Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
122


__ADS_3

" Mil kok Loe bisa deket sama Asisten Jo sih ? "


Cup. Davin langsung mengecup bibir Aluna di depan Mila tanpa rasa malu. Mila memejamkan matanya, menghindari pemandangan itu.


" Loe kenapa merem gitu Mil ? " Mila langsung membuka matanya setelah mendengar pertanyaan Aluna. Davin kembali mengecup bibir Aluna hingga membuat Mila menutup matanya lagi.


" Kenapa sih mas ?" tanya Aluna kesal.


" Aku gak suka kamu bicara pake loe-loe lagi sayang. Bukankah dulu aku sudah bilang ?" tanya Davin sambil memegang kedua bahu Aluna.


" Tuan, saya mohon jangan kotori mata suci saya." Ucap Mila sambil masih menutup kedua matanya. Dengan segera Aluna langsung menonyor kepala Mila.


" Alunnaaaa " Teriak Mila keras sambil memegang kepalanya. Aluna hanya terkekeh geli.


" Mil kok kamu bisa sama si Jo, gimana ceritanya ?" tanya Aluna penasaran.


" Kita ketemu gak sengaja, mungkin kita jodoh " seloroh Mila sambil menutupi tawanya membuat Aluna hendak menonyor kepala Mila lagi tapi di tahan Davin.


" Sudah sayang, kamu bar-bar sekali. Dia anak orang loh yang." Davin menahan tangan Aluna.


" Yang bilang dia anak monyet siapa ?" tanya Aluna sambil menatap Mila dan Davin bergantian.


" Kamu tuh ...."


"Ehemmm." Mendengar suara deheman, Mila menghentikan ucapannya kemudian mereka bertiga menoleh ke arah Asisten Jo yang sedang berdiri dengan raut wajah datar.


" Anda langsung pulang Tuan ?" tanya Mila saat melihat Asisten Jo naik ke motornya tanpa mengajaknya.


" Tentu saja aku mau pulang. Kamu pikir aku akan menginap disini ?" Asisten Jo balik bertanya dengan nada kesal.


" Terus saya gimana Tuan, masa' saya harus jalan kaki sampai rumah " Ucap Mila dengan manja.


" Kamu kan sudah ada tumpangan " Asisten Jo melirik Tuan Mudanya yang sedang tersenyum mengejek padanya.


" Tuan, saya tidak mau menjadi obat nyamuk di antara kebucinan mereka. Anda kan tahu saya baru saja patah hati." Ucap Mila bernada sedih sambil berpura-pura mengusap airmatanya. Aluna yang mendengar ucapan Mila hanya mengerutkan keningnya.


" Kamu patah hati ? bukankah hubungan kamu sama Dimas masih jalan ?" Tanya Aluna heran.

__ADS_1


" Udah enggak. Baru aja kita putus, Dimas main lubang cewek lain dibelakang aku." Jelas Mila membuat semua mengerutkan alisnya.


" Lubang cewek lain ? berarti Dimas udah mainin lubang milik kamu dong ?" Tanya Aluna sedikit kesal. Dia takut sahabatnya itu sudah terjun bebas ke hal-hal yang salah.


" Pernah sih..." Mila menghentikan ucapannya. Asisten Jo langsung mengepalkan tangannya.


" Aku tidak menyangka kamu sudah tidak perawan." Sindir Asisten Jo dengan senyuman sinis yang terlihat mengejek.


" Ish Tuan, jangan salah paham dulu. Dimas emang pernah mainin lubang saya, tapi lubang hidung buat ambil upil. Hahaha . Kalau lubang ke surga dunia dijamin masih tersegel dengan rapi." Ucap Mila diselingi tawa hingga semua mencebik kesal.


"Cih ! " Asisten Jo berdecih sambil menatap remeh pada Mila.


" Kalau anda tidak percaya, anda bisa membuktikannya Tuan. Tapi, anda harus menghalalkan saya dulu." Mila menaik-turunkan alisnya, menggoda Asisten Jo. Aluna yang melihatnya langsung menonyor kepala Mila dengan gemas.


" Sayang"


" Aluna "


Panggil Mila dan Davin bersama-sama sesaat setelah tonyoran Aluna berhasil mendarat di kepala Mila.


" Kamu kon nyebelin sih Mil." Aluna terlihat begitu gemas sedangkan Mila hanya tertawa lebar.


" Tapi Tuan.... " Asisten Jo hendak menyela.


" Saya tidak menerima penolakan. Kamu ingat ? Antartika masih luas untuk kamu tinggali Jo " Kata Davin sambil menggandeng tangan Aluna menyeberang jalan kemudian masuk kedalam mobil mereka. Selepas kepergian mereka, Asisten Jo menatap kesal pada Mila.


" Tu-tuan." Mila terlihat gugup saat Asisten Jo menatapnya tajam.


" Ayo ku antar pulang." Ajak Asisten Jo sambil memakai helmnya.


" Di antar ke KUA juga tidak papa Tuan. Saya ikhlas " Canda Mila sambil naik ke atas motor Asisten Jo.


" Maaf Tuan, saya pegangan takut terbang kalau anda ngebut." Mila melingkarkan tangannya di perut Asisten Jo. Bukannya marah, Asisten Jo hanya tersenyum tipis melihat tangan Mila lalu dia melajukan motornya menuju rumah Mila.


Hampir sepuluh menit motor Asisten Jo melaju, kini motor itu berhenti di rumah sederhana yang terdapat pohon mangga di halaman rumahnya. Lampu ruang tamu masih menyala.


" Kamu pulang sampai malam, emang tidak dimarahi ibu kamu ?" tanya Asisten Jo saat Mila turun dari motor.

__ADS_1


" Saya pulang malam karena cari uang jadi mana mungkin dimarahi Tuan. Terima kasih banyak sudah diantar Tuan." Jawab Mila.sambil berdiri di samping Asisten Jo.


" Kerja ?" Asisten Jo menautkan kedua alisnya.


" Bukannya jam kerja kantor cuma sampai jam lima sore ?" tanya Asisten Jo lagi.


ceklek


Pintu rumah itu terbuka, mereka berdua langsung menoleh ke arah pintu. Ibu Eni keluar mendekati mereka.


" Kamu sudah pulang Mil ? Lho kamu di antar siapa ?" tanya ibu Eni sambil mengamati wajah Asisten Jo karena cahaya lampu yang tidak terlalu terang.


" Owalah, Nak Jo to. Mari masuk dulu nak " Ajak Ibu Eni senang. Asisten Jo tersenyum simpul.


" Tidak usah bu, sudah malam. Takutnya nanti malah menjadi fitnah. Kalau begitu saya permisi dulu bu " Pamit Asisten Jo, setelah menyalami tangan Ibu Eni, dia langsung melajukan motornya meninggalkan rumah Mila.


" Kamu kok bisa di anter pak wakil bos itu Mil ?" tanya Ibu Eni penasaran.


" Gak sengaja ketemu di jalan bu. Ayo masuk bu, Mila udah capek banget." Ajak Mila sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk ke kamarnya, Mila masuk ke kamar Rayhan dan dia tersenyum tipis melihat Rayhan yang sudah tertidur pulas. Dia mengecup kening Rayhan kemudian menyelimuti tubuhnya.


" Selamat malam, tidur yang nyenyak anak ganteng " Bisik Mila lembut, kemudian dia berjalan keluar kamar Rayhan. Begitu sampai di luar kamar, Mila melihat ibunya yang masih menunggunya.


" Mila mau istirahat ya bu." Pamit Mila namun Ibu Eni menahan tangannya.


" Mil... Apa kamu baik-baik saja ?" Tanya Ibu Eni cemas, melihat raut wajah Mila yang nampak lesu.


" Iya bu. Mila cuma agak capek, tadi pengunjung restoran agak rame. Mila mau istirahat dulu ya." Ucap Mila sambil berjalan menuju kamarnya. Ibu Eni menghela nafas panjang sambil menatap kepergian Mila. Dia sungguh kasian jika melihat Mila yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi sekarang ada Rayhan di antara mereka. Sedangkan, ibu Eni membantu dengan berjualan tapi hasilnya tidak seberapa.


Begitu sampai di kamar, Mila langsung merebahkan tubuhnya tanpa membersihkannya dahulu. Dia menatap sebuah foto kecil yang terpajang di atas nakasnya. Foto dia dan Dimas saat pertama kali menjadi kekasih. Dia tersenyum miris.


" Semua sudah berakhir. Semoga kamu bahagia dengan kekasih barumu. Aku tidak menyangka jika kamu selingkuh dibelakangku. Padahal sikapmu padaku begitu posesif sekali " Gumam Mila sambil meraba foto itu.


" Huh.... " Mila menghembuskan nafas kasar sambil meletakkan kasar foto itu di sampingnya.


" Setidaknya aku lega, sudah tidak terkekang lagi. Dan aku bebas melakukan apapun. Semangat Mila, mati satu tumbuh seribu. Masih banyak yang antri untuk menjadi kekasihmu. Semangat semangat " Mila menyemangati dirinya sendiri. Kemudian dia tertidur karena terlalu lelah.


Jangan lupa beri dukungan untuk author recehan ya gaes

__ADS_1


biar makin semangat nulis


__ADS_2