
Mila dan Asisten Jo kini berada ruangan Dokter Mery, dokter kandungan yang dulu juga menangani Aluna. Asisten Jo menatap ke layar, dimana dia melihat sebuah bulatan kecil hitam nampak di layar.
"Apa itu calon bayi saya dok?" tanya Asisten Jo sambil mengamati layar USG itu. Dokter Mery tersenyum simpul sedangkan Mila belum paham.
"Iya Tuan, ini calon bayi anda dan Nona Mila, baru memasuki usia lima minggu," jelas Dokter Mery, senyum di bibir Asisten Jo langsung terbit.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu mas? gak usah kegenitan sama dokter cantik mas," tukas Mila, Asisten Jo langsung menatap kesal ke arah Mila.
"Maaf Nona, jangan salah paham. Suami anda tersenyum karena sebentar lagi dia akan menjadi ayah dan anda akan menjadi ibu," Dokter Mery berusaha menjelaskan agar Mila tidak salah paham. Mila terdiam sesaat mencerna ucapan dokter Mery.
"Saya akan menjadi seorang ibu, Dok?" tanya Mila memastikan. Dokter Mery mengangguk pelan membuat Mila menjadi heboh.
"Bisakah kamu tenang? Aku tidak ingin anak kita kenapa-napa," suruh Asisten Jo khawatir. Dia memegang kedua bahu Mila dan menatapnya penuh cinta.
"Jangan menatapku seperti itu mas, aku benar-benar ingin mengukungmu di kamar," goda Mila, Asisten Jo refleks langsung menyentil kening Mila.
"Auh! Sakit sayang, kamu kasar sekali! Biasanya kalau tahu istri hamil langsung disayang, dicium, sama bilang 'makasih sayang, aku mencintaimu'. Lah kamu, tahu aku hamil boro-boro di cium, di peluk aja enggak yang ada malah di sentil," Asisten Jo langsung membekap mulut Mila.
"Kenapa mulutmu sekarang cerewet sekali?"
"Mas," Mila langsung terdiam saat Asisten Jo mengecup bibirnya sesaat.
"Diamlah!" suruh Asisten Jo setengah kesal.
"Mas, kenapa kamu cuma nyium lima detik? lima menit dong mas," rengek Mila, membuat wajah Asisten Jo memerah karena kesal dan juga malu pada Dokter Mery yang sedari tadi menatap mereka berdua dengan senyum-senyum. Setelah berbincang-bincang dan berkonsultasi, kini mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang.
"Apa kamu ingin makan sesuatu?" tawar Asisten Jo, karena dia tahu biasanya wanita hamil banyak maunya.
"Mas," panggil Mila ragu. Asisten Jo menoleh sesaat kemudian kembali fokus pada jalanan.
"Bolehkah aku minta sesuatu? tapi aku kok takut kamu marah ya mas," Mila menggigit jari telunjuknya pelan.
__ADS_1
"Memang mau apa?" tanya Asisten Jo heran.
"Emm... mas, bolehkan aku memeluk Tuan Kevin?!"
cittttt. Mobil itu langsung mengerem mendadak hingga tubuh mereka terhuyung ke depan.
"Maaf, apa kamu baik-baik saja?" tanya Asisten Jo dengan sangat khawatir.
"Kenapa kamu mengerem mendadak sih mas? kalau aku terbentur dashboard ini lalu amnesia gimana?" omel Mila kesal.
"Kamu kalau bicara bisa yang bener gak sih?! lagian kenapa kamu ngidam aneh-aneh aja," sewot Asisten Jo saat dia teringat apa kemauan Mila.
"Mas, aku tuh cuma kebayang wajah tampan Tuan Kevin dan bagaimana rasanya kalau berada di pelukannya," Mila tersenyum sendiri membayangkan wajah Tuan Kevin tanpa dia sadari suami yang berada di sampingnya sudah mengepalkan tangannya erat dengan rahang yang mengeras.
"Jangan kamu manfaatkan masa ngidammu menjadi kesempatan kamu buat mesra-mesraan sama pria lain!" bentak Asisten Jo kesal.
"Aku gak memanfaatkan keadaan mas! aku beneran ingin sekali di peluk Tuan Kevin tapi kenapa kamu malah ngebentak aku. Hiks hiks" Mila menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis terisak membuat Asisten Jo mengusap wajahnya kasar.
"Bukan begitu maksud aku," Asisten Jo melembutkan suaranya. "Kamu boleh minta apapun asal jangan di peluk pria lain. Harusnya kamu tahu bagaimana perasaanku?" Asisten Jo berusaha menahan emosinya. Memang menghadapi wanita hamil itu butuh kesabaran ektra.
"Beneran ya mas," Mila heboh, Asisten Jo tetap menanggapi dengan anggukan pelan. "Karena tak boleh pelukan, maka aku ingin foto berdua saja dengan Tuan Kevin. Beneran mas, aku pengen banget foto sama Duda tampan, macho, tajir pula. Cuma foto kok mas, gak yang lainnya beneran," cerocos Mila tanpa peduli Asisten Jo yang menatapnya tajam.
"MILAAAAA!!!!" Teriak Asisten Jo saking kesalnya. Mila menatap bingung ke arah suaminya yang sedang mengacak-acak rambutnya.
"Apa aku salah, mas?" tanya Mila seolah tak bersalah.
"Menurut kamu!" bentak Asisten Jo membuat mata Mila kembali berkaca-kaca.
Ya Tuhan, beri kesabaran yang lebih padaku.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀*
__ADS_1
"Sayang," panggil Davin saat Aluna telah menidurkan baby Al.
"Kenapa?" tanya Aluna, dia menahan geli di tubuhnya karena Davin memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya.
"Masa nifasmu sudah selesai kan, boleh gak aku menjenguk tempat tidur baby Al waktu dia masih di kandungan," rayu Davin sambil menciumi leher Aluna hingga tanpa sadar Aluna mendesah lirih.
"Mas," desah Aluna lirih. Jujur, empat puluh hari dia tidak di jamah Davin membuat tubuhnya langsung merasakan gelayar aneh saat Davin menyentuhnya dengan lembut.
"Sayang, aku sudah lelah bermain solo, jadi aku ingin kita berkolaborasi menciptakan suara desahan yang begitu indah di dengar," Aluna menepuk tangan Davin yang melingkar di perutnya.
"Mulutmu manis sekali mas," cebik Aluna. Tanpa basa basi, Davin langsung membalik tubuh Aluna dan mencium bibir Aluna lembut. Davin menggigit pelan bibir Aluna agar terbuka, setelah itu Davin mengakses seluruh rongga mulut Aluna, mereka berdua saling bertukar saliva.
"Mas," desah Aluna saat Davin menyapu seluruh lehernya hingga tubuh Aluna terasa meremang. Davin pun semakin bersemangat saat mendengar desahan Aluna yang semakin membuat tubuhnya bergelora.
"Sebut namaku dalam setiap desahanmu sayang," ucap Davin dengan nafas memburu, hingga tanpa sadar kini tubuh mereka berdua tidak di tutupi sehelai benang pun.
"Kamu siap sayang?" tanya Davin lembut saat dia sudah berada di atas tubuh telan*ang Aluna.
"Pelan-pelan mas, aku takut sakit," pinta Aluna memelas. Davin mengangguk mantap. Davin pun menempelkan senjatanya, namun saat hendak mendorongnya masuk kedalam lubang surga, terdengar suara tangis bayi menggema di kamar itu.
"Mas, baby Al nangis," kata Aluna sambil berusaha menyingkirkan tubuh Davin.
"Tapi sayang," suara Davin terdengar begitu berat.
"Oeeekk ooeekk," tangis bayi itu semakin terdengar keras.
"Mas, tidakkah kamu dengar suara tangisan baby Al?" Akhirnya, dengan berat hati Davin turun dari tubuh Aluna. Dia meremas rambutnya kuat.
"Ahhh! Kamu menyebalkan Al!" umpat Davin kesal. Dia menatap adik kecilnya yang sudah berdiri menantang. Apalagi melihat Aluna yang sedang menyusui baby Al, membuat adik kecilnya serasa meraung-raung, ingin di tuntaskan hasratnya. Aluna hanya menahan tawa melihat suaminya yang terlihat frustasi.
"Maaf mas, kita bisa lakukan lagi nanti," Aluna berusaha menenangkan Davin. Namun, Davin dengan kesal beranjak bangun dan berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
"Kamu mau kemana mas?" tanya Aluna bingung karena Davin berjalan dengan tubuh telanj*ng.
"Kemana lagi kalau bukan bersolo karir!" ketus Davin, dia menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras. Sedangkan Aluna yang masih menyusui hanya bisa menggelengkan kepalanya.