Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP 23


__ADS_3

Asisten Jo dan Mila kini berada di ruang bersalin, setelah di periksa ternyata sudah pembukaan tujuh. Jadi, mereka menunggu sebentar lagi. Asisten Jo dengan setia menunggu istrinya itu, saat Mila sedang mengernyit kesakitan maka Asisten Jo akan langsung mengusap pinggang Mila untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Doamu benar-benar langsung di kabulkan," ucap Asisten Jo sambil menatap lekat wajah Mila yang terlihat berkali-kali mengernyit kesakitan.


"Mungkin dedek Cacha Maricha Hehey sudah gak sabar, dia keburu pengen main bareng calon istri Nathan," kata Mila asal. Wajah Asisten Jo langsung terlihat begitu kesal.


"Jangan panggil nama anak kita sembarangan. Cacha Maricha Hehey, kamu pikir dia anak kambing?!" kesal Asisten Jo.


"Aduhh aduhh mas, aku pengen pup mas," rintih Mila, Dokter Mery langsung mendekati Mila. Dia memeriksa, kira-kira sudah sejauh mana pembukaan itu.


"Wah, sudah lengkap, Nyonya."


"Pantesan saya sudah pengen pup, Dok." Mila berkali-kali menghirup nafas dan mengembuskan secara cepat. Asisten Jo mencium kening Mila sambil tangannya menggenggam erat tangan Mila.


"Mas, rasanya sakit sekali," rintih Mila, dia benar-benar merasakan sakit yang sangat luar biasa.


"Aku yakin kamu bisa," Asisten Jo tersenyum, memberi semangat pada Mila.


"Oh, mas. Senyummu benar-benar membuat semangatku menggelora. Ayo, Cha sudah waktunya kamu menetas," Mila bicara dengan nafas memburu, Dokter Mery menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Mila. Sungguh, dia merasa Mila sangat unik. Begitu merasakan dorongan kuat, Mila langsung mengejan sedangkan Asisten Jo memberi semangat dan mendoakan dalam hati semoga persalinannya lancar, istri dan anaknya sehat selamat semua. Satu kali, gagal. Dua kali, mulai ada kemajuan. Tiga kali, rambut bayi mulai kelihatan.


"Ayo Nyonya, rambut adek sudah mulai kelihatan," ucap Dokter Mery.


"Capek Dok." Nafas Mila terengah-engah.


"Ayo kamu bisa. Aku yakin sekali lagi, pasti bayi kita udah lahir. Aku mencintaimu," ucap Asisten Jo sambil mencium kening Mila lama, memberi semangat pada Mila.


"Aku juga mencintaimu, mas." balas Mila, dia mengejan sekuat tenaga.


Oeee oee. Tangis bayi terdengar menggema di ruangan itu, Asisten Jo dan Mila langsung mengucap syukur.


"Aku lemas sekali mas," kata Mila lirih.


"Kamu mau tidur lagi?" tanya Asisten Jo, dia melihat wajah Mila yang terlihat begitu pucat.


"Tidak! Aku laper mas," jawab Mila sambil cengengesan, Asisten Jo menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Aku beliin dulu," kata Asisten Jo, dia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Begitu sampai di luar, Asisten Jo melihat kedua orang tuanya sedang duduk di kursi tunggu.


"Ayah ibu sudah dari tadi?" tanya Asisten Jo mendekati kedua orang tuanya.


"Belum lama, tadi kita bareng sama Tuan Doni. Bagaimana keadaan Mila dan bayinya?" tanya Nyonya Rina tak sabar.


"Semuanya sehat, sekarang sedang di bersihkan. Cucu kalian perempuan," jawab Asisten Jo. Wajah Tuan Andri dan Nyonya Anita langsung sumringah


"Alhamdulillah. Oh iya Jo, Tuan Doni sudah menyiapkan tempat tidur untuk Mila di ruangan yang sama dengan Nona Aluna. Agar berkumpul jadi satu, karena Alvino dan Nathan juga ikut kesini," ucap Tuan Andri. Asisten Jo hanya mengiyakan, dia lalu berpamitan mencari makan untuk Mila, karena Mila tidak pernah mau makan makanan dari rumah sakit. Sedangkan, kedua orang tua Asisten Jo menunggu Mila selesai di bersihkan baru akan menjenguk menantu dan cucu perempuannya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Satu ruangan VVIP di rumah sakit itu sangat ramai karena berisi dua kasur dalam satu ruangan. Celotehan Alvino dan Nathan terdengar paling dominan di ruangan itu. Sedangkan, Rayhan hanya duduk di sofa kamar itu dengan ponsel di tangannya. Dua bulan lalu, Tuan Kevin akan ke Paris dan kemungkinan akan menetap disana, tapi Rayhan menolak dan lebih memilih untuk tinggal di Indonesia bersama Mila dan Mila sangat menerima dengan senang hati.


"Kak, gak kerasa kakak udah punya anak dua," ucap Ardian. Aluna menatap lekat ke arah Ardian, semenjak Aluna menikah, Ardian semakin menjadi anak yang begitu mandiri. Bahkan Aluna jarang sekali bertemu adiknya itu karena semenjak lulus kuliah, karena Ardian memilih membuka sebuah usaha peternakan di Bandung dan kini peternakan itu sudah cukup sukses, membuat Aluna sangat bangga dengan adiknya itu.


"Iya, kamu juga udah besar sekarang, udah jadi pengusaha sekarang. Tinggal nyari istri aja," ucap Aluna menggoda adiknya.


"Nanti dulu lah kak, siap lahir belum siap batin," sahut Ardian sambil menghela nafas panjang.


"Enak aja. Tanggung jawab lelaki yang sudah menikah itu kan berat,"


"Ar, apa kamu mau nungguin baby Cacha Maricha Hehey besar?" tanya Mila, semua langsung menatap bingung ke arah Mila kecuali tiga orang di ruangan itu pastinya.


"Mil! Aku sudah bilang jangan panggil anak kita sembarangan!" ketus Asisten Jo, namun Mila hanya menunjukkan rentetan gigi-gigi putihnya.


"Emang nama anak kalian Cacha Maricha Hehey?" tanya Nyonya Rina memastikan.


"Tentu saja bukan!" sanggah Asisten Jo dengan cepat.


"Memang kamu beri nama siapa?" tanya Davin ingin tahu.


"Memang nama anak Tuan siapa?" Asisten Jo balik bertanya membuat Davin berdecak sebal.


"Elvina Nadira Alexander," jawab Davin bangga.

__ADS_1


"Kalau anak kamu siapa Jo?" tanya Aluna yang juga penasaran.


"Marisa Saputri panggilan Cacha," Mila yang menjawab dengan mantap.


"Kok di panggil Cacha, darimana?"


"Dari kemauan aku sendiri," jawab Mila, semua hanya memutar bola matanya malas. Tiba-tiba bayi Cacha yang sedang di dalam box bayi menangis keras, Asisten Jo segera mengambil putrinya itu.


"Anak ayah," ucap Asisten Jo sambil membopong baby Cacha dan memberikannya pada Mila untuk di susui. Para orang tua berpamitan pulang dulu, sedangkan Davin di suruh balik badan.


"Mas," panggil Mila manja sambil menatap suaminya yang sedang menatap bayi Cacha yang sedang menyusu.


"Kamu lihatin Cacha apa lihati enen aku sih? Serius banget," kata Mila, membuat wajah Asisten Jo memerah malu.


"Selamat berpuasa Jo, selamat bersenang-senang dengan tante Citra mu itu," celetuk Davin. Mila langsung menatap Asisten Jo tajam.


"Tante Citra siapa mas?" tanya Mila menyelidik. Sedangkan Davin hanya berusaha menahan tawanya.


"Bukan siapa-siapa," jawab Asisten Jo singkat. Wajah Mila langsung terlihat marah.


"Apa kamu selingkuh di belakang aku? Apa kamu mencelup lubang selain milik aku? Kamu jahat sekali mas! Padahal tiap hari aku selalu rela kamu tungganggi, kamu bolak balik, atas bawah depan belakang. Kenapa kamu masih tega nyelup sembarang lubang sih mas," Asisten Jo langsung menutup mulut Mila dengan tangannya.


"Kamu salah paham," Asisten Jo menurunkan tangannya.


"Salah paham gimana? Bilang aja kamu...."


"Tante Citra itu sabun dan artinya aku akan bersolo karir selama kamu nifas," jelas Asisten Jo. Mila terdiam sesaat, tapi kemudian dia tertawa lebar.


"Aku bisa bantu kamu dengan tanganku mas," seloroh Mila.


"Mila!" teriak Aluna dan Asisten Jo bersamaan.


"Dasar gak punya malu," cibir Asisten Jo kesal.


"Yang penting aku punya kemal*an mas," semua berdecih sebal mendengar ucapan Mila itu.

__ADS_1


__ADS_2