Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 42


__ADS_3

Saat jam makan siang, Davin sengaja pulang ke rumah untuk melihat Aluna. Dia benar-benar belum puas jika belum melihat keadaan Aluna secara langsung.


"Sayang," panggil Davin tak sabar, padahal dirinya baru saja masuk ke ruang tamu.


"Nyonya Muda di kamar, Tuan. Sedang bersama Nona Mila," sahut Mbok Nah yang kebetulan sedang berada di ruang tamu.


"Terima kasih ya Mbok. Ayo Jo, kita ke kamar," ajak Davin.


"Saya menunggu disini saja Tuan," tolak Asisten Jo halus.


"Istrimu juga di kamar Jo. Kamu tidak merindukan dia?" tanya Davin, tetapi Asisten Jo hanya diam tidak menanggapi.


"Kamu sudah pulang, Mas?" Aluna datang karena dia melihat mobil Davin dari balkon kamarnya.


"Sayang, aku ingin memastikan keadaanmu. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Davin berjalan mendekati Aluna, tapi Aluna mengibaskan tangannya menyuruh Davin berhenti.


"Jangan mendekat Mas. Aku mual mencium bau badanmu," Aluna menutup mulutnya karena dia merasa sangat mual saat Davin sudah berada dekat dengan dirinya.


"Kamu yang benar saja sayang, aku ingin memelukmu," kata Davin memelas.


"Jangan mendekat Mas. Aku benar-benar mual," Aluna berlari ke kamar mandi di dekat dapur karena sudah tak bisa menahan gejolak di dalam perutnya. Davin hanya menatap kepergian Aluna saja, dia bingung harus bagaimana.


"Sabar Tuan, saya juga merasakan apa yang anda rasakan saat Mila hamil baby Cacha," kata Asisten Jo dengan berusaha menahan tawanya.


"Terus bagaimana Jo? Aku tidak mungkin membiarkan Aluna yang sedang ngidam seperti itu sendirian," kata Davin bingung, dia sampai mengacak-acak rambutnya sendiri. Mbok Nah yang sedari tadi hanya melihat, kini berjalan cepat menyusul Aluna.


"Sudah ada Mbok Nah, Tuan. Jadi anda tenang saja, hanya saja anda mulai saat ini anda harus bersiap-siap Tuan," Asisten Jo bicara dengan suara meledek Davin.


"Siap-siap apa, Jo?" tanya Davin mulai kesal, dia mendudukkan tubuhnya begitu saja di sofa ruang tamu.


"Perbanyaklah persediaan sabun di kamar mandi anda, usahakan cukup sampai Nona Aluna lahiran," ledek Asisten Jo, Davin membuka kedua matanya lebar.


"Yang benar saja kamu, Jo! Mana mungkin aku berpuasa sampai berbulan-bulan," Davin mengusap wajahnya kasar, dia semakin terlihat frustasi.


"Anda tidak percaya Tuan? Saya bicara seperti ini karena saya sudah merasakan sendiri, Tuan," kata Asisten Jo meyakinkan. "Satu lagi, Tuan."


"Apalagi Jo?!" sewot Davin.

__ADS_1


"Pastikan kamar tamu anda bersih atau siapkan sofa besar di kamar anda, karena saya yakin Nona Aluna belum tentu mau tidur satu ranjang dengan anda," Mendengar ucapan Asisten Jo, Davin menggaruk rambutnya dengan kasar.


"Kenapa anda terlalu memikirkan soal urusan ranjang, Tuan. Harusnya anda lebih memikirkan keadaan Nona Aluna," cibir Asisten Jo.


"Kamu pikir aku tidak memikirkan keadaan Aluna?! Aku harus bagaimana Jo, aku mendekat saja Aluna sudah mual," Davin memijat pelipisnya, dia benar-benar bingung.


"Tuan, Tuan. Ini belum ada satu hari tetapi anda sudah sefrustasi ini, sedangkan kemungkinan delapan bulan ke depan anda akan jauh dari Nona Aluna,"


"Ya Tuhan, kenapa bisa jadi seperti ini?" keluh Davin.


"Sekarang anda percaya kan Tuan? Kalau karma itu ada," ledek Asisten Jo dengan berusaha menahan tawanya.


"Semua gara-gara kamu Jo! Kamu sudah mengutukku jadi sekarang Aluna hamil lagi," Asisten Jo melongo saat Davin menyalahkannya.


"Kan anda yang membuat Nona Aluna hamil, kenapa jadi saya Tuan?" tanya Asisten Jo tak terima.


"Andai saja kamu...."


"Mas Johan, kamu pulang? Aku kangen kamu," Mila yang baru masuk ruang tamu langsung berlari memeluk suaminya. Asisten Jo membalas pelukan Mila di tubuhnya. Davin semakin merasa kesal saat melihat mereka berdua.


"Dimana Cacha?" tanya Asisten Jo tanpa melepas tangannya dari pinggang Mila.


"Kita kerjain si Tuan Muda yang sedang frustasi," bisik Asisten Jo, dia menempelkan bibirnya di leher Mila, tubuh Mila seketika meremang begitu saja.


"Kalian berdua benar-benar menyebalkan!" umpat Davin kesal, dia berjalan cepat menyusul Aluna ke toilet, bagaimanapun caranya dia harus memeluk istrinya itu.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Davin saat melihat Aluna sedang duduk lemas di meja dapur.


"Mas, berhenti!" teriak Aluna saat Davin sudah berada lima langkah di dekatnya. "Aku mual lagi," Aluna langsung menuju ke wastafel cucian piring, dia sudah tidak sanggup untuk berjalan ke kamar mandi.


"Sayang, aku harus bagaimana?" Davin benar-benar bingung.


"Jangan mendekati aku, Mas. Aku bisa mati lemas," kata Aluna dengan kesal.


"Sayang, jaga bicaramu! Aku hanya ingin memelukmu," Davin sedikit membentak tetapi kemudian merendah.


"Aku benar-benar tidak bisa dekat dengan kamu Mas." Tubuh Aluna luruh ke lantai karena sudah sangat lemas. Mila dan Asisten Jo menjadi tidak tega saat melihat Aluna.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja Lun?" tanya Mila khawatir, dia berjalan mendekati Aluna, Mbok Nah pun ikut mendekati Aluna dengan membawa secangkir air jahe hangat untuk Aluna.


"Di minum Nyonya Muda, agar sedikit mendingan," kata Mbok Nah lembut, Aluna mengambil gelas itu kemudian meminumnya dalam sekali tegukan.


"Sayang," panggil Davin, matanya mulai terlihat basah karena saking bingungnya.


"Mas, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa dekat dengan kamu," balas Aluna, dia memejamkan matanya. Ini adalah ngidam terparah yang dia rasakan.


"Apa Nyonya Muda masuk angin?" tanya Mbok Nah, Aluna menggeleng cepat.


"Aku lagi ngidam Mbok," Mbok Nah terkejut mendengar jawaban Aluna.


"Nyonya Muda sedang hamil lagi?" tanya Mbok Nah tak percaya.


"Siapa yang hamil?" Semua menoleh ke arah pintu dapur di mana Nyonya Anita dan Tuan Doni berdiri dan menatap mereka penuh tanya.


"Maaf Mom, Aluna hamil lagi," jawab Aluna lirih, dia menundukkan kepalanya merasa takut ibu mertuanya itu akan marah.


"Kamu hami lagi Lun? Bukankah Nadira baru berusia tiga bulan?" tanya Nyonya Anita tak percaya, dia berjalan mendekati Aluna.


"Mom," panggil Davin lirih tetapi Nyonya Anita seolah tak peduli.


"Maafin Aluna ya Mom, Aluna udah kebablasan," lirih Aluna, dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya.


"Sayang, bukan kamu yang salah," kata Davin membela Aluna. "Aku yang salah disini." Nyonya Anita berjalan mendekati Davin lalu menjewer telinga Davin dengan cukup kencang.


"Mom, sakit mom," teriak Davin sambil memegang telinganya.


"Memang salah kamu! Punya burung gak di pakein sarung jadi gitu," omel Nyonya Anita. Mereka mengalihkan pandangannya saat mendengar isak tangis Aluna. Davin dengan cemas langsung mendekati Aluna dan memeluknya tetapi Aluna langsung berdiri karena dia merasa sangat mual.


"Mas, aku sudah bilang. Jangan dekat aku!" bentak Aluna karena tenaganya benar-benar sudah terkuras habis.


"Sayang, aku khawatir padamu." Wajah Davin terlihat begitu memelas.


"Makanya kamu jangan dekat aku, biar aku gak mual," usir Aluna. Davin pun berjalan agak menjauh dari Aluna.


"Kasihan sekali anda, Tuan," ejek Asisten Jo, Davin langsung menatap tajam ke arah Asisten Jo.

__ADS_1


"Semua karena mulut sialanmu itu Jo!" bentak Davin marah, tetapi semua hanya tertawa melihat Davin berada dalam suasana yang buruk.


__ADS_2