
Ruang Keluarga Mansion Alexander
Tuan Doni duduk berdampingan dengan Nyonya Anita, berhadapan dengan Tuan Bagas dan Ronal sedangkan di samping mereka, Aluna dan Davin duduk bersebelahan dengan Asisten Jo yang berdiri setia di belakang Tuan Mudanya. Berkali-kali Davin mencoba menggenggam tangan Aluna tetapi Aluna selalu menolaknya.
"Aluna, Mommy dan Ayah minta maaf karena Davin sudah sangat menyakiti kamu ya Lun. Davin memang keterlaluan tapi Mommy mohon, jangan kamu tinggalkan Davin lagi. Jika dia bersalah, pukul saja dia tapi jangan pernah tinggalkan dia ya Lun," Nyonya Anita bicara dengan sedih. Dia hanya berharap semoga Aluna lekas memaafkan Davin.
"Sayang," panggil Davin lirih. Namun, Aluna tetap diam pada posisinya. Davin lalu berjongkok di depan Aluna, tangannya menggenggam tangan Aluna dengan erat meskipun Aluna menolak tetapi Davin berusaha tetap mempertahankan genggaman tangannya.
"Aku mohon maafkan aku, beri aku satu kesempatan lagi ya," pinta Davin sambil menciumi genggaman tangan itu. Aluna menatap dalam ke arah Davin. Hatinya benar-benar bimbang harus bagaimana, dia marah dengan Davin tetapi jika harus berpisah dengan Davin, seperti ada perasaan tak rela dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Beri aku waktu," Suara Aluna terdengar begitu lirih tetapi masih bisa terdengar di telinga mereka.
__ADS_1
"Lun, beri keputusan kamu saat ini juga. Bukankah Kakak sudah bilang? Jangan permainkan perasaan orang lain. Kakak sudah melihat kesungguhan Davin, dia sangat mencintaimu. Jangan kamu siksa dia lagi. Kakak tahu kamu terluka karena perkataan Davin tetapi Davin juga sangat terluka karena kepergian kamu," nasihat Ronal. Aluna hanya diam merenungi.
"Beri keputusan kamu saat ini juga. Jika kamu mau kembali kepada Davin, tinggalah disini tapi jika kamu sudah tidak mau, ikut kakak pulang dan segera layangkan gugatan cerai kepada Davin." Tubuh Davin menegang mendengar ucapan Ronal. Semua pun terkejut mendengar ucapan Ronal. Namun, Ronal tetap bersikap biasa saja.
"Kak," Wajah Aluna memelas. Dia meminta sedikit lagi waktu tapi Ronal adalah orang yang tegas. Aluna membisu, dia bingung harus menjawab apa.
"Lun, aku mohon maafkan aku," kata Davin lemah tetapi genggaman tangannya justru semakin erat. Davin takut jika Aluna melepaskan genggaman tangan itu dan lebih memilih pergi dari dirinya. Kedua bola mata Aluna menatap semua yang hadir bergantian hingga saat matanya menatap mata Davin, dia merasakan sakit di hatinya melihat Davin yang terlihat begitu terpuruk. Aluna mengamati tubuh Davin yang terlihat lebih kurus daripada saat terakhir dia melihat Davin dua bulan lalu. Aluna menghirup nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Satu," hitung Ronal. Aluna masih diam sedangkan Davin semakin menggenggam erat tangan Aluna.
"Dua," Semua berdebar menunggu keputusan Aluna. Davin semakin menciumi genggaman tangan itu. Dia tidak ingin Aluna benar-benar pergi dari dirinya. Aluna masih diam belum menunjukkan respon apa-apa. Ronal menghembuskan nafasnya kasar melihat Aluna yang hanya diam saja.
__ADS_1
"Ti...."
"A-Aku akan mencoba tinggal disini lagi," ucap Aluna memotong hitungan Ronal yang belum selesai. Semua tersenyum mendengar jawaban Aluna tak terkecuali Davin. Dia langsung menarik tubuh Aluna, membenamkannya dalam pelukannya. Sungguh, hatinya merasa sangat bahagia.
"Terima kasih sayang," kata Davin, dia mencium puncak kepala Aluna berkali-kali. Semua menitikkan airmata karena terharu melihat Aluna yang mau memaafkan Davin.
"Aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu," kata Davin senang sambil berulang kali mencium pipi Aluna, membuat wajah Aluna merona merah karena malu. Kedua bola mata Davin mengeluarkan airmata karena saking bahagianya.
"Terimakasih sayang. Aku mencintaimu," kata Davin lagi. Dia memeluk erat tubuh Aluna sedangkan Aluna tidak merespon kata-kata Davin tapi kedua tangannya membalas pelukan Davin di tubuhnya.
semoga cinta mereka benar-benar abadi. Sudah cukup penderitaan Tuan Davin. Biarlah ini menjadi pelajaran untuk mereka berdua. Batin Asisten Jo. Telapak tangannya mengusap sudut matanya yang sudah basah. Dia ikut bahagia karena Aluna mau memaafkan Davin, karena selama dua bulan ini dia yang paling tahu bagaimana penderitaan Tuan Mudanya itu karena kepergian Aluna.
__ADS_1