
Mobil Davin sedang dalam perjalanan kembali ke rumah, jalanan tidak terlalu padat karena masih berada di jam kantor.
"Mas," panggil Aluna. Davin yang sedang melihat jalan di depannya langsung menoleh ke arah istrinya yang duduk di belakang.
"Mila bilang permen mint, aku kok jadi pengen coba lho," kata Aluna lirih. Mila langsung menoleh ke arah Aluna.
"Kamu yang benar saja, Lun. Cuma gara-gara aku ngomong pake permen kamu langsung pengen,"
"Ya sudah nanti malam kita coba," kata Davin antusias.
"Tapi kalau dekat kamu aku kan mual Mas," Aluna berkata dengan manja membuat Davin menjadi sangat gemas.
"Sayang, jangan bertingkah menggemaskan seperti itu, membuat aku sangat ingin memakanmu saat ini juga," kata Davin, dia menatap lekat wajah istrinya.
"Anda kanibal Tuan?" tanya Asisten Jo meledek.
"Diamlah Jo! Mulutmu kalau sudah bicara selalu buat tensi darahku naik," ketus Davin.
"Mil, pakai pengaman begitu apa enak?" tanya Aluna pelan.
"Kalau kata suamiku tercinta ini, kita kaya ngupil pakai sarung tangan tetapi enak ada sensansinya Lun,"
"Sudahlah, jangan bahas seperti ini," kata Davin dengan kesal. Pembicaraan seperti ini bisa membuat tubuhnya memanas dan Davin sedang tidak bisa menyalurkan hasratnya karena Aluna sama sekali tidak bisa berada dekat dirinya.
"Kenapa berhenti disini Jo?" tanya Davin, saat Asisten Jo menghentikan mobilnya di sebuah minimarket.
"Bukankah anda akan membeli permen Tuan?" Asisten Jo balik bertanya.
"Kapan aku bilang?!" sewot Davin.
"Anda yakin anda tidak mau? Padahal itu keinginan Nona Aluna itu artinya nanti malam anda bisa menggapai Nirwana bersama Nona Aluna Tuan," jelas Asisten Jo mengompori Davin.
"Benar juga ya," sahut Davin sumringah, tetapi senyumnya langsung memudar begitu saja. " Aku gak mau Jo, aku takut menyakiti anakku. Apalagi sekarang kandungannya masih rawan,"
"Uhh so sweet sekali," Mila memegang kedua pipinya saat melihat betapa perhatiannya Tuan Davin kepada Aluna.
"Apaan sih Mil," timpal Aluna. Wajah Aluna telah merona merah, dia benar-benar senang melihat perhatian Davin padanya.
"Bagaimana sayang? Kamu mau pake permen?" tanya Davin kepada Aluna. Tak ada jawaban sama sekali, membuat Davin menyuruh Asisten Jo melajukan kembali mobilnya tetapi baru saja mobil itu akan meninggalkan minimarket, Aluna menyuruh Asisten Jo kembali berhenti.
"Kamu serius sayang?" tanya Davin memastikan. Aluna mengangguk mantap.
"Jo, belikan aku Jo, satu saja," perintah Davin.
"Biar istri saya saja Tuan, dia yang sudah terbiasa membeli," sahut Asisten Jo, saat dia akan menyuruh Mila, Aluna langsung menolaknya.
"Kamu saja yang beli Mas, aku maunya kamu beli sendiri," suruh Aluna, Davin membuka matanya lebar.
"Sayang jangan membuatku malu, aku tidak mungkin membelinya sendiri," tolak Davin pelan.
"Tapi aku pengennya kamu sendiri yang membelinya Mas. Aku tidak mau yang lainnya," Wajah Aluna mulai terlihat sedih membuat Davin menjadi tak tega.
"Baiklah, kamu mau rasa apa?" tanya Davin pasrah.
"Semua rasa boleh Mas," jawab Aluna.
"Sayang, satu saja ya," kata Davin pelan.
"Satu-satu semua rasa," balas Aluna, Davin mendesah pelan.
__ADS_1
"Baiklah,"Davin hanya bisa menurut. Saat Davin sudah membuka pintu mobil, Asisten Jo menahan tangan Davin membuat Davin menatap penuh tanya ke arah Asisten Jo.
"Pakailah masker ini Tuan, jangan sampai harga diri anda tercoreng karena membeli benda itu," suruh Asisten Jo sambil menyerahkan satu buah masker, Davin meraihnya dengan tersenyum simpul.
"Kamu benar-benar pengertian," puji Davin bahagia. Setelah memakai masker itu, Davin segera masuk dan membeli keinginan Aluna itu.
"Permisi Mbak, saya mau beli pengaman semua rasa satu-satu ya Mbak," kata Davin begitu dia sudah sampai di meja kasir.
"Kenapa banyak sekali Mas?" tanya seorang ibu yang sedang mengantri di kasir saat melihat penjaga kasir itu sedang mengambilkan alat pengaman. Davin tidak menjawab, dia hanya diam menunggu.
"Dasar laki-laki jaman sekarang! Percuma tampilan keren tetapi tidak bertanggung jawab!" omel ibu itu, tetapi Davin sama sekali tidak menggubrisnya.
"Bisa lebih cepat Mbak? Istri saya sedang menunggu di mobil, saya takut istri saya kepanasan," perintah Davin.
"Lho masa' main sama istri kok pake pengaman, apa jangan-jangan sama istri siri ya atau jangan-jangan...."
"Diamlah emak-emak!" ketus Davin. Ibu itu langsung mendelik ke arah Davin.
"Berani kamu mengataiku emak-emak? Kamu tidak lihat saya masih cantik seperti ini? Kamu itu yang sudah bapak-bapak! Wajah jelek saja pakai masker biar gak kelihatan jeleknya, belagu banget!" Ibu itu kembali mengomel, Davin merasa hatinya panas mendengar ucapan ibu itu. Davin langsung membuka maskernya begitu saja.
"Apa aku sangat terlihat jelek?" tanya Davin mengejek. Ibu itu terpukau melihat wajah Davin.
"Ya Tuhan, kamu tampan sekali seperti artis sinetron," teriak ibu itu heboh, dia memegang lengan Davin seraya berjingkrak bahagia membuat Davin menjadi sangat risih.
"Tolong lepaskan tangan kamu dari lenganku!" perintah Davin dengan nada marah. Ibu itu langsung melepaskan tangannya begitu saja.
"Kenapa Mas?" tanya Aluna yang baru saja masuk ke dalam minimarket.
"Sayang, kamu kesini?" tanya Davin, dia memeluk tubuh istrinya itu.
"Eh kenapa kamu tidak mual?" tanya Davin heran, karena saat dia memeluk tubuh Aluna, Aluna bersikap biasa saja.
"Sayang, kamu salah paham," kata Davin hendak memeluk Aluna lagi tetapi Aluna langsung menolak.
"Aku tunggu kamu di mobil, dua menit! Kalau terlambat maka aku tidak akan mau dekat kamu lagi," ancam Aluna, dia segera melangkahkan kakinya kembali ke dalam mobil.
"Mbak, bisakah cepat," suruh Davin terburu-buru. Penjaga kasir itu segera menghitungnya, Davin lalu membayar dan bergegas pergi dari minimarket itu untuk mengejar istrinya.
"Sayang, huh huh," Davin ngos-ngosan, Asisten Jo dan Mila hanya menatap heran ke arah Davin sedangkan Aluna hanya berusaha menahan tawanya.
"Sayang, aku tahu kamu sedang menahan tawamu," kata Davin begitu dia melihat wajah Aluna.
"Kamu hampir saja terlambat satu detik," sahut Aluna santai.
"Ya Tuhan. Apa kamu tidak kasihan padaku?" tanya Davin memelas.
"Aku hanya ingin lihat kesungguhanmu dan ternyata kamu benar-benar mencintaiku," kata Aluna dengan senyum di wajahnya, tetapi Davin justru memasang wajah kesal.
"Kamu tega sekali mengerjaiku,"
"Tuan, bagaimana perasaan anda bergandengan tangan dengan emak-emak?" tanya Asisten Jo dengan menyindir.
"Kamu tahu Jo?!" Davin balik bertanya.
"Tentu saja Tuan, lihatlah! Terlihat jelas dari sini," kata Asisten Jo sambil menunjuk pintu minimarket yang terbuat dari kaca transparan itu.
"Diamlah Jo! Jalankan saja mobilnya," perintah Davin, dia benar-benar merasa sangat kesal.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Setelah mengantar Davin dan Aluna ke Mansion Alexander, Asisten Jo dan Mila segera pulang ke rumahnya karena mereka telah terlalu lama meninggalkan baby Cacha dan Nathan. Begitu sampai di pelataran rumah, Asisten Jo terdiam karena melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya. Dia mendengus kesal karena dia tahu siapa pemilik mobil itu.
"Ayo Mas kita turun, ternyata sudah ada yang menanti kita di rumah," ajak Mila, dia membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil itu di ikuti Asisten Jo.
"Jangan sampai kamu genit-genit! Ingat dia sudah bukan duda lagi dan dia sekarang sudah punya anak," kata Asisten Jo dengan sedikit ketus.
"Iya suamiku sayang, aku tidak akan genit-genit kok walaupun dia lebih tampan dari kamu," seloroh Mila, Asisten Jo langsung menatap tajam ke arah Mila.
"Lebih tampan dia sedikit banyakan kamu," rayu Mila, dia mencium pipi Asisten Jo begitu saja membuat wajah Asisten Jo seketika memerah.
"Kamu agresif sekali," cibir Asisten Jo walaupun dia merasa sangat bahagia dengan tingkah istrinya itu.
"Agresif sama suami sendiri tidak apa-apa dong. Atau kamu mau aku agresif dengan pria tampan lainnya?" tanya Mila menggoda suaminya, Asisten Jo kembali menatap tajam ke arah Mila.
"Jaga bicaramu, jangan selalu uji kesabaranku!" Suara Asisten Jo terdengar sedikit meninggi.
"Ayah, Bunda," teriak Rayhan begitu mereka berdua sudah masuk ke dalam rumah. Mila segera memeluk tubuh Rayhan yang kini sudah besar.
"Bunda kangen kamu," kata Mila lembut, dia mencium pipi kanan kiri Rayhan.
"Rayhan juga kangen bunda," balas Rayhan, dia juga ikut mencium pipi Mila. "Ayah tidak kangen dengan Rayhan?" tanya Rayhan sambil menatap Asisten Jo yang masih berdiri.
"Tentu saja Ayah kangen sama jagoan Ayah ini," Asisten Jo berjongkok dan memeluk tubuh Rayhan.
"Ayah, Bunda," Mereka menoleh ke arah Nathan yang terlihat hendak menangis.
"Sini sayang," Mila melambaikan tangannya, menyuruh Nathan untuk mendekat. Nathan segera berlari ke tempat kedua orang tuanya dan memeluk mereka bergantian.
"Kalian benar-benar keluarga yang harmonis," kata Tuan Kevin yang sedari tadi menatap ke arah mereka.
"Maaf Tuan tampan, kami sampai lupa menyapa anda," kata Mila begitu saja, Tuan Kevin langsung tersenyum lebar.
"Ingat! Anakmu sudah tiga jadi jangan bertingkah memalukan," cibir Asisten Jo, dia merasa sangat kesal dengan istrinya itu.
"Aku memalukan yang bagaimana Mas? Kamu selalu saja mengatakan aku memalukan, kalau kamu sudah bosan dengan aku bilang saja Mas, biar aku menjadi istri kedua Tuan Kevin," kata Mila dengan berpura-pura menangis.
"Mila! Jaga bicaramu," marah Asisten Jo, Tuan Kevin tertawa melihat mereka berdua.
"Kamu tenang saja Tuan Johan Saputra, saya tidak akan mau memiliki istri kedua seperti istri anda itu. Saya tidak memiliki kesabaran lebih seperti anda, Tuan," kata Tuan Kevin.
"Lihatlah Mas, Tuan Kevin saja tidak mau menjadikan aku istri keduanya. Jadi, tidak alasan kamu cemburu dengan Tuan Kevin,"
"Bagus kalau begitu, itu artinya hanya aku yang bisa tahan dengan sikap tidak normalmu itu," sindir Asisten Jo.
"Eh Mas, kan aku belum coba dengan pria tampan lainnya, baru Tuan Kevin yang menolakku, Auh!" Mila berteriak saat Asisten Jo menyentil keningnya dengan cukup keras.
"Sakit Mas, kamu jahat sekali padaku," Mila mengusap bekas sentilan di keningnya sedangkan matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
"Maafkan aku, apa sangat sakit?" tanya Asisten Jo khawatir, dia menarik tubuh Mila masuk ke dalam pelukannya.
"Sakit Mas, sakit banget malahan. Perhatianmu hanya berlaku saat aku kesakitan saja, apalagi saat aku merasa kesakitan sampai menjerit 'Ah' kamu pasti langsung sangat perhatian padaku," ucap Mila begitu saja. Asisten Jo segera melepaskan pelukannya dan menatap Mila tajam.
"Ingat Mil! Ada anak-anak disini jadi jaga bicaramu," ketus Asisten Jo.
"Kamu tenang saja Mas, anak-anak tidak dengar kok. Iya kan anak-anak?" tanya Mila tanpa menoleh ke arah anak-anaknya.
"Iya Bunda," jawab Rayhan dan Nathan kompak. Asisten Jo menoleh ke arah anaknya yang sedang menutup kedua telinga mereka dengan tangan dan mata yang terpejam.
"Astaga!" Asisten Jo menggelengkan kepalanya tak percaya sedangkan Tuan Kevin tak bisa lagi menahan tawanya.
__ADS_1