
Davin hanya terdiam saat Asisten Jo masih berdiri di depannya, dia tahu apa maksud Asisten Jo melakukan itu, karena tadi dia melihat sekilas Mila yang sedang menyusui baby Jonathan.
"Biar aku keluar saja," kata Davin, dia berbalik badan hendak berjalan keluar kamar
"pappapa" terdengar suara baby Al yang seolah memanggil Davin saat Davin akan melangkahkan kakinya.
"Jangan pergi Tuan, saya sudah selesai," kata Mila. Davin pun berbalik lagi, dia melihat baby Al yang sedang berjingkrak-jingkrak bahagia melihat Davin.
"Papapapa," celoteh baby Al lagi. Davin langsung mengambil baby Al dari pangkuan Aluna dan menghujami wajah baby Al dengan banyak ciuman. Tak lupa, Davin juga mencium pipi dan kening Aluna.
"Mas, kok kamu gak cium aku sih?" tanya Mila, karena Asisten Jo hanya mengambil baby Jonathan saja.
"Aku tidak suka memamerkan kemesraan kita di depan orang lain," sahut Asisten Jo sambil mencium lembut pipi baby Jonathan.
"Aku juga pengen loh mas, di cium gitu," pinta Mila memelas, namun Asisten Jo hanya diam tidak menanggapi. Dia hanya menatap buah hatinya yang juga sedang menatapnya.
"Ini ayah sayang," ucap Asisten Jo dengan bahagia.
"Ini bunda," sahut Mila dengan menaik-turunkan alisnya.
"Mas, Tuan Kevin beneran mau nikah?" tanya Aluna pada Davin yang sedang memangku baby Al.
"Ya," jawab Davin singkat.
"Kapan?" tanya Mila antusias. Asisten Jo langsung menatap Mila tajam tapi Mila seolah tak takut.
"Bulan depan, dia akan menikah dengan baby sitter kedua anaknya," jawab Davin. Wajah Asisten Jo terlihat malas, setiap apapun yang berhubungan dengan duda dua anak itu, entah mengapa dia selalu merasa kesal.
__ADS_1
"Wah, cocok sekali. Aku bisa melihat, baby sitter Rayfan itu cantik, masih muda dan kelihatan sekali kalau dia sayang Rayfan. Kamu gak pengen mas?" tanya Mila sambil menatap ke arah suaminya.
"Tentu saja pengen," jawab Asisten Jo singkat. Mila berdecak sebal.
"Iya, aku tahu kok mas, kamu pengen daun muda gitu kan, yang masih seger. Udah cantik, sexy, body aduhai. Gak kaya aku yang body nya udah melebar kemana-mana apalagi aku sudah enggak ori," ketus Mila. Asisten Jo mengerutkan keningnya, menatap bingung ke arah Mila yang terlihat marah. Bukankah harusnya dia yang kesal, karena dia tidak bisa menuntaskan hasratnya dengan Mila. Aluna dan Davin hanya tersenyum, mereka tahu ada kesalahpahaman di antara mereka berdua.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Asisten Jo bingung. Wajah Mila masih tetap terlihat kesal.
"Ya, kamu bilang pengen daun yang masih muda, cantik, sex...."
"Kapan aku berkata seperti itu?" Asisten Jo menyela ucapan Mila.
"Gak usah pura-pura amnesia mas! barusan aku nanya kamu pengen gak? kamu jawab, tentu saja pengen," cerocos Mila dengan menirukan cara bicara Asisten Jo.
"Bukan pengen daun muda yang aku maksud, tapi aku pengen yang lainnya," jelas Asisten Jo, kini dia tahu kalau ada kesalah pahaman di antara mereka berdua.
"Selamat berpuasa 40 hari penuh, Jo. Jangan lupa tambahkan persediaan sabun di rumah," ejek Davin. Asisten Jo hanya mengehela nafas panjang.
"Kamu sayang sama aku enggak sih mas?" tanya Mila manja sambil mengusap paha Asisten Jo yang duduk di sampingnya.
"Tentu saja, memang kamu tidak lihat betapa sabarnya aku menghadapi kekhilafanmu?" Asisten Jo berdecak kesal, karena tangan Mila terus mengusap-usap pahanya.
"Terus Mil, bangunkan ular kobra yang sedang tertidur," Aluna seolah menyemangati Mila, karena dia melihat Mila yang terus mengusap paha Asisten Jo dan juga Asisten Jo yang mulai terlihat gelisah dalam duduknya.
"Apakah tanganmu bisa berhenti? Kamu tidak lihat aku sedang memangku anak kita?" tanya Asisten Jo kesal, dia merasakan tubuhnya yang memanas karena sentuhan dari Mila.
"Aku akan berhenti tapi ada syaratnya," Mila benar-benar pandai menggoda, dia tidak menghentikan tangannya sama sekali walaupun satu tangan Asisten Jo menepisnya.
__ADS_1
"Beruntung sekali kamu memiliki istri seunik itu," Asisten Jo langsung menatap Davin tajam.
"Anda memuji atau menyindir Tuan?!" Bukannya takut, Davin justru terkekeh geli.
"Berhentilah, Mil," Suara Asisten Jo mulai meninggi, karena adik kecilnya bangun dan membuat celana dal*mnya terasa begitu sesak.
"Aku akan berhenti kalau kamu bilang cinta padaku mas," kata Mila dengan senyum licik.
"Apa begitu penting ucapan cinta? Bukankah lebih penting sebuah perbuatan dari pada ucapan cinta itu sendiri?"
"Ya, tapi seorang wanita akan sangat bahagia kalau pasangannya mengucapkan kata cinta," Mila semakin berani. Bahkan, dia sama sekali tidak malu dengan Aluna dan Davin yang sedari tadi menatap ke arah mereka dengan menahan tawa.
"Mil!" Asisten Jo benar-benar tak tahan. Dia menyingkirkan tangan Mila dengan kasar dan menaruh baby Jonathan di atas tempat tidur. Dia langsung berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Mau kemana mas?" teriak Mila saat Asisten Jo hampir mencapai pintu kamar mandi.
"Kencing lah, memang mau apalagi?!" ketus Asisten Jo.
"Siapa tahu kamu mau bersolo karir, Jo," ejek Davin. Asisten Jo tidak menanggapi, dia langsung masuk begitu saja ke kamar mandi.
"Rasain! salah siapa bilang cinta gak pernah di waktu yang tepat," Mila tertawa cekikikan. Aluna menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan kelakuan Mila sedangkan Davin juga merasa bahagia karena dendamnya seolah telah terbalas.
"Kasihan sekali si Jo punya istri yang sangat menyebalkan seperti kamu," cibir Aluna.
"Biarin saja. Sebenarnya, dia itu sangat sayang sama aku loh Lun, walaupun gak pernah bilang aku mencintaimu tapi dari perlakuan dia ke aku, aku bisa merasakan kalau dia sayang sekali padaku," bangga Mila.
"Setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri untuk mengungkapkan rasa sayang pada pasangannya, Mil. Aku bahagia melihat kamu yang bahagia. Semoga kalian selalu bahagia dan langgeng sampai kakek nenek," doa Aluna, Mila hanya mengamini. Dia menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Dia menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aku keterlaluan tidak sih?" gumam Mila lirih.