
Asisten Jo membuka kedua matanya, senyumnya terbit saat melihat wanita cantik masih tertidur lelap di sampingnya. Tangannya tanpa sadar menyentuh lembut pipi Mila.
"Kamu cantik kalau sedang tidur," gumam Asisten Jo. "Aku mencintaimu," bisik Asisten Jo lirih.
"Aku juga mencintaimu mas," Asisten Jo terkejut saat tiba-tiba Mila membuka kedua bola matanya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Asisten Jo salah tingkah.
"Belum mas, sebenarnya aku masih sangat mengantuk," Mila menguap lebar. Asisten Jo langsung menutup mulut Mila dengan telapak tangannya.
"Cewek gak ada manis-manisnya," sindir Asisten Jo, Mila hanya menunjukkan rentetan gigi-giginya.
"Aku mau mandi dulu mas, tubuhku lengket semua," Mila beranjak bangun, dia merasakan sakit di pangkal pahanya.
"Bisa jalan gak?" tanya Asisten Jo dengan nada mengejek.
"Bisa lah," angkuh Mila. Dia mencoba berjalan, namun langkahnya terhenti.
"Sakit?" Mila berdecih sebal saat melihat senyum mengejek di bibir Asisten Jo.
"Tidak!" Mila menegakkan tubuhnya, dia hendak berjalan lagi namun tiba-tiba tubuhnya terasa melayang.
"Jalan kaya siput kapan kamu akan sampai," Mila membenamkan wajahnya di dada Asisten Jo. Dia malu saat Asisten Jo membopongnya ke kamar mandi.
"Lepaskan mas, aku malu," pinta Mila namun Asisten Jo tidak peduli. Dia menurunkan tubuh Mila di bathup, kemudian menyalakan kran air hangat.
"Untuk apa kamu malu, aku sudah melihat setiap inchi tubuhmu, termasuk tahi lalat di dekat lubang surgamu ini," kata Asisten Jo sambil menunjukkan dimana letak tahi lalat itu. Wajah Mila merona merah karena malu.
"Kamu jujur sekali mas," cebik Mila kesal. Asisten Jo hanya menanggapi dengan senyuman. Asisten Jo ikut masuk ke dalam bathup yang hampir terisi separuh.
"Kamu mau ngapain mas?" tanya Mila gugup saat Asisten sudah duduk di belakangnya.
"Mandi lah, memang mau apa lagi?" Asisten Jo balik bertanya dengan tangan yang sudah bermain dimana-mana. Mila diam tapi dia menikmati sentuhan itu, terlihat jelas dari bibir Mila yang mulai mendesah.
"Kamu ingin yang lebih dari ini?" goda Asisten Jo.
"iya- eh maksudku tidak, aku sudah lelah mas," Mila berusaha menolak meski sebenarnya tubuhnya sangat menginginkan. Gengsi dong !
"Kata pertama yang keluar dari mulutmu yang kuanggap sebagai jawaban," Bisik Asisten Jo sambil menempelkan bibirnya di leher Mila, hingga tubuh Mila merasakan gelayar-gelayar aneh. Tanpa menunggu, kamar mandi itu pun mulai penuh desahan dan erangan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Asisten Jo menghentikan mobilnya di depan rumah Mila. Belum sempat mereka turun, sosok Rayhan sudah berlari keluar rumah dengan tawa bahagia.
__ADS_1
"Ayahh bundaa," teriak Rayhan heboh. Asisten Jo langsung turun dari mobil dan menyambut pelukan dari Rayhan. Tangan Rayhan langsung melingkar di leher Asisten Jo.
"Kenapa ayah dan bunda semalam tidak pulang?" tanya Rayhan. Mila yang sudah berdiri di samping Asisten Jo langsung mencium pipi Rayhan lembut.
"Rayhan sudah punya adik baru sekarang," Rayhan menatap Mila penuh tanya.
"Mana adik bayinya?" tanya Rayhan polos sambil matanya celingukan mencari barangkali ada sosok mungil di sekitarnya.
"Adik bayinya masih di tempat kak Aluna. Eh sekarang Rayhan harus panggil Aunty Aluna ya, kan sudah ada adik bayinya," suruh Mila lembut, Rayhan menganggukkan kepalanya.
"Ayo lihat adik bayi," ajak Rayhan seperti sudah tak sabar.
"Nanti ya sama eyang, habis ini kita ke rumah eyang dulu baru lihat adik bayi," Rayhan cemberut saat Asisten Jo dan Mila mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Kalian sudah datang?" sapa Ibu Eni.
"Ibu mau kemana? rapi sekali," tanya Mila heran melihat ibunya yang sudah rapi.
"Mau menengok Aluna, katanya dia sudah lahiran,"
"Nanti saja bu, sama kita sekalian. Aku mau mampir dulu ke rumah mas Johan bu, ibu kan belum ketemu besan ibu lagi," Ibu Eni menghela nafas panjang.
"Kenapa bu?" tanya Mila melihat raut wajah Ibu Eni yang terlihat bimbang.
"Bu, kedua orang tua saya bukan orang yang memandang seseorang dari hartanya bu. Jadi, ibu gak perlu minder," sahut Asisten Jo, Ibu Eni mengangguk pelan. Mereka berempat pun, akhirnya ke rumah utama Asisten Jo. Begitu sampai di teras rumah, Tuan Doni dan Nyonya Rina langsung menyambut mereka.
"Kalian sudah datang? Ayo masuk," suruh Nyonya Rina dengan senyum yang begitu merekah. Mereka semua pun masuk keruang keluarga.
"Rayhan sini sama Eyang," pinta Nyonya Rina, Rayhan langsung duduk di pangkuan Nyonya Rina.
"Jagoan," ucap Tuan Andri sambil mengusap puncak kepala Rayhan.
"Jo, ada yang mau ayah katakan sama kalian. Ayah sudah membelikan kamu satu rumah, tidak sebesar rumah ini memang tapi lumayan untuk tinggal kalian dan anak-anak kalian," Asisten Jo terdiam mendengar ucapan ayahnya. Mila langsung menatap Asisten Jo penuh arti.
"Yah..."
"Itu rumah sudah menjadi hak kamu, bukankah ayah sudah pernah bilang. Kalau kalian berdua mau tinggal disini, ayah dan ibu justru sangat senang jadi kita berdua tidak kesepian," Tuan Andri memotong ucapan Asisten Jo.
"Baiklah, nanti Jo akan tinggal disana bersama istri dan anak Jo," Asisten Jo menyanggupi, Mila langsung memegang lengan Asisten Jo.
"Mas..."
"Bu, ibu mau ya tinggal sama kita di rumah baru kita," ajak Asistem Jo pada Ibu Eni. Mila terkejut, bagaimana bisa Asisten Jo tahu isi hatinya. Dia ingin ibunya tinggal bersamanya tapi dia takut suaminya tidak mengizinkan.
__ADS_1
"Nak Jo, Ibu di rumah ibu saja ya. Jika Rayhan mau ikut kalian tidak apa-apa," tolak Ibu Eni, suaranya terdengar begitu berat.
"Mila mohon ibu mau ya tinggal sama Mila. Aku gak tenang ninggalin ibu sendirian, aku mohon bu," Mila menggenggam tangan Ibu Eni seraya memohon. Ibu Eni menatap anak semata wayangnya itu. Dia merasa tidak enak jika harus hidup bersama mereka, takut jika menganggu pasangan baru itu. Akan tetapi, dia tidak tega melihat wajah memohon dari Mila. Akhirnya, Ibu Eni mengangguk pelan. Mila langsung memeluk ibunya.
"Aku sayang ibu," lirih Mila, Ibu Eni membalas pelukan anaknya itu.
Setelah itu, mereka ke rumah sakit untuk menjenguk anak Davin yang baru lahir kemarin. Begitu sampai di rumah sakit, keluarga Alexander dan Bagaskara sedang berada disitu. Beruntung ruangan cukup luas, jadi cukup untuk menampung mereka saat berkumpul seperti ini.
"Tuan," sapa Tuan Andri.
"Lihatlah Ndri, cucu laki-laki ku sangat tampan," ucap Tuan Doni dengan senyum bahagia. Tuan Andri pun ikut bahagia.
"Bunda, Rayhan mau lihat adik bayi," pinta Rayhan sambil mendekati baby Al, Rayhan terkekeh geli saat melihat baby Al.
"Rayhan mau adik bayi?" tanya Aluna, Asisten Jo dan Mila langsung menatap ke arah Aluna.
"Iya kak," jawab Rayhan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Panggil Aunty jangan kak ya," suruh Mila membenarkan panggilan Rayhan.
"Iya Aunty, adik bayinya lucu sekali," Rayhan heboh sendiri, semua tertawa melihat tingkah Rayhan.
"Minta sama ayah Jo saja kalau kamu mau adik bayi," celetuk Davin, Asisten Jo langsung menatap Tuan Mudanya itu.
"Ayah bisa kasih Rayhan adik bayi?" tanya Rayhan antusias.
"Tentu saja bisa," jawab Davin sambil menaik turunkan alisnya.
"Ayah, Rayhan juga mau adik bayi," Rayhan memeluk kaki Asisten Jo.
"Ayo ayah, Rayhan mau adik bayi," rengek Rayhan sambil menggoyang-nggoyangkan kaki Asisten Jo.
"Sayang, ayah sedang berusaha membuat adik bayi. Jadi, Rayhan sabar ya," ucap Asisten Jo sambil mengangkat tubuh Rayhan.
"Ayo, Rayhan bantu buat ayah," ucapan polos itu keluar dari bibir Rayhan membuat semua terdiam.
Cerita tentang baby Al ada di karya Author yang baru ya dengan judul 'Mutiara Hati Alvino'
Yang mau mampir boleh banget tapi masih gas tipis-tipis
jangan lupa selalu beri dukungan buat Author ya
salam sayang dari Author recehan
__ADS_1