Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
135


__ADS_3

Aluna menghentikan motornya di depan rumah Mila, rumah itu nampak sepi. Dia menurunkan tubuhnya dari motor itu kemudian mengusap pelan perutnya.


"Maafin mommy sayang, kamu baik-baik ya di dalam," gumam Aluna. Dia berjalan mendekati rumah itu, begitu sampai di depan rumah dia langsung mengetuk pintu. Cukup lama dia mengetuk namun tak ada sahutan sama sekali.


"Kemana Ibu sama Rayhan ya," gumam Aluna, dia berbalik hendak kembali ke motornya.


ceklek. Suara pintu terbuka berhasil menghentikan langkah kaki Aluna, dia menoleh ke arah pintu dan melihat Ibu Eni yang sedang memandangnya dengan wajah sedih.


"Ibu," panggil Aluna, dia memeluk Ibu Eni erat. Ibu Eni pun membalas pelukan Aluna.


"Kamu apa kabar? Ayo masuk dulu," suruh Ibu Eni lembut. Aluna menurut, begitu mereka akan masuk, pandangan Ibu Eni teralihkan pada motor sport yang terparkir di halaman rumah. Ibu Eni sangat paham itu adalah motor Aluna.


"Kamu kesini pake motor?" tanya Ibu Eni terkejut. Aluna tak menjawab, namun melihat senyum Aluna membuat Ibu Eni menghela nafas panjang.


"Kamu tidak kasihan pada bayi di perutmu?" tanya Ibu Eni khawatir. Aluna terdiam, senyum di bibirnya perlahan memudar.


"Kenapa kamu masih saja keras kepala. Ya sudah ayo masuk, ibu bikinin minum dulu," ucap Ibu Eni mengajak Aluna duduk di sofa ruang tamu.


"Sebentar ya," pamit Ibu Eni hendak ke dapur namun Aluna menahan tangannya.


"Bu, Mila.." Aluna menghentikan ucapannya.Dia memandang Ibu Eni lekat.


"Kita bicarakan nanti, ibu bikin teh hangat dulu. Kasian bayi di dalam perutmu," Aluna melepaskan tangannya, Ibu Eni berlalu pergi menuju ke dapur. Aluna menyandarkan tubuhnya di sofa, dia menatap ke dinding, disana terdapat foto Mila yang sedang tersenyum lebar dan juga ada foto mereka berdua saat Aluna menang balapan pertama kali. Aluna memejamkan matanya, entah mengapa dia merasa hatinya begitu terluka mendengar keadaan Mila.


"Diminum dulu Lun, kamu lelah?" tanya Ibu Eni, dia meletakkan secangkir teh hangat di depan Aluna. Aluna langsung membuka kedua kelopak matanya.


"Makasih ya bu," ucap Aluna sopan. Dia menyeruput sedikit teh hangat itu


"Bu, ibu sudah tahu kabar Mila?" tanya Aluna hati-hati. Ibu Eni mengangguk pelan.


"Termasuk kabar buruknya?" tanya Aluna lagi. Ibu Eni terdiam, namun raut wajah Ibu Eni langsung terlihat sedih.


"Ibu sudah dengar semuanya dari Nak Jo," jawab ibu Eni berat. Aluna langsung memeluk Ibu Eni, dia sudah menganggap Ibu Eni seperti ibunya sendiri.

__ADS_1


"Kita harus menguatkan Mila bu," Aluna tak tega saat dia mendengar isak tangis Ibu Eni. Hati orang tua mana yang tidak sakit saat melihat anaknya di sakiti orang lain.


"Kenapa penderitaan Mila seolah tak pernah berhenti. Ibu sebenarnya sangat sakit setiap hari melihat Mila yang selalu berpura-pura tegar di depan semua orang. Ibu tahu dia hanya ingin menutupi luka hatinya saja. Kenapa sekarang dia di sakiti dengan begitu kejam, hiks hiks apa salahku dulu hingga anakku harus menanggung beban seberat ini?" ucap Ibu Eni sambil menangis, hati Aluna merasa nyeri seperti tercubit. Bahkan, airmatanya kini telah menetes membasahi pipinya.


"Semua akan baik-baik saja bu dan Mila akan menemukan kebahagiannya," Aluna berusaha menenangkan Ibu Eni.


"Kemana Rayhan bu?" tanya Aluna sambil melerai pelukannya.


"Anak buah Nak Jo membawa Rayhan ke apartemen Nak Jo. Katanya disana biar aman," Ibu Eni mengusap bekas airmata di wajahnya.


"Ibu tidak ikut?" tanya Aluna lagi. Ibu Eni menggeleng pelan.


"Ibu di rumah saja, mau menunggu Mila," jawab Ibu Eni lirih. Aluna mengusap perutnya saat merasakan tendangan dari dalam.


"Sakit?" tanya Ibu Eni khawatir.


"Tidak bu, dia begitu aktif, mungkin dia mau menyapa neneknya," seloroh Aluna membuat Ibu Eni tersenyum simpul.


"Sayang!"


"uhukk uhukk" Aluna tersedak teh yang di minumnya saat Davin masuk begitu saja.


"Kamu tidak papa?" tanya Davin khawatir. Dia mendekat ke tempat Aluna lalu mengusap punggung Aluna pelan.


"Kalau minum hati-hati sayang," protes Davin membuat Aluna mencebik kesal.


"Aku tidak akan tersedak kalau kamu tidak mengagetkanku!" Kesal Aluna. Ibu Eni memandang bingung ke arah Davin yang sedang duduk di samping Aluna.


"Aku kesini itu mau marahin kamu! Kenapa kamu masih nekat sekali! Kamu tidak pikirin anak kita di dalam, kalau sampai terjadi apa-apa pada kamu dan calon buah hati kita gimana?!" bentak Davin, Aluna langsung memalingkan wajahnya.


"Maaf aku refleks, lagian aku dan bayi kita baik-baik saja," Aluna menunduk, nada bicaranya terdengar bergetar. Davin tahu, Aluna sedang menahan tangisnya.


"Aku minta maaf sudah membentakmu sayang," Davin merasa takut, dia menyesal tidak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


"Ini suami kamu Lun?" tanya Ibu Eni mengamati wajah Davin.


"Iya bu,"


"Masya Allah, ganteng tenan," puji Ibu Eni membuat Davin tersenyum manis. "Gak beda jauh gantengnya sama Nak Jo walaupun lebih gantengan Nak Jo sedikit," Davin langsung kesal mendengar ucapan Ibu Eni, sedangkan Aluna berusaha menahan tawanya.


"Ibu pintar sekali menilai," ucap Aluna sambil tertawa pelan, dia takut Davin akan semakin kesal.


"Sayang," Davin melebarkan matanya menatap tajam ke arah Aluna, namun Aluna hanya menunjukkan tanda peace lewat jarinya.


"Rasanya aku ingin memakanmu saat ini!" kata Davin sambil mencubit gemas pipi Aluna membuat Aluna mengaduh kesakitan.


"Maaf, apakah sangat sakit?" Davin mengubah cubitannya menjadi usapan halus.


"Gak! lebih sakit jatuh dari motor," Davin kembali mencubit gemas pipi Aluna. Mereka berdua pun tertawa bersama. Ibu Eni melihat mereka dengan senyum bahagia namun raut wajah yang sedih. Aluna yang menyadari pun langsung menghentikan tawanya.


"Maaf ya bu, bukan maksud aku tertawa di saat ibu sedih," Aluna merasa tak enak hati. Davin pun ikut meminta maaf.


"Ibu justru bahagia, melihat kalian berdua bahagia. Ibu hanya kepikiran, apakah Mila masih bisa mendapatkan kebahagiaannya,"


"Kita doakan semoga Mila lekas menemukan kebahagiaannya," Ibu Eni dan Davin mengamini ucapan Aluna. Kini mereka bertiga berbincang-bincang sambil menunggu kabar Asisten Jo yang sedang dalam perjalanan.


sedikit bercanda dulu ya


part selanjutnya jangan lupa siapkan tisu


Halahh gayamu thor thor...


kok sekarang author berasa jadi cerewet sekali ya 😅


maafin author pemirsah


salam sayang dari author recehan

__ADS_1


__ADS_2