
.
.
Fano mendudukkan dirinya di gazebo yang ada di taman di depan mansionnya. Dia baru saja melakukan misi pagi.
Sudah beberapa hari sejak dia pindah ke mansion ini, karena tidak enak jika terus tinggal di apartemen, meski pemiliknya masa bodoh. Lagipula sudah memiliki mansion, sayang sekali jika tidak ditinggali.
[Selamat! Kamu naik level 16!]
[Lihat hadiah di kotak penyimpanan]
Kali ini Fano tidak memeriksa status dulu, tapi langsung melihat pada kotak penyimpanan. Dia penasaran dengan hadiah naik level 16, karena menaikkannya susah sekali. Beberapa hari ini Fano harus banyak-banyak melakukan amal, baik itu amal yang disorot, maupun tidak.
Tapi Fano lebih suka melakukan amal yang tidak ada media yang tahu, dia hanya merasa tidak nyaman. Karena setelah melakukan amal, dia akan mendapat banyak pujian, seolah-olah dia orang paling baik sedunia, padahal ya tidak.
Kebaikan seseorang tidak diukur dari seberapa banyaknya dia beramal bukan?
Malah, ada beberapa selebriti yang Fano tau. Mereka beramal demi menutupi rumor yang menimpa mereka, atau menutupi kelakuan mereka yang buruk. Pura-pura baik di depan kamera.
Fano membuka kotak hadiah itu.
[selamat kamu mendapatkan 50.000 koin]
Fano terbengong di tempatnya. Setelah kemarin-kemarin menjalankan misi-misi aneh dan tidak jelas, kini Fano mendapat hadiah kenaikan level berupa koin.
Kemarin Fano mendapatkan hadiah yang ... gimana ya? Sebenarnya tidak aneh, hanya saja terlalu random. Seperti sekeranjang strawberry, satu kotak besar anggur shine muscat, tiket menonton konser boygroup SBT, dan hadiah-hadiah absurd lainnya.
Bahkan Fano sudah capek berdebat dengan sistemnya yang selalu memberi hadiah tidak masuk akal – maksudnya ... ayolah, Fano juga bisa membeli semua itu dengan uangnya sendiri.
Baru sekarang ini Fano diberi hadiah koin untuk kenaikan level, biasanya properti atau mobil, motor, saham.
[Dikasih koin protes, bukan koin protes juga]
“Kenapa sih kau akhir-akhir ini sangat sensitif? Kau juga menjadikanku pelampiasan terus, ada masalah dengan keluargamu?”
[Tidak]
“Maksudnya tidak salah lagi?”
[Aku tidak percaya aku setengah manusia]
“Lalu? Apa yang buruk dari itu?”
[Hmm ... entahlah]
[Tapi, jika aku bukan manusia itu artinya aku bukan murni seorang peri]
[Jika bukan murni peri, aku tidak bisa tinggal di atas]
“Aku tidak mengerti”
[Tentu saja kau tidak mengerti]
[Harusnya aku tidak mengatakannya padamu]
Setelah itu layar sistem menghilang, padahal Fano ingin memeriksa statusnya. Tapi mungkin Lylac benar juga, Fano merasa aneh karena sistemnya setengah manusia.
__ADS_1
Sudah jelas selama ini sistemnya telah menyatu dengan dirinya, makanya mereka bisa berkomunikasi lewat telepati. Itu artinya, Lylac mengetahui segalanya tentang dirinya.
Apalagi Lylac seorang gadis.
Sekarang Fano mengerti kenapa dulu sistemnya mengatakan dia tidak memiliki gender. Pasti dia tidak ingin Fano canggung dengannya.
Dan sekarang Fano bisa merasakannya, canggung.
Apalagi jika mengingat sosok Lylac yang sangat cantik.
Ah, tidak!
Fano tidak boleh menyukai Lylac, bisa dicincang dia sama ayahnya Lylac nanti. Lagipula kenapa juga Fano selalu berakhir tertarik dengan putri dari orang itu? Seperti tidak ada gadis lain saja.
Sudahlah.
[Mau memeriksa status?]
“Gak jadi”
[Kenapa jadi kamu yang ngambek?]
“Baiklah, aku memeriksa –”
[Aku ngambek!]
Andai saja ada samsak, Fano pasti sudah memukulinya bertubi-tubi. Memiliki sistem seperti Lylac butuh kesabaran ekstra.
Sabar Fano, sabar!
“Kak Fano!!”
Mereka berdua akan merekam lagu cover mereka.
Sejak Fano pindah ke mansion, Noa juga ingin ikut pindah. Karena itu, Fano sengaja membuatkan studio khusus untuknya. Fano membeli semua peralatan terbaik untuk studio Noa. Tapi Noa tidak sendiri, kadang temannya yang bernama Suho, atau Asahi akan ikut Noa membuat lagu di studio baru Noa. Bahkan, Fano kadang juga ikut menyumbang ide saat dia senggang.
Mereka juga kadang meminta Fano untuk menyanyikan lagu demo, mereka sangat menyukai suara Fano sampai terus memaksa Fano untuk menyanyikan sebuah lagu.
Jadi hari ini Fano sudah menjanjikan untuk merekam lagu, cover dari salah satu lagu grupnya Noa yang paling hits, agar mereka bahagia. Karena jika mereka bahagia, Fano akan mendapatkan poin, lumayan untuk menambah level.
Lalu, Wonhi dan Cherin juga datang karena sebuah proyek cover lagu. Kebetulan yang menangani proyek itu Suho dan Noa, jadi Wonhi dan Cherin datang ke mansion Fano. Sekalian main juga.
“Kalian udah dateng? Rajin sekali” kata Fano.
Wonhi duduk di sebelah Fano memeluk lengan Fano, gadis satu ini memang tidak sungkan untuk menunjukkan rasa sukanya pada Fano. Bahkan meski ada Queen atau Angel, dia akan tetap seperti itu, walau ujung-ujungnya akan kena omel Queen.
Pernah Queen marah besar pada Wonhi, tapi gadis itu tidak kapok juga.
Fano?
Dia hanya laki-laki normal, jadi dia merasa biasa saja dengan Wonhi menempelinya, dia malah senang kok. Tapi, Fano tau dia harus mematuhi batasannya. Dia juga mengerti Wonhi memang suka mencari perhatian Fano seperti seorang adik pada kakaknya.
Ah, tapi ... mungkin benar, ini berlebihan.
Beda dengan Wonhi, Cherin selalu malu-malu jika dekat dengan lawan jenis, dia adalah tipe gadis yang lemah lembut dan manis. Mengetahui sifat Cherin seperti itu, Fano tidak jadi mendukung dia dengan Raja. Cherin terlalu lemah lembut untuk Raja yang bar-bar.
Apalagi Raja berasal dari keluarga konglomerat, keluarga kerajaan pula, Fano tidak yakin neneknya akan suka jika mereka dekat.
__ADS_1
Lebih baik dekat dengan Fano saja kan – eh?
[Bad bad bad]
‘Diam!’
“Kak Fano, kata manager grup kita akan syuting iklan untuk F.A Group ya?” tanya Wonhi.
“Oh, yang itu? Benar, kalian akan memulai syuting untuk iklan menu baru yang akan ada di restoran dan cafe, kalian bagian cafe, lalu nanti Angel restaurant” jelas Fano.
“Aku pikir yang restoran akan memakai Ether” sahut Cherin.
Fano menggeleng “Tidak, kami akan memakai grupnya Noa untuk iklan yang lain, kami juga akan menggunakan beberapa idol lain yang terkenal, oh iya – Dojun juga akan menjadi iklan tapi untuk yang bar” kata Fano.
“Kak Dojun? Tumben, dia sudah berbaikan dengan kak Fano?” tanya Wonhi.
Fano tersenyum pahit “Mana mungkin, aku tidak mengerti kenapa dia tidak menyukaiku – maksudku, aku tidak menyukainya, jadi tidak berharap dia akan menyukaiku. Tapi ayahnya Dojun menyukaiku, dia yang meminta putranya untuk melakukan syuting itu”
Selain Dojun, Fano juga sudah bertemu dengan adiknya yang cantik jelita. Gadis itu namanya Yua, dan Yua tidak menyukai Fano juga. Padahal ayah mereka, Subin, sangat menyukai Fano dan menganggap Fano seperti anak sendiri.
Fano tidak mengerti dengan Dojun dan Yua, tapi dia tidak terlalu peduli juga sih.
“Oh iya kak Fano, kata nenek, nenek mengenal kak Fano ya?” tanya Cherin.
Fano tersenyum padanya “Benar, aku menolong nenekmu waktu itu lalu kami banyak mengobrol, nenekmu bahkan memberiku
sekotak strawberry”
“Ah, memang biasanya ada tetangga kami paman Kang yang seorang petani strawberry, biasa memberi kami strawberry segar” sahut Cherin.
“Strawberry? Aku mau juga!” timpal Wonhi.
“Di dapur ada banyak, ada anggur dan buah lain juga, ambil saja sesukamu” kata Fano.
“Serius? Kalo gitu ayo kita ke dapurnya kak Fano!” Wonhi berdiri lalu memeluk lengan Cherin dan membawa Cherin masuk mansion.
Fano juga ikut berdiri dan mengikuti mereka dari belakang.
Bahkan Fano saja lupa tadi ingin memeriksa statusnya, Fano rasa dia sudah memiliki banyak sekali koin, mungkin sekitar 500 ribu koin jika ditambah dengan 50 ribu hadiah tadi.
Fano berhenti saat merasakan ponselnya berdering, kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari saku dan melihat siapa yang sedang menelfonnya.
Raja?
Tumben dia menelfon.
Meski malas, Fano pun mengangkat panggilan itu “Ada apa?”
“Fano, ada Cherin ya di mansionmu?”
Fano langsung mematikan ponselnya.
“Tidak penting”
Setelah itu Fano kembali berjalan untuk memasuki mansionnya.
.
__ADS_1
.