
Mila duduk gelisah menunggu suaminya pulang kerja. Semenjak obrolan tadi siang dengan ibunya membuat Mila selalu merasa khawatir.
"Jika memang Rayhan adalah anak yang hilang itu, kenapa waktu aku lapor polisi dan menyebarkan berita tidak ada satupun yang mencarinya? Katanya orang itu baru mencari mereka sekitar sebulan ini, lantas kemana saja mereka selama ini? Kenapa mereka baru saja mencari Rayhan?" gumam Mila.
"Kamu berbicara dengan siapa?" Mila terkejut mendengar suara Asisten Jo. Dia menoleh dan melihat Asisten Jo yang sedang menatap heran ke arahnya.
"Kamu kenapa jalan gak bersuara sih mas? aku kaget tahu gak! untung aku gak punya penyakit jantung," protes Mila sambil berjalan mendekati Asisten Jo.
"Suruh siapa kamu bengong," cibir Asisten Jo. Mila langsung memeluk tubuh Asisten Jo erat.
"Kamu kenapa?" tanya Asisten Jo bingung.
"Kangen dong sama suamiku yang tampan ini," canda Mila membuat Asisten Jo refleks menyentil kening Mila.
"Sakit mas, kalau nyentil jangan kening mas tapi yang lainnya aja," Asisten Jo menatap ke arah Mila yang baru saja melepaskan pelukannya sembari tersenyum menggoda.
"Jangan mancing-mancing ya," ucap Asisten Jo sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
"Aku gak mancing kok mas, aku kan bicara apa adanya," Mila berjalan mengekor di belakang suaminya.
"Emang kamu mau di sentil mananya?" tanya Asisten Jo, dia membuka pintu kamarnya.
"Mana aja boleh kok mas, apalagi sentilan yang bikin ketagihan," goda Mila sambil mengerlingkan matanya, Asisten Jo menggelengkan kepala melihat tingkah Mila.
"Mas," panggil Mila lirih, Asisten Jo yang sedang melepas kemeja, menoleh ke arah istrinya itu.
"Ada yang mau aku bicarain, ini penting masalah Rayhan," Asisten Jo menatap wajah Mila yang terlihat serius.
"Rayhan kenapa? dia gak bisa masuk sekolah karena kartu indentitasnya? kalau itu nanti biar aku yang urus," Mila menggeleng pelan mendengar pertanyaan itu.
"Bukan mas, lebih dari itu," sahut Mila sedih membuat Asisten Jo menjadi penasaran.
"Mas, sebenarnya...." Mila menghirup nafas dalam-dalam. Asisten Jo setia menunggu kelanjutan ucapan Mila.
"Aku laper mau makan dulu," Asisten Jo melongo mendengar ucapan Mila, namun kemudian dia berdecih sebal.
__ADS_1
"Kamu selalu saja menyebalkan!" Asisten Jo kembali melepas kemeja dan celananya.
"Terimakasih pujiannya mas. Kenapa kamu buka celana mas? ini masih sore," Mila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang jari-jarinya terbuka.
"Memang kenapa kalau masih sore? Lagian percuma kamu tutup mata kalau kedua matamu saja masih bisa lihat kemana-mana," Mila menurunkan telapak tangannya dan menunjukkan rentetan gigi putihnya.
"Barangkali mau ngajak olahraga," jawab Mila sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu mau ngapain mas?" tanya Mila gugup saat Asisten Jo berjalan mendekat ke arahnya hanya memakai boxer pendek.
"Katanya kamu mau olahraga," kata Asisten Jo dengan menunggingkan senyumnya.
"Mas, nanti kalau Rayhan masuk gimana? kan lucu aja kalau lagi nanggung belum keluar udah ketahuan Rayhan," Mila berusaha menahan tubuh Asisten Jo yang sudah menempel padanya.
"Bilang aja lagi bikinin dia adik," sahut Asisten Jo asal membuat Mila reflek menepuk dada Asisten Jo.
"Jangan ngaco kamu mas, anak sekecil itu udah di ajari yang gak bener," kata Mila kesal, dia memalingkan wajahnya karena kini wajah Asisten Jo sudah sangat dekat dengannya.
"Salah siapa kamu dari tadi mancing-mancing," Asisten Jo mengungkung tubuh Mila, dia mendekatkan wajahnya, hendak mencium bibir Mila. Merasa akan di cium Mila pun memejamkan matanya, menunggu bibirnya bersentuhan dengan bibir suaminya itu.
"Dasar otak mesum!" cibir Asisten Jo, dia mengambil handuk yang berada di atas kepala Mila kemudian berjalan ke kamar mandi.
"Mas! kenapa kamu jahat padaku! Aku kira kita bakal pijat enak-enak," teriak Mila karena kini Asisten Jo sudah di depan pintu kamar mandi.
"Astaga, kenapa kamu mesum sekali," sahut Asisten Jo sambil masuk ke kamar mandi.
"Salah siapa kamu begitu tampan dan macho mas, otak mesumku kan jadi traveling terus," Asisten Jo yang sudah di dalam kamar mandi, tersenyum mendengar teriakan Mila.
"Dasar istriku yang aneh," gumamnya lirih. Dia pun bergegas mandi.
🍀🍀🍀🍀🍀
Setelah makan malam dan menidurkan Rayhan, kini Mila dan Asisten Jo sedang berbaring bersama. Ini adalah hari pertama Mila di tinggal kerja semenjak mereka sah menjadi suami istri membuat Mila merasakan kerinduan pada suaminya itu.
"Mas," panggil Mila, kini mereka sedang tidur berpelukan.
__ADS_1
"Siang tadi waktu ibu lagi belanja di pasar, kata ibu ada dua orang bertubuh kekar mencari anak majikannya yang hilang sekitar tiga tahun lalu," Asisten Jo membuka kedua kelopak matanya saat mendengar ucapan Mila.
"Terus?" tanya Asisten Jo belum paham.
"Anaknya yang hilang namanya Rayhan bahkan ibu di kasih lihat foto anak itu dan katanya mukanya sangat mirip dengan Rayhan anak kita," suara Mila terdengar berat, Asisten Jo langsung memeluk tubuh Mila erat. Dia tahu bagaimana perasaan Mila saat ini, karena dia bisa melihat kalau Mila benar-benar menyayangi Rayhan.
"Rayhan di negara ini kan bukan cuma satu," Asisten Jo berusaha menenangkan hati Mila walau hatinya sendiri juga merasa cemas.
"Mas, kalau memang benar Rayhan yang mereka cari maka kita harus memulangkan Rayhan pada mereka," Mila menghembuskan nafas panjang.
"Biar aku cari tahu dulu kenapa dulu mereka membuang Rayhan,"
"Sebentar mas," Mila melepaskan pelukan Asisten Jo kemudian dia beranjak bangun dan berjalan menuju nakas. Asisten Jo hanya mengamati istrinya itu. Mila kembali ke tempat tidur seraya membawa sebuah kertas kecil. Dia menyerahkan kertas itu pada Asisten Jo.
"Kevin Adijaya?" Asisten Jo mengerutkan alisnya seraya membaca kartu nama itu.
"Iya mas, kita bisa menghubungi orang itu kalau kita melihat Rayhan yang mereka cari," jelas Mila sambil merebahkan tubuhnya di samping Asisten Jo lagi.
"Biar aku tanyakan pada dia," Mila langsung menatap suaminya.
"Kamu kenal mas?" tanya Mila. Asisten Jo mengangguk pelan, wajah Mila langsung terlihat semakin sedih. Bahkan, matanya mulai berkaca-kaca.
"Hei kenapa kamu menangis? Dia, Kevin Adijaya baru saja melakukan kerja sama dengan Alexander Group, selama ini mereka di luar negeri terus dan baru pulang beberapa bulan ini," Asisten Jo mengusap airmata yang mengalir di pipi Mila.
"Kalau kamu kenal dia, kemungkinan aku pisah sama Rayhan jadi semakin dekat mas. Aku gak mau pisah sama Rayhan, dia udah jadi anak aku," Mila semakin terisak, Asisten Jo langsung memeluk tubuh Mila erat.
"Aku tidak akan semudah itu melepaskan Rayhan. Aku harus benar-benar mencari alasan kenapa mereka membuang Rayhan. Kamu tenang ya," Asisten Jo mengusap pelan punggung Mila, menyalurkan kekuatan untuk Mila. Melihat Mila yang menangis seperti itu membuat hati Asisten Jo begitu sakit. Sebegitu takutkah Mila kehilangan Rayhan?
"Semua akan baik-baik saja," bisik Asisten lembut, dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas," panggil Mila di sela isak tangisnya.
"Hmm," Asisten Jo tidak menjawab karena dia pun sedang menahan airmatanya.
"Jangan terlalu erat memelukku. Aku susah bernafas," kata Mila sambil berusaha melepaskan pelukan Asisten Jo.
__ADS_1
"Astaga! Kamu menyebalkan sekali!" cebik Asisten Jo kesal seraya melepaskan pelukannya dan jarinya menyentil kening Mila membuat Mila mengaduh kesakitan.