Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 35


__ADS_3

Mila duduk gelisah di kamar tamu, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan Asisten Jo. Mila khawatir kalau suaminya justru semakin marah padanya.


"Mil, kamu sedang apa?" tanya Aluna yang baru saja masuk ke kamar yang di tiduri Mila.


"Lun, aku takut kalau Mas Johan justru semakin marah padaku," lirih Mila.


"Kamu sih keterlaluan," sindir Aluna, Mila mencebikkan bibirnya kesal.


"Habis aku bingung mau bagaimana, Lun. Mas Johan kan nomernya tidak aktif. Aku juga pengen kaya di cerita-cerita romansa gitu Lun. Auh!" Mila mengaduh saat Aluna menonyor kepalanya dengan cukup kencang.


"Gak usah nge halu, Mil. Kamu kan tahu suamimu itu cueknya minta ampun. Jadi, gak usah mengharap dia bakal romantis sama kamu," ejek Aluna.


"Jangan gitu dong, Lun. Walaupun aku kadang kesal sama sikap cueknya tapi dia tipikal orang yang setia lho Lun, buktinya dia lebih memilih main sama Tante Citra daripada sama wanita lain,"


"Memang kamu mau, Jo main sama perempuan lain?" tanya Aluna menyela.


"Ya enggak! Kalau Mas Johan berani main sama pelakor, bakal aku jambak tuh pelakor, aku remas terus aku geprek buat makanan harimau," Mila berkata dengan gemas, sampai jari jemarinya saling meremas.


"Terus Jo mau kamu apain?"


"Aku banting di atas kasur terus aku tunggangin deh. Enak aja! punya bini cakep gini, memuaskan di ranjang masih mau nyari lubang lain," Aluna melongo mendengar ucapan Mila.


"Kenapa Jo gak kamu hukum juga?" tanya Aluna bingung.


"Ya Enggak lah, sayang sama wajahnya yang tampan dong. Daripada aku hajar wajahnya, mendingan aku hajar di atas kasur," celetuk Mila.


"Dasar! tidak punya malu," cibir Aluna. Dia langsung mengacungkan telunjuk di depan wajah Mila yang sudah membuka mulutnya hendak bersuara. "Gak usah ucapin jargonmu itu, aku udah hafal," sambung Aluna, Mila memutar bola matanya malas.


"Terus kalau sekarang Jo gak nyusul kamu gimana?"


"Besok aku susul ke rumah dong, itu menandakan kalau cintaku lebih besar daripada cinta Mas Johan," suara Mila di buat sedramastis mungkin.

__ADS_1


"Ehem!" Aluna dan Mila langsung menoleh ke arah pintu. Mereka melihat Asisten Jo masuk dengan raut wajah datar.


"Aduh, aku lupa kalau baby Nadira belum enen, aku pergi dulu ya," pamit Aluna, dia bergegas keluar dari kamar tamu itu, membiarkan Mila dan Asisten Jo membereskan masalah mereka.


Pintu kamar itu telah tertutup rapat. Asisten Jo berjalan mendekati Mila yang sedang menunduk, merasa suaminya sedang berjalan mendekat ke arahnya. Mila langsung merentangkan kedua tangannya hendak menyambut pelukan Asisten Jo.


"Aku juga merindukanmu, Mas," kata Mila bahagia. Mila menggonyangkan kedua tangannya karena dia tidak merasakan pelukan Asisten Jo sama sekali. Mila mendongak, pandangan matanya tertuju pada Asisten Jo yang sedang duduk di samping baby Cacha.


"Ayah merindukanmu," bisik Asisten Jo, dia mencium lembut pipi baby mungil yang sudah dua hari tidak dia temui itu.


"Kamu tidak merindukanku, Mas?" tanya Mila kecewa.


"Tidak!" jawab Asisten Jo cuek. Mila menghentakkan kedua kakinya bergantian. Dia hendak berjalan keluar kamar, tetapi tangan Asisten Jo langsung menarik tangan kiri Mila. Senyum Mila tercetak jelas di bibirnya, dia yakin kalau suaminya pasti ingin menahannya.


"Aku tahu kamu merindukanku, Mas. Jadi, kamu gak perlu gengsi gitu. Aku juga merindukanmu kok Mas," kata Mila percaya diri. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Asisten Jo yang masih terlihat datar.


"Kamu tidak lihat? Baby Cacha sudah ngompol," Perkataan Asisten Jo langsung mematahkan harapan Mila begitu saja.


"Aku tidak tahu di mana kamu letakkan popok dan pakaian gantinya," Tanpa banyak bicara, Mila langsung berjalan ke samping tempat tidur, di mana dia meletakkan kopernya. Mila menyerahkan baju ganti baby Cacha lalu menyerahkan kepada Asisten Jo dengan bibir mengerucut kesal.


"Kamu udah risih ya? Aduh kasihan sekali. Sini ayah gantiin, bunda lagi sibuk CLBK," sindir Asisten Jo tanpa menatap ke arah Mila. Tangannya dengan telaten mengganti popok baby Cacha.


"CLBK itu Cantik Lucu Baik Keren. Terima kasih pujiannya Mas," sahut Mila, dia menaik-turunkan alisnya menggoda Asisten Jo yang melirik ke arahnya.


"Cih! Percaya diri sekali," Asisten Ji berdecih sebal. Saat baby Cacha sudah selesai ganti popok, Mila langsung merebahkan tubuhnya di samping baby Cacha. Mila membuka kancing piyama perlahan, dengan wajah yang terlihat menggoda. Asisten Jo memalingkan wajahnya saat melihat salah satu bukit kembar Mila telah keluar dari balik piyama.


"Cacha Maricha Hehey, kamu mau enen bunda, sini sayang. Enen bunda enak lho, masih seger," seloroh Mila, baby Cacha yang sedang kelaparan itu langsung menghisap kuat sumber makanannya itu.


"Berhentilah memanggil dia dengan panggilan anehmu itu," ketus Asisten Jo.


"Kamu beneran tidak merindukanku, Mas?" tanya Mila penuh harap. Asisten Jo menoleh ke arah Mila, tapi dia kembali memalingkan wajahnya saat melihat Mila sudah membuka seluruh kancing piyamanya.

__ADS_1


"Astaga Mila!" ucap Asisten Jo penuh penekanan.


"Kenapa sih Mas, kaya gak pernah lihat aku telanjang saja," Mila bicara santai seolah tidak ada apa-apa. Asisten Jo mengusap wajahnya karena ada yang mulai berkedut di bawah sana.


"Apa kamu tidak malu, ini di rumah orang. Bahkan Nathan dan Rayhan masih di depan televisi," Asisten Jo berusaha mengontrol tubuhnya yang mulai memanas.


"Gak ada yang lihat kok, Mas. Pintunya kan sudah di tutup, kalau ada yang buka juga kedengeran," Mila duduk karena baby Cacha sudah terlelap lagi.


"Mil," panggil Asisten Jo dengan nafas sedikit memburu, dia benar-benar tak tahan melihat bagian depan tubuh istrinya yang sudah terbuka lebar.


"Apa sih, Mas," sahut Mila santai, kedua tangannya menggelung rambutnya ke atas hingga leher jenjang Mila terekspos. Mila bersikap santai, padahal dalam hati dia tertawa melihat Asisten Jo yang mulai belingsatan. Asisten Jo bangkit dan hendak keluar dari kamar tetapi Mila menahannya. Tubuh Asisten Jo menegang saat Mila tanpa basa-basi langsung mendaratkan ciuman di bibirnya.


"Aku kangen kamu, Mas," ucap Mila lembut, tangannya mengusap-usap dada Asisten Jo hingga tubuh Asisten Jo terasa semakin memanas.


"Aku minta maaf ya, Mas. Aku sudah salah, aku janji aku gak akan ulangi lagi dan aku akan selalu jujur sama kamu," kata Mila, mereka berdua saling menatap lekat.


"Aku sudah memaafkanmu," balas Asisten Jo, dia mencium bibir Mila lembut, lama-kelamaan ciuman itu semakin terasa menuntut, tangan Asisten Jo memegang pinggang Mila yang masih ramping meskipun sudah pernah dua kali melahirkan.


"Mas," desah Mila saat bibir Asisten Jo sudah mengeskplor leher jenjangnya. Tangan Mila pun sudah memegang rambut Asisten Jo lembut karena rasa yang terasa membuncah.


"Mil, ayo makan..." teriakan Aluna berhenti saat melihat Mila dan Asisten Jo sedang berbuat mesum. Aluna menutupi wajahnya dengan tangannya. Sedangkan, Mila dan Asisten Jo langsung menghentikan kegiatan mereka.


"Jeda dulu saja, sudah waktunya makan malam kalian sudah di tunggu," kata Aluna, dia berjalan cepat keluar kamar sebelum Mila meneriakinya.


"Aluna! Dasar pengganggu!" umpat Mila kesal, karena harusnya sekarang dia sedang enak-enak dengan suaminya. Sedangkan wajah Asisten Jo sudah merona merah karena sangat malu.


"Apa di sini sudah kutukan! Kenapa setiap mau adegan enak-enak selalu ada saja pengganggu," gerutu Mila, Asisten Jo langsung membekap mulut Mila.


"Diamlah! Kita lanjutkan nanti malam," kata Asisten Jo, Mila tersenyum sumringah. "Aku menunggu, Mas," goda Mila sambil mengerlingkan matanya. Dia menekan adik kecil Asisten Jo hingga Asisten Jo meringis, dengan cepat Mila berlari hendak keluar kamar.


"Mila! Kancingkan piyamamu!" teriak Asisten Jo. Mila berhenti kemudian menepuk keningnya, bagaimana dia bisa lupa kalau kancing piyamanya sudah terbuka semua.

__ADS_1


__ADS_2