
"Diamlah! Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja.Aku merindukanmu gadis bar-bar," Sopir taxi itu membuka maskernya. Begitu masker itu telah terbuka, jantung Aluna berdetak begitu kencang.
"Kamu!" pekik Aluna tak percaya. Aluna tidak menyangka jika Davin yang memeluknya saat ini, dia hanya diam menikmati pelukan itu. Hatinya tidak memungkiri kalau dia juga merindukan Davin. Namun, dia masih berusaha mengelak akan perasaannya.
"Ya, aku sangat merindukanmu. Dua minggu sudah aku memberi kamu waktu dan sekarang aku butuh jawabanmu," kata Davin sambil melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Aluna erat. Aluna hanya mendengus kesal.
"Apa kamu tidak bisa romanti? Candle light dinner kek atau kejutan romantis gitu," protes Aluna sambil mengerucutkan bibirnya. Davin yang melihatnya menjadi begitu gemas.
"Bukankah aku sudah memberimu kejutan?"
"Ya, dan aku terkejut sekali! Aku sampai harus memanggil Rio, anak buah yang paling hebat untuk datang kesini,"
"Aku hanya ingin membuat pertemuan kita kembali menjadi lebih berkesan," kata Davin sambil menatap Aluna dalam. Aluna pun memalingkan wajahnya saat tatapan bertemu tatapan mata milik Davin.
__ADS_1
"Cih! Aku sangat terkesan Tuan Muda Davino Alexander yang terhormat!" ketus Aluna. Davin hanya tersenyum simpul sedangkan Rio dan kawan-kawannya menghela nafas lega ternyata Nona mereka tidak dalam keadaan bahaya.
"Kak," panggil Ardian sambil menghentikan motor sport milik Aluna.
"Kata Papa Bagas, Kakak sedang dalam bahaya?" tanya Ardian. Dia belum menyadari kalau yang berdiri di depan Aluna adalah Davin.
"Kamu lihat sendiri, posisi Kakak sedang terancam!" jawab Aluna sambil mendelik ke arah Davin.
"Mana pistol kakak?" tanya Ardian. Semua yang mendengar terkejut termasuk Davin yang langsung teringat jika Aluna sempat menodongkan pistol di mobil tadi.
"Kamu berani bawa senjata?!" tanya Davin keras. Aluna hanya menjulurkan lidahnya mengejek Davin. Dia benar-benar tidak takut sama sekali. Sedangkan Davin hanya mengepalkan tangannya marah.
"Tidak sia-sia saran dari Kak Ronal," kata Ardian sambil tertawa lirih sedangkan Aluna hanya tersenyum lebar.
__ADS_1
"Bagaimana cara Kakak menyembunyikannya?" tanya Ardian penasaran sedangkan yang lainnya hanya sebagai pendengar setia saja.
"Apa sih yang Kakak gak bisa," Aluna berkata dengan nada yang angkuh. Davin kemudian merebut pistol yang ada di tangan Ardian. Ardian pun terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Davin.
"Lho bukannya dia bos Kakak?" tanya Ardian saat dia sudah melihat muka Davin dengan jelas. Aluna mengangguk pelan. Davin mengamati pistol itu, setelah dia sadar ada yang tidak beres dia pun langsung membanting pistol itu ke jalan.
"SIAL!" umpat Davin marah. Aluna dan Ardian hanya tertawa.
"Kamu mengerjaiku dengan membawa pistol mainan?!" tanya Davin dengan nada tinggi. Semua tercengang mendengar pertanyaan Davin
"Tidak juga," jawab Aluna santai sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan
"Terus buat apa kamu bawa pistol mainan kaya gini?!" Nada bicara Davin masih tetap tinggi.
__ADS_1
"Buat jaga-jaga aja, siapa tahu ada orang kaya kamu yang berniat jahat sama aku, kan bisa tuh buat gertakan biar mereka takut. Lagipula aku jadi terlihat keren kan kalau bawa pistol gini, aku seperti seorang mafia," kata Aluna sambil menaik turunkan alisnya. Rio dan kawan-kawan hanya tertawa melihat tingkah konyol Aluna sedangkan Davin merasa begitu kesal.
"ASTAGA ALUNA!" teriak Davin merasa begitu gemas. Dia sempat begitu khawatir saat Aluna membawa senjata ternyata senjata itu hanyalah senjata mainan yang begitu mirip dengan senjata asli. Emosi dalam tubuh Davin rasanya benar-benar telah memuncak.