Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
46


__ADS_3

Aluna menggandeng tangan Ardian, mereka berlari menuju motornya. Aluna sengaja menghindar dari amukan singa jantan. Namun, saat Aluna akan menaiki motornya tiba-tiba tangannya di cekal oleh Davin.


"Mau kemana kamu?!" tanya Davin mengintimidasi.


"Bukan urusanmu! Aku mau pulang, aku udah capek," jawab Aluna jutek.


"Pulang denganku! Aku tidak menerima penolakan,"


"Emang Loe siapa gue?!" Singa betina Mode-On. Nada bicara berubah lagi karena memang Aluna bukanlah orang yang suka di atur.


"Calon istri ku dan calon ibu dari anak-anakku," jawab Davin tegas, membuat Aluna terdiam sesaat. Setelah itu Aluna tertawa lebar.


"Dalam mimpi Loe!" bentak Aluna. Davin hanya menyeret Aluna menuju mobilnya. Aluna meronta berusaha melepaskan tetapi cekalan tangan Davin begitu kuat sedangkan kawan-kawan Rio yang hendak menolong Aluna di cegah oleh Rio karena dia tahu siapa Tuan Muda Davino Alexander itu.


"Lepasin!" Aluna masih terus meronta tetapi Davin tetap tak gentar. Dia tetap menarik tangan Aluna menuju mobilnya. Ketika sudah sampai di dekat mobilnya, Davin langsung mendorong pelan tubuh Aluna masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Jangan khawatirkan Aluna, silahkan kalian semua pulang nanti aku akan mengantar Aluna pulang dengan selamat tanpa lecet sedikitpun," Aura pemimpin dalam diri Davin keluar. Semua menurut, mereka pun pergi termasuk Rio dan Ardian karena mereka percaya dengan Davin. Setelah semua pergi, Davin masuk ke mobil dan melajukannya ke suatu tempat.


Selama perjalanan Aluna hanya menatap keluar jendela. Dia masih merasa sangat kesal. Bibirnya menggerutu sambil berkali-kali mengumpati Davin sedangkan Davin hanya tersenyum simpul melihat tingkah Aluna.


"Mengumpatlah yang keras supaya aku mendengar," kata Davin sinis. Aluna langsung menatap Davin lekat.


"Jangan terlalu lama menatapku nanti kamu jatuh cinta padaku," goda Davin. Aluna mencebikkan bibirnya kesal.


"Elo mau bawa gue kemana?!" tanya Aluna saat dia merasa asing dengan jalanan yang dilewatinya.


"Terserah gue dong, mulut gue apa urusannya sama elo?" Mendengar pertanyaan Aluna. Davin langsung menghentikan mobilnya lalu dia menatap Aluna dalam dan secepat kilat dia mencium bibir Aluna. Aluna langsung terdiam, tubuhnya rasanya menegang.


"Jangan kurang ajar elo ya?! Main sosor aja!" bentak Aluna marah.


"Terserah gue dong, mulut gue apa urusannya sama elo?" Davin menirukan perkataan Aluna membuat Aluna semakin kesal.

__ADS_1


"Bukan jadi urusan gue kalau yang elo cium itu bukan bibir gue!" Aluna mengelap bibirnya kasar tetapi Davin langsung menciumnya lagi.


"Apa elo seorang maniax ciuman?!" tanya Aluna membentak. Davin menatap Aluna begitu lekat. Aluna memalingkan wajahnya karena dia takut khilaf terpesona oleh tatapan Davin.


"Setiap kali aku dengar kamu bicara Loe-gue padaku maka aku akan menciummu tanpa peduli bagaimana dan di manapun keadaanya," ancam Davin, dia kembali melajukan mobilnya. Aluna hanya terdiam merasakan bibirnya basah karena bekas ciuman


rasanya begitu manis ternyata kalau ciuman


. Batin Aluna sambil senyum-senyum sendiri.


"Ngapain senyum sendiri gitu? Jangan-jangan kamu sudah mulai gila," cibir Davin. Aluna pun langsung berhenti tersenyum dan mendelik ke arah Davin.


"Loe eh kamu tuh yang gila!" ketus Aluna, dia lalu menjulurkan lidahnya mengejek Davin. Davin hanya tersenyum simpul melihat tingkah Aluna.


"Ya, aku gila karena mencintaimu," gombal Davin. Aluna menghela nafasnya malas. Kemudian dia menatap keluar jendela, beberapa saat kemudian dia tertidur karena tubuhnya yang merasa sangat lelah.

__ADS_1


__ADS_2