
Dinar duduk gelisah di ruang tamu, hari ini adalah hari kedua setelah percakapan Dinar dan Ardian tempo hari. Kebingungan benar-benar melanda Dinar, apa yang harus dia perbuat saat ini? Jika nanti Ardian datang padanya, jawaban apa yang harus dia berikan?
Tok tok tok
Pintu rumah Dinar diketuk, Dinar semakin merasa gelisah, dia merasa begitu gugup, apa yang harus dia katakan jika yang datang saat ini adalah Ardian. Terdengar pintu kembali di ketuk dengan lebih keras. Dinar segera bergegas membuka pintu untuk tamu nya. Begitu pintu terbuka, mata Dinar terpaku pada sosok yang berdiri di depannya.
"Kak Rangga?" panggil Dinar tak percaya, Rangga menatap Dinar sembari tersenyum simpul.
"Apa kabar Nara? Apa kamu merindukanku?" tanya Rangga dengan menaik-turunkan alisnya.
"Jangan memanggilku Nara, Kak. Panggil saja Dinar, karena Nara sudah mati!" protes Dinar tak terima.
"Kenapa?" tanya Rangga penasaran.
"Tidak semua hal kamu harus tahu, Kak!"
"Baiklah, kamu tidak ingin memelukku?" tanya Rangga menggoda, Dinar terlihat ragu. Dia ingin sekali memeluk Rangga, tetapi dia malu.
"Kalau kamu tidak mau, biar aku saja yang memelukmu." Rangga menarik tubuh Dinar masuk ke dalam pelukannya, hati dan tubuh Dinar merasa begitu hangat saat dirinya sudah berada dalam pelukan Rangga, dia memejamkan kedua bola matanya. Pelukan yang begitu nyaman untuknya, pelukan yang sangat dia rindukan. Dulu, setiap hari Dinar selalu mendapat pelukan nyaman dari Rangga, tetapi semenjak Rangga memutuskan pergi karena perintah orang tuanya, Dinar tidak lagi mendapat pelukan nyaman itu.
"Apa orang tua Kakak tidak memarahi Kakak karena menemuiku?" tanya Dinar yang masih dalam pelukan Rangga.
"Tidak! Orang tuaku sudah menyetujui hubungan kita, itu sebabnya aku datang kemari." Kedua bola mata Dinar terbuka setelah mendengar ucapan Rangga. Namun, begitu dia memandang ke depan, pandangan matanya teralihkan pada sosok yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ardian," gumam Dinar, dia segera melepaskan pelukan Rangga dari tubuhnya.
"Ardian?" tanya Rangga bingung. Dia berbalik dan melihat seorang pria sedang menatap ke arah mereka, Rangga menatap Dinar yang menatap lekat ke arah Ardian.
"Hai, ternyata aku sudah terlambat," sapa Ardian dengan suara berat.
"Kamu siapa?" tanya Rangga penasaran.
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya mau mengantar bingkisan ini untuk Nona Dinara Efendi. Maaf kalau aku mengganggu waktu berdua kalian," ucap Ardian, dia menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Dinar, tetapi Dinar terlihat begitu ragu, dia hanya menatap kotak itu tanpa sedikitpun menyentuhnya.
__ADS_1
"Terimalah, karena setelah ini aku tidak akan lagi menemuimu, anggap saja ini adalah kenang-kenangan dari aku." Ardian menarik tangan kanan Dinar, dan meletakkan kotak itu di tangan Dinar.
"Kalau begitu aku pergi, permisi," pamit Ardian, dia berbalik dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Dinar bergeming, dia menatap punggung Ardian yang perlahan menjauh darinya.
"Kamu yakin dia bukan siapa-siapa?" pertanyaan Rangga berhasil menyadarkan Dinar dari lamunannya. Dinar segera pergi mengejar Ardian yang sudah cukup jauh darinya.
"Ardian tunggu, aku mohon!" teriak Dinar, Ardian menghentikkan langkah kakinya, tetapi dia sama sekali tidak berbalik ke arah Dinar.
"Ardian, maafkan aku," ucap Dinar dengan napas tersengal karena berlari tadi.
"Untuk apa kamu meminta maaf? Kamu tidak salah apapun. Aku hanya menyadari, kalau kamu memang bukan jodohku. Aku yang harusnya meminta maaf karena sudah merenggut kesucianmu dan aku tidak bisa bertanggung jawab untuk itu," ucap Ardian lirih, Rangga yang sudah berdiri di belakang Dinar menatap tak percaya ke arah mereka berdua.
"Kamu sudah tidak suci?!" tanya Rangga tak percaya, Ardian berbalik dan dia menatap Dinar yang sedang menundukkan kepalanya.
"Ternyata kamu wanita murahan!" hina Rangga, Ardian mengepalkan tangannya erat, bahkan rahangnya sudah terlihat sangat mengeras.
"Aku kesini untuk kembali padamu, aku kira kamu masih Naraku yang dulu. Nara yang polos dan baik hati, aku tidak menyangka kalau kamu tidak lebih dari seorang pelac*r!" ejek Rangga, tetapi suaranya menyiratkan sebuah kekecewaan yang sangat besar. Airmata Dinar lolos begitu saja setelah mendengar hinaan keluar dari mulut Rangga. Nara memang dulu bekerja di club malam, tapi dia hanya seorang pelayan bukan seorang budak nafsu. Dia pun berkerja di club malam sekedar untuk menambah pemasukan agar keluarganya bisa tetap bertahan hidup. Apa itu salah?"
PLAK! Dinar terkejut saat mendengar sebuah tamparan begitu keras, bahkan sebuah teriakan terdengar memekik di telinga Dinar. Dinar mendongak, dia melihat Rangga yang sedang memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, dia beralih menatap Ardian yang terlihat sedang menahan amarahnya.
"Heh!" Rangga tersenyum sinis ke arah Ardian. "Ambil saja dia, aku tidak lagi butuh wanita yang sudah tidak suci. Aku berusaha menjaga keperjakaanku hanya untukmu Nara, aku tidak menyangka ternyata kamu semurahan itu. Padahal, aku sudah banyak memberi bantuan untuk keluargamu, tetapi kamu tidak tahu caranya berterima kasih," ucap Rangga kecewa. Dinar beralih menatap Rangga dengan lekat.
"Kamu yang memberi bantuan pada keluargaku?" tanya Dinar memastikan dia tidak salah dengar. Rangga mengangguk dengan cepat.
"Kenapa kamu tidak bilang? Aku akan berusaha mengembalikannya," kata Dinar tidak enak hati.
"Tidak perlu, anggap saja itu sumbangan dariku untuk keluargamu. Aku sudah sangat kecewa padamu, aku tidak akan lagi mengejarmu, karena aku paling tidak suka memungut barang bekas orang lain!" Hati Dinar mencelos mendengar ucapan Rangga, bahkan airmata semakin terlihat membanjiri wajah Dinar. Ardian yang melihat Dinar semakin menangis, semakin menjadi murka.
"Dasar Bajin*an! Jangan pernah sekalipun kamu hina Dinar, atau aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" bentak Ardian marah, dia memukul Rangga dengan membabi buta, Rangga yang dalam keadaan tidak siap hanya bisa pasrah meskipun dia sesekali bisa menangkis pukulan Ardian.
"Ardian, sudah cukup!" teriak Dinar dengan suara parau. Ardian segera menghentikan pukulannya, dia melihat ke arah Dinar yang terlihat sedang mengusap airmatanya.
"Jangan pukul Kak Rangga lagi. Dia tidak bersalah," pinta Dinar memelas.
__ADS_1
"Dia sudah menghinamu, apa kamu yakin itu bukan sebuah kesalahan?" tanya Ardian penuh emosi. Dinar menggelengkan kepala perlahan.
"Bukan, itu bukan kesalahan. Apa yang di katakan Kak Rangga itu benar. Aku memang murahan yang tidak lebih dari seorang pelacur. Kak Rangga tidak bersalah, aku mohon jangan lagi kamu pukul dia," pinta Dinar dengan sangat memohon.
"Tapi ...."
"Kalian pulanglah, dan jangan sekalipun kalian berdua muncul di hadapanku lagi," usir Dinar, dia berbalik dan hendak masuk ke dalam rumahnya, tetapi Ardian segera menahan langkah Dinar.
"Aku tidak akan pergi, aku akan bertanggung jawab atas dirimu," ucap Ardian mantap.
"Apakah kamu tuli? Aku sudah berkali-kali bilang, aku tidak butuh tanggung jawab dan belas kasihanmu. Semua bukan sepenuhnya salah kamu. Jadi, lupakanlah apa yang pernah terjadi di antara kita," ucap Dinar datar, dia tidak berani menatap ke arah Ardian.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sampai kapanpun kamu harus menjadi milikku!" Ardian menarik tubuh Dinar ke dalam pelukannya, tetapi Dinar berusaha meronta sekuat mungkin.
"Aku minta maaf, aku salah. Seandainya saat itu aku tidak mabuk, aku pasti tidak akan melakukan kesalahan yang membuatmu kehilangan kesucianmu,"
"Jadi, kalian melakukan karena tidak sadar?" tanya Rangga ingin tahu.
"Ya! Dinar bukan pelacur seperti yang kamu kira! Dia tidak serendah itu. Jadi, jangan pernah kamu sekalipun menghina orang lain tanpa tahu kejadian sesungguhnya," sahut Ardian.
"Dinar aku minta maaf," sesal Rangga, dia berusaha menarik tubuh Dinar dari pelukan Ardian, tetapi Ardian menghalaunya, dia semakin memeluk erat tubuh Dinar yang masih saja terisak.
"Pergilah! Biar aku yang menjaga Dinar untuk bertanggung jawab atas kesalahanku," usir Ardian, Rangga hanya berdiri terpaku dalam posisinya.
"Kalian berdua yang pergi!" Dinar sekuat tenaga melepas pelukannya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memberikan jawaban," jawab Ardian bersikukuh.
"Oke aku akan beri jawabannya saat ini juga. Aku menolak! Aku menolak menjadi istrimu. Aku tidak akan menikah dengan siapapun!" pekik Dinar, Ardian menatap Dinar lekat. Dia tidak percaya jika Dinar akan menolaknya.
"Kamu yakin dengan jawabanmu?" tanya Ardian memastikan.
"Pergilah Kak Rangga, aku sudah memaafkanmu, dan untuk Ardian, pergilah! Aku tidak pantas untukmu. Aku yakin akan ada gadis lain yang lebih baik daripada aku," ucap Dinar getir.
__ADS_1
"Dinar ...." Ardian berusaha membujuk Dinar.
"Pergi kalian! Atau kalian akan melihat mayatku saat ini juga!" ancam Dinar, Ardian dan Rangga segera pergi dari hadapan Dinar. Mereka tahu, saat ini Dinar sedang butuh waktu untuk sendiri.