Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 56


__ADS_3

Setelah hampir setengah jam, kedua tamu Davin akhirnya berpamitan pulang karena urusan mereka telah selesai. Begitu mereka berdua sudah keluar dari ruangannya, Davin bergegas masuk dan melihat Aluna yang sedang mengobrol bersama Mila.


"Mereka sudah pulang?" tanya Aluna, Davin mengangguk sembari berjalan mendekati Aluna, sedangkan Mila bergegas bangun dan keluar dari kamar itu.


"Sudah Sayang. Aku merindukanmu," kata Davin, mencium bibir Aluna dengan lembut.


"Mas, ini di kantor," kata Aluna lirih.


"Aku tahu, tetapi tidak ada siapapun disini. Selagi kamu sedang tidak mual karena dekat dengan aku. Kamu tumben sekali kesini, Sayang?" tanya Davin heran.


"Aku mau kasih kamu jus alpukat, sepertinya jus nya di luar." Aluna bangun, tetapi Davin menahan tangannya.


"Nanti saja, aku rindu olahraga di ruangan ini, Sayang," kata Davin menggoda, dia menaik-turunkan kedua alisnya, membuat Aluna memutar bola matanya malas.


"Aku belum pengen, Mas. Lagipula, ada Mila disini, Mas. Apa kamu tidak malu?" tanya Aluna, dia berjalan keluar dari kamar itu diikuti Davin yang memasang wajah kecewa.


"Minumlah, Mas. Aku sudah menyuruh Mila membuatkan khusus untukmu," kata Aluna, dia menyerahkan jus itu kepada Davin.


"Ini apa, Sayang?" tanya Davin penasaran.


"Jus alpukat. Kamu kan suka sekali jus alpukat," sahut Aluna.


"Kenapa warnanya seperti ini? Kamu yakin ini Alpukat asli?" tanya Davin curiga.


"Minum saja, Mas. Aku membuatnya spesial untukmu," suruh Aluna. Davin mengamati jus itu dengan berkali-kali menelan ludahnya kasar.


"Ayo minum, Tuan. Hargai Nona Aluna yang sudah susah-susah kesini hanya untuk mengantarkan jus itu untuk Anda," kata Asisten Jo, Davin menatap tajam ke arahnya, tetapi Asisten Jo hanya menunjukkan senyum tipisnya.


"Kamu berkata seperti itu, justru membuatku semakin curiga, Jo. Apalagi melihat wajahmu yang menyebalkan itu," ketus Davin.


"Ayo, Mas. Setelah kamu meminum jus ini, aku akan pulang. Sudah terlalu lama aku dan Mila meninggalkan baby-baby kita." Davin menghembuskan napas kasar, dia menatap jus itu lekat. Meski ragu, Davin terpaksa meminum jus itu, karena Aluna sedari tadi menatapnya penuh harap membuat Davin menjadi tak tega.


"Habiskan Mas," suruh Aluna saat Davin sudah meminum jus itu satu tenggak.


"Sayang, rasanya aneh sekali. Aku menjadi mual," ucap Davin hendak meletakkan jus itu, tetapi Aluna menahannya.


"Kamu harus menghabiskan atau aku tidak mau tidur sama kamu nanti malam," ancam Aluna.


"Sayang," panggil Davin memelas.


"Ayo Mil. Kita pulang," ajak Aluna, tetapi baru saja kaki Aluna melangkah satu langkah, Davin sudah menahannya.


"Baiklah, aku habiskan. Jangan marah," ucap Davin pasrah, Aluna hanya diam tidak menjawab. Davin menutup hidung, lalu dengan cepat menghabiskan jus itu dalam sekali tenggak.


"Bagaimana rasanya, Tuan? Enak kan? Jus Alpukat ekstra jeruk dengan gula jawa," goda Asisten Jo, Davin langsung menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Jo, kamu sudah tahu?!" pekik Davin, Asisten Jo menutupi mulutnya menahan tawa.


"Mas, terima kasih. Aku mencintaimu," ucap Aluna, dia mencium pipi kanan kiri Davin bergantian, dan ciuman itu mampu membuat amarah Davin sirna seketika. Davin mengusap pipinya dengan senyum tak percaya.


"Sayang, kamu menciumku dan mengatakan kamu mencintaiku?" tanya Davin tak percaya, Aluna tersenyum tipis.


"Aku mencintaimu juga sayang," kata Davin heboh, dia menangkup pipi Aluna dan mengecup bibir Aluna berkali-kali.


"Mas, pengen," bisik Mila yang sedari tadi hanya diam.


"Diamlah Mil, kamu sudah membuatku malu," kata Asisten Jo ketus.


"Ish! Maaf Mas." Asisten Jo hanya diam, dia menarik tangan Mila untuk keluar dari ruangan itu.


"Kenapa pergi sih, Mas?" tanya Mila saat mereka sudah sampai di luar ruangan Davin.


"Apa kamu mau melihat blue film secara langsung?!" tanya Asisten Jo kesal, karena dia tahu apa yang akan terjadi antara tuan dan nona nya itu.


"Tidak papa, Mas. Kita bisa belajar gaya dari mereka," ceplos Mila, Asisten Jo mendelik ke arah Mila yang sedang menunjukkan rentetan gigi putihnya.


"Aku lapar, Mas," rengek Mila sambil mengusap perutnya.


"Ayo, kita ke kantin saja sambil menunggu mereka selesai," ajak Asisten Jo. Mila pun berjalan bersama suaminya menuju kantin.


Tiga hari telah berlalu, setiap hari pikiran Dinar selalu di hantui bayangan Ardian. Bahkan, Felisa yang setia menemani Dinar sering memergoki Dinar yang melamun.


"Dinar, apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?" tanya Felisa yang sedari tadi mengamati wajah Dinar.


"Aku hanya selalu kepikiran, siapa yang sudah memberi bantuan begitu besar padaku. Apa menurut kamu memang bukan keluarga Nona Aluna yang menolongku?" tanya Dinar mencoba menebak. Felisa menggeleng pelan.


"Sepertinya memang bukan, karena setahuku Nona Aluna tidak pernah berbohong," jawab Felisa yakin. Dinar mengangguk perlahan.


"Apa kamu sudah lama bekerja di keluarga Nona Aluna?"


"Hampir dua tahun ini," jawab Felisa, dia mengambil apel lalu mengupaskannya untuk Dinar.


"Sudah cukup lama ya. Em apa kamu tahu tentang adik Nona Aluna?" tanya Dinar ragu. Felisa menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengupas.


"Tuan Ardian?" Dinar mengangguk mendengar pertanyaan Felisa.


"Tuan Ardian jarang sekali di mansion. Palingan hanya beberapa bulan sekali, karena Tuan Ardian memiliki usaha peternakan yang sudah sukses di Bandung," jelas Felisa, kedua mata Dinar terlihat membola.


"Bandung?" tanya Dinar memastikan. Felisa mengangguk cepat, dia kembali meneruskan mengupas apel itu.


"Bukankah kamu juga dari Bandung?"

__ADS_1


"Ya, tapi aku tidak pernah bertemu dia, Bandung itu kan luas," dengus Dinar, Felisa hanya terkekeh geli.


"Setelah sembuh, kamu kan mau balik ke Bandung, siapa tahu kamu bertemu Tuan Ardian dan berjodoh dengannya," goda Felisa, Dinar melempar kulit apel ke wajah Felisa.


"Kamu menyebalkan," cebik Dinar, Felisa justru tertawa kencang.


"Aku bisa melihat kamu mencintai Tuan Ardian." Dinar menatap kesal ke arah Felisa.


"Jangan asal bicara!" ketus Dinar.


"Aku tidak asal bicara, aku bisa melihat dari sorot matamu saat memikirkan Tuan Ardian,"


"Kapan aku memikirkan pria menyebalkan itu?" Dinar berusaha mengelak.


"Mulutmu bisa berbohong tetapi hatimu tidak akan pernah bisa berbohong, Dinar," sarkas Felisa. Dinar langsung terdiam begitu saja, memang benar yang dikatakan Felisa, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia selalu terbayang akan sosok Ardian dan dia merindukan Ardian yang selalu perhatian padanya.


Sementara itu di Bandung, Ardian duduk di kursinya. Sudah waktunya dia mengecek data keuangan bulan ini, tetapi Ardian hanya mengetuk-ngetuk pulpen di tangannya ke atas meja. Matanya menatap berkas di tangan, tetapi pikiran Ardian selalu terlintas bayangan Dinar.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Bayu, sahabat Ardian yang juga ikut mengelola peternakan itu. Ardian diam tidak menjawab, hanya hembusan napas kasar yang terdengar keluar dari Ardian.


"Jangan terlalu di pikirkan, Ar. Kamu sudah berusaha bertanggung jawab, tetapi Dinar yang menolaknya," ucap Bayu, berusaha menenangkan hati Ardian.


"Bagaimana kalau Dinar hamil?" tanya Ardian khawatir.


"Bagus dong, kalau Dinar hamil. Dia pasti tidak akan memiliki alasan lagi untuk menolak kamu yang notabene adalah ayah biologis bayi yang di kandungnya," kata Bayu, "Tapi menurutku, Dinar tidak mungkin hamil karena kalian baru melakukannya satu kali,"


"Segala kemungkinan bisa saja terjadi, Bay." Ardian kembali menghembuskan napas kasar.


"Sudahlah, Ar. Jangan terlalu di pikirkan, kalau memang kalian berjodoh, pasti ada saja jalan kalian berdua untuk bersatu," ucap Bayu, dia menepuk bahu Ardian dengan perlahan.


"Aku masih sangat merasa bersalah padanya, Bay," lirih Ardian. "Bay, bagaimana dengan bantuan yang sudah ku suruh padamu?" tanya Ardian, dia menatap ke arah Bayu yang sedang menggaruk-nggaruk tengkuknya.


"Em, itu sudah aku kasih, Ar," jawab Bayu, tetapi Ardian justru menatap curiga atas gelagat Bayu.


"Jangan berbohong padaku, Bay," sergah Ardian.


"Ar, aku memang sudah memberikan bantuan pada keluarga Dinar, tetapi saat aku sampai disana, ternyata mereka sudah mendapat bantuan dari orang lain terlebih dahulu," jelas Bayu, Ardian langsung menatap lekat ke arah Bayu.


"Dari siapa?" tanya Ardian tak sabar.


"Aku tidak tahu, bahkan saat aku bertanya pada keluarga Dinar, mereka juga menjawab tidak tahu. Apa mungkin dari kedua keluarga kakakmu?" tanya Bayu menebak.


"Mana mungkin! Kak Aluna saja kemaren bertanya tentang bantuan yang ku berikan untuk keluarga Dinar, kalau Kak Ronal sepertinya juga tidak mungkin, karena Kak Ronal berencana akan kesini, memberi bantuan sekaligus saat Dinar sudah di perbolehkan pulang." Ardian mengusap-usap dagunya. Pikirannya menjadi tidak tenang setelah mendengar ada orang lain yang tidak mau di sebutkan namanya juga memberi bantuan yang begitu besar untuk keluarga Dinar.


Siapa sebenarnya yang juga memberi bantuan untuk keluarga Dinar. Apa tujuannya? Kenapa orang itu tidak mau di sebutkan namanya. Batin Ardian gelisah, dia benar-benar merasakan hatiny tidak tenang.

__ADS_1


__ADS_2