Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP48


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Asisten Jo, Mila sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Bunda, apa Bunda akan ke tempat Al?" tanya Nathan yang sudah duduk di meja makan menemani Mila.


"Ya, Nathan mau ikut? Bukankah Nathan sekolah?" Mila bertanya balik.


"Iya Bunda, Kak Rayhan kapan pulang?" Nathan bertanya lagi, dia menaruh kedua tangannya di meja dan merebahkan dagu di atasnya.


"Kak Rayhan kan baru berangkat ke Paris kemarin. Jadi, Kak Rayhan bakalan lama disana. Nathan sekolah dulu sama Mbak Ayu nanti sepulang sekolah langsung menyusul Bunda ke tempat aunty Aluna ya," suruh Mila, Nathan menganggukkan kepala tanda paham.


"Kenapa Mil?" tanya Asisten Jo yang baru saja ikut bergabung di meja makan.


"Nathan mau ikut ke Mansion Alexander tetapi aku menyuruhnya untuk menyusul," jawab Mila, dia ikut duduk setelah Asisten Jo duduk di kursinya.


"Oh begitu, kamu yakin bisa membuat nasi uduk untuk Nona Aluna?" tanya Asisten Jo.


"Bisa lah Mas, cuma bikin nasi uduk mah sepele buat aku," sahut Mila percaya diri.


"Cih!" Asisten Jo berdecih sebal. "Kamu mau pulang jam berapa?" tanya Asisten Jo lagi.


"Mas, aku berangkat saja belum. Nanti sebetahnya aku saja ya, kalau tidak siang ya sore bareng kamu," jawab Mila sambil memasukkan nasi ke mulutnya.


"Jangan macam-macam saat disana,"


"Tidak Mas, aku tidak akan macam-macam. Kamu harus percaya sama aku," angkuh Mila sembari menepuk dadanya.


Selepas sarapan, Asisten Jo bersama Mila dan baby Cacha menuju mansion Alexander. Hampir sepuluh menit perjalanan, mobil itu berhenti di pelataran mansion Alexander. Mila dan Asisten Jo segera turun dan masuk ke mansion Alexander.


"Tuan, dimana Nyonya Muda Alexander?" tanya Mila sopan.


"Dia sudah menunggumu di dapur," jawab Davin singkat, dia berjalan keluar mansion di ikuti Asisten Jo di belakangnya. Mila segera menuju ke dapur dan saat sudah sampai di dapur Mila melihat Aluna sudah duduk manis di kursi bersama baby Nadira yang sedang berada di dalam kereta bayi.


"Hai calon mantu," sapa Mila saat dia sudah berada di samping Aluna.


"Lama sekali sih Mil," protes Aluna.


"Yaelah Lun, memang kamu maunya aku kesini jam berapa? Ini saja masih terlalu pagi untuk bertamu ke rumah orang Lun," timpal Mila. Aluna hanya berdecih kesal.


"Bagaimana? Jadi mau nasi uduk buatanku?" tanya Mila memastikan.


"Repot tidak ya Mil? Kamu kan lagi gendong baby Cacha gitu,"


"Bisa titipin dulu ke pelayan Lun, disini kan banyak pelayan daripada nanti anak kamu ileran," sahut Mila, dia mendudukkan tubuhnya di samping Aluna. "Jadi bagaimana?" tanya Mila lagi.


"Kita beli aja yuk, sekalian jalan-jalan," ajak Aluna, tetapi wajah Mila justru terlihat ragu.


"Aku takut kena marah suamimu Lun. Lagipula apa kamu tidak kerepotan sedang hamil malah keluyuran bawa bayi lagi," Mila berusaha menolak karena dia khawatir dengan Aluna.


"Nanti aku titipin Mommy, dia sedang ganti baju dulu," kata Aluna santai. Baru saja mereka membicarakan, Nyonya Anita sudah masuk ke dalam dapur.


"Hai Mil. Kamu sudah datang?" sapa Nyonya Anita.


"Sudah Nyonya," jawab Mila sopan.


"Kamu jadi bikin nasi uduk?"


"Kayaknya Aluna mau beli saja deh Mom, pasti repot soalnya kan Mila bawa baby Cacha," jawab Aluna.


"Lun, kalau baby Cacha tidak ku bawa memang mau sama siapa? Nathan saja mau ikut kesini,"


"Kenapa tidak di ajak?" tanya Aluna.


"Kan sekolah Lun, kamu gimana sih,"

__ADS_1


"Iya ya, aku lupa," Aluna menepuk keningnya perlahan.


"Al malahan belum mau pulang kesini, dia masih betah di Mansion Bagaskara," kata Nyonya Anita. Sebenarnya, dia sudah sangat merindukan cucu lelakinya itu tetapi Alvino akhir-akhir ini sering pulang ke mansion Bagaskara karena selalu di jemput Ronal saat pulang sekolah.


"Ya sudah, kita jalan-jalan saja habis itu sekalian jemput Al sama Nathan. Mommy ikut ya," ajak Aluna.


"Tidak bisa, Mommy mau kondangan sama ayah. Kamu ajak salah satu pelayan disini saja ya biar dia yang gendong baby Nadira," ucap Nyonya Anita, Aluna pun hanya bisa mengiyakan.


Akhirnya, mereka berangkat dengan mengajak Dewi, seorang pelayan di mansion Alexander untuk menggendong baby Cacha.


"Lun, kamu yakin tidak dimarahi suamimu?" tanya Mila cemas.


"Yakin lah, yang penting kan kita tidak neko-neko. Kita niatnya mau beli nasi uduk biar anak aku tidak ileran," sahut Aluna, Mila menghembuskan napasnya kasar.


"Baiklah, aku ikut apa kata Nyonya Muda saja," kata Mila menurut.


"Berhenti pak!" Suruh Aluna saat mobil itu melewati jalan yang tidak terlalu ramai. Pak Aji si sopir mobil itu mengerem mendadak hingga tubuh mereka terhuyung ke depan.


"Anda baik-baik saja Nyonya?" tanya Pak Aji khawatir.


"Baik kok pak, sebentar," kata Aluna, dia keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah seorang gadis yang terlihat sedang beradu mulut dengan tiga orang preman. Aluna melihat gadis itu berusaha terlihat berani, meskipun Aluna tahu gadis itu sedang ketakutan.


"Aduh, Nyonya Muda mau kemana?" tanya sopir itu khawatir. Dia segera turun dan menyusul Aluna dengan diikuti Mila dan Dewi yang menggendong baby Nadira.


"Kalian pecundang sekali, beraninya melawan gadis remaja," ledek Aluna, ketiga preman itu menatap ke arah Aluna dengan wajah marah.


"Siapa kamu? Berani sekali kamu menghina kami!" bentak salah satu di antara mereka.


"Aku tidak salah kenapa aku mesti takut? Aku hanya membenci lelaki yang memiliki sikap pecundang!" Aluna tersenyum miring. Wajah ketiga preman itu semakin memunculkan raut amarah.


"Nyonya Muda, ayo kita kembali. Jangan sampai anda terluka, karena saya tidak mau kepala saya di penggal oleh Tuan Muda," kata Pak Aji berusaha mengajak Aluna kembali.


"Sebentar Pak, saya selesaikan dulu urusan saya," sahut Aluna, dia menatap gadis yang berusia sekitar dua puluh tahunan itu sedang gemetar ketakutan.


"Beri kami uang maka aku akan melepaskan kalian!" perintah salah satu di antara mereka, tetapi Aluna tetap terlihat santai. Sedangkan Mila segera menghubungi suaminya karena dia khawatir pada Aluna. Davin yang di beri tahu Asisten Jo langsung menyuruh Mila menunjukkan dimana lokasi mereka saat ini.


"Lun, yuk kembali. Katanya kamu mau nasi uduk," ajak Mila, dia benar-benar takut melihat tiga preman yang menatap marah ke arahnya.


"Apa kalian sudah cacat? Kenapa kalian tidak malu meminta kepada orang lain secara paksa," sindir Aluna, dia tidak peduli pada ajakan Mila sama sekali. Ucapan Aluna tadi ternyata semakin menyulut kemarahan mereka.


"Dasar wanita sialan! Berani sekali kamu menghina kami!" bentak salah seorang di antara mereka.


"Gadis cantik, kemarilah," suruh Aluna tanpa peduli bentakan mereka tadi. Gadis itu hendak berjalan mendekat ke arah Aluna tetapi preman itu segera menahannya.


"Kamu pikir kamu akan semudah itu pergi dari kami?" cegah preman itu.


"Lepaskan dia atau kalian akan menyesal!" ancam Aluna, ketiga preman itu hanya tertawa.


"Nyonya Muda sudahlah, ayo kita pulang," ajak Pak Aji. Dia benar-benar takut akan menjadi sasaran kemarahan Tuan Davin.


"Sebentar Pak, biar saya singkirkan dulu para biadap-biadap ini," sarkas Aluna.


Plak! Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Aluna sampai wajah Aluna menoleh ke kiri.


"Nyonya Muda!"


"Aluna!"


Teriak Pak Aji, Dewi dan Mila bersamaan, mereka tidak menyangka preman itu berani menampar pipi Aluna. Aluna memegangi pipinya yang memerah, rasa panas yang menjalar dari bekas tamparan itu tidak sekalipun dia rasakan.


"Kalian benar-benar pecudang!" Aluna benar-benar tidak takut, melihat kemarahan preman itu tidak sedikitpun menciutkan nyali Aluna.


"Nona, saya mohon jangan bela saya. Saya tidak ingin anda semakin terluka," kata gadis itu lirih.

__ADS_1


"Tidak! Aku akan membawamu pergi dari sini," kata Aluna, gadis itu hanya diam. Matanya melirik salah satu di antara mereka yang sedang mengeluarkan pisau dari dalam saku belakang celananya. Gadis itu terlihat ketakutan.


"Kita lihat apakah setelah ini kamu masih bisa sombong dan menghinaku atau tidak!" bentak preman itu keras. Dia berjalan mendekat ke Aluna dan mengarahkan pisau itu ke perut Aluna.


"Nona awas!" teriak gadis itu sambil berlari mendekati Aluna. Tubuh Aluna menegang saat gadis itu memeluk tubuhnya dan dia melihat gadis itu mengernyit kesakitan.


"Sayang!" teriak Davin yang baru saja sampai di lokasi, dia segera berlari ke tempat Aluna. "Jo, jangan biarkan satu pun di antara mereka kabur!" perintah Davin penuh amarah. Asisten Jo segera menyuruh anak buahnya untuk menangkap ketiga preman itu. Tangan Aluna memeluk tubuh gadis yang hampir tak sadarkan diri karena tertusuk pisau di sekitar pinggangnya. Pak Aji segera membopong gadis itu ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Davin cemas, dia memeluk tubuh Aluna dengan erat sedangkan Aluna hanya terdiam karena dia masih shock dengan kejadian tadi.


"Sayang?" Davin melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Aluna. Rahangnya terlihat mengeras saat melihat ada bekas tamparan di pipi Aluna.


"Siapa yang berani menamparmu?!" tanya Davin penuh penekanan. Ketiga preman yang telah tertangkap anak buah Asisten Jo itu hanya menunduk takut. Davin berbalik dan berjalan mendekati ketiga preman itu.


Plak! Plak! Plak! Davin menampar ketiga preman itu dengan tenaga penuh, bahkan sudut bibir mereka sampai mengeluarkan darah.


"Berani sekali kalian menyakiti Nyonya Muda Alexander!" murka Davin.


"Ma-maaf Tuan, kami tidak tahu kalau dia Nyonya Muda Alexander," ucap mereka terbata.


Bug! Davin memukul perut mereka hingga mereka mengerang kesakitan.


"Bawa dia ke kantor polisi dan beri hukuman seberat-beratnya!" perintah Davin. Anak buah Asisten Jo mengangguk paham lalu membawa mereka ke kantor polisi. Davin segera berjalan cepat ke tempat Aluna lalu menariknya masuk ke dalam pelukannya.


"Jangan mual dulu sayang, aku benar-benar ingin memelukmu," lirih Davin, Aluna membalas pelukan suaminya sedangkan Asisten Jo juga ikut memeluk istri dan anaknya, dia tahu Mila pasti masih terkejut karena kejadian tadi.


"Tenanglah, ada aku disini," bisik Asisten Jo, dia memeluk tubuh Mila yang gemetar dan mengusap wajah baby Cacha.


"Mas, aku takut," kata Mila dengan suara bergetar.


"Tenanglah mereka sudah pergi," kata Asisten Jo.


"Sayang ayo pulang, kita obati lukamu itu," ajak Davin, dia mengusap bekas tamparan di pipi Aluna yang masih terlihat memerah.


"Mas, antar aku ke rumah sakit, aku ingin melihat keadaan gadis itu," kata Aluna lirih.


"Tapi sayang, kamu harus pikirkan keadaanmu," Davin berusaha menahan emosinya.


"Tuan, lebih baik kita ke rumah sakit saja, nanti kita bisa sekalian memeriksa keadaan Nona Aluna," saran Asisten Jo. Davin terdiam sesaat, dia pun menyetujui saran Asisten Jo.


"Jo, kamu antar aku ke rumah sakit dulu karena jaraknya lebih dekat setelah itu baru kamu antar Mila dan Dewi pulang ke mansion," suruh Davin, Asisten Jo menganggukan kepalanya paham. Begitu telah sampai di rumah sakit, Davin dan Aluna segera turun dari mobil. Saat Aluna hendak melangkahkan kakinya, Davin langsung membopong tubuh Aluna ala bridal style, dia tidak peduli orang-orang yang sedang menatap ke arahnya. Mereka menuju ke ruangan Dokter Mery terlebih dahulu untuk memeriksakan keadaan Aluna.


"Nona, anda jangan terlalu berpikir yang berat-berat ya, janin anda masih sangat rawan. Stres itu bisa mempengaruhi kesehatan janin di dalam kandungan," kata Dokter Mery, Aluna menganggukkan kepalanya tanda paham.


"Dengarlah sayang apa kata Dokter Mery," kata Davin lembut, dia mencium pipi Aluna lembut tanpa peduli keberadaan Dokter Mery dan dua perawat yang ada disana.


"Ish! Kamu membuatku malu mas," cebik Aluna.


"Kenapa mesti malu? Mumpung kamu sedang tidak mual dekat denganku, Sayang. Jadi, aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya," kata Davin sambil menatap wajah Aluna lekat, tangannya mengusap bekas tamparan di pipi Aluna.


"Cepat sembuh ya, maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik," ucap Davin lirih, dia terlihat begitu menyesal saat melihat Aluna terluka.


"Sudahlah Mas, aku baik-baik saja kok," Aluna berusaha menenangkan hati suaminya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Davin dan Aluna segera menuju ke ruang operasi untuk menyusul Pak Aji yang sedang menunggu gadis itu.


"Ada perlu apa kamu disini Vin?" tanya Marvel saat dia berpapasan dengan Davin dan Aluna.


"Iya Kak, aku mau lihat seseorang Kak. Kakak mau kemana?" tanya Davin balik.


"Siapa?" Marvel bertanya lagi, dia tidak menjawab pertanyaan Davin. Davin pun menceritakan kejadian tadi kepada Marvel.


"Nanti setelah urusanku selesai, aku akan menyusulmu. Semoga dia baik-baik saja. Sekarang aku sedang ada urusan penting, aku pergi dulu," Marvel berpamitan kepada mereka berdua, lalu dia berjalan pergi sedangkan Davin dan Aluna kembali melangkahkan kakinya menuju ruang operasi.

__ADS_1


__ADS_2