
Wajah Mila kembali terlihat kesal karena Aluna belum juga berhenti menertawakannya. Bahkan, Aluna sampai mengeluarkan airmatanya.
"Udah ih Lun, kamu bisa diem gak sih? Atau kamu mau anak kamu jadi cantik kaya aku," ucap Mila, Aluna langsung mengusap-usap perutnya.
"Amit-amit jabang bayi. Jangan sampai deh, punya temen satu kaya kamu aja udah bikin aku ngelus dada. Kok Jo bisa tahan ya ngadepi kamu, apalagi matamu yang jelalatan itu kalau lihat pria tampan,"
"Itulah hebatnya suamiku Lun, walaupun dia tidak setampan dan sekaya suamimu, tapi dia makhluk Tuhan paling sabar tahu, hebat enggak?" Mila menaik-turunkan alisnya.
"Termasuk hebat di ranjang enggak?" Aluna balik bertanya.
"Kalau di ranjang mah jangan tanya lagi, pasti hebat lah! lima menit udah keluar," Aluna melongo mendengar ucapan Mila.
"Lima menit udah keluar, kamu bilang hebat? Davin aja bisa setengah jam lebih," tanya Aluna tak percaya
"Yaelah Lun, aku yang keluar maksudnya. Kalau Mas Johan mah jangan di tanya, aku sampai di bolak balik pakai gaya apapun bisa sampe aku kelojotan gak keluar-keluar Lun," angkuh Mila, Aluna langsung mengusap wajah Mila dengan telapak tangannya.
"Banyak bocah! Gak usah ngomong yang vulgar-vulgar. Eh Mil, aku gak bisa bayangin ya, gimana jadinya si Jo yang jaga image banget gitu pake CD warna pink apalagi ada gambar hello kitty nya," seloroh Aluna sambil menahan tawanya.
"Ih Lun, aku gak punya kali gambar hello kitty," timpal Mila dengan wajah cemberut.
"Terus kamu suruh dia pake CD gambar apa? Polos?" tanya Aluna penasaran. Mila langsung menggeleng cepat.
"Bukan, tapi gambar Marsha and the bear," jawab Mila lirih.
"Hahaha," tawa Aluna kembali meledak. Dia langsung mengusap-usap perutnya, berdoa semoga bayinya kelak tidak menyerupai makhluk aneh satu ini.
"Aku gak tahu gimana jadinya anak kamu kalau lahir nanti punya bunda otaknya gak genap gitu," ucap Aluna, Mila hanya berdecak sebal.
"Eh Lun, kalau anak aku ini perempuan terus anak kamu laki-laki lagi, kita jodohin yuk," ajak Mila, Aluna langsung memasang wajah malas.
"Kalau anak kita perempuan semua?"
"Ya, aku jodohin anak aku sama Al dong, kalau gak ya anak kamu ini sama Jonathan," Aluna langsung menonyor kepala Mila dengan gemas.
__ADS_1
"Kamu ngebet banget sih Mil, mau besanan sama aku,"
"Siapa yang gak ngebet sih Lun, jadi besan pemilik Alexander Group, suruh jadi istri kedua Tuan Davin juga aku mau Lun," Aluna kembali menonyor kepala Mila.
"Beneran gue jadiin elo sambel deh Mil!" ketus Aluna.
"Gak usah bilang, elo-gue. Kamu mau Tuan Davin pulang cuman buat nyium bibir kamu," ucapan Mila seolah mengingatkan Aluna dulu. Aluna hanya berdecih.
"Mommy," teriakan Alvino yang baru saja masuk ke kamar. Aluna langsung mencium pipi Alvino dan memangkunya.
"Mana Nathan?" tanya Alvino sambil celingukan mencari belahan jiwanya itu.
"Dia lagi jalan-jalan sama eyang. Alvino gak jalan-jalan?" tanya Mila lembut. Alvino langsung menggeleng pelan.
"No, Alvino mau jagain mommy dan adik bayi," jawab Alvino dengan wajah polosnya. Mila langsung menghujani wajah Alvino dengan ciuman bertubi-tubi.
"Anak siapa sih kamu? Pinter banget kalau ngomong. Jadi, pengen aunty kawinin,"
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Perusahaan Alexander Group
Davin menatap Asisten Jo yang sedari tadi memasang wajah kesal. Semenjak kehamilan Mila yang kedua, Davin sering sekali mendapati wajah Asisten Jo yang kesal karena permintaan aneh-aneh dari Mila. Dari raut wajah Asisten Jo saat ini, Davin bisa menebak pasti Mila ngidam aneh lagi.
"Kamu kenapa Jo? Muka udah kaya baju belum di setrika gitu?" tanya Davin, dia kembali menatap layar komputernya. Terdengar hembusan nafas kasar dari Asisten Jo.
"Entahlah Tuan, saya hanya bingung saja. Kenapa Mila ngidamnya aneh-aneh sekali," keluh Asisten Jo. Dia menyandarkan kepalanya di kursi.
"Memang dia ngidam apa lagi? Mau kamu berdandan ala princess lagi?" tanya Davin sambil menahan tawanya. Asisten Jo tidak pernah berbicara soal itu, akan tetapi, Davin bisa tahu dari Aluna dan Asisten Jo yakin, perihal ngidam Mila tadi pagi juga pasti Aluna sudah tahu.
"Diamlah Tuan! Saya benci wajah menyebalkan anda itu," ketus Asisten Jo. Dia berpura-pura fokus pada layar tabletnya walaupun dia sedang merasakan hatinya sangat dongkol.
"Kalau kamu selalu marah-marah seperti itu, aku yakin kamu bakal keriput sebelum waktunya," ejek Davin, Asisten Jo tidak menjawab tapi dia tanpa takut menatap tajam ke arah Davin.
__ADS_1
"Oke-oke, aku gak akan ngejek kamu lagi," Davin berusaha menahan tawanya melihat wajah Asisten Jo yang sudah terlihat sangat kesal.
"Oh iya Jo, apa kamu masih belum menggapai Nirwana selama kehamilan Mila ini?" tanya Davin ingin tahu.
"Bagaimana mau menggapai Nirwana Tuan, baru berdekatan saja Mila sudah langsung mual-mual," jawab Asisten Jo malas.
"Terus kalau kamu pengen gimana? Main solo?"
"Tidak usah bertanya yang anda sendiri sudah tahu jawabannya Tuan!" geram Asisten Jo, karena dia benar-benar kesal dengan Davin yang selalu mengejeknya.
"Barangkali kamu capek main solo jadi jajan di luar gitu," tebak Davin dengan wajah menggoda Asisten Jo.
"Saya tidak suka jajan sembarangan Tuan! Istri saya saja sudah sangat memuaskan saya. Walaupun sekarang saya harus mencari kepuasan dari istri saya yang lain," Davin mengerutkan alisnya.
"Istri kamu yang mana? Memang kamu punya berapa istri?"
"Tentu saja satu Tuan," sanggah Asisten Jo cepat.
"Kenapa kamu bilang istri selain Mila?" tanya Davin ingin tahu.
"Istri halu saya Tuan," jawab Asisten Jo malas.
"Memang siapa?"
"Tante Citra," jawab Asisten Jo singkat. Davin langsung tertawa lebar mendengar jawaban Asisten Jo itu.
"Diamlah Tuan! Atau saya kutuk anda, saat Nona Aluna hamil anak ketiga, anda akan merasakan apa yang saya rasakan,"
"Oh! Aku takut sekali Jo," kata Davin, berpura-pura takut.
"Anda harus tahu Tuan, doa orang terdzolimi itu pasti di kabulkan," Asisten Jo bicara dengan mantap.
"Aku tunggu saat itu tiba, Jo," tantang Davin tidak takut sama sekali. Asisten Jo hanya diam tidak menanggapi tapi hatinya berkali-kali mengumpati.
__ADS_1