
Pagi ini Tuan Davin sudah bersiap berangkat ke kantor tetapi saat dia sampai di ruang makan, tidak ada seorang pun yang duduk untuk sarapan. Kemudian, dia melihat jam tangannya ternyata sudah hampir jam delapan. Tuan Davin pun mendesah pelan.
Gara-gara susah tidur jadi kesiangan kan,semua orang sudah berangkat. Batin Tuan Davin.
"Anda tidak sarapan Tuan Muda?" tanya Mbok Nah, :Kepala Pelayan di Mansion Alexander.
"Tidak Mbok, sudah kesiangan. Aku berangkat dulu ya," Tuan Davin pun berjalan keluar. Ketika sampai diluar dia melihat Asisten Jo sudah berdiri di samping mobilnya. Namun, Tuan Davin melihat muka Asisten Jo sedikit suram.
"Selamat pagi Tuan," sapa Asisten Jo sambil membuka pintu mobil untuk Tuan Davin. Kemudian, dia melajukan mobilnya menuju Perusahaan Alexander.
--------------@@@@@@--------
Tuan Davin duduk gusar di kursi kerjanya. Dia memegang dokumen tetapi matanya berulang kali melirik komputernya.
kenapa belum datang? Tanya Tuan Davin dalam hati. Asisten Jo tau pasti Tuan Davin menunggu kedatangan Nona Aluna.
"Tuan," panggil Asisten Jo lirih.
__ADS_1
"Hmm," Tuan Davin berpura-pura fokus dengan dokumennya.
"Nona Aluna tidak berangkat," Tuan Davin mengangkat kepalanya menatap Asisten Jo yang kini berdiri di sampingnya.
"Kenapa? Apa karena Kakek mengizinkan dia memakai motor semaunya sendiri jadi dia merasa bebas? Atau karena kencan semalam dengan pacar jeleknya itu masih kurang puas?" omel Tuan Davin. Asisten Jo menghirup nafasnya dalam-dalam.
"Bukan karena itu, Tuan." Asisten Jo seperti berat untuk berbicara.
"Terus?"
"Tuan besar, Tuan Doni dan Nyonya Anita sudah di rumah Nona Aluna untuk menemani proses pemakaman ibu Nona Aluna," jelas Asisten Jo.
"Memang siapa Aluna? Kenapa keluarga Alexander datang melayat semua?" tanya Tuan Davin heran.
"Karena Nona Aluna merupakan salah satu karyawan terbaik di perusahaan ini," jawab Asisten Jo. Juga karena Nona Aluna merupakan salah satu anak angkat orang terpandang di negara ini. Batin Asisten Jo.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi, Jo?" tanya Tuan Davin dengan nada sedikit membentak. Entah mengapa, hatinya rasanya sudah tak karuan. Dia lalu beranjak bangun dan pergi keluar kantor. Asisten Jo tanpa banyak bicara langsung mengikuti Tuan Davin. Ketika sudah di mobil Asisten Jo langsung melajukan mobilnya ke rumah Aluna.
__ADS_1
Ketika sampai di rumah Aluna ternyata jenazah sedang di makamkan. Mereka berdua pun langsung menuju ke pemakaman. Sesampai di pemakaman ternyata prosesnya baru selesai, Tuan Davin berlari mendekat ke pusaran Ibu Aluna. Dia melihat Aluna terduduk di samping makam ibunya berdampingan dengan Ardian sedangkan Kakek dan kedua orang tuanya berdiri di belakang Aluna. Tanpa banyak bertanya, Tuan Davin langsung berjongkok di samping Aluna dan merangkulnya. Semua yang melihat pun terkaget.
"Lepaskan tangan anda Tuan," perintah Aluna lirih karena dia merasa sudah tak bertenaga.
"Biar aku menjadi sandaranmu sekali ini saja. Aku tahu kamu butuh sandaran,"
"Jangan terlalu percaya diri Tuan. Saya tidak selemah yang anda kira," tolak Aluna sambil berusaha melepaskan rangkulan Tuan Davin. Namun, Tuan Davin semakin mempererat rangkulannya.
"Kalau kamu berani melepas rangkulanku maka aku akan memelukmu!" ancam Tuan Davin. Semua yang melihat hanya menghela nafas panjang.
"Kalau anda berani memeluk saya, maka saya jamin masa depan anda akan putus Tuan!" Aluna balik mengancam .
Astaga! Bahkan dalam keadaan berduka pun mereka terus saja berdebat.
"Sudah diamlah! Aku tidak menerima bantahan!" Tuan Davin berbicara dengan tegas. Aluna pun hanya diam karena dia lelah berdebat. Setelah selesai berdoa mereka kembali pulang ke rumah Aluna.
Jangan lupa tinggalkan vote dan like ya gaes...
__ADS_1