
" Sayang aku merindukanmu " Ucap Davin sambil mencium lembut kening Aluna, membuat pipi Aluna bersemu merah. Apalagi banyak pasang mata yang melihatnya.
" Kamu sakit apa sih ? " Tanya Aluna sambil mengamati wajah Davin yang terlihat sudah segar.
" Nona Aluna, sepertinya anda adalah obat dari sakitnya Tuan Davin " Aluna menatap Asisten Jo penuh tanya.
" Parfummu wangi sekali sayang " Ucap Davin sambil menciumi baju Aluna, membuat Aluna merasa tidak nyaman.
" Aku tidak pakai parfum, bahkan aku saja belum mandi " Sahut Aluna membuat semuanya melongo.
" Tapi aku suka wanginya " Davin sama sekali tidak berhenti menempel di tubuh Aluna.
" Oh Davin... kenapa kamu jadi seperti ini ? Apa kamu tidak malu ? Banyak pasang mata yang menatap kita " Protes Aluna sambil hendak beranjak pergi namun Davin menahannya.
" Astaga Aluna... untung kamu baik-baik saja " Ronal datang dengan terengah-engah karena dia mengejar Aluna.
" Kenapa kamu ngos-ngosan kaya abis maraton gitu ? " Tanya Marvel bingung.
" Ngapain lagi kalau bukan ngejar cewek bar-bar ? Begitu denger Davin masuk rumah sakit langsung pergi gitu aja, ngebut segala " Ronal masuk di ikuti Tuan dan Nyonya Alexander.
" Mommy takut lihat kamu ngebut sayang " Nyonya Anita bicara dengan nada lega. Davin mengepalkan tangannya.
" Kamu bisa gak sih Gak usah keras kepala ! Kamu lihat banyak orang yang mengkhawatirkanmu. Jangan melakukan hal yang membahayakan nyawamu ! " Bentak Davin tanpa memperdulikan orang disekitarnya. Aluna melengos, hatinya terasa seperti dicubit.
kapan kira-kira mereka berdua tidak berdebat.
" Kamu bisa enggak sih jangan bikin orang khawatir ! Apa kamu bahagia melihat orang khawatir padamu ! Aku sangat tidak suka sama kamu begitu keras kepala ! " Teriak Davin keras. Mata Aluna mulai berkaca-kaca.
" Ya ... aku memang keras kepala, bukankah kamu tahu itu ? Dari dulu aku memang selalu keras kepala, lantas kenapa kamu mau bertahan sampai saat ini ? Kamu tahu aku refleks ngebut karena aku sangat mengkhawatirkanmu, tapi sepertinya aku salah kalau aku khawatir padamu " Suara Aluna terdengar bergetar. Davin membisu, dia sadar dia telah menyakiti Aluna dengan membentaknya begitu saja. Saat merasakan airmatanya hendak menetes, Aluna langsung beranjak pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
" Davinn.... " Teriakan itu terdengar setelah Aluna merasakan tubuhnya di peluk dari belakang ketika hendak mencapai pintu ruangan itu.
" Maafkan aku " Ucap Davin lirih, airmata Aluna langsung luruh membasahi pipinya. Aluna benar-benar membenci dirinya yang menjadi sangat cengeng. Saat Aluna menunduk dia melihat tangan Davin yang berdarah, ternyata Davin melepas paksa jarum infus yang menancap di tangannya.
" Aku membencimu !! " Kata Aluna kesal sambil melepaskan pelukan Davin, menyeret tubuh Davin kembali ke tempat tidurnya. Dengan segera perawat itu memasang kembali jarum infus itu. Davin hanya menurut saja.
" Sebenarnya Davin sakit apa Re ? " Tanya Nyonya Anita pada Renard.
" Nyonya, sepertinya Tuan Muda tidak sakit, semua organ di tubuhnya sehat semua " Jawab Dokter Renard sopan.
" Lantas kenapa katanya dia muntah-muntah sampai di bawa kerumah sakit, apa dia keracunan makanan ? " Tuan Doni terlihat khawatir dengan anak bungsunya itu.
" Biar Dokter Mery yang menjelaskan Tuan ". Mereka pun langsung menatap penuh tanya pada Dokter Mery.
" Tuan Nyonya, dari pemeriksaan saya, sepertinya Tuan Davin mengalami sindrom couvade atau kehamilan simpatik "
" Kehamilan simpatik ?? Apa kamu hamil sayang ? " Tanya Nyonya Anita penuh harap pada Aluna namun Aluna menggelengkan kepalanya pelan dengan muka sedih. Semua mendesah kecewa.
" Nona Aluna apa anda memang sedang datang bulan ? " Tanya Dokter Mery pada Aluna.
" Tadi malam iya dok, tapi cuman seperti flek dan sekarang darah haidnya belum keluar juga. Apa karena saya sudah terlambat dua minggu ya jadi darah haid saya tidak lancar ? "
" Apa ada keluhan lain Nona ? " Tanya Dokter Mery lagi.
" Perut bagian bawah saya kadang nyeri kadang tidak "
" Nona .... Sepertinya anda memang benar sedang mengandung " Ucap Dokter Mery dengan seulas senyum di bibirnya.
" Tapi saya sudah biasa telat datang bulan Dok " Aluna berusaha menyanggah ucapan Dokter Mery karena dia tidak ingin berharap lebih.
__ADS_1
" Tapi melihat dari apa yang terjadi pada Tuan Davin. Saya yakin kalau anda sedang mengandung, lebih baik kita lakukan USG untuk lebih jelasnya "
Deg deg deg . Jantung Aluna langsung berdebar begitu kencang. Apa benar dia sedang mengandung benih Davin yang selama ini mereka tunggu-tunggu ? Davin pun menatap dalam mata Aluna.
" Sayang... ayo kita USG.. Siapa tahu memang ada calon buah hati kita di dalam sini " Ucap Davin sambil mengelus perut Aluna pelan dengan senyum yang begitu merekah sedangkan Aluna hanya diam membisu.
" Davin.... " Aluna menunduk dengan wajah yang lesu membuat senyum Davin perlahan memudar.
" Jangan terlalu berharap lebih dulu, aku takut kita akan dikecewakan oleh harapan itu " Ucap Aluna ragu.
" Kalian belum mencoba jadi kalian belum tahu hasilnya Lun. Lebih baik kamu coba dulu, jika memang hasilnya tidak sesuai keinginan kalian, itu artinya kesabaran kalian sedang di uji " Ucap Ronal menasehati. Davin pun menggenggam erat tangan Aluna, seolah memberi kekuatan ' bahwa jangan takut kita mencobanya '. Aluna pun mengangguk setuju membuat senyum Davin kembali merekah.
Mereka pun kemudian pindah keruangan Dokter Mery untuk melakukan USG. Aluna begitu gugup, dia harap-harap cemas. Apakah dia benar-benar mengandung atau karena dia hanya terlambat datang bulan. Tangannya gemetar, bahkan sudah basah karena keringat. Melihat Aluna yang gugup, Davin menguatkan dengan menggenggam erat tangan Aluna. Dokter Mery membuka kaos yang menutupi perut Aluna dan memberi gel disana. Aluna merasakan perutnya dingin kemudian Dokter Mery menaruh alat USG di atas perut Aluna. Melihat apakah ada janin disana atau tidak. Aluna memejamkan matanya, karena dia takut hasilnya akan membuatnya kecewa. Davin pun begitu gugup untuk mengetahui hasilnya. Tapi matanya menatap tajam tampilan layar USG. Di sana dia melihat sebuah lingkaran hitam kecil.
" Yang hitam bulat itu apa dok ? " Tanya Davin penasaran. Aluna pun tidak berani membuka matanya namun dia menajamkan telinganya. Mendengar pertanyaan Davin, Dokter Mery tersenyum simpul.
" Selamat Tuan.. Istri anda sedang mengandung " Jawab Dokter Mery lembut.
Deg. Davin terpaku sedangkan Aluna langsung membuka matanya lebar. Untuk sesaat mereka berdua terdiam mendengar jawaban Dokter Mery.
" Istri saya hamil dok ? " Tanya Davin memastikan kalau dia tidak salah dengar.
" Iya Tuan, dan sekarang usia kandungannya sudah memasuki minggu ke enam " Davin tersenyum lebar, bahkan matanya mulai basah. Aluna pun menitikkan airmatanya. Haru.
" Sayang.. kamu dengar ?? Kita sebentar lagi akan menjadi mommy dan Daddy " Ucap Davin bahagia. Dia langsung mengecup kening Aluna berkali-kali. Rona kebahagiaan tergambar jelas di wajah Davin. Sedangkan Aluna mengusap airmata yang menetes di sudut matanya.
" Kenapa kamu menangis sayang ?? Apa ada yang sakit ?" Tanya Davin khawatir. Aluna menggeleng pelan.
" Aku menangis bahagia " Ucap Aluna lirih. Davin langsung menarik tubuh Aluna masuk ke dalam dekapannya.
__ADS_1
" Terimakasih sayang,, aku mencintaimu, aku mencintaimu " Ucap Davin sambil mengecup puncak kepala Aluna berkali-kali. Airmatanya pun akhirnya lolos membasahi pipinya.