Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
22


__ADS_3

Sesampai di rumah, Aluna langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia merasakan hati tubuh dan pikirannya sangat lelah. Disaat dia sedang memejamkan matanya tiba-tiba dia merasakan usapan lembut di kepalanya. Kemudian, Aluna membuka kedua matanya dan melihat Nyonya Anita sedang tersenyum kepadanya. Aluna mau beranjak bangun namun Nyonya Anita melarangnya.


"Maaf Nyonya," kata Aluna lirih.


"Tidak apa-apa, menangislah supaya semua beban di hatimu hilang. Tante akan menemanimu," ucap Nyonya Anita pelan. Namun, dari cara bicaranya terdengar bahwa Nyonya Anita sedang menahan tangisnya. Aluna pun menangis terisak lalu Nyonya Anita memeluknya erat.


"Tante ingin sekali punya anak gadis, kamu mau tinggal sama tante?" tanya Nyonya Anita penuh harap tetapi Aluna langsung menggeleng pelan.


"Saya tidak mungkin meninggalkan Ardian sendirian Nyonya, lagipula saya masih punya keluarga walaupun hanya keluarga angkat," tolak Aluna halus.


"Biar Tante bicara sama orang tua angkat kamu. Tante kenal mereka kok. Tante benar-benar ingin punya anak perempuan biar ada yang menemani. Sebenarnya, sangat kesepian,"


"Biar Aluna pertimbangkan Nyonya,"

__ADS_1


"Ya, Tante akan menunggu jawaban kamu. Tante berharap jawaban kamu sesuai dengan keinginan Tante," kata Nyonya Anita penuh harap, Aluna menanggapi dengan mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Ya sudah kita keluar yaa, masih banyak pelayat yang datang. Orang tua angkat kamu belum datang kan?" tanya Nyonya Anita, Aluna kembali menggelengkan kepalanya. Kemudian, mereka berdua keluar dari kamar. Sesampai di luar Aluna melihat Tuan Davin sedang duduk disamping Tuan Doni dan Kakek Farhan. Aluna menghampiri mereka lalu membungkuk hormat.


"Terima kasih sudah bersedia datang ke gubuk saya Tuan besar dan Tuan Doni serta...." Aluna merasa begitu berat menyebut nama Tuan Davin. Sedangkan,Tuan Davin menatap Aluna dalam.


"Tuan...." Belum selesai Aluna berbicara seseorang telah memeluk Aluna dari belakang.


"Maafin kakak ya Lun, Kakak baru datang. Semalam Kakak langsung keluar kota," ucap Ronal lirih. Suaranya serak karena menangis.


"Anda baik-baik saja Tuan Muda?" tanya Asisten Jo tetapi Tuan Davin hanya diam. Mukanya terlihat merah padam karena menahan amarah. Kakek Farhan dan Tuan Doni yang melihat Tuan Davin hanya tersenyum tipis.


"Anda cemburu, Tuan?" tanya Asisten Jo menggoda.

__ADS_1


"Jo, kamu mau mati dengan cara apa? Kenapa setiap melihat gadis genit itu berpelukan kamu selalu bertanya padaku hal yang tidak penting itu?" tanya Tuan Davin kesal.


"Anda yakin tidak cemburu Tuan?" Asisten Jo balik bertanya, dia benar-benar berani menggoda Tuannya.


"Cih! Buat apa aku cemburu sama cowok jelek itu! Bukankah kamu tahu? Banyak cewek yang rela membuka pahanya lebar-lebar untukku," kata Tuan Davin dengan angkuh.


"DAVINO ALEXANDER! Jaga ucapanmu! Tidak sepantasnya orang yang berpendidikan tidak memiliki sopan santun!" gertak Kakek Farhan membuat Tuan Davin terdiam seketika.


Kembali ke dua orang insan yang masih berpelukan. Aluna menangis terisak meluapkan segala rasa sakit yang menjalar di hatinya. Dia tidak menyangka hanya dalam waktu 3 tahun dia dan adiknya harus menjadi yatim piatu.


"Katakan padaku kalau aku gadis kuat kak," pinta Aluna sambil menangis. Dia benar-benar rapuh saat berada dalam pelukan Ronal.


"Ya, Kamu memang gadis kuat. Gadis yang sangat kuat. Jangan menyerah, jangan berhenti tersenyum. Kamu harus ingat, ada Ardian yang harus kamu jaga.Tetap semangat ya kelinci kecilku," kata Ronal. Aluna mengangguk pelan. Ardian yang baru saja keluar dari kamar langsung ikut berpelukan bersama Aluna dan Ronal. Semua yang melihat tersenyum tipis karena mereka sudah tahu siapa Ronal sebenarnya, tetapi ada sepasang mata yang terus menatap tajam ke arah mereka dengan wajah memerah. Asisten Jo hanya menahan tawanya melihat Tuan Mudanya.

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan vote dan like ya gaesss....


__ADS_2