
"Kamu sudah sadar?" tanya Asisten Jo saat melihat Mila membuka kedua kelopak matanya.
"Mas," panggil Mila lirih. Asisten Jo langsung mendekap erat tubuh Mila. Suara isakan dari bibir Mila mulai terdengar lagi.
"Aku sendirian mas, aku sendiri," Asisten Jo mengusap lembut rambut Mila.
"Ada aku disini, biarkan ibu pergi dengan tenang. Semua sudah takdir Tuhan dan kita harus ikhlas. Kamu tahu, ibu pasti pergi dengan bahagia karena telah melihatmu bahagia," Asisten Jo mengeratkan pelukannya sesaat kemudian dia melepaskannya. Kedua tangannya menangkup wajah Mila.
"Kau harus ingat, ada anak kita di dalam perut kamu yang harus kamu jaga," Mila membisu namun isakan tangisnya mulai mereda.
"Aku mau lihat ibu mas," pinta Mila, Asisten Jo langsung mengambil kursi roda, menyuruh Mila duduk disana kemudian Asisten Jo membawa Mila melihat jenazah ibunya yang hendak di bersihkan. Tangis Mila mulai terdengar lagi saat dia sudah di samping jenazah ibunya. Dia mengusap wajah yang telah pucat itu. Wajah yang sudah tidak lagi menampilkan kehidupan.
"Bu, kenapa ibu meninggalkan Mila begitu cepat? Bahkan tanpa berpamitan, ibu langsung pergi begitu saja. Harusnya ibu bilang sama Mila, jadi Mila bisa menyiapkan hati Mila untuk melepas kepergian ibu," Mila menangis terisak, wajahnya kini telah penuh dengan airmata. Asisten Jo berdiri di belakang Mila, mengusap kedua bahu istrinya untuk menguatkannya.
"Bu, kenapa ibu tidak menunggu sebentar lagi? Menunggu cucu ibu lahir ke dunia ini. Apa ibu tidak ingin menggendongnya? Apa ibu tidak ingin mendengar tangisannya? Padahal selama ini, ibu selalu menanti kehadirannya," tangis Mila lagi. Asisten Jo benar-benar tidak kuat mendengar ucapan istrinya itu namun dia ingin Mila menjadi lega jika apa yang mengganjal di hatinya telah keluar. Aluna yang baru saja datang bersama kedua mertua dan orang tua Asisten Jo, langsung berdiri di samping Davin yang berada di belakang Mila. Mereka pun hanya diam mendengarkan, Davin merangkul tubuh Aluna yang telah menangis.
"Bu," Mila merebahkan kepalanya di samping wajah ibunya, "Padahal semalam, ibu bilang sudah tak sabar ingin menimang cucu ibu, ibu selalu bilang bahwa Mila harus kuat dan tahan karena saat melahirkan nanti rasanya akan sangat sakit tapi akan langsung sembuh saat melihat bayi kita. Ibu berkali-kali berpesan pada Mila kalau Mila harus jadi wanita hebat. Bu, kenapa ibu begitu tak sabar meninggalkan Mila? Padahal cucu ibu tinggal dua bulan lagi lahir. Apa ibu tidak sayang Mila? Kenapa ibu begitu tega pada Mila? Hiks hiks," Suara tangisan Mila terdengar begitu menyayat hati siapa saja. Asisten Jo langsung menarik tubuh Mila masuk ke dalam pelukannya. Airmata Asisten Jo telah menetes, dia benar-benar sakit melihat Mila seperti ini.
"Tenanglah, ada aku di sampingmu yang menjagamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," Asisten Jo mendekap erat tubuh Mila yang sedang rapuh itu. Berusaha menyalurkan kekuatan untuk Mila. Aluna menangis terisak, dia benar-benar tak tega melihat Mila, dia pernah merasakan berada di posisi Mila. Kehilangan orang yang kita cintai untuk selama-lamanya.
"Tenanglah, kamu juga harus pikirkan bayi kita. Bukankah kamu sudah berjanji pada ibu kalau kamu akan menjaga bayi kita, membesarkannya dan kamu akan menjadi ibu yang hebat," ucap Asisten Jo lembut, dia tidak merasakan gerakan tubuh Mila dan tubuh Mila terasa begitu lemas. Asisten Jo melepas pelukannya, ternyata Mila kembali pingsan. Asisten Jo segera membawa Mila ke ruang rawat dan meminta jenazah ibu mertuanya segera di urus.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
"Mil, kamu harus sabar ya. Sakit memang saat kehilangan orang yang kita sayang, tapi kamu juga harus pikirkan anak yang ada di perut kamu," ucap Aluna. Kini, dia sedang menemani Mila di kamarnya. Pemakaman Ibu Eni telah usai, bahkan Mila kembali pingsan saat ibunya di masukkan ke liang lahat. Mila hanya diam, namun dia terdengar berkali-kali menghela nafas panjang.
"Aku masih shock saja Lun, kenapa ibu pergi begitu saja. Padahal ibu pagi masih baik-baik saja, masih masak buat aku," lirih Mila, dia kembali hendak terisak. Aluna langsung memeluk tubuh Mila.
"Dulu, ayah juga meninggalkan aku begitu saja, hingga aku harus berjuang agar bisa bertahan hidup bersama ibu, sekarang ibu juga meninggalkanku begitu saja padahal sebentar lagi cucu nya akan lahir,"
"Semua nyawa itu milik Tuhan. Semua sudah ada garis takdirnya masing-masing. Nyawa seseorang tidak ada yang tahu. Saat kita di tinggal, kita hanya perlu banyak bersabar dan mendoakan Mil. Kalau kamu terus-terusan gini, yang ada ibu kamu tidak akan pergi dengan tenang," Aluna melepaskan pelukannya, dia melihat Mila sudah mulai tenang. Ibu mertua Mila masuk membawa nampan berisi makanan, dia duduk di samping Mila.
"Makan dulu sayang, kamu harus menjaga kesehatan kamu dan anak kamu," suruh Nyonya Rina lembut. Mila hanya menunggingkan senyum paksa.
"Nanti Mila makan bu. Mila belum lapar," tolak Mila halus.
"Kamu harus makan sayang, bukankah sedari tadi kamu belum makan. Kasihan anak kamu," Mila menggeleng pelan. Rasanya Dia benar-benar tidak ingin makan. Asisten Jo yang sedari tadi di luar pun akhirnya masuk ke kamar. Dia menatap wajah istrinya yang nampak sendu lalu menatap ibu nya yang sedang memegang nampan berisi makanan yang masih utuh.
"Makanlah. Aku tidak melarang kamu untuk bersedih, akan tetapi kamu juga harus pikirkan kondisi kamu dan anak kita. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa," ucap Asisten Jo lembut.
"Mas," panggil Mila lirih. Asisten Jo langsung memeluk Mila.
"Ada aku disini, kamu tidak sendirian lagi. Bukankah kamu percaya kalau aku sangat menyayangimu? Bukankah kamu percaya padaku kalau aku bisa menjaga kamu seumur hidupmu?" Mila tidak menjawab, dia hanya menangis dalam pelukan suaminya.
"Aku percaya mas," sahut Mila, Asisten Jo semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mencintaimu," bisik Asisten Jo. Mila tertegun, dia tidak percaya jika Asisten Jo bisa mengucapkan kata cinta untuknya.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu tidak bisa menempatkan ucapanmu sih?!" kesal Mila, dia menepuk dada suaminya.
"Maksud kamu?" tanya Asisten Jo bingung. Dia melepas pelukannya dan menatap ke arah Mila yang sedang cemberut sambil mengusap airmatanya
"Aku selalu nunggu kamu bilang cinta tapi kamu gak pernah bilang. Giliran sekarang aku lagi berduka gini, kamu bilang cinta. Aku mau jingkrak-jingkrak kan malu mas," cebik Mila kesal. Asisten Jo mengerutkan keningnya.
"Buat apa kamu jingkrak-jingkrak?"
"Ya tanda aku bahagia, kamu kan gak pernah bilang cinta mas," Mendengar jawaban Mila, Asisten Jo langsung mengusap wajahnya kasar.
"Astaga Mila!!" pekik Asisten Jo.
"Kenapa kamu marahi aku? Apa aku salah?" Mila mengusap airmata yang mengalir lagi di pipinya.
"Ya Tuhan," Asisten Jo menggaruk kasar rambutnya yang tidak gatal. Dia benar-benar harus bersabar menghadapi istrinya yang menyebalkan itu.
Thor, kok gak pake visual? Autor gak pintar nyari visual. Kalau gak pas, takutnya membuyarkan imajinasi author ataupun para readers.
jadi pada pakai visual di otak masing-masing saja ya,
atau kalau tidak bisa kasih saran buat author, kira-kira siapa yang cocok jadi visual di cerita ini
salam sayang dari Author recehan
__ADS_1