
"Saya terima nikah dan kawinnya, Mila Putri Lestari binti Suparman dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" ucap Asisten Jo lantang dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, sah?"
"SAH!!"
"Alhamdulillah..." Selesai mengucap doa, sang mempelai wanita di ajak masuk ke tempat acara. Mila berjalan anggun bersama Nia dan Citra di samping kiri dan kanannya. Aluna yang melihatnya menitikkan airmata haru.
"Jangan menangis sayang," ucap Davin sambil merangkul pundak Aluna. Aluna tersenyum tipis.
"Aku menangis bahagia mas, semoga mereka selalu dilimpahi kebahagiaan," doa Aluna tulus. Semua hanya mengamini.
Setelah selesai melakukan acara ijab kabul, acara di lanjut dengan resepsi. Acara itu di gelar dengan begitu mewah. Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah Mila, membuat Aluna tersenyum bahagia.
"Aduh!" rintih Aluna saat dia merasakan perutnya kencang. Davin yang di sampingnya langsung khawatir.
"Sayang, apakah sakit? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" tanya Davin cemas, namun Aluna langsung menggeleng.
"Sakitnya sudah hilang kok mas," Aluna nampak biasa lagi, namun Davin masih tetap merasa sangat khawatir.
"Bagaimana kalau kita kembali ke kamar, lagian acaranya sudah selesai," Ajak Davin lembut. Aluna hanya mengangguk, Davin menuntun Aluna masuk ke kamar hotel yang telah mereka pesan karena kebetulan acara itu di adakan di hotel berbintang lima.
"Kamu yakin tidak apa-apa sayang?" tanya Davin lagi saat Aluna berhenti melangkah sambil mengernyit sakit.
"Aku telfon Dokter Mery ya," ucap Davin sambil mengambil ponsel dari saku jas nya namun tangan Aluna langsung menahannya.
"Jangan mas, ini sudah malam. Besok saja kita periksa," tahan Aluna. Saat merasa sudah tidak sakit, mereka berjalan lagi ke kamar. Begitu sampai di kamar, Aluna di bantu Davin berganti pakaian. Davin mengusap perut Aluna yang terasa sangat kencang.
"Anak daddy kelelahan ya, ayo kita istirahat," ajak Davin sambil merebahkan tubuh Aluna di atas kasur, dia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Aluna.
"Apa masih sakit sayang?" tanya Davin begitu khawatir.
__ADS_1
"Sudah tidak, kadang sakit kadang hilang," jawab Aluna sambil berusaha memejamkan matanya. Davin pun berkali-kali mengusap perut Aluna.
Sementara di kamar hotel tidak jauh dari mereka. Ada dua insan yang sama-sama merasa canggung karena pertama kali berada dalam satu kamar.
"Mandilah, supaya tubuhmu merasa segar," perintah Asisten Jo, dia memandang Mila yang hanya duduk menunduk di pinggir tempat tidur dengan tangan yang saling meremas erat.
"I-iya Tuan," sahut Mila gugup.
"Jangan panggil aku Tuan, aku sekarang suamimu bukan atasanmu," Asisten Jo sedikit kesal mendengar panggilan dari Mila.
"Lantas saya harus memanggil apa?" tanya Mila, dia belum berani mengangkat kepalanya. Asisten Jo mendekati Mila, dia duduk di samping Mila lalu memegang kedua bahu Mila. Mila mendongak hingga tatapan mata mereka bertemu.
"Panggilah yang sopan," ucap Asisten Jo tanpa mengalihkan pandangannya.
"Em Mas Johan," panggil Mila lirih, Asisten Jo langsung tersenyum mendengar Mila memanggilnya 'mas'. Panggilan yang terdengar mesra di telinganya. Tanpa basa-basi, Asisten Jo langsung mencium bibir Mila dan melu**tnya. Mila hanya memejamkan matanya merasakan ciuman yang semakin lama terasa semakin menuntut.
"Maas..." desah Mila saat Asisten Jo mulai mengeksplor lehernya.
"Tenang saja, aku akan melakukannya dengan lembut dan penuh cinta," ucap Asisten Jo karena dia takut Mila kembali merasa trauma. Mila hanya diam menikmati gelayar-gelayar aneh di seluruh tubuhnya.Bahkan desahan-desahan lirih mulai terdengar saat Asisten Jo semakin jauh menjamah tubuhnya.
"Mass," akhirnya desahan cukup keras itu lolos dari bibir Mila. Asisten Jo yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Hingga tanpa sadar kini mereka sudah tak memakai pakaian apapun. Asisten Jo menindih tubuh Mila, mencium pipinya lembut.
"Apa kamu sudah siap?" bisik Asisten Jo dengan nafas memburu di telinga Mila, tubuh Mila terasa meremang hingga tanpa sadar Mila mengangguk pelan. Asisten Jo pun tersenyum senang, dia mengambil ancang-ancang untuk membobol gawang itu walaupun sudah tidak perawan. Saat kepala adiknya hendak masuk, tiba-tiba ponselnya di atas nakas terdengar berdering menggema di kamar itu hingga membuyarkan konsentrasi Asisten Jo.
"Mas, ada telepon,"
"Biarkan saja," sahut Asisten Jo sambil kembali berkonsentrasi pada tujuannya malam ini. Ponsel itu kembali berdering membuat Asisten Jo menggeram kesal. Dia lalu bangkit mengambil ponselnya, tanpa melihat layar ponselnya dia langsung mengangkat panggilan itu.
"Apa kamu tidak tahu ini jam berapa?!" bentak Asisten Jo kesal.
"Berani sekali kamu membentakku Jo!" Asisten Jo terkejut mendengar suara Davin dari seberang, dia lalu menatap layar ponselnya, dia melihat nama Tuan Davin tertera disana. Asisten Jo langsung mendengus kesal.
__ADS_1
"Ada apa Tuan?" tanya Asisten Jo datar. Bagaimana bisa Davin menganggu malam pertamanya.
"Jutek sekali kamu Jo. Apa kamu sedang belah duren?" tanya Davin tanpa dosa.
"Hampir Tuan, sebelum anda mengganggu saya," sindir Asisten Jo kesal.
"Bisakah kamu menundanya? Aluna mau lahiran Jo. Antar aku ke rumah sakit sekarang Jo,"
"Anda jahat sekali Tuan! Bukankah anda tahu bagaimana rasanya 'tanggung'?" tanya Asisten Jo penuh penekanan. Bayangkan saja, mereka dalam on-fire, tinggal satu langkah menggapai Nirwana, dengan tanpa dosa Davin meneleponnya dan menyuruhnya menunda semuanya. Padahal adik kecilnya sedari tadi sudah berkedut tak karuan.
"Aku minta maaf Jo tapi aku mohon Jo. Kamu bisa melakukannya besok dan seterusnya. Akan tetapi, Aluna tidak bisa di tunda-tunda," Suara Davin terdengar memohon membuat Asisten Jo menjadi bimbang dan tak tega.
"Huh! Baiklah Tuan, demi kelahiran penerus Alexander group. Sebentar lagi saya ke situ Tuan," ucap Asisten Jo meski dia merasa sangat kesal.
"Aku tunggu Jo," panggilan itu pun dimatikan. Asisten Jo langsung mengumpat kesal.
"Kenapa mas?" tanya Mila takut karena melihat wajah Asisten Jo yang terlihat marah.
"Kita harus menunda malam pertama kita. Nona Aluna hendak melahirkan," jawab Asisten Jo jutek.
"Aluna hendak melahirkan? ayo mas kita kesana," teriak Mila heboh membuat Asisten Jo semakin kesal.
"Kamu lihat adikku, tidakkah kamu kasian padanya?" tanya Asisten Jo marah.
"Adik?" Mila menautkan kedua alisnya, namun saat dia melihat pusat tubuh Asisten Jo, dia langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa besar dan tegak sekali Tuan," ucap Mila tanpa sadar.
"Makanya kita tidurkan dulu adikku ini," sahut Asisten Jo sambil mendekati Mila, dia kembali mencium Mila.
"Bagaimana Aluna, mas?" tanya Mila di sela desahannya karena Asisten Jo kembali menciumi lehernya.
__ADS_1
"Biarkan saja," Asisten Jo kembali menindih Mila, dia tersenyum melihat wajah Mila yang merona merah. Saat dia sudah pasang kuda-kuda, pintu kamar itu di ketuk dengan sangat keras.
"Oh S**T !!!" umpat Asisten Jo kesal sambil turun dari tubuh Mila. Dia memakai semua pakaiannya sebelum membuka pintu, Mila pun mengikuti memakai pakaiannya.