Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
83


__ADS_3

" K-Kamu mau ngapain ?" Aluna begitu gugup saat Davin menyentuh lehernya. Dia mengangkat sedikit bahunya, merasakan geli dan sakit bersamaan saat Davin dengan pelan menyentuh luka di lehernya.


" Apa kamu sudah mengoles salepnya ? " Tanya Davin sambil mengusap leher Aluna lembut, hingga menciptakan gelayar aneh di tubuh Aluna.


" Sayang .... " Tanya Davin lagi. Aluna menggeleng pelan sambil menahan gejolak yang membuncah di tubuhnya karena tangan Davin yang terus mengusap lehernya itu.


" Dasar anak nakal " Davin berdecak kesal. Dia lalu bangkit dan mengambil salep di kotak obat yang ada diruangannya. Sedangkan Aluna menatap Davin penuh arti.


Aku kira dia bakal menciumku seperti yang sudah-sudah. kenapa tubuhku selalu menginginkan lebih saat dia menyentuhku walau sedikit saja. Aluna memejamkan mata dan memukul kepalanya pelan untuk menghilangkan pikiran kotor yang bersarang di otaknya. Davin yang sudah kembali ke tempat Aluna duduk, hanya menatap Aluna dengan bingung.


" Kenapa kamu memukul kepalamu ? " Aluna langsung membuka matanya dan melihat Davin yang sedang menghentikan gerakan tangannya.


" Em gak papa " Aluna sedikit gugup tapi dia berusaha tetap tenang. Davin pun diam, dia kemudian membuka tutup salep itu, mengambil sedikit dan mengoleskan di leher Aluna yang terluka. Aluna hanya diam, tubuhnya menegang namun dia berusaha setenang mungkin agar Davin tidak tahu kalau dia sedang gugup. Setelah selesai memberi salep, Davin membenarkan baju atas Aluna dan dia mencium kening Aluna dengan lembut.


" Cepet sembuh sayang .... " Hati Aluna benar-benar tersentuh oleh perlakuan Davin itu. Setelah semuanya beres, Aluna kemudian kembali ke ruangannya. Sesampai di ruangannya, ketiga rekan kerjanya heboh namun Aluna tak peduli, dia hanya akan menyelesaikan tugasnya yang menumpuk karena berkali-kali dia tinggal ke ruangan Davin.


---------@@@@----------

__ADS_1


Suasana kantor sudah terlihat sepi, karena hampir semua karyawan sudah pulang hanya tinggal beberapa orang saja yang masih lembur termasuk Aluna. Karena pekerjaan Aluna yang masih banyak maka dia harus lembur untuk menyelesaikannya. ini adalah hari kelima, dia dan Davin jarang bertemu karena Davin yang sedang sibuk mengurus semua persiapan pesta, Davin tidak ingin ada kesalahan sedikitpun itu sebabnya dia yang akan mengawasi sendiri persiapan pesta itu.


" Loe beneran mau lembur sampai jam delapan Lun ? " Tanya Mila yang masih di ruangan itu menemani Aluna.


" Ya ... pikiran gue selalu gak tenang kalau pekerjaan gue belum selesai sampai pesta besok " Jawab Aluna tanpa mengalihkan pandangan matanya dari komputer. Suasana menjadi hening beberapa saat.


" Gue sebagai sahabat loe boleh tanya enggak sih Lun ? " Tanya Mila ragu, namun dirinya sangat penasaran. Aluna tidak menjawab namun netra nya menatap Mila yang sedang menatapnya penuh arti.


" Sebenarnya ada hubungan apa loe sama Tuan Davin ?" Mila bertanya dengan pelan karena takut menyinggung Aluna. Sedangkan Aluna menghembuskan nafasnya dan kembali menatap layar komputernya.


" Loe kan tahu dia bos kita, dia bos dan gue cuma bawahan " Mendengar jawaban Aluna itu, entah mengapa Mila tidak merasa puas, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Aluna. Namun, Mila tidak bertanya lagi karena dia tau itu adalah privasi Aluna.


" Gue temenin yaa, ini udah jam setengah tujuh loh Lun " Tawar Mila namun Aluna menggeleng.


" Aku bukan anak kecil yang harus ditemani ke kamar mandi " Ucap Aluna dengan senyum simpul kemudian dia berlalu pergi meninggalkan ruangannya.


Aluna berjalan cepat ke kamar mandi karena dia sudah sangat kebelet. Dia tidak menyadari ada orang yang sedari tadi mengikutinya. Saat sudah selesai menuntaskan urusannya, Aluna terkejut karena pintu kamar mandi itu sama sekali tidak bisa dibuka, dia pun menggedor-gedor pintu itu dengan kencang.

__ADS_1


Byuuurrrrr


Tubuh Aluna merasakan dingin saat seember air berhasil mengguyur tubuhnya.


" Sial !! Siapa yang berani mengerjaiku " Aluna kesal, kemudian dia kembali menggedor pintu itu, namun tak ada jawaban sama sekali. Aluna kemudian berpijak pada closet duduk di kamar mandi itu hendak naik, kebetulan kamar mandi itu bagian atas tidak tertutup sepenuhnya, Aluna lagi-lagi merasa marah karena ternyata tangannya tidak bisa mencapai atas. Dia sudah berusaha keras tapi tangannya benar- benar tidak bisa sampai, dia pun turun dan menggeram kesal.


Dia akhirnya hanya duduk santai di atas closet itu sambil mencari cara agar bisa keluar dari sana. namun saat dia sedang berfikir, ada sebuah plastik jatuh dari atas dengan bau yang sangat menyengat. Aluna langsung merasakan mual yang begitu hebat. Dia pun akhirnya mengeluarkan semua yang ada di perutnya, dia sudah membuang plastik itu keluar lagi lewat atas namun karena ruangan itu yang cukup sempit, sehingga bau busuk itu tidak langsung hilang begitu saja. Tubuh Aluna sudah lemas karena seluruh makanan yang sudah keluar, ditambah lagi dia berada diruangan kecil itu, dia merasakan dadanya sakit karena asupan oksigen yang sedikit. Lampu kamar mandi itu tiba-tiba padam. Ruangan itu menjadi sangat gelap tapi Aluna berusaha tetap tenang. Meski lemas Aluna dengan sekuat tenaga mengetuk pintu itu, namun dia akhirnya pingsan karena tubuhnya yang terlalu lemah.


Mila sedari tadi mondar-mandir di ruangannya karena Aluna belum kembali, ini sudah hampir setengah jam Aluna pamit ke toilet tapi dia belum kembali. Mila menjadi begitu khawatir, dia akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menyusul Aluna ke toilet. Begitu sampai di toilet dia melihat semua ruangan itu kosong tidak ada yang memakai, dia hanya melihat satu ruangan yang tertutup dengan tulisan " SEDANG RUSAK ", lampu di ruangan itupun padam. Mila kembali ke ruangannya, dia bingung kemana Aluna pergi. Dia mencoba menelfon Aluna, namun dering ponsel Aluna menggema di ruangan itu. Mila melihat ponsel Aluna tergeletak di sebelah komputernya. Mila menjadi semakin cemas. Saat Mila sedang kebingungan, tiba-tiba ponsel Aluna berbunyi lagi. Dia menatap ponselnya karena merasa tidak menelepon ponsel Aluna. Mila mengintip layar ponsel Aluna dan melihat " Mr. D " memanggil namun Mila tidak berani mengangkatnya hingga telepon itu mati. Mila akhirnya duduk di kursi Aluna, namun ponsel itu kembali berdering, masih dengan nama yang sama. Mila tidak ingin mengangkatnya tapi dia sangat khawatir dimana Aluna berada. Dia pun dengan gemetar menekan tombol hijau di layar itu.


" Sayang .... kamu dimana? Kenapa belum pulang ? Apa kamu jadi lembur ? " Mendengar suara dari seberang telepon, tubuh Mila menegang, dia merasa tidak asing dengan suara itu.


" Sayang .... " Panggilan itu terdengar lagi.


" Ma-maaf ini bukan Aluna " Suara Mila terdengar begitu gugup juga takut.


" Dimana Aluna ?!" Terdengar suara bentakan dari seberang telepon membuat Mila semakin takut.

__ADS_1


" Dia barusan pamit ke toilet, tapi belum kembali. Saya sudah mencarinya dan menghubunginya tapi ponselnya ketinggalan di meja kerjanya " Dengan keberanian yang tersisa, Mila berusaha menjawab.


" S*** !!! " Terdengar umpatan dari sana kemudian panggilan itu pun terputus. Mila menghembuskan nafas lega. Dia begitu penasaran, dia seperti mengenal suara itu tapi dia ingat, dia harus mencari keberadaan Aluna.


__ADS_2