
Asisten Jo melajukan mobilnya untuk mencari martabak manis pesanan si Tuan Muda. Sepanjang perjalanan, berkali-kali dia memukul setir kemudi karena terlalu gemas dengan Tuan Mudanya itu.
" Kemana aku harus mencari penjual martabak di jam segini. Oh My God, kenapa aku berasa jadi suami yang harus selalu siaga " Gerutu Asisten Jo kesal. Dia kemudian menepikan mobilnya dipinggir jalan, mengambil ponsel kemudian menscroll layar ponsel itu. Barangkali ada penjual martabak yang buka 24 jam. Wajahnya begitu serius, bahkan alisnya saling menaut karena terlalu serius menatap layar ponselnya. Senyumnya merekah saat melihat dilayar ponsel ada toko martabak yang buka, namun senyum itu langsung hilang begitu saja saat melihat lokasi toko itu ada di luar kota. Asisten Jo pun mencari lagi. Namun, rata-rata penjual martabak akan buka sekitar jam empat sore dan paling cepat sekitar jam satu. Asisten Jo menghembuskan nafas kasar, jika sedang seperti ini, ingin sekali dia meremas-remas Tuan Mudanya itu. Saat sedang kebingungan, ponselnya berdering, dengan cepat Asisten Jo mengangkat panggilan itu.
" Selamat pagi menjelang siang Tuan " Sapa Asisten Jo sopan.
" Kamu dimana Jo ?" Tanya Tuan Doni dari seberang telepon.
" Saya di jalan XX Tuan, sedang mencari pesanan Tuan Muda "
" Pesanan Davin ? Memang Davin pesan apa ? "
" Martabak manis coklat kacang Tuan, tapi saya sudah mencari kemana-mana belum ada penjual martabak yang mulai berjualan Tuan " Terdengar desahan kasar dari Tuan Doni.
" Kamu ke pulang ke Mansion saja Jo, biar nanti mommy nya Davin yang buatin. Sekalian ada hal yang akan aku bahas sama kamu " Asisten tersenyum sunmringah mendengar ucapan Tuan Doni. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Sesaat setelah panggilan itu dimatikan, Asisten Jo langsung melajukan mobilnya menuju Mansion Alexander.
Sesampainya di Mansion Alexander, Asisten Jo langsung masuk dan melihat Tuan Doni sedang duduk di ruang keluarga bersama Tuan Bagas. Asisten Jo langsung berjalan mendekati mereka.
" Duduklah Jo, martabaknya sedang di buat " Ucap Tuan Doni. Asisten Jo pun duduk di sebelah mereka.
" Maaf merepotkan Tuan " Asisten Jo bicara dengan sopan.
" Justru saya yang minta maaf, karena Davin pasti sangat merepotkan kamu " Asisten Jo hanya menanggapi dengan senyuman. Sangat merepotkan. Namun Asisten Jo hanya berani membatin.
" Ada perlu apa Tuan memanggil saya ? " Asisten Jo menatap Tuan Doni dan Tuan Bagas bergantian.
" Bagaimana Aluna Jo ? " Tuan Bagas balik bertanya.
" Baik-baik saja Tuan, hanya saja di kantor Nona Aluna menjadi perbincangan, banyak yang mengira Nona Aluna adalah sugar baby karena sekarang mesra dengan Tuan Davin "
__ADS_1
" Kurang ajar sekali mereka berani menghina Aluna " Ucap Tuan Bagas kesal. Asisten Jo menghela nafas panjang melihat respon Tuan Bagas yang sama seperti Davin tadi.
" Tuan, mereka hanya belum tahu kalau Nona Aluna adalah Nyonya Muda Alexander " Asisten Jo berusaha meredakan emosi Tuan Bagas.
" Bagaimana kalau kita adakan resepsi besar-besaran agar publik tahu siapa Aluna " Usul Tuan Doni dan mendapat anggukan setuju dari Tuan Bagas. Asisten Jo menghela nafas panjangnya lagi.
" Tapi Tuan, Nona Aluna sedang mengandung dan kata Dokter Merry, Nona Aluna jangan sampai kelelahan dulu " Kedua Orang tua itu mengangguk paham.
" Kalau menurut saya, lebih baik resepsi di adakan kalau kehamilan Nona Aluna sudah tidak rawan, atau sehabis lahiran sekalian memperkenalkan cucu anda berdua. Untuk saat ini, kalian bisa memberi tahu publik kalau Nona Aluna adalah istri Tuan Davino Alexander " Saran Asisten Jo, saran sama yang dia berikan pada Davin. Tuan Doni langsung menepuk pelan bahu Asisten Jo.
" Kamu memang selalu bisa di andalkan Jo " Ucap Tuan Doni sambil tersenyum simpul, namun Asisten Jo mulai ketar-ketir. Takut permintaan aneh akan keluar dari Tuan Doni.
" Besok kita akan umumkan siapa Aluna. Kamu persiapkan semuanya Jo " Suruh Tuan Doni membuat Asisten Jo menghembuskan nafas kasar.
" Baik Tuan " Ucap Asisten Jo lirih. Nyonya Anita masuk ke ruang keluarga dengan membawa satu buah box makanan.
" Ini pesanan Davin Jo, ada-ada saja itu anak. Dulu gak suka coklat sekarang doyan banget " Kata Nyonya Anita sambil menyerahkan box itu, dengan segera Asisten Jo meraihnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
" Kamu kenapa Vin ? " Tanya Aluna saat melihat Davin duduk gelisah di kursinya.
" Aku menyuruh Jo membeli martabak, tapi sampai sekarang belum juga kembali " Jawab Davin tak tenang.
" Kamu mengkhawatirkan Jo ?? Aku yakin dia pasti baik-baik saja " Aluna berjalan mendekati Davin, dengan segera Davin menarik tubuh Aluna dan mendudukkanya di pangkuannya. Dengan refleks, Aluna mengalungkan kedua tangannya di leher Davin sedangkan Davin melingkarkan tangannya di pinggang Aluna.
" Aku bukan mengkhawatirkan Jo, tapi aku sudah tidak sabar makan martabak itu, perutku sudah lapar tapi aku cuma mau makan martabak manis saja " Ucap Davin lembut kemudian mengecup pipi Aluna membuat Aluna tersenyum bahagia.
" Sayang.... " Panggil Davin lirih. Aluna langsung menatap mata Davin.
__ADS_1
" Boleh aku minta satu hal sama kamu ? " Tanya Davin pelan. Aluna tidak menjawab, tapi kepalanya mengangguk pelan.
" Bisakah kamu tidak memanggilku nama saja, aku merasa lebih baik kamu memanggilku dengan sebutan yang lebih romantis misalnya pangeranku, suamiku, raja hatiku gitu. Auu " Davin mengaduh saat Aluna mencubit perutnya.
" Aku bukan orang se alay itu " Ketus Aluna kesal. Davin langsung mencubit pelan hidung Aluna karena gemas.
" Ya udah kamu panggil aku Mas aja, gimana ? " Tanya Davin sambil menatap lekat Aluna, membuat Aluna salah tingkah. Aluna menganggukkan kepalanya pelan tanda dia setuju, dengan segera Davin menghujami wajah Aluna dengan ciuman hingga membuat Aluna merona merah.
" Aku mencintaimu sayang " Ucap Davin bahagia.
" Aku juga mencintaimu Dav- eh Mas Davin " Aluna gugup saat merubah panggilannya, namun Davin yang mendengarnya terlihat begitu bahagia.
" Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu " Davin mengecup bibir Aluna tiga kali, namun kemudian Davin menghentikan kecupannya kemudian merubahnya menjadi sebuah ciuman hangat. Aluna pun memejamkan matanya menikmati ciuman itu. Tangan Davin mulai bergerilya dan ciuman itupun semakin menuntut.
" Astaga .... apa kalian tidak lelah ? " Davin dan Aluna langsung menghentikan kegiatannya. Davin menatap tajam ke arah Asisten Jo yang sedang berjalan santai ke arah nya.
" Mengganggu sekali kamu Jo " Ujar Davin kesal.
" Tuan, apa anda lupa ucapan Dokter Mery yang mengatakan Nona Aluna tidak boleh kelelahan ? Percuma anda menyuruh Nona Aluna agar tidak kelelahan tapi anda setiap waktu mengajak Nona Aluna olahraga padahal setahu saya itu kegiatan yang sangat melelahkan " Sindir Asisten Jo membuat Davin terdiam. Ya, Davin tahu itu kegiatan yang sangat melelahkan tapi kenapa setiap tubuhnya bersentuhan dengan Aluna, dia sering tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, terutama adik kecilnya di bawah sana. Asisten Jo tersenyum sinis melihat Davin yang terdiam. Sedangkan Aluna masih duduk diam di pangkuan Davin sambil matanya bergantian menatap mereka berdua. Asisten Jo mendekat ke meja Davin lalu meletakkan box makanan itu di depan Davin.
" Silahkan Tuan, ini martabak pesanan anda Tuan. " Davin menatap antusias pada box itu, Aluna langsung membukanya untuk Davin.
" Pintar sekali kamu Jo. Jam segini kamu dapat martabak dimana ?" Tanya Davin sambil mengambil satu potong kemudian menyuapkannya ke mulutnya dan mengunyahnya perlahan.
" Tentu saja Tuan, anda baru sadar kalau saya pintar ? Anda ingin tahu dimana saya membelinya? " Tanya Asisten Jo dan hanya mendapat anggukan kepala dari Davin.
" Mansion Alexander " Jawab Asisten Jo santai.
" Uuuhuuuuukk uuuhhuuukk " Davin tersedak membuat Aluna begitu panik, dengan segera dia mengambil air minum untuk Davin. Sedangkan Asisten Jo hanya tersenyum seolah tak berdosa.
__ADS_1
Jangan lupa kasih vote gaes
salam sayang dari author recehan