
"Kenapa Aluna tidak kelihatan Jo? Ini sudah jam masuk kantor bahkan tadi Aluna pergi dulu, kenapa dia belum terlihat sama sekali,"
"Mungkin Nona Aluna sedang mampir di suatu tempat Tuan," Davin langsung bangun dan beranjak pergi sedangkan Asisten Jo hanya mengekor di belakangnya.
Begitu sampai di ruangan Aluna, Davin langsung masuk begitu saja dan melihat ketiga rekan kerja Aluna yang sedang fokus pada pekerjaannya.
"Ti-tidak tahu Tuan, dari tadi Aluna belum datang," kata Mila terbata, sesaat kemudian dia langsung menutup mulutnya.
"Maksud saya Nyonya Muda Alexander," Mila meralat ucapannya karena Davin yang menatapnya tajam.
"Apa dia tidak menghubungi kalian sama sekali?" tanya Davin penuh penekanan.
"Tidak Tuan," jawab mereka bertiga kompak. Davin mengusap wajahnya kasar.
"Kemana dia?" Disaat Davin sedang bingung, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengambil ponsel itu dan melihat nama Ardian tertera di layar. Davin segera mengangkat panggilan itu.
"Hallo, Kak Davin di mana?" tanya Ardian dari seberang telepon.
"Di kantor. Ada apa?" Davin balik bertanya.
__ADS_1
"Apa kakak sedang ada masalah dengan Kak Aluna?" Davin menautkan kedua alisnya karena bingung dengan pertanyaan Ardian.
"Tidak, kami baik-baik saja. Tadi pagi sarapan bersama , hanya saja Aluna meminta ke kantor naik motor tapi sampai sekarang dia belum sampai kantor," Terdengar helaan nafas panjang dari seberang telepon.
"Kak, Kakak bisa datang saja ke Danau di wilayah XX , Aku yakin kak Aluna pasti disana. Barusan aku gak sengaja lihat kak Aluna kebut-kebutan di jalan dengan memakai body protecktor lengkap, jika Kak Aluna seperti itu, tandanya hati kak Aluna sedang tidak baik-baik saja," Davin terpaku mendengar ucapan Ardian.
Apa yang membuat hati Aluna tidak baik-baik saja? Bukankah kita berdua tidak ada masalah? Davin bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kak, Apa Kak Davin masih mendengarku?"
"Iya, Kakak masih dengar,"
"Kak, kalau Kak Davin mau nyusul Kak Aluna ke Danau, jangan marahi dia ya Kak. Aku tutup dulu teleponnya, kelasku sudah masuk," Panggilan itu terputus.
"Kenapa dia selalu saja menguji kesabaranku," Davin berteriak kesal. Ketiga rekan Aluna hanya terdiam tidak berani mengangkat kepalanya.
Selalu saja seperti ini. Kalian berdualah yang selalu menguji kesabaranku Tuan, Nona.
"Jo, kita ke danau di wilayah XX sekarang," perintah Davin marah, walaupun Ardian sudah mewanti -wanti agar tidak memarahi Aluna tetapi Davin tetap saja kesal karena Aluna selalu bertindak semau sendiri.
Asisten Jo melajukan mobilnya ke Danau itu. Begitu sampai Danau, dengan tidak sabar Davin langsung keluar begitu saja dan mencari keberadaan Aluna. Setelah mendekati Danau itu. Dia melihat Aluna yang sedang duduk membelakanginya sambil melempar batu ke danau itu dan ada satu box besar ice cream tergeletak di sampingnya. Davin hendak mendekat, tapi langkahnya langsung terhenti mendengar Aluna yang berteriak.
"Aaaaaaaaaaa!!!" Aluna berteriak begitu kencang tetapi setelah itu tubuhnya terlihat bergetar hebat.
"Bapak Ibu, Aluna merindukan kalian," lirih Aluna sambil terisak. Davin meremas dadanya kuat, entah mengapa hatinya merasa sakit. Asisten Jo pun tidak berani mengeluarkan suaranya.
"Bapak Ibu kalian sudah dekat dengan Tuhan kan? Tolong katakan pada Tuhan, titipkan seorang nyawa di rahimku. Aku hanya ingin membahagiakan Davin," Suara Aluna terdengar lirih tetapi Davin masih bisa mendengarnya. Karena jaraknya hanya lima langkah di belakang Aluna.
"Davin begitu bahagia saat melihat seorang bayi dan aku belum mampu memberikannya. Ya Tuhan, apa aku terlalu serakah? Menginginkan seorang bayi saat ini juga? Aku hanya ingin melihat Davin bahagia, selama ini dia sudah memberiku banyak cinta tapi aku belum bisa membuatnya bahagia," Isakan Aluna semakin terdengar keras. Hati Davin benar-benar sakit, ternyata hati Aluna begitu terluka. Dia diam, membiarkan Aluna mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Bapak Ibu, tolong katakan pada Tuhan, titipkan seorang nyawa di rahimku, aku hanya ingin melihat Davin bahagia. Hiks hiks," Aluna menutup wajahnya, menangis terisak hingga tanpa sadar tubuhnya membeku saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Bahkan, tanpa menoleh pun Aluna tahu siapa yang sedang memeluknya saat ini.
__ADS_1
" Aku sudah sangat bahagia walau hanya memilikimu meski ada atau tanpa anak di antara kita," Aluna memejamkan matanya. Dia tahu Davin hanya berusaha menghiburnya saja. Davin pun mengeratkan pelukannya sedangkan Asisten Jo mengusap airmata yang menetes dari sudut matanya.