Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna

Perjalanan Cinta Davino Dan Aluna
EP43


__ADS_3

Mereka semua kini sedang duduk di ruang keluarga, Davin mengurungkan niatnya untuk kembali ke kantor karena dia masih merasa sangat khawatir kepada Aluna.


"Sayang, aku ingin sekali memelukmu," kata Davin memelas, dia duduk satu sofa bersama Aluna tetapi mereka sama-sama duduk di pojokan agar Aluna tidak kembali merasakan mual.


"Mas aku beneran mual saat dekat kamu," kata Aluna dengan lemas. Dia memijat keningnya yang terasa berdenyut sakit.


"Sudahlah Vin. Sementara kamu menjauh dari Aluna terlebih dahulu, apa kamu tidak kasihan melihat Aluna sudah selemas itu," ucap Nyonya Anita yang sedang memangku baby Nadira. Dia tidak tega melihat anak menantunya yang sudah terlihat pucat dan begitu tak bertenaga.


"Kamu memang hebat, Vin. Marvel yang lebih dulu menikah saja dia belum memberikan seorang adik untuk Queen, sedangkan kamu sudah mau memiliki tiga anak," kata Tuan Doni, Davin tidak tahu apakah itu sebuah pujian atau sindiran untuk dirinya.


"Yah, aku kan ingin Mansion ini semakin ramai dengan cucu-cucu kalian,"


"Bagus sekali kamu, Vin," kata Tuan Doni seolah bangga dengan anak bungsunya itu.


"Lun, bagaimana kalau kamu periksakan kandungan kamu ke tempat Dokter Mery, agar kamu tahu berapa usia kandunganmu dan melihat perkembangan janin di perut kamu," saran Nyonya Anita sembari mengulas senyumnya sedangkan Aluna justru menunduk karena dia masih merasa tak enak hati dengan mertuanya itu.


"Maafin Aluna ya Mom," lirih Aluna, "Harusnya Aluna segera KB, Aluna tidak menyangka kalau Aluna bakal hamil secepat ini," Aluna menunduk, dia benar-benar merasa tak enak hati.


"Lun, semua itu sudah rezeki kalian berdua dan keluarga Alexander, tidak usah kamu sesali. Mommy akan bantu kamu merawat Nadira, mommy justru bahagia kalau Mansion Alexander ini bakal ramai," Nyonya Anita berusaha menenangkan hati Aluna, memang tidak mudah menerima kehamilan yang tidak kita rencanakan apalagi seorang wanita yang sedang hamil biasanya memiliki hati yang sangat sensitif.


"Ayo sayang, aku antar kamu menemui Dokter Mery," ajak Davin antusias.


"Mas, aku gak bisa dekat kamu. Kamu mau melihatku yang selalu mual-mual?" Aluna mulai terlihat ketus karena suaminya benar-benar ngeyel.


"Terus bagaimana?" tanya Davin, dia kembali terlihat frustasi.


"Biar istri saya saja yang mengantarnya Tuan," ucap Asisten Jo yang sedari tadi diam. Davin langsung menatap ke arah Asisten Jo dan Mila.


"Kamu yakin istriku akan baik-baik saja jika hanya bersama istrimu, Jo?" tanya Davin curiga.


"Memang menurut anda Aluna mau saya apakan Tuan?" Mila balik bertanya dengan kesal, Asisten Jo menatap tajam ke arah istrinya.


"Jaga bicaramu, Mil. Kita sedang berada di mansion jadi...."


"Nyonya Muda Alexander," sela Mila, dia tahu suaminya akan protes tentang panggilannya ke Aluna.


"Sudahlah Jo, biarkan saja. Lagipula, Mila dan aku sahabat jadi dia bebas panggil namaku tanpa embel-embel Nyonya Muda," timpal Aluna.


"Tapi Nyonya...."


"Diamlah Jo. Kepalaku benar-benar pusing," Asisten Jo akhirnya diam, semua pun ikut membisu.


"Sudahlah, Mila boleh antar Aluna menemui Dokter Mery tapi jangan sampai Aluna di ajak genit-genit ataupun jelalatan sama cowok cakep," perintah Davin, Aluna menoleh ke arah suaminya.


"Kamu pikir aku bakal genit dan jelalatan kaya Mila?! Aku ini lagi hamil anak kamu Mas, buat apa aku genit sama cowok lain. Kamu itu...." Davin bergerak cepat ke arah Aluna dan memeluknya erat. Aluna langsung menutup mulutnya menahan rasa mual yang datang.


"Diamlah sayang, aku benar-benar ingin memelukmu," kata Davin lirih tetapi Davin langsung melepaskan pelukannya saat melihat Aluna mual-mual. Begitu pelukan itu terlepas, Aluna bergegas ke kamar mandi.


"Ya Tuhan," Davin mengacak-acak rambutnya kasar.


"Jo, bisakah kamu cabut kutukan sialanmu itu?!" Davin benar-benar terlihat frustasi.


"Mana mungkin bisa Tuan, anda hanya perlu berdoa dan bersabar saja Tuan," kata Asisten Jo berusaha menahan tawanya.


"Sudahlah Vin, sementara kamu jangan dekat Aluna, apa kamu tidak kasihan dengan istrimu yang mual-mual seperti itu?"


"Tapi Mom, aku gak bisa," Mereka menggelengkan kepalanya melihat Davin yang memasang wajah memelas.


Setelah hampir dua puluh menit, Aluna keluar dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar. Dia memakai jaket kulit, celana jeans dan topi di kepalanya. Davin membuka matanya lebar melihat tampilan Aluna itu.


"Sayang, kamu yang benar saja berpakaian seperti itu. Ganti!" suruh Davin marah tetapi Aluna seolah tidak peduli.


"Sayang, apa kamu tidak mendengarkanku? Kasihan anak kita kalau kamu pakai celana seketat itu,"


"Mas, aku pengen pakai ini, lagian ini juga celana jeans untuk ibu hamil kok. Jadi, kamu jangan khawatir karena aku yakin anak kita baik-baik saja," Aluna berjalan mendekati ibu mertuanya yang masih memangku baby Nadira.


"Mom, aku nitip baby Nadira ya, aku udah siapin ASI di kulkas," kata Aluna sambil mencium lembut pipi baby Nadira.


"Iya sayang, kamu sehat-sehat ya," kata Nyonya Anita. Aluna hanya mengangguk pelan.


"Ayo Mil," ajak Aluna, Mila pun beranjak bangun.


"Mil, kamu mau bawa baby Cacha ke rumah sakit?" tanya Asisten Jo.


"Tidak, aku akan pulang dulu nitipin baby Cacha sama Ayu mas," jawab Mila, Asisten Jo ikut beranjak bangun.


"Tuan, saya mau mengantar istri saya pulang terlebih dahulu," pamit Asisten Jo, Davin langsung menoleh ke arah Asisten Jo.

__ADS_1


"Aku ikut Jo," Davin berjalan mendekat tetapi Aluna langsung menyuruh Davin berhenti.


"Kamu boleh ikut, tapi jangan dekat-dekat aku," kata Aluna, wajah Davin langsung terlihat sumringah. Mereka berempat pun berjalan ke mobil, Davin duduk di kursi penumpang depan di sebelah Asisten Jo yang duduk di kursi kemudi sedangkan Aluna duduk di belakang Asisten Jo bersebelahan dengan Mila. Mereka menuju ke rumah Asisten Jo terlebih dahulu untuk menitipkan baby Cacha kepada Ayu.


"Bundaa," teriak Nathan begitu melihat kedua orang tuanya pulang.


"Kamu sudah pulang sayang?" tanya Mila, dia mencium pipi Nathan dengan lembut.


"Sudah Bunda. Barusan Kak Rayhan pergi sama Ayah Kevin, Nathan mau ikut tapi tidak boleh," adu Nathan dengan wajah sedih.


"Memang Ayah Kevin sama Kak Rayhan mau kemana?" tanya Asisten Jo.


"Katanya mau lihat adik bayi," jawab Nathan, Mila mengerutkan keningnya.


"Kenapa Tuan Kevin tidak mengabari terlebih dahulu?" gumam Mila yang masih bisa di dengar Asisten Jo.


"Nanti kita hubungi Tuan Kevin," kata Asisten Jo.


"Tuan, Nyonya. Kalian sudah pulang?" Ayu masuk ke ruang tamu.


"Sudah Yu, aku pulang sebentar mau nitipin Cacha sama kamu, aku ada urusan," ucap Mila, Ayu langsung meraih Baby Cacha dari gendongan Mila.


"Bunda, apa Nathan boleh ikut?" tanya Nathan lirih.


"Sayang, Bunda mau ke rumah sakit jadi Nathan tidak boleh ikut," Mila berusaha memberi pengertian kepada Nathan. Awalnya Nathan hendak menangis, tetapi dengan bujuk rayu Mila, akhirnya Nathan menurut untuk tetap di rumah.


"Lama banget sih Mil?" tanya Aluna kesal saat Mila baru saja masuk ke dalam mobil.


"Barusan Nathan ingin ikut," jawab Mila sembari mendudukkan tubuhnya di samping Aluna.


"Untung saja Al sedang di mansion papa Bagas," kata Aluna. Asisten Jo melajukan mobilnya perlahan menuju rumah sakit.


"Mas, kenapa diam saja?" tanya Aluna heran karena sedari tadi dia melihat suaminya hanya diam menatap keluar jendela.


"Sayang, aku sedang memikirkan cara agar aku bisa mendekatimu," sahut Davin, dia menoleh ke arah Aluna.


"Tuan, saya punya cara agar anda bisa dekat dengan Nyonya Muda," kata Mila dengan senyum licik.


"Apa?" tanya Davin ingin tahu.


"Anda bisa berpakaian seperti seorang wanita, contohnya memakai daster begitu Tuan,"


"Kalau anda tidak percaya, anda bisa bertanya kepada suami saya karena kita pernah di situasi seperti ini," Mila bicara dengan meyakinkan. Davin langsung menatap ke arah Asisten Jo.


"Apa benar Jo?" tanya Davin memastikan.


"Kenapa mulutmu tidak bisa di jaga Mil," ketus Asisten Jo membuat Davin dan Aluna tertawa.


"Melihat kamu yang ketus begitu, aku baru percaya Jo. Aku tidak bisa membayangkan, seorang Johan Saputra memakai daster hanya untuk bisa tidur dengan istrinya. Hahaha," ledek Davin, dia memegangi perutnya yang sedikit sakit terlalu banyak tertawa. Bukannya marah, Asisten Jo justru tersenyum sinis.


"Tertawalah sepuas anda, Tuan. Jangan lupa, sebentar lagi anda akan melakukan apa yang pernah saya lakukan itu," Davin langsung terdiam mendengar perkataan Asisten Jo.


"Sayang, apakah kamu tega melihatku memakai daster," Davin menatap Aluna lekat. Aluna terdiam sesaat, belum ada satu menit tawa Aluna langsung meledak.


"Mas, aku tidak bisa bayangkan seandainya kamu memakai daster," Aluna mengusap sudut matanya, "Darimana kamu dapat ide seperti itu Mil?" tanya Aluna.


"Sebenarnya semua juga karena tak sengaja Lun. Kamu tahu kan selama hamil Baby Cacha aku selalu merasa kesal dekat Mas Johan. Tiba-tiba pas malam hari itu aku pengen banget Mas Johan pakai daster,"


"Kamu mau Jo pake daster?" tanya Aluna tetapi Asisten Jo hanya diam tidak menanggapi. Dia merasa sangat malu.


"Mana mungkin Lun. Langsung di tolak mentah-mentah Lun, tapi aku kan gak kehabisan ide,"


"Diamlah Mil," suruh Asisten Jo, dia merasa sangat kesal dengan istrinya itu.


"Biarlah Jo, biar istrimu memberi saran padaku sekaligus membuka aib mu,"


"Terus bagaimana Mil?" tanya Aluna mendesak.


"Tidak jadilah, aku takut nanti malam tidak dapat jatah," Mila takut suaminya itu akan marah.


"Kamu kan punya seribu satu cara untuk merayu suamimu itu Mil," Mila meletakkan telunjuknya di bibirnya.


"Aku ceritain nanti saja," bisik Mila lirih.


"Biar saja nanti malam aku main sama tante Citra," kata Asisten Jo mengancam, dia tetap fokus pada jalanan di depannya.


"Oke Mas, aku mau cari pria tampan. Kamu pikir aku gak laku?" Mila tak mau kalah. Asisten Jo langsung menghentikan mobilnya secara mendadak.

__ADS_1


"Berani sekali kamu bicara seperti itu!" Suara Asisten Jo terdengar tinggi. Aluna dan Davin hanya memandang mereka dengan heran.


"Salah siapa Mas, aku sudah siapin lubang kenikmatan gratis buat kamu, kamu lebih memilih main sama tante Citra yang gak bisa mendesah," sewot Mila.


"Astaga Mil, mulutmu busuk sekali," Aluna menatap Mila tak percaya.


"Iyakah Lun? Hah Hah," Mila menghembuskan nafasnya di telapak tangan lalu menciumnya. "Tidak busuk loh Lun,"


"Bisakah kamu tidak membuatku malu?!"


"Apa aku memalukanmu, Mas?" tanya Mila sedih.


"Tentu saja," jawab Asisten Jo ketus.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu tidur di kamar tamu selama seminggu!"


"Kalian benar-benar pasangan unik," kata Aluna, dia tidak menyangka jika Mila dan Asisten Jo bisa berdebat seperti itu.


"Jalankan mobilnya, Jo. Aku tidak ingin terlalu lama berhenti seperti ini," perintah Davin, Asisten Jo melajukan kembali mobil itu menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan Dokter Mery, kebetulan sekali saat ini Dokter Mery sedang tidak memiliki pasien.


"Mari masuk Tuan," suruh Dokter Mery sopan, tetapi Davin hanya berdiri di ambang pintu saja sedangkan Aluna dan Mila sudah berada di dalam.


"Sayang," panggil Davin ragu, dia menatap Aluna yang juga sedang menatapnya sedangkan Dokter Mery menatap heran ke arah mereka. Setahu Dokter Mery, Davin begitu posesif kepada Aluna.


"Dokter, adakah obat agar saya tidak mual saat berada di dekat suami saya?" tanya Aluna, dia merasa kasihan pada Davin tetapi Aluna juga tidak bisa jika harus berada di dekat Davin karena dia akan merasakan mual yang hebat.


"Apa Nona Aluna sedang mengidam lagi?" tanya Dokter Mery seraya menautkan kedua alisnya.


"Iya Dok," jawab Aluna. "Tadi pagi saya sudah coba testpack ternyata hasilnya positif, Dok," jawab Aluna. Dokter Mery awalnya terkejut tetapi beberapa detik kemudian dia tersenyum simpul.


"Aku kira anda kesini karena akan melakukan progam KB," kata Dokter Mery, dia mendudukkan tubuhnya di kursinya.


"Sayang, aku masuk ya," Davin benar-benar memelas.


"Mas, tapi aku gak mau mual lagi Mas, tenagaku sudah banyak terkuras," kata Aluna.


"Tuan, mungkin anda harus bersabar beberapa saat dulu sampai ngidam Nona Aluna sedikit membaik,"


"Tapi Dok, aku tidak bisa bila harus lama-lama jauh dari istri saya apalagi sampai sembilan bulan," sahut Davin, dia benar-benar tidak berani berdiri terlalu dekat dengan Aluna.


"Sembilan bulan?" tanya Dokter Mery bingung.


"Ya, bukankah istri saya tidak mau dekat dengan saya selama sembilan bulan Dok?" Davin kembali bertanya.


"Kenapa lama sekali? Apa anda bisa berjauhan dengan istri anda selama sembilan bulan?"


"Memang biasanya berapa bulan Dok?" tanya Davin, dia mulai merasa curiga kepada Asisten Jo.


"Masa ngidam terberat kebanyakan hanya selama tiga bulan Tuan. Saya yakin, setelah usia kehamilan istri anda memasuki bulan ke empat, Nona Aluna akan kembali seperti biasa dan bisa berdekatan dengan anda lagi," jelas Dokter Mery, Asisten Jo yang barusan menahan tawanya kini mulai menelan ludahnya kasar.


"Jo, bukankah kata kamu aku harus berpuasa selama sembilan bulan?" tanya Davin penuh penekanan.


"Iya Tuan," jawab Asisten Jo pelan.


"Kenapa Dokter Mery mengatakan hanya tiga bulan?!"


"Anda lebih memilih berpuasa selama tiga bulan atau sembilan bulan, Tuan?" tanya Asisten Jo santai.


"Tentu saja tiga bulan, kalau perlu tidak usah berpuasa sama sekali," jawab Davin.


"Kalau begitu lebih baik anda percaya ucapan Dokter Mery saja, jangan percaya ucapan saya karena saya juga tidak serius dengan ucapan saya," Asisten Jo bicara dengan santai sedangkan Davin mengepalkan tagannya erat.


"Jadi maksudnya kamu berbohong?!" bentak Davin karena marah.


"Bisa iya bisa tidak Tuan, karena yang menentukan anda akan berpuasa selama berapa bulan hanyalah Nona Aluna," jawab Asisten Jo, dia benar-benar merasa rindu melihat kemarahan Davin itu.


"JO! Aku benar-benar ingin membunuhmu saat ini juga!" teriak Davin, emosinya benar-benar telah sampai di ubun-ubun.


"Jangan Tuan, saya tidak ingin menjadi janda," kata Mila tidak ikhlas.


"Bukankah kalau kamu jadi janda, kamu bisa bebas bersama pria-pria tampan?" tanya Davin dengan seringai tipis.


"Oh iya juga ya," sahut Mila tanpa sadar.


"MILA!" bentak Asisten Jo, dia yang awalnya senang karena bisa menggoda Tuan Davin kini dia merasakan sangat emosi dengan istrinya yang tidak punya malu itu.

__ADS_1


"Astaga, aku bisa gila lama-lama," gerutu Aluna, sedangkan Dokter Mey hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.


__ADS_2