Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
92


__ADS_3

Aluna kembali ruangannya dengan hati kesal. Bagaimana tidak, Davin benar-benar menelanjanginya hingga Asisten Jo harus mencarikan baju kerja lagi untuk Aluna. Bahkan saat Aluna keluar dari ruangan Davin dia harus sembunyi-sembunyi dari karyawan yang berlalu lalang di jam kantor. Begitu Aluna masuk ke dalam ruangan kerjanya itu. Ketiga rekan kerjanya menatap Aluna dengan senyum yang terlihat mengejek membuat Aluna benar- benar kesal.


" Habis mandi Nyonya Muda ? " Goda Mila membuat Aluna berdecih sebal.


" Pasti air di kantor ini sangat segar " Nia menimpali dengan senyum yang dia tutupi.


" Kalian diamlah atau mau kupecat ! " Ancam Aluna, dia hanya bercanda tapi mereka bertiga menanggapi Aluna dengan serius. Mereka langsung menunduk, tidak berani berkata-kata. Sedangkan, Aluna menatap mereka dengan senyum tipis di bibirnya.


" Kalian takut dengan ancamanku ? " Tanya Aluna menatap mereka bertiga bergantian.


" Tentu saja, karena kami tahu kamu benar-benar Nyonya Muda Alexander " Jawab Citra dengan kembali menatap layar komputernya.


" Haha aku bukan orang yang setega itu asal memecat orang. Lagian itu bukan hakku "


" Kok bisa ya Lun, kamu sudah jadi Nyonya Muda tapi kamu tetap bersikap sederhana " Cicit Nia sambil memangku dagunya dengan kedua telapak tangannya.


" Pokoknya kalau sampai semua tahu aku istri Davin, maka kalian akan aku penyet-penyet " Aluna mengepalkan tangannya kemudian memukul pelan ke telapak tangan satunya yang terbuka dengan wajah gemas


" Jangan Nyonya Muda " Teriak mereka bertiga kompak. Aluna pun mulai mengerjakan tugasnya lagi, tugas yang begitu menumpuk. Saat sedang fokus pada layar komputernya. Asisten Jo masuk dan berdiri di samping Nona Mudanya itu.


" Ada apa lagi Jo ? Jangan bilang Tuan Mudamu itu menyuruhku ke ruangannya lagi ! " Aluna mencebik kesal. Davin benar-benar mengganggu pekerjaannya.


" Tidak Nona, Tuan Ronal ingin vidio call dengan anda, karena Nona Sisil mengidam ingin melihat wajah anda tapi ponsel anda tidak aktif " Asisten Jo bicara dengan sopan sambil menyerahkan ponsel kepada Aluna.


" Kak Sisil ngidam ? " Tanya Aluna memastikan. Asisten Jo mengangguk pelan. Dengan segera dia langsung mengambil ponsel itu, meletakkannya di samping komputer. Hingga wajah Ronal dan Sisil terlihat memenuhi layar ponsel itu. Ketiga rekan kerja Aluna hanya melirik, mereka benar-benar kepo. Sedangkan Asisten Jo mundur beberapa langkah dari tempat Aluna duduk.


" Sebentar kak,, Jo apa pekerjaanmu sibuk ? " Tanya Aluna menatap Asisten Jo.


" Cukup sibuk Nona "


" Ya sudah, kamu selesaikan saja pekerjaanmu. Nanti kalau aku sudah selesai aku kembalikan ponsel ini "

__ADS_1


" Itu ponsel Tuan Muda Nona, pesan Tuan Muda ponselnya biar berada di tangan anda dulu tidak masalah "


" Ya sudah sana kembali... aku tidak nyaman jika ngobrol kamu tungguin seperti itu " Usir Aluna sambil mengibaskan tangannya.


" Baik Nona " Asisten Jo kemudian berlalu pergi meninggalkan Nona Muda nya itu. Setelah kepergian Asisten Jo, Aluna kembali menatap layar ponselnya.


" Kak Ronal, Kaka Sisil apa kabar ? " Tanya Aluna dengan muka berbinar.


" Tentu saja sangat baik, kami baru mendapatkan kabar gembira, Sisil hamil dan dia pengen lihat wajah kamu " Di layar ponsel itu terlihat Ronal sedang mencium pipi Sisil.


" Gak usah pamer kemesraan di depan aku ya kak. Udah berapa bulan kak ? "


" Sudah masuk minggu ke enam. Dari tadi dia merengek mulu minta ketemu sama kamu, ya udah kakak vidio call aja daripada kesitu jauh. Semoga aja besok anak kakak gak bar-bar kaya kamu Lun " Aluna tertawa mendengar ucapan kakaknya itu.


" Bisa jadi dia nanti besar mirip aku kak. Bisa aku jadiin penerus aku aja kalau udah gede kak " Canda Aluna membuat wajah Ronal begitu kesal tapi Sisil di sampingnya sedari tadi hanya tersenyum.


" Jangan deh Lun, punya adik perempuan satu kaya kamu aja udah bikin kakak naik darah terus "


" Haha Kak Sisil kenapa diam aja, katanya pengen lihat wajah aku "


" Kak...Kakak harus benar-benar menjaga kak Sisil " Ada nada sendu dalam suara Aluna, dia teringat calon bayi yang sudah pergi bahkan saat Aluna dan Davin belum mengetahui kehadirannya. Melihat wajah Aluna yang muram, Ronal langsung memanggil Aluna.


" Lun,, gak usah sedih gitu ya, kamu dan Davin masih muda, kalian masih memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan buah hati lagi. Mungkin kemaren memang belum saatnya kamu memiliki anak " Ronal berusaha menenangkan hati Aluna. Sedangkan rekan kerja Aluna hanya menajamkan telinganya walau mereka terlihat fokus pada pekerjaanya.


" Iya kak, mungkin aku dan Davin harus saling membenahi diri dulu. Eh kak, papa Bagas dan mama Resti gimana kabar ? " Tanya Aluna karena beberapa hari ini dia tidak mendengar kabar papa angkatnya itu.


" Baik. Mereka itu kangen kamu tahu, papa dan mama selalu aja bilang ' kangen Aluna, anak perempuan kesayangan papa dan mama' " Aluna tersenyum mendengar ucapan Ronal. Dia merasa sangat beruntung, memiliki orang tua angkat yang begitu menyayanginya.


" Papa dan Mama kapan pulang lagi ? "


" Mungkin bulan depan Lun, mereka masih di Eropa sekarang "

__ADS_1


" Ishh... Mereka itu selalu saja sibuk " Cebik Aluna kesal.


" Kamu yakin gak papa Lun kerja sambil video call gini ? "


" Gak papa kak, kan perusahaan milik suami aku sendiri " Seloroh Aluna sambil tertawa lebar.


" Lagi kaya gini aja kamu baru mengakui suami..... " Mereka berdua ngobrol hingga Aluna melupakan pekerjaannya. Hampir satu jam Aluna berbincang dengan kakaknya itu. Begitu panggilan terputus, Aluna hendak meletakkan ponselnya. Namun, matanya terpaku pada layar ponsel Davin yang menampilkan foto dirinya yang sedang tertidur pulas.


" Kapan dia dapat foto ini ? "Gumam Aluna pelan.


" Kalau boleh tahu kamu siapanya Tuan Bagas Lun ? " Tanya Mila begitu melihat Aluna selesai video call. Dia sudah sangat penasaran.


" Emm .... " Aluna melipat bibirnya. Dia bingung harus menjawab apa.


" Kalau memang kita sahabat, jangan berbohong lagi Lun, cukup kamu bohongi kita sekali tentang pernikahanmu " Cibir Citra kesal pada Aluna yang selalu menutupi sesuatu dari mereka.


" Sebenarnya.... Aku anak angkat papa Bagas " Ucap Aluna pelan.


" What !!! " Pekik mereka bertiga kompak. Bahkan, mata dan mulut mereka terbuka lebar karena terkejut.


" Pantas saja, Tuan Bagas selalu memanggilmu anak perempuan kesayangan papa mama, karena setahu kita kan kedua orang tuamu sudah meninggal " Ucap Mila, wajah Aluna berubah sedikit sendu karena teringat kedua orang tuanya yang sudah meninggal.


" Maaf ya Lun ... " Mila menjadi tidak enak hati.


" Gak apa-apa kok " Aluna tersenyum menutupi wajah sendunya.


" Darimana kamu tahu kalau papa Bagas memanggilku seperti itu ? " Tanya Aluna menyelidik karena dia merasa belum pernah cerita pada siapapun.


" Waktu aku di Mansion Alexander dan tadi juga aku denger gitu " Jujur Mila, tapi kemudian dia menutup mulutnya rapat.


" Jadi kalian bertiga menguping ? " Aluna menampilkan wajah marah.

__ADS_1


" Engga Lun, Gak sengaja dengar. Kan kamu ngobrolnya cukup keras Lun " Sanggah Mila sambil cengengesan. Aluna mencebik.


" Sayang ..... " Mereka berempat langsung menoleh ke pintu masuk ruangan itu.


__ADS_2