
Dua bulan kemudian....
Sudah dua bulan berlalu namun keberadaan Aluna belum sedikitpun menemui titik terang. Hingga Davin begitu putus asa. Sekarang dia hanya fokus pada kerja dan kerja, karena ketika dia terdiam sebentar saja bayangan Aluna langsung menari di otaknya. Bahkan kini tubuh Davin mulai terlihat kurus karena jarang sekali makan. Asisten Jo dan anak buahnya sudah mencari ke seluruh pelosok negeri maupun luar negeri namun keberadaan Aluna seperti hilang di telan bumi. Kakek Farhan juga drop saat mendengar Aluna menghilang dan Davin begitu terpuruk. Kesehatan Kakek Farhan kian hari kian menurun. Dia beberapa kali harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang drop. Tuan Doni dan Nyonya Anita juga sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tidak sedikitpun membuahkan hasil.
" Jo.... " Panggil Tuan Davin lemah. Dia benar-benar sudah tak memiliki semangat hidup.
" Iya Tuan.... " Jawab Asisten Jo sopan. Tuan Davin hanya terdiam tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Pandangan matanya menerawang langit-langit ruangan kantor. Tiba-tiba matanya basah bahkan setetes air mata mulai terlihat membasahi pelupuk mata Davin. Asisten Jo menghela nafas dalam. Sungguh, dia tidak tega melihat Tuan Mudanya yang seperti ini.
" Kira-kira Aluna kemana ? Sudah dua bulan kita mencarinya namun dia bagai hilang ditelan bumi. Aku merindukannya Jo.. Aku rindu saat dia dengan berani menatap mataku tajam " Davin memejamkan matanya. Hatinya benar-benar sudah hancur.
__ADS_1
" Saya akan berusaha semaksimal mungkin Tuan, tapi Tuan tetap harus menjaga kesehatan Tuan agar Tuan bisa tetap mencari Nona Aluna " Hati Asisten Jo terasa bergetar, matanya mulai berkaca-kaca melihat keadaan Tuan Muda nya itu.
" Bahkan Kakek sampai drop karena kehilangan Aluna " Davin mengusap layar ponselnya yang menampilkan Aluna yang sedang tertidur. Foto itu adalah foto yang dia curi waktu Aluna tidur. Asisten Jo diam, karena dia bingung harus bagaimana.
---------@@@@@----------
" Bagaimana kaki kamu Lun ? " Tanya Ronal saat melihat Aluna sedang duduk di sebuah gubuk kecil di pinggir persawahan.
" Dua bulan kamu disini apa kamu tidak merindukan suasana kota ? " Tanya Ronal pelan. Karena dia takut menyinggung perasaan Aluna. Aluna membisu, kemudian dia menggeleng pelan.
__ADS_1
" Aku yakin Davin pasti sekarang sudah menyesali perkataannya. Banyak sekali anak buah Davin yang mencarimu bahkan sampai ke luar negeri. Aku yakin Davin sedang terpuruk saat ini " Ronal bicara pelan. Karena dia tahu meski Aluna marah pada Davin tapi dia bisa melihat cinta dan kerinduan di tatapan mata Aluna.
" Aku belum tahu kak, Aku masih belum siap bertemu dia " Kata Aluna lirih. Ingatannya kembali teringat saat Davin memaki dirinya tanpa peduli keadaan dia sedikitpun. Dia teringat bagaimana Davin menyalahkan dirinya tanpa peduli perasaannya.
" Tidak ada manusia yang tidak salah. Mungkin Davin saat itu sedang kecewa. Kamu harus ingat, kamu masih istri sah Davin. Jika memang kamu masih sayang Davin, kembalilah karena kakak sudah lihat bagaimana perjuangan Davin mencarimu. Dia sangat menyayangimu. Bila memang kamu mau seperti ini terus, segera layangkan gugatan cerai agar Davin tidak berharap lagi padamu " Mendengar perkataan Ronal hati Aluna seperti tersambar petir. Dia marah,kesal sama Davin tapi jika dia harus bercerai dengan Davin. Hatinya seperti merasa tidak rela.
" Beri aku waktu untuk memikirkannya kak " Suara Aluna terdengar parau karena menahan airmatanya.
" Kakak beri waktu satu minggu dari sekarang, minggu depan kakak minta jawabannya. Kakak tahu kamu marah tapi kakak tidak suka kamu mempermainkan perasaan orang lain Lun " Kata Ronal kemudian dia berlalu pergi meninggalkan Aluna sendirian.
__ADS_1
Aluna menatap punggung Ronal yang berjalan menjauh darinya. Kemudian dia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Dia terisak, hatinya bimbang, dia masih sakit karena perkataan Davin tapi jika harus bercerai dengan Davin hatinya tidak siap.
Oh Tuhan... beri aku petunjuk_Mu,, jalan mana yang harus aku pilih.