
"Jo, bolehkah aku mengatakan apa yang aku dengar dari Aluna?" tanya Davin ragu, dia sebenarnya tidak ingin ikut campur, namun Davin tidak ingin masalah antara Asisten Jo menjadi berlarut-larut.
"Silahkan saja, Tuan. Saya hanya akan mendengarkan tapi tidak akan semudah itu percaya, Tuan," sahut Asisten Jo dengan raut wajah datar.
"Kamu boleh percaya atau tidak, Jo. Aluna bilang, sebelum Mila bertemu Dimas, dia sudah menghubungi Aluna dan mengatakan kalau Dimas mengancam Mila, kalau sampai Mila tidak menemuinya dan mengatakan pada kamu maka nyawa Nathan dalam bahaya, bahkan Dimas juga mengirim foto Nathan yang sedang bersekolah," Davin berhenti bicara, dia melihat wajah Asisten Jo yang mulai terlihat marah, bahkan tangannya mulai mengepal.
"Aluna juga bilang, kalau Mila sebenarnya mau menghubungi kamu, tapi pesan Dimas ternyata sampai terlebih dulu. Mungkin saat kamu bertemu dengan Dimas nanti, kamu bisa tanyakan alasannya secara jelas, Jo," Asisten Jo menghembuskan nafas kasar.
"Kalau memang benar kenyataannya seperti itu, saya tetap akan memberi pelajaran untuk istri saya, Tuan. Biar dia merenungi kesalahannya, bagaimanapun juga harga diri saya sebagai seorang suami seakan ternoda, Tuan," Davin berdecih mendengar ucapan Asisten Jo.
"Kamu dan Mila benar-benar pasangan serasi," cibir Davin sedangkan Asisten Jo hanya menunggingkan senyumnya.
"Lekaslah baikan Jo. Kasihan anak-anakmu, mereka pasti merindukanmu, apa kamu juga tidak merindukan belaian istrimu, Jo?" tanya Davin menggoda, Asisten Jo memutar bola matanya malas.
"Saya baru berpisah satu hari satu malam dengan istri saya, bahkan saya pernah empat puluh satu hari tidak menjamah istri saya, Tuan," sahut Asisten Jo, dia terlihat fokus pada tabletnya.
"Kenapa lebih, Jo? Aku empat puluh hari pas! Tidak lebih dan tidak kurang,"
"Karena yang satu bonus, Tuan. Saya sudah terbang tinggi tapi langsung di hempaskan begitu saja," Davin terdiam sesaat mendengar jawaban Asisten Jo, tapi beberapa detik kemudian dia tertawa terbahak-bahak setelah paham maksud ucapan Asisten Jo.
"Bagaimana rasanya? Nikmat bukan?" tanya Davin dengan nada mengejek. Asisten Jo langsung menatap tajam ke arah Davin.
"Tidak usah mendelik seperti itu Jo, lebih baik kamu lekas pulang saja. Kamu menginap di dalam hotel selama seminggu mau bermain bersama siapa? Tante Citra? Percuma sekali, buang-buang uang saja," ejek Davin, Asisten Jo diam tidak menanggapi, dia hanya berdecak kesal kepada Davin yang mengejeknya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Restoran XX
__ADS_1
Di sebuah salah satu meja Restoran itu, suasananya begitu tegang. Hampir lima menit duduk bersama, mereka hanya saling diam. Satu orang duduk dengan kepala sedikit menunduk, sedangkan satu orang lagi duduk sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.
"Kalau kamu tidak akan membicarakan apapun, lebih baik aku pergi dari sini," kata Asisten Jo tegas kepada Dimas. Dia menatap Dimas tajam, dia masih bisa melihat bekas pukulannya kemarin di sudut bibir Dimas.
"Maaf, Tuan," sahut Dimas pelan.
"Untuk?" Asisten Jo mengerutkan keningnya.
"Semua yang saya lakukan, hingga membuat anda salah paham. Saya benar-benar tulus ingin minta maaf pada Mila, Tuan. Saya tidak ada maksud apa-apa selain minta maaf," jawab Dimas lirih.
"Kamu pikir, aku akan percaya begitu saja?" tanya Asisten Jo dengan senyum sinis di bibirnya.
"Terserah anda mau percaya atau tidak Tuan, saya hanya ingin minta maaf pada Mila, karena selama saya di penjara setiap hari saya selalui di hantui rasa bersalah, Tuan," jawab Dimas penuh sesal.
"Kenapa kamu tidak datang ke rumah dan malah mengancam dengan menggunakan nama Jonathan?" tanya Asisten Jo menyelidik.
"Saya yakin anda pasti tidak akan mengizinkan, Tuan. Karena saya orang yang telah merusak Mila,"
"Tuan, semua memang salah saya. Saya minta maaf Tuan. Saya mohon, anda jangan marah kepada Mila, Tuan. Saya yang salah di sini," mohon Dimas sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Kamu pikir kamu siapa? Apa kamu berhak membela istriku? Dia juga salah!" Suara Asisten Jo terdengar meninggi. Entah mengapa, mendengar pembelaan Dimas kepada Mila membuat hatinya terasa memanas.
"Saya tidak membela Mila sepenuhnya, Tuan. Semua ini salah saya, bukan salah Mila," Wajah Asisten Jo semakin terlihat marah.
"Aku ingatkan kepadamu! Jangan pernah sekali pun kamu mengusik keluargaku, dan jangan pernah kamu menganggu hubungan ku dengan Mila, aku sedang berbaik hati, sudah memaafkanmu. Namun, sekali saja aku melihatmu berusaha mengusik ketenangan keluargaku, maka nyawamu yang akan jadi taruhannya!" ancam Asisten Jo sambil bangkit berdiri, dia berjalan meninggalkan Dimas tanpa berpamitan. Sedangkan, Dimas hanya melihat punggung Asisten Jo yang perlahan menjauh dengan hati yang bingung. Dia hanya berniat meminta maaf tapi kenapa Asisten Jo justru marah-marah?
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Hari ini, Mila datang ke Mansion Alexander untuk bertemu Aluna. Dia benar-benar bingung bagaimana caranya untuk meminta maaf pada suaminya, sedangkan nomer ponsel Asisten Jo saja, tidak bisa dia hubungi sama sekali.
"Hai, Mil. Hai, baby Cacha," sapa Aluna, dia mencium lembut pipi baby mungil itu.
"Baby Nadira mana?" tanya Mila karena dia tidak melihat bayi yang dia akui sebagai calon istri Nathan itu.
"Lagi tidur. Duduk dulu Mil, biar aku ambilkan minum," suruh Aluna, namun Mila langsung menahan tangan Aluna.
"Kenapa?" tanya Aluna seraya menautkan kedua alisnya.
"Jangan bikinin aku teh, buatkan aku kopi pahit saja, biar aku yakin kalau ada yang lebih pahit dari hidupku," celetuk Mila membuat Aluna menatap kesal ke arah Mila.
"Mulutmu benar-benar pengen tak kasih ke tukang rongsok Mil," ketus Aluna, Mila hanya menyengir menanggapi ucapan Aluna. Aluna langsung pergi meninggalkan Mila sendirian di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, Aluna datang dengan membawa secangkir kopi untuk Mila.
"Kamu Nyonya Muda kenapa bawain minuman untuk aku sendiri, Lun. Kaya pelayan saja," cibir Mila.
"Diamlah, Mil. Aku sengaja bikinin kopi sianida ini khusus untukmu dengan tanganku sendiri," ucap Aluna penuh penekanan.
"Dasar!" umpat Mila sambil menonyor kepala Aluna.
"Eh! Jangan macem-macem sama Nyonya Muda ya, berani sekali kamu menonyor kepala berharga Nyonya Muda Alexander," angkuh Aluna membuat Mila berdecih sebal.
"Lun, aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu," Wajah Mila terlihat serius membuat Aluna langsung terdiam, menatap penuh tanya ke arah Mila.
"Aku kayaknya mau pamit sama kamu, Lun. Aku sudah capek nunggu kabar Mas Johan, tapi dia tidak pernah kasih kabar ke aku. Aku sudah kangen pelukannya," Mila mulai terisak. Aluna terkejut mendengar ucapan Mila, Aluna langsung mengusap punggung Mila pelan.
"Memang kamu mau ke mana?" tanya Aluna, dia merasa sangat khawatir pada Mila, karena Mila tidak punya siapa-siapa lagi.
__ADS_1
"Pokoknya aku mau pergi jauh dari Mas Johan saja," kata Mila mantap membuat Aluna menghela nafas panjang.
"Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu, Mil?" tanya Aluna memastikan. Mila langsung mengangguk cepat membuat Aluna mengembuskan nafas kasar.