
Asisten Jo berlari tergopoh-gopoh ke tempat Tuan Mudanya. Wajahnya terlihat begitu cemas. Begitu sampai di kamar dimana Aluna dirawat, Dia melihat Tuan Davin masih dalam posisinya. Duduk bersandar tembok dengan kemeja yang berantakan dan jas yang sudah teronggok di lantai begitu saja. Hati Asisten Jo merasa begitu teriris melihat keadaan Tuan Muda nya yang begitu terluka. Dia bingung bagaimana cara memberi informasi pada Tuan Davin tentang Aluna. Karena dia takut Tuan Davin akan semakin terpukul.
" Tuan.... " Mendengar dirinya dipanggil, Davin langsung membuka matanya dan menatap Asisten Jo dalam. Namun, Asisten Jo hanya menunduk, sebenarnya dia takut Tuan Mudanya itu akan marah besar.
" Katakan apa informasinya Jo ? " Tanya Tuan Davin langsung dengan intonasi yang tinggi. Dirinya benar-benar sudah tak sabar mendengar kabar Aluna. Asisten Jo diam, dia belum tega memberitahukan pada Tuan Davin.
" JO ! " Teriakan Tuan Davin menyadarkan Asisten Jo dari keterdiamannya.
" Maaf Tuan Muda.. tapi saya tidak bisa menemukan keberadaan Nona Aluna " Kata Asisten Jo lirih sambil tetap menundukkan kepalanya. Davin beranjak bangun kemudian dia memukul wajah Asisten Jo hingga jatuh tersungkur ke lantai. Bahkan darah segar keluar dari bibir Asisten Jo, namun Asisten Jo hanya diam tidak berani melawan.
" Bodoh !!! Kenapa kamu tidak bisa menemukan keberadaan Aluna ? " Maki Tuan Davin.
" Maaf Tuan.. saya akan berusaha semaksimal mungkin mencari Nona Aluna, biar saya kerahkan semua anak buah saya. Saya sudah mengecek cctv namun saat kepergian Nona Aluna cctv itu mati Tuan " Jelas Asisten Jo.
__ADS_1
" Cctv mati ?" Tuan Davin menautkan alisnya.
" Iya Tuan.. sepertinya Cctv sengaja dimatikan waktu Nona Aluna pergi. Saya yakin orang itu termasuk orang berpengaruh di sini Tuan " Otak Davin berfikir siapa yang bisa membawa Aluna pergi dari rumah sakit ini. Tiba-tiba ada seorang perawat masuk untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di ruang itu.
" Sus. . kemana perginya pasien disini ? " Tanya Davin pada perawat itu.
" Sudah pulang sekitar dua jam yang lalu Tuan " Jawab perawat itu. Dia tidak tahu jika Davin adalah suami pasien itu.
" Pulang ?? Sama siapa ? bukanya dia masih terluka parah ? " Davin bertanya lagi, dia begitu ingin tahu.
" Keluarganya ?? Apa jangan-jangan Aluna dibawa Tuan Bagas ? "
" Kemungkinan besar Tuan.. karena waktu anda pergi Tuan Bagas dan Tuan Ronal sedang dalam perjalanan kesini "
__ADS_1
" Kira-kira kemana dia membawa Aluna Jo " Davin terduduk lemas.
" Nanti saya akan mencari tahunya Tuan, biar ahli IT meretas Cctv di semua bandara Tuan "
" Kamu harus menemukannya Jo. Kalau tidak aku akan membunuhmu " Ancam Tuan Davin. Dia bangun dan melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan Asisten Jo yang mengekor di belakangnya.
--------------@@@@@@-------------
ceklek
Davin membuka pintu kamarnya. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memeluk bantal yang biasa dipakai sebagai alas tidur Aluna. Davin menangis, dia merasa begitu menyesal. Dia merasa begitu bodoh. Entah setan apa yang merasukinya hingga dia melukai Aluna begitu dalam dan kini Aluna pergi meninggalkannya, hatinya terasa benar-benar hancur. Airmatanya mengalir hingga membasahi bantal itu. Sungguh ,dia merasa begitu menyesal.
' Andai dia tidak membentak Aluna. Andai dia tidak menyalahkan Aluna karena kehilangan calon buah hati yang belum mereka sadari kehadirannya. Andai dia lebih peduli dengan keadaan dan perasaan Aluna. Andai dia tidak meninggikan ego nya sendiri. Andai dia bisa lebih mengerti perasaan Aluna. mungkin semua takkan jadi seperti ini ' Dan semua itu hanya akan menjadi 'andai' yang hanya menimbulkan rasa sesal.
__ADS_1
" Hiks..hiks.. kamu dimana ?? Aku merindukanmu, semoga kamu baik-baik saja. Aku mencintaimu " Kata Davin lirih sambil mendekap erat bantal itu. Dia menangis terisak, kehilangan Aluna nyatanya terasa begitu menyakiti perasaan. Jiwanya seperti mati separuh.