Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 46


__ADS_3

Mansion Alexander.


Aluna dan Davin masuk ke mansion bersamaan. Namun, begitu mereka sampai di ruang tamu mansion, langkah kaki Aluna terhenti saat melihat Ardian, adiknya yang sudah lama tidak dia temui sedang duduk bersama dengan kedua mertuanya dan juga baby Nadira.


"Ardian," panggil Aluna, Ardian yang sedang duduk mengobrol langsung menoleh ke arah kakaknya itu.


"Kak Aluna," panggil Ardian balik, dia berjalan cepat menuju tempat kakaknya berdiri dan segera memeluk kakaknya itu.


"Kakak kangen banget sama kamu," kata Aluna parau. Hampir tiga bulan dirinya tidak bertemu Ardian padahal biasanya Ardian tidak menemuinya hampir setengah tahun tetapi entah mengapa sekarang Aluna merasakan begitu rindu dengan adiknya itu.


"Ardian juga kangen sama Kakak," balas Ardian, setelah berpelukan cukup lama Ardian melepaskan pelukannya di tubuh Aluna.


"Jangan nangis Kak, malu banget sama Nadira. Sudah jadi emak-emak aja masih doyan nangis," goda Ardian, Aluna yang barusan sedang menghapus airmatanya langsung memukul lengan adiknya itu.


"Semenjak Kakak nikah, kita jarang bertemu tapi kenapa kamu masih saja menyebalkan!" cebik Aluna sedangkan Ardian hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Kak Davin," panggil Ardian, dia mencium punggung tangan Davin yang sedari tadi hanya menatapnya.


"Bagaimana kabar kamu, Ar?" tanya Davin.


"Baik Kak, Kakak sendiri bagaimana?" tanya Ardian balik.


"Baik juga, bahkan sangat baik karena sebentar lagi kamu akan memiliki ponakan lagi," jawab Davin. Kedua mata Ardian membelalak mendengar jawaban Davin.


"Maksud Kak Davin, sekarang Kak Aluna sedang hamil?" tanya Ardian tak percaya. Baik Davin maupun Aluna tak ada yang menjawab, mereka hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya Tuhan, Kakak produktif sekali sih," Ardian menggelengkan kepalanya.


"Ini sudah rezeki. Lagian banyak anak banyak rezeki loh. Sudah tidak usah di bahas, kamu tumben pulang tidak mengabari kakak, pasti ada perlu kan?" tanya Aluna curiga karena biasanya saat Ardian pulang dia akan mengabari Aluna dan bertanya meminta oleh-oleh apa. Akan tetapi, sekarang Ardian pulang tanpa mengabari sama sekali membuat perasaan Aluna mengatakan ada yang tidak beres dengan adiknya itu.


"Tidak! Aku cuma kangen sama kakak, semenjak ibu meninggal kakak kan pindah ke Mansion ini jadi aku pengen dong sekarang tinggal dekat Kakak lagi," jawab Ardian, bukannya percaya Aluna justru semakin curiga kepada Ardian.


"Apa usahamu bangkrut?" tanya Aluna penasaran.


"Tidak juga, usahaku semakin sukses sekarang Kak, bukannya Kakak tiap bulan selalu aku kasih bocoran pemasukanku," timpal Ardian.


"Duduk dulu sayang, ibu hamil tidak boleh terlalu banyak berdiri lagipula baby Nadira sudah menunggu kamu," kata Davin, dia menghentikan Aluna yang hendak bertanya lagi. Aluna berjalan mendekati mertuanya, setelah menyalami mereka, Aluna mengambil alih baby Nadira dari pangkuan ibu mertuanya, tetapi belum sampai baby Nadira sampai di pangkuan Aluna, Davin sudah terlebih dahulu mengambil alih.


"Sayang, kamu ganti celana dulu. Aku tidak ingin perutmu semakin tertekan," suruh Davin, Aluna menutup mulutnya karena dia kembali merasakan mual saat Davin berada di dekatnya.


"Mas, menyingkirlah! Aku mual lagi," Aluna segera berlari menuju ke kamar mandi.


"Sayang, jangan lari-lari! Kamu harus ingat ada janin yang harus kamu jaga!" teriak Davin tetapi Aluna sudah tidak terlihat lagi. "Kenapa aneh sekali? Kadang mual kadang tidak, padahal tadi di minimarket dia tidak mual," gumam Davin.


"Orang hamil itu memang tidak bisa di tebak Vin karena itu bawaan dari si jabang bayi," terang Nyonya Anita. Ardian pun ikut duduk kembali bersama mereka.


"Kamu beneran baik-baik saja, Ar?" tanya Davin, dia pun curiga kepada adik iparnya itu.


"Sebenarnya aku lagi nyari orang Kak," jawab Ardian pelan.


"Nyari orang? Siapa?" tanya Davin lagi.

__ADS_1


"Ya pokoknya ada Kak, katanya orang itu ada di daerah sini makanya aku ngejar kesini," jawab Ardian lagi, dia menghembuskan nafasnya kasar. "Aku belum bisa cerita sekarang Kak," sambung Ardian. Davin pun hanya diam, karena dia tidak ingin terlalu ikut campur urusan adik iparnya itu.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Kak bisakah aku bicara berdua sama Kakak?" tanya Ardian saat Aluna baru saja menidurkan baby Nadira.


"Kamu tidak pulang ke mansion papa Bagas?" Aluna justru bertanya balik.


"Nanti, setelah aku selesai bicara sama Kakak, aku akan pulang ke mansion papa Bagas," sahut Ardian, Aluna pun mengikuti Ardian menuju taman.


"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Davin saat dia melihat Aluna berjalan bersama Ardian.


"Aku ada perlu sama Ardian, bisakah kamu menjaga baby Nadira sebentar Mas?" tanya Aluna penuh harap.


"Baiklah, jangan lama. Kamu harus ingat ada janin yang harus kamu jaga," nasihat Davin berulang kali. Aluna pun hanya mengiyakan.


Ardian dan Aluna duduk di taman belakang mansion. Aluna menatap lekat adiknya itu, dia tahu pasti ada sesuatu yang Ardian sembunyikan dari dirinya.


"Bicaralah jujur Dek, walaupun itu akan sangat menyakitkan," kata Aluna, Ardian langsung menoleh ke arah Aluna, dia pun menghela nafas panjang.


"Kak, aku mau minta maaf sama Kakak," Suara Ardian terdengar begitu lirih.


"Untuk?" tanya Aluna, dia menatap bingung ke arah Ardian.


"Aku sudah benar-benar buat Kakak kecewa. Aku sudah menodai seorang gadis Kak," jawab Ardian.


PLAK!


"Bagaimana bisa?!" tanya Aluna sedikit membentak. Raut wajah Aluna menampilkan kekecewaan yang begitu besar.


"Semua terjadi saat aku ikut acara temen aku di club malam, aku tidak tahu kalau minumanku ternyata mengandung alkohol kadar tinggi karena teman-temanku begitu mendesakku untuk meminumnya," jelas Ardian.


"Terus kamu minum begitu saja dan mabuk lalu kamu tanpa sadar menodai seorang gadis, begitu?" tebak Aluna, Ardian tidak menjawab karena apa yang dikatakan Aluna itu benar.


"Maaf Kak," lirih Ardian sembari memegang pipinya yang memerah.


"Lalu tujuan kamu kesini untuk apa?" tanya Aluna mengintimidasi.


"Setelah kejadian itu, aku mencari identitas gadis itu. Aku berhasil menemukan rumahnya dan aku bertemu kedua orang tuanya," Ardian terdiam sesaat sedangkan Aluna masih menunggu penjelasan Ardian. "Ayahnya sakit stroke dan ibunya hanyalah seorang buruh cuci sedangkan adiknya masih sekolah SMP. Katanya, gadis itu biasa kerja di club malam itu, tetapi waktu aku menodainya ternyata dia masih perawan Kak,"


"Kamu yakin tidak salah orang?" tanya Aluna.


"Yakin Kak, aku benar-benar tidak lupa dengan gadis itu. Waktu aku tanya ke ibunya, beliau bilang anak gadisnya sedang merantau ke Jakarta Kak itu sebabnya aku mencarinya kesini," Ardian mendengar hembusan nafas kasar dari mulut Aluna, Ardian tahu kakaknya sekarang pasti sedang sangat kecewa.


"Kak, aku minta maaf sudah membuat Kakak kecewa," sesal Ardian, Aluna langsung memeluk adiknya erat.


"Kakak juga minta maaf sudah menampar kamu begitu saja," sahut Aluna, suara Aluna terdengar bergetar, Ardian tahu kakaknya kini sedang menangis.


"Tidak masalah Kak, aku pantas mendapatkannya," Ardian melepas pelukan Aluna dan menatap Aluna dengan tersenyum.


"Biar nanti kakak iparmu dan kak Ronal yang membantumu mencari keberadaan gadis itu," ucap Aluna, Ardian pun tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Terima kasih Kak, aku sayang kakak," kata Ardian, dia kembali memeluk tubuh kakaknya.


"Kakak juga sayang sama kamu," balas Aluna pelan. Setelah puas berpelukan, Aluna dan Ardian kini duduk di kursi ayunan yang berada di taman itu.


"Habis ini kamu mau tinggal dimana?" tanya Aluna memecah keheningan.


"Mungkin aku akan tinggal di rumah kita yang dulu Kak," jawab Ardian pelan.


"Kenapa kamu tidak tinggal di mansion papa Bagas? Rumah itu sudah di ambil si pemilik kontrakan Dek,"


"Aku akan sewa lagi Kak. Aku tidak mau merepotkan keluarga Bagaskara," ucap Ardian, Aluna kembali menatap ke arah adiknya.


"Kamu tidak mungkin merepotkan papa Bagas, kamu juga sudah di anggap papa Bagas sebagai anaknya. Kakak akan merasa sangat tenang kalau kamu tinggal bersama papa Bagas,"


"Kakak kan tahu aku sudah terbiasa mandiri, sejak ibu meninggal. Kakak sudah tinggal di Mansion Alexander lalu ke Mansion Bagaskara. Jadi, Kakak tidak perlu khawatir lagi sama aku," Aluna terisak mendengar jawaban Ardian.


"Maafin Kakak ya Dek, Kakak sudah tega meninggalkan kamu sendirian," ucap Aluna di sela isak tangisnya.


"Jangan menangis Kak, bukankah Kakak selalu mengatakan kalau menjadi lelaki itu harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri? Aku harus bisa menjadi lelaki yang tangguh, karena lelaki itu memiliki tanggung jawab yang besar apalagi suatu saat aku akan menjadi seorang kepala keluarga," kata Ardian, dia berusaha terlihat setenang mungkin. "Kak, lagipula semua bukan salah Kakak atau keluarga Bagaskara, kalian sudah mengajak aku tinggal bersama tapi aku saja yang menolaknya. Jadi, jangan pernah salahkan diri kakak, kakak harus jaga kesehatan Kakak dan calon keponakan aku," Ardian berusaha menenangkan kakaknya yang masih terisak.


"Baiklah, setidaknya kamu sekarang dekat dengan Kakak, lantas usahamu di Bandung siapa yang memegang?" tanya Aluna, isakan mulai terdengar berhenti.


"Aku percayain sama sahabat deket aku Kak, kita yang berjuang sama-sama. Jadi, sementara dia yang akan memegang kendali sampai gadis itu ketemu," jawab Ardian. "Kak," panggil Ardian ragu.


"Kenapa?" tanya Aluna menatap Ardian ingin tahu.


"Kalau seandainya aku menemukan gadis itu, apakah kakak akan menerimanya? Dia berasal dari kalangan biasa Kak," tanya Ardian ragu.


"Kamu pikir Kakak melihat seseorang dari status sosialnya? Harusnya kamu masih ingat Dek, Kakak bukan orang yang seperti itu. Walaupun Kakak menjadi anak angkat dan istri pemilik perusahaan berpengaruh di negara ini tetapi Kakak tidak akan pernah lupa darimana Kakak berasal, bahkan Kakak masih ingat bagaimana Kakak harus ikut banting tulang untuk mencukupi kebutuhan kita," Airmata Aluna kembali menetes saat mengingat betapa susahnya hidupnya dulu.


"Ardian tahu Kak, Kakak memang orang yang sangat hebat walaupun Kakak sangat keras kepala tetapi aku sangat bangga sama Kakak," kata Ardian, Aluna kembali memeluk tubuh Ardian. "Sudahlah Kak, aku tidak mau Kakak bersedih lagi, jangan sampai terjadi apa-apa dengan calon keponakanku atau aku akan di gantung sama suami bucinmu itu," ledek Ardian, Aluna terkekeh geli sembari mengusap airmatanya.


"Dasar adik durhaka! Ayo kita kompres pipimu yang memerah ini. Maafkan Kakak ya, pasti ini sangat sakit," Aluna memegang pipi Ardian yang terlihat begitu memerah.


"Kak, aku ini lelaki jadi luka segini tidak ada apa-apanya buat aku," angkuh Ardian, Aluna langsung menjewer telinga Ardian dengan gemas. "Sakit Kak, kenapa kebiasaan Kak Aluna belum juga hilang," cebik Ardian sambil mengusap telinganya.


"Ayo obati lukamu, setelah ini kamu ke Mansion Bagaskara, Al pasti sudah sangat merindukanmu," kata Aluna, dia beranjak bangun untuk mengompres luka bekas tamparan di pipi Ardian.


Author kasih cerita tentang Ardian ya,


karena akhir-akhir ini ada yang komentar kemana Ardian,


Jadi, author kasih penjelasan kenapa Ardian jarang muncul ya dan kisah Ardian bakal ikut campur disini


kemungkinan ceritanya bakalan masih panjang


semoga tidak pada bosan yaa


dukungan buat Author jangan lupa


terima kasih untuk yang sudah setia baca

__ADS_1


salam sayang dari Author recehan


__ADS_2