
Dua minggu kemudian.
Aluna berjalan keluar bandara dengan muka berbinar. Dia pulang terlebih dahulu karena Ronal memperpanjang acara bulan madunya.
"Akhirnya sampai juga di kandang sendiri," kata Aluna bahagia. Dia sengaja tidak meminta jemputan karena dia ingin memberi kejutan untuk keluarganya, Aluna berdiri menunggu taxi yang lewat. Ketika ada sebuah taxi melintas dia pun langsung menghentikannya.
"Ke Jalan XX ya pak," kata Aluna pada sopir taxi itu. Sopir itu mengangguk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Aluna mengamati sopir taxi itu dari belakang, dia seperti familiar dengan punggung orang itu. Pria dengan seragam sopir dan topi serta masker membuat Aluna menjadi merasa was-was, dia takut sopir itu bukan orang baik.
"Kok kaya kenal ya," gumam Aluna lirih. Sopir itu berkali-kali melirik Aluna lewat kaca depan mobil. Aluna yang tahu hal itu, dia merasa semakin khawatir. Aluna dengan segera menghubungi nomer ponsel Tuan Bagaskara.
"Hallo Pa," sapa Aluna saat panggilan telah terhubung.
__ADS_1
"Iya, Pa. Aluna sedang dalam perjalanan menuju mansion kok Pa. Aluna sengaja memberi kejutan kalau Aluna pulang hari ini," Aluna sengaja mengeraskan suaranya. Namun, Sopir taxi itu hanya diam mendengarkan namun masih berkali-kali melirik Aluna.
"Pa, Apa Rio bisa menjemput Aluna di jalan?" tanya Aluna. Rio adalah anak buah kepercayaan Tuan Bagas, dia adalah orang yang ahli beladiri dan selalu di panggil saat anggota keluarga Bagaskara sedang dalam keadaan tidak aman.
"Oke, Aluna tunggu ya Pa," kata Aluna, dia mematikan panggilan itu.
"Berhenti di depan sebentar ya Pak, saya ada urusan sebentar," Sopir taxi itu hanya diam tidak menanggapi ucapan Aluna, membuat Aluna semakin merasa ada yang tidak beres dengan sopir taxi itu.
"Bapak tidak dengar? Saya minta berhenti pak," perintah Aluna, suaranya mulai terdengar meninggi.Namun, sopir itu tetap tidak menghentikan mobilnya dan dilihat dari tatapan mata sopir itu di kaca depan, Aluna tahu kalau sopir itu sedang tersenyum jahat.
"Aku tahu kamu pasti mau macam-macam denganku kan? Berani maju selangkah maka kau kutembak!" ancam Aluna. Sopir itu hanya tersenyum sinis.
__ADS_1
Bodoh! Bagaimana mau maju selangkah sedangkan kita sedang dalam posisi duduk. Batin sopir itu.
"Apa kamu bisu?! Kenapa kamu cuma diam saja?!" Tanya Aluna dengan membentak. Tiba-tiba, kaca pintu mobil itu di ketuk dari luar. Ternyata Rio dan kawan-kawannya datang. Aluna menunggingkan senyum bahagia dan juga lega.
"Rio," panggil Aluna sambil membuka pintu mobil itu tetapi ternyata pintu mobil itu sengaja di kunci dari depan. Aluna mencebikkan bibirnya kesal.
"Sebenarnya kamu mau apa sih?! Kamu belum tahu siapa aku?!" bentak Aluna. Namun, lagi-lagi tak ada satu pun jawaban dari sopir itu. Mobil itu justru kembali melaju kencang, Aluna pun menendang belakang kursi kemudi itu.
"Sialan!" umpat Aluna marah. Rio yang melihat mobil itu melaju kemudian mengejarnya. Mobil mereka pun saling mengejar hingga sampai di tempat yang sepi, taxi itu berhenti karena dihadang dua mobil bodyguard milik Tuan Bagas. Sopir taxi itu membuka kunci pintu mobil, melihat pintu yang sudah tidak lagi terkunci,Aluna membuka pintu mobil berusaha untuk kabur. Sopir itu pun melakukan hal sama, dia mengikuti langkah Aluna membuka pintu mobil dengan cepat. Saat Aluna sudah berdiri tegak, tubuhnya menegang saat sopir taxi itu memeluk tubuhnya dengan sangat erat, Aluna meronta berusaha melepaskan pelukan itu. Rio dan kawan-kawannya pun maju mencoba untuk menyelamatkan Aluna tetapi sopir itu mengisyaratkan tangannya ke arah mereka, menyuruh mereka untuk berhenti.
"Kalian semua jangan ada satupun yang mendekat, atau nyawa kalian akan habis saat ini juga!" teriak sopir itu mengancam. Aluna terdiam, bukan karena ancaman itu tapi karena suara itu terdengar tidak asing di telinganya.
__ADS_1
"Diamlah! Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja.Aku merindukanmu gadis bar-bar," Sopir taxi itu membuka maskernya. Begitu masker itu telah terbuka, jantung Aluna berdetak begitu kencang.
"Kamu!" pekik Aluna tak percaya.