
Asisten Jo berkali-kali mengusap puncak kepala Mila yang masih tertidur lelap. Mereka sedang dalam perjalanan pulang, hembusan nafas kasar terdengar keluar berkali-kali dari mulut Asisten Jo. Dia mengambil ponselnya, menghubungi salah satu satu anak buahnya, menyuruh mereka menyerahkan Dimas ke pihak berwajib dan memberikan hukuman seberat-beratnya.
"Ingin sekali aku membunuhnya, tapi aku takut tidak bisa menjagamu jika sampai aku menghilangkan nyawa seseorang," gumam Asisten Jo sembari menatap wajah tenang Mila.
Perjalanan di tempuh dua jam lebih, kini mobil itu sudah sampai di rumah sakit terbaik, Mila langsung di bawa ke ruang VVIP, ruangan yang sudah di pesan khusus oleh Davin. Begitu sampai di ruangannya, Mila langsung mendapat perawatan.
"Jo, apa di perk*sa?" tanya Marvel pelan setelah dia melihat surat rujukan dari rumah sakit sebelumnya. Sebenarnya ini bukan tanggung jawab Marvel, namun karena Davin yang memesan kamar itu, akhirnya Marvel ikut turun tangan.
"Iya Tuan," Jawab Asisten Jo lirih.
"Kamu?" tanya Marvel tak percaya, dia berfikir kalau Asisten Jo yang sudah merenggut kesucian Mila. Asisten Jo menggeleng pelan.
"Bukan Tuan, tapi mantan kekasihnya. Saya terlambat menyelamatkannya," ucap Asisten Jo penuh sesal. Marvel langsung menepuk pelan pundak Asisten Jo.
"Yang sabar ya, kita akan berusaha menyembuhkan dia sampai benar-benar sembuh termasuk traumanya. Akan tetapi, dia butuh dukungan yang penuh Jo, sepertinya dia mengalami depresi berat," Marvel memandang wajah Mila yang masih terbaring lemah. Dia merasa tak tega melihat Mila yang menjadi korban pemerk*saan.
"Saya akan selalu mendukungnya Tuan," ujar Asisten Jo penuh keyakinan. Marvel tersenyum tipis.
"Kamu suka padanya Jo?" tanya Marvel penasaran. Asisten Jo diam tidak menjawab.
"Sudahlah, aku sudah tahu jawabannya," kata Marvel. " Aku kembali ke ruanganku, kalau ada apa-apa jangan lupa langsung hubungi perawat. Besok kita bawa ke ruang psikiater untuk menyembuhkan traumanya."
"Terima kasih banyak Tuan," Marvel hanya mengangguk kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu. Selepas kepergian Marvel, Asisten Jo duduk di samping Mila, matanya menatap dalam ke wajah Mila. Tangannya mengusap pelan wajah Mila.
"Wajah ini yang selalu terbayang dalam ingatanku, senyumnya, canda tawanya dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi darinya seakan membuatku rindu. Cepatlah sembuh, aku janji akan menjagamu selamanya bila kamu sudah sembuh nanti,"
"Aku kotor," gumam Mila lirih sambil menggerakkan tubuhnya perlahan. Merasa Mila akan tersadar, Asisten Jo langsung menggenggam erat kedua tangan Mila.
"Tuan?" panggil Mila lirih saat membuka matanya, dia melihat Asisten Jo yang sedang tersenyum padanya. Bayangan saat Dimas menyetuhnya tiba-tiba kembali menghantuinya.
__ADS_1
"Pergi! jangan sentuh aku! aku kotor! pergi!" Teriak Mila histeris. Asisten Jo tidak langsung memencet tombol nurse. Dia berusaha sekuat mungkin memeluk tubuh Mila meski Mila terus meronta.
"Aku tidak akan pergi. Aku akan di sini menjagamu," ucap Asisten Jo lirih sambil mendekap erat tubuh Mila yang terus meronta.
"Jangan sentuh aku! Aku kotor! aku kotor!" teriak Mila sambil memukul keras dada bidang Asisten Jo agar terlepas dari pelukan Asisten Jo.
"Bunuh aku saja! bunuh aku! untuk apa aku hidup jika tubuhku sudah kotor!" Mila menangis kencang sambil memukul-mukul dada bidang Asisten Jo. Sedangkan, Asisten Jo mengernyit sakit saat Mila berkali-kali memukul dadanya, hatinya pun ikut sakit melihat Mila yang seperti ini.
"Aku tidak akan membunuhmu. Aku akan selalu menjagamu," ucap Asisten Jo sambil merenggangkan pelukannya. Merasa pelukannya longgar, Mila langsung mendorong tubuh Asisten Jo kasar, hingga tubuh Asisten Jo sedikit menjauh dari Mila.
"Kamu mau menjagaku? Hahaha jangan bercanda!" Teriak Mila di selingi tawa yang begitu menyakitkan di telinga Asisten Jo.
"Aku kotor! Aku sudah tidak pantas untuk siapapun!" Teriak Mila lagi. "Aku tidak bisa bahagia. Aku ingin mati, buat apa aku hidup jika menjaga kesucianku saja aku tidak bisa, hiks hiks aku sudah tidak pantas untuk siapapun. Tubuhku ini sudah kotor," Mila menangis terisak. Asisten Jo ikut menangis melihat Mila, dia berjalan mendekati Mila lagi namun Mila langsung berteriak kencang.
"Pergi! Jangan sentuh aku! jangan sentuh aku! aku kotor!" Teriak Mila berkali-kali. Asisten Jo akhirnya memencet tombol nurse, beberapa saat kemudian, dokter dan perawat datang lalu menyutikkan obat penenang ke tubuh Mila. Asisten Jo menatap mata Mila yang perlahan terpejam dengan hati yang sangat sakit. Selepas kepergian perawat dan dokter itu, Asisten Jo menatap Mila dalam. Sungguh, hatinya merasa begitu sakit melihat Mila yang seperti ini. Dia menggenggam erat tangan Mila.
"Maafkan aku sudah terlambat menyelamatkanmu. Andai aku tidak terlambat pasti kamu tidak akan sakit seperti ini. Maafkan aku, aku akan berusaha menyembuhkanmu bagaimanapun caranya. Kamu harus sembuh demi ibu kamu dan Rayhan," Asisten Jo menjeda ucapannya. Matanya telah basah, sesakit inikah melihat orang yang kita cintai terluka. Cinta? Apa seperti inikah rasanya mencintai seseorang? Kamu akan merasa begitu terluka saat melihat orang yang kamu cintai terluka.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
" Rayhaannn," Panggil Aluna sambil masuk ke apartemen Asisten Jo bersama Davin. Wajah Aluna tersenyum saat melihat seorang anak kecil berlari ke arahnya.
" Kakak," teriak Rayhan kemudian memeluk Aluna erat. Davin menatap tajam ke arah Rayhan.
"Ehem!" Aluna melepaskan pelukannya saat mendengar Davin berdehem keras.
"Kenapa mas?" tanya Aluna bingung melihat wajah Davin yang terlihat marah. Sedangkan,Rayhan hanya menatap Davin.
"Kenapa kamu berpelukan dengan laki-laki lain? Apalagi perutmu tertekan, apa kamu tidak kasian pada anak kita?" Aluna melongo mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Davin.
__ADS_1
"laki-laki lain?" tanya Aluna seraya menautkan kedua alisnya. Davin mengangguk sambil menatap ke arah Rayhan.
"Astaga... Mas, Rayhan hanya anak kecil dan kamu cemburu pada dia? Kamu lucu sekali," Aluna menggelengkan kepalanya tidak percaya pada tingkat kecemburuan Davin.
"Dia laki-laki sayang,"
"Yang bilang dia perempuan siapa?! dia masih anak kecil mas, kamu terlalu berlebihan!" teriak Aluna kesal.
"Sayang...."
"Kalau kamu mau protes lagi, aku gak akan mau pulang sama kamu!" Ancam Aluna menghentikan Davin yang hendak mendebat lagi.
"Kamu disini sama siapa sayang?" tanya Aluna lembut pada Rayhan yang sedari tadi menatap mereka berdua bingung.
"Sama om itu," jawab Rayhan menunjuk dua orang pengawal yang keluar dari dapur sambil membawa makanan untuk Rayhan.
"Tuan Davin," sapa mereka sambil menunduk hormat kepada Davin. Davin hanya menanggapi dengan senyum tipis, karena hatinya masih merasa begitu dongkol.
" Kata om itu, Ayah lagi cari bunda, bunda hilang di bawa kucing," ucapan itu keluar dari bibir mungil Rayhan.
"Ayah?" tanya Aluna mengerutkan keningnya. Rayhan langsung mengangguk mantap.
"Ayah siapa?" tanya Aluna bingung.
"Ayah Jo," jawab Rayhan singkat.
"Apa?!" pekik Aluna dan Davin bersamaan. Mereka terkejut mendengar jawaban dari mulut Rayhan.
Ayo beri dukungan buat Author biar makin semangat nulis.
__ADS_1
salam sayang dari Author recehan.