
" Kamu tumben sekali minta keju Lun ? " Tanya Ronal sambil menelan ludahnya melihat Aluna yang makan dengan begitu lahap.
" Mungkin karena aku kangen sama Davin kak, kan Davin suka banget sama keju " Jawab Aluna sambil makan nasi ayam yang di campur keju.
" Kamu yakin perutmu gak papa ?" Tanya Mama Resti khawatir. Aluna memang tidak suka keju, kadang kalau sedang ingin makan, dia hanya nyicip sedikit tapi kemudian dia akan muntah hebat, itulah yang membuat mereka semua khawatir namun Aluna hanya mengangguk sambil menghabiskan makanannya. Mereka berempat pun hanya menggelengkan kepalanya.
" Oh iya Lun, kita mau makan siang di Restoran XX kamu mau ikut tidak ? " Tanya Tuan Bagas sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Aku belum mandi pa... aku nanti nyusul aja ya pake motor "
" Ya udah, tapi nanti hati-hati ya, kita tunggu disana " Kata Tuan Bagas kemudian keluar bersama istrinya. Ronal dan Sisil menatap Aluna penuh tanya.
" Kamu yakin mau makan lagi Lun ? Kan makananmu baru habis " Tanya Sisil heran.
" Ya gak ikut makan kan gak papa kak, nanti aku disana pesen es teh atau air mineral aja kan gak papa. Daripada dirumah terus gabut kak " Aluna beranjak bangun dan mengambil handuk dari lemari pakaiannya.
" Jangan malu-maluin Lun,, masa' keluarga Bagaskara ke Restoran cuma pesen air mineral doang. mau ditaruh dimana muka kita "
" Taruh di tempatnya lah kak, yang penting kan bayar kak, udah sana pada berangkat aku mau mandi dulu.. huekkk " Aluna merasakan mual yang hebat. Makanan yang baru di telan seolah minta di keluarkan.
" Noh kan, kamu ngeyel kalau di bilangin. Udah tahu makan keju bisa muntah masih aja makan " Omel Ronal sambil menyusul Aluna ke kamar mandi. Sisil sengaja menunggu di tempat tidur karena takut ketularan mual.
" Aku kangen Davin kak, dia kan suka banget keju " Tubuh Aluna lemas, semua makanannya benar-benar keluar.
" Kalau kangen itu di temui bukan kaya gini caranya. Yang ada kamu malah nyiksa diri kamu sendiri. Lagian suruh siapa masih kaya bocah " Aluna mendesah kasar. Jika sudah seperti ini maka mulut Ronal benar-benar seperti perempuan. Sangat cerewet.
" Kamu dirumah aja gak usah ikut " Ronal keluar kamar mandi sambil menggandeng tubuh Aluna yang lemas.
__ADS_1
" Aku tetep mau nyusul kak, aku udah bosan dirumah terus. Sudah sana kalian berangkat saja. Aku mau minum obat pereda mual aja, paling bentar lagi juga sehat "
" Kamu memang keras kepala " Ronal lelah jika meladeni Aluna pasti tidak akan selesai-selesai. Ronal menggandeng tangan Sisil keluar dari kamar Aluna.
" Kalau masih mual bawa istirahat aja ,gak perlu nyusul " Perintah Ronal sebelum menutup pintu kamar Aluna. Selepas kepergian Ronal, Aluna memejamkan matanya sesaat. Dia selalu seperti ini setiap habis makan keju. Tapi entah mengapa, rasanya dia sangat ingin makan keju.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Aluna berjalan memasuki Restoran XX dimana keluarganya sedang makan siang. Dia memaksakan tubuhnya yang masih sedikit lemah, karena dia sudah sangat jenuh, seminggu full tidak keluar dari mansion. Matanya menyapu seluruh ruangan Restoran itu untuk mencari keberadaan keluarganya. Begitu ketemu, dia langsung berjalan menghampiri mereka.
" Kamu sudah mendingan Lun ? " Tanya Ronal begitu melihat kehadiran Aluna.
" Sudah dong kak, buktinya aku sudah sampai sini " Jawab Aluna ceria sambil menarik kursinya duduk di samping Ronal.
" Alhamdulillah, tadi papa berencana mau pulang waktu Ronal bilang kamu muntah-muntah " Ucap Tuan Doni khawatir.
" Iya, mama takut kamu kaya dulu. Habis makan keju langsung muntah hebat sampai harus bedrest di rumah sakit " Mama Resti pun ikut khawatir. Aluna tersenyum bahagia mendengar mereka sangat mengkhawatirkan Aluna.
" Es teh aja satu ya mba " Pesan Aluna pada pelayan itu. Semua tertegun mendengar pesanan Aluna. Sedangkan, pelayan itu terlihat berusaha menahan tawanya.
" Kamu beneran mau pesen es teh doang ? " Tanya Ronal tidak percaya. Aluna mengangguk mantap, membuat Ronal.menjadi begitu gemas.
" Kalau cuman mau pesen es teh ngapain jauh-jauh nyusul kesini ? Pelayan di mansion kan bisa bikinin " Ronal benar-benar seperti di uji kesabarannya.
" Aku masih kenyang kak. Lagian aku jenuh kak, dirumah terus. Kalau kesini kan bisa sambil cuci mata " Aluna menatap tidak selera pada makanan yang tersaji di meja itu.
" Aaauuuu sakiit sakiitt " Teriak Aluna saat Ronal menjewer telinganya.
__ADS_1
" Cuci mata.. cuci mata... Cuci tuh tangan terus kita makan " Ucap Ronal sambil.melepaskan jewerannya.
" Dek... jangan tiru daddy mu yang jahat sama aunty ya, besok kalau kamu lahir kamu belain aunty kalau lagi di jahatin daddy mu ya " Satu tangan Aluna mengusap telinganya sedang satu tangannya mengusap perut Sisil lembut. Sisil tersenyum lebar melihat Aluna dan Ronal.
" Amit-amit jabang bayi .... jangan sampai anak kakak satu server kaya kamu deh. satu orang kaya kamu aja kakak harus sabar banget " Ronal ikut mengusap perut istrinya itu.
" Sudah.. sudah.. kalian itu selalu saja bertengkar " Kata Tuan Bagas melerai mereka berdua.
" Ayo kita makan. Kamu beneran gak makan Lun ? Bukannya tadi makananmu sudah keluar lagi ? " Tanya Sisil. Karena Aluna sama sekali tidak menatap makanan di meja itu.
" Padahal ini ayam pedas manis kesukaan kamu loh " Mama Resti berusaha menggoda Aluna, namun Aluna terlihat cuek bebek padahal biasanya jika melihat makanan kesukaannya Aluna akan kalap, makan dengan lahap. Aluna menggeleng pelan. Begitu pelayan datang membawa segelas es teh untuknya, dengan segera Aluna meminumnya dengan sekali tegukan.
" Aaahhh segerr " Aluna mengusap tenggorokannya, semua memandang tak percaya pada Aluna.
" Pa, ma, kak aku pulang dulu ya " Pamit Aluna sambil berdiri dari duduknya.
"Apa ? " Pekik mereka berempat tidak percaya pada Aluna.
" Kamu konslet ya Lun gara-gara seminggu gak ketemu Davin. Kesini cuman buat minum aja terus pulang ? Di pinggir jalan penjual es teh banyak Lun " Protes Ronal melihat tingkah Aluna itu.
" Kak, es teh di restoran sama di pinggir jalan itu beda tahu. Kalau di restoran kan terlihat lebih berkelas. Ya udah aku pulang dulu. dadah " Aluna segera pergi sebelum telinganya menjadi sasaran Ronal. Mereka benar-benar tidak percaya pada tingkah Aluna itu karena Aluna tidak pernah bersikap seperti itu.
Aluna yang sudah berada di luar Restoran segera menghampiri motornya di parkiran. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat Davin sedang berdiri berhadapan dengan seorang wanita cantik yang terlihat begitu elegan. Dari pakaiannya saja Aluna tahu kalau dia adalah wanita yang berkelas. Davin tidak mengetahui keberadaan Aluna karena dia berdiri membelakangi posisi Aluna berdiri. Tapi Aluna tahu Davin sedang asyik mengobrol dengan wanita cantik itu. Melihat pemandangan itu, hati Aluna terasa mencelos sakit. Bahkan matanya sudah mulai basah.
Gue benci diri gue yang cengeng gini ! Umpat Aluna dalam hati.
sebuah mobil berhenti di belakang mobil wanita itu, Aluna paham itu mobil milik Davin.
__ADS_1
" Nona Aluna " Panggil Asisten Jo yang baru saja keluar dari mobil menghentikan kaki Aluna yang hendak berbalik. Mendengar nama Aluna disebut, Davin berbalik. Tatapan matanya bertemu dengan mata Aluna yang terlihat sendu, Aluna memasang wajah datar namun dari sudut matanya, setetes airmata berhasil menetes.
" Sa-sayang " Panggil Davin gugup. Mendengar Davin memanggilnya Aluna memasang senyum sinis.