
Sepulang dari rumah sakit, Aluna langsung menuju ke rumah Mila, sudah lama sekali dia tidak mengunjungi rumah sahabatnya itu.
"Mau minum apa bumil?" tanya Mila menggoda.
"Jus alpukat ada?" Aluna bertanya balik.
"Pasti ada. Sebentar ya, aku suruh Santi membuatkannya untukmu." Mila beranjak bangun, tetapi Aluna segera mencegahnya.
"Jangan, aku pengen kamu saja yang membuatnya," pinta Aluna memelas, Mila memutar bola matanya malas.
"Baiklah, tunggu sebentar," ucap Mila, tetapi Aluna ikut bangun dan mengekor di belakang Mila.
"Kamu mau kemana?" tanya Mila sambil berbalik. Aluna yang berjalan sambil menunduk, langsung menubruk tubuh Mila.
"Auh! Mau ikut kamu lah, memang kemana lagi," ketus Aluna. Mila tidak menanggapi, dia kembali melangkahkan kakinya menuju dapur. Sesampai di dapur, Mila segera membuatkan jus alpukat pesanan si ibu hamil.
"Mil," panggil Aluna yang duduk di depan Mila.
"Hmm,"
"Kamu punya jeruk tidak?" tanya Aluna, Mila yang sedang mengerok buah alpukat langsung menghentikan gerakan tangannya.
"Ada. Mau buat apa?" tanya Mila, perasaanya mendadak tidak enak.
"Nanti campurin jeruk ke jus alpukatnya dan kasih gula jawa ya, Mil." Aluna memberi perintah, Mila menghembuskan napasnya kasar.
"Kamu yakin, Lun?" tanya Mila memastikan.
"Yakinlah," jawab Aluna mantap.
"Aku tidak akan ikut meminumnya," tolak Mila sebelum Aluna menawarinya.
"Aku juga tidak akan meminumnya," balas Aluna, Mila meletakkan alpukat dan sendok dari tangannya.
"Kalau kamu tidak mau meminumnya, kenapa kamu menyuruhku membuatnya?" tanya Mila kesal.
"Mau aku bawa ke kantor, biar suamiku yang meminumnya," jawab Aluna santai, dia mengambil air putih lalu meminumnya dalam sekali tenggak.
"Kamu yang benar saja, kamu tidak takut dimarahi suamimu?" tanya Mila tak percaya.
"Tidak, suamiku tidak mungkin marah padaku. Cepatlah Mil, keburu sore nanti suamiku pulang kerja," suruh Aluna, Mila pun segera membuatkan jus alpukat sesuai pesanan Aluna.
Setelah selesai membuatnya, Mila dan Aluna bergegas menuju perusahaan Alexander Group. Sesampainya di perusahaan, Aluna dan Mila berjalan beriringan menuju ke ruangan Davin.
"Maaf Nona, anda mau kemana?" tanya seorang resepsionis, menghentikan langkah Aluna dan Mila yang sedang berjalan di depan mereka.
"Aku mau ke ruangan Tuan Davin," jawab Aluna lembut.
"Maaf Nona, apa anda sudah memiliki janji dengan Tuan Davin?" Aluna menanggapi dengan gelengan kepala.
"Kalau Anda belum memiliki janji, maka Anda dilarang masuk Nona, biar saya hubungi Asisten Jo terlebih dahulu, Nona."
"Kamu yang benar saja! Kamu tidak tahu siapa dia?" tanya Mila sewot, Aluna segera memegang lengan Mila untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Diamlah, Mil," suruh Aluna.
"Tapi Lun ...." Mila terdiam saat Aluna mendelik ke arahnya. Resepsionis itu hanya berdiri di tempatnya karena bingung.
"Silakan Mbak kalau mau hubungi Asisten Jo, saya tunggu di sofa ya Mbak." Aluna menarik tubuh Mila ke sofa yang ada di depan meja resepsionis yang memang di khususkan untuk tamu. Resepsionis itu segera menghubungi nomer Asisten Jo.
"Hallo, Tuan. Maaf mengganggu waktunya, di sini ada dua orang wanita yang akan bertemu dengan Tuan Davin tetapi belum membuat janji, Tuan," ucap Resepsionis itu sopan.
"Baik, Tuan." Panggilan itu terputus, resepsionis itu berjalan mendekati sofa dimana Aluna dan Mila sedang duduk menunggu.
"Bagaimana Mbak?" tanya Mila dengan jutek.
"Anda di suruh menunggu sebentar Nona, karena Tuan Davin sedang ada tamu," sahut resepsionis itu.
"Baiklah, kamu boleh kembali bekerja," suruh Aluna, resepsionis itu kembali ke meja nya.
"Kamu yang benar saja, Lun. Kamu ini istri pemilik perusahaan kenapa mau aja suruh nunggu sih!" protes Mila tak terima.
"Diamlah Mil. Dia hanya menjalankan tugasnya," Aluna menyandarkan kepalanya di sofa.
"Ya, tapi kalau kamu bilang siapa kamu sebenarnya, pasti kita langsung bisa masuk," kesal Mila, tetapi Aluna hanya diam. Dia memejamkan matanya karena merasa hari ini dia sangat lelah.
"Malah tidur, dasar bocah!" umpat Mila. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya. Baru saja satu kali panggilan itu berdering, Mila di kejutkan dengan tepukan tangan di pundak kirinya.
"Mas," panggil Mila bahagia begitu dia melihat suaminya sudah berdiri di belakangnya. Mila segera bangun dan memeluk suaminya.
"Nona Aluna tidur?" tanya Asisten Jo, karena dia melihat Aluna yang masih terdiam dalam posisinya.
"Di mana istriku, Jo?" tanya Davin, Asisten Jo sedikit bergeser agar Davin bisa melihat Aluna.
"Ya Tuhan," pekik Davin, dia bergegas mendekati Aluna yang masih tertidur.
"Sayang, kamu tidur atau pingsan?" tanya Davin sambil menepuk pipi Aluna pelan.
"Dia tertidur, Tuan." jawab Mila.
"Kenapa kalian tidak langsung masuk saja dan malah menunggu disini?" tanya Davin, suaranya terdengar naik satu oktaf.
"Maaf Tuan, saya yang menyuruh mereka berdua menunggu disini," sela resepsionis itu gugup. Davin menatap tajam ke arah resepsionis itu.
"Berani sekali kamu menyuruh istriku menunggu disini!" bentak Davin, tubuh resepsionis itu meringsut takut.
"Mas," panggil Aluna lirih, dia terbangun karena mendengar teriakan Davin yang menggelegar.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Davin, dia menangkup pipi Aluna lalu mencium kening Aluna lembut.
"Kamu berisik sekali, aku jadi bangun," sahut Aluna, dia memasang wajah marah.
"Maafkan aku, kenapa kamu tidak langsung masuk saja. Kenapa kamu kesini tidak menghubungi aku atau Jo terlebih dahulu?" tanya Davin.
"Aku ingin memberi kejutan untukmu," jawab Aluna sambil menguap, karena masih merasa sangat mengantuk.
"Aku benar-benar terkejut melihat kamu menunggu disini. Jo, segera pecat wanita itu tanpa beri dia pesangon," titah Davin, semua terkejut mendengar perintah Davin.
__ADS_1
"Saya mohon jangan, Tuan. Saya minta maaf karena saya karyawan baru. Saya tidak tahu kalau Nona ini adalah istri Anda," mohon resepsionis itu.
"Mas, jangan seenaknya sendiri. Justru karyawan seperti ini yang harus kamu beri apresiasi, karena dia benar-benar melakukan tugasnya dengan baik," bela Aluna.
"Tapi sayang, dia sudah menyuruhmu menunggu." Davin berusaha meredamkan emosinya.
"Memang kenapa kalau aku menunggu? Aku hanya menunggu sepuluh menit. Coba kalau dia membebaskan siapapun masuk, lalu ada wanita yang mengaku-ngaku istri kamu, dia perbolehkan masuk begitu saja. Apa kamu mau kejadian seperti itu terjadi?" omel Aluna.
"Tidak Sayang. Baiklah, jangan pecat dia, Jo. Beri dia gaji dua kali lipat bulan ini," ralat Davin, resepsionis yang barusan takut kini tersenyum semringah.
"Terima kasih banyak, Tuan," ucap resepsionis sembari membungkuk hormat. Davin hanya menggangguk tanpa menyahuti ucapan si resepsionis.
"Mas, bukankah kamu sedang ada tamu?" tanya Aluna.
"Mereka masih di ruanganku, tadi saat Ji mengatakan kamu yang sedang menunggu, aku langsung kesini," jawab Davin.
"Ayo Mas, kita ke ruangan kamu, tidak baik meninggalkan tamu sendirian," ajak Aluna, tetapi baru saja Aluna berdiri, dia merasa melayang karena Davin membopongnya ala bridal style.
"Turunkan aku, Mas. Aku malu," kata Aluna lirih, dia membenamkan wajahnya di dada Davin karena banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka.
"Biarkan saja, lagipula ini wilayahku jadi aku bebas, Sayang. Aku tidak mau kamu dan anak kita kelelahan," kata Davin, dia berjalan menuju ke lift untuk menuju ke ruangannya.
"Uhh, so sweet sekali," ucap Mila sambil menaruh tangannya di pipi.
"Itu bukan so sweet tapi bucin," timpal Asisten Jo.
"Kapan aku di bucinin, Mas," ucap Mila, dia mengerlingkan mata menggoda suaminya.
"Aku gak doyan bucin, kamu tuh yang generasi bucin," cibir Asisten Jo sembari menyentil kening Mila.
"Auh! Sakit Mas. Kamu jahat sekali, aku bukan generasi bucin, tetapi generasi micin." Mila mengejar suaminya yang sudah berjalan terlebih dahulu sembari mengusap keningnya.
"Pantes kalau kamu generasi micin. Kadang di luar batas normal,"
"Walau kadang di luar batas normal, tetapi aku sedap kan, Mas? Bisa bikin kamu ketagihan." Asisten Jo langsung membekap mulut Mila.
"Ingatlah, ini di kantor," ketus Asisten Jo, dia menarik menarik pelan tubuh Mila tanpa melepaskan bekapannya menuju ke ruangan Davin, agar mulut ember Mila tidak lagi bersuara dan membuat malu dirinya.
Begitu sampai di ruangan Davin, Asisten Jo membuka bekapan tangan itu, Mila langsung menghirup napas banyak-banyak.
"Kamu jahat banget, Mas. Rasanya seperti saat kita sudah mencapai Nirwana, bikin napasku kembang kempis," ucap Mila, napasnya terdengar tidak beraturan.
"Mila! Tidakkah kamu melihat orang lain disini!" ucap Asisten Jo penuh penekanan. Mila menoleh, dan melihat Davin yang sedang duduk bersama dua orang pria yang terlihat sedang berusaha menahan tawanya.
"Aluna mana?" tanya Mila, wajahnya sudah terlihat memerah malu.
"Di dalam kamar itu," jawab Asisten Jo ketus, karena dia juga merasa malu.
"Oh oke, aku ke tempat Aluna dulu, di kantor saja ada kamarnya gini, enak kalau buat olahraga," gumam Mila sambil berjalan menuju ke kamar itu.
"Astaga Mila." Asisten Jo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, saat melihat mereka bertiga yang sedang duduk itu, sudah tidak bisa lagi menahan tawa mereka.
"Sudahlah Jo. Memang istrimu sepertu itu, mau bagaimana lagi," ledek Davin, Asisten Jo hanya mendengus kesal.
__ADS_1