
.
.
Mereka menonton film thriller yang Fano ingin tonton tapi tidak jadi karena Yoshi dan Dave sangat cemen. Pada akhirnya Fano memakan burger hitamnya sambil minum boba, ternyata burger itu cukup pedas.. tidak – sangat pedas.
Qeen menoleh pada Fano yang buru-buru menghabiskan minumannya karena kepedasan.
“Kau kenapa? Apa itu sangat pedas?” tanya Queen, dia sendiri sudah menghabiskan burger pinknya, beralih merebut burger hitam milik Fano yang tinggal setengah.
Fano menatap tidak percaya Queen memakan burger miliknya dengan raut biasa saja.
Sial sekali! Padahal dulu Albert biasa saja dengan makanan pedas, kenapa sekarang berpindah di tubuh Fano jadi tidak kuat begini?
“Ini tidak pedas, biasa saja kok” kata Queen.
“Ya sudah habiskan saja” Fano sudah tidak mood dengan burger itu, dia lebih memilih fokus pada film yang terputar. Queen juga diam fokus pada film sambil memakan burger milik Fano, setelah habis, dia mengambil lagi satu, tidak terlihat kepedasan sama sekali.
Tanpa terasa film telah berakhir dengan sadis, semuanya terbunuh dalam film, tapi Fano merasa biasa-biasa saja. Dia kurang puas.
Fano tidak percaya Queen telah menghabiskan dua setengah burger jika ditambah dengan burger miliknya sendiri yang warna pink tadi. Fano heran, padahal gadis satu ini memiliki tubuh langsing dengan pinggang yang kecil, kemana semua makanan itu pergi?
“Fano, aku tau kau tidak mau membahas ini tapi –”
“Aku akan tetap pada pendirianku, jangan pikir aku tidak tau apa yang ku lakukan. Aku tau maksudmu mendekatiku dan apa tujuanmu, aku juga sudah yakin tidak akan berada di bawah The Royal Group”
“Tapi jika kau –”
“Aku mengerti bagaimana perusahaanmu bekerja Queen, kalian hebat, aku mengerti itu.. tapi, aku ingin membangun perusahaan dengan kekuatanku sendiri, jika kau mau berinvestasi aku masih bisa memaklumi, meski aku akan membatasi berapa persen kau dapat berinvestasi”
“Fano..”
“Jawabannya tetap tidak”
“Biarkan aku menyelesaikan ucapanku!”
Queen sudah terlihat jengkel, dia meraih cup bobanya dan menyesapnya hingga kandas lalu kembali menatap Fano yang masih fokus memandangi wajahnya.
Fano terhanyut dalam pesona kecantikan wajah Queenza, dia sangat cantik, wajahnya terlihat sempurna dan seakan tidak nyata. Tahun lalu dan tahun ini bahkan nama Queenza berada dalam urutan pertama sebagai perempuan tercantik dalam beberapa majalah terkenal dunia. Dia menjadi model dengan bayaran termahal, meski begitu dia juga masih membantu dalam perusahaan The Royal Group bahkan sejak masih kecil.
Queenza menjadi remaja terkaya dan berita mengenainya tidak pernah surut diberitakan dimana-mana. Di internet dia juga selalu mendapat pujian karena memiliki bentuk tubuh yang indah dan proporsional.
Fano sekarang kembali mengingat, mengapa dirinya dulu jatuh cinta pada putri kesayangan keluarga Raynold.
Namanya Reina, memiliki arti Ratu.
Dia sangat cantik dan pintar, dia agak keras dan menyebalkan, meski begitu dia juga memiliki sisi lembutnya sendiri.
Albert sangat mencintainya.
“Fa... Fano?” panggil Queen dengan suara terbata, dia ingin marah mengeluarkan unek-uneknya tentang Fano tapi tiba-tiba Fano mendekatkan wajahnya, mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Queen.
“Bibimu Reina.. dimana dia sekarang?” bisik Fano
“Bagaimana kau bisa mengenalnya? Dia sudah tidak ada”
“Apa maksudmu? Lalu anaknya?”
“Tidak ada..”
BRAK
Fano menjauhkan dirinya dari Queen lalu menoleh pada pintu masuk rumah pohon. Terlihat Kaisar masuk lalu duduk di ranjang, menatap Fano dan Queen yang terdiam.
__ADS_1
“Kalian kenapa? Kenapa wajahmu memerah Queen?” tanya Kaisar
“Tidak! Aku hanya kepedasan setelah memakan burger” jawab Queen asal.
“Burger apa?” tanya Kaisar lagi, lalu Queen menunjuk bungkusan burger yang masih sisa dua.
Kaisar mengambil dua burger itu lalu berdiri “Aku ambil ini, kalian bisa berduaan disini, aku akan mengatakan pada papa jika kalian baik-baik saja”
Setelah itu Kaisar kembali pergi.
Fano juga ingin beranjak dari sana “Ini sudah malam, aku harus pergi”
“Fano” Queen menahan lengan Fano hingga Fano kembali duduk. Mereka kembali saling tatap tanpa mengucapkan sepatah katapun sampai kemudian Queen membuka mulutnya.
“Bagaimana jika aku membantumu untuk membuka perusahaan?”
“Memangnya itu boleh?”
Queen mengangguk “Pasti boleh, belum saatnya bagiku untuk memegang perusahaan, lagipula saudaraku ada banyak yang lain, pasti papa mengjinkanku”
“Aku tidak yakin”
“Aku yakin pasti boleh”
Fano menghela nafas lelah, lalu meraih kedua bahu Queen “Queen, kenapa kau bersikeras seperti ini? Kau tidak jatuh cinta padaku kan?”
Queen menyingkirkan tangan Fano dari bahunya “Tidak kok”
“Wajahmu berkata lain”
“Pokoknya tidak!”
Fano kembali menghela nafas “Baiklah, aku pergi ya..” Fano mengulurkan tangannya untuk menepuk kepala Queen pelan, setelah itu dia benar-benar pergi meninggalkan Qeen di dalam rumah pohon sendirian.
***
Fano memeriksan statusnya di layar sistem.
--*--
Nama: Farelino Adhitama / Alberto Maverick
Umur: 18 tahun / -
Level: 4 (370/400)
Koin: 4.858
Skill:
Skill bertarung level 10
Skill kecerdasan level 8
Skill memasak level 8
Skill kharisma level 8
Skill mengemudi level 10
Skill berkebun level 1
Skill pemain level 6
__ADS_1
Skill senjata level 6
--*--
Fano mengela nafas berat, masih kurang 30 poin kebaikan untuk naik ke level lima, sekarang semakin sulit untuk menaikkan poin kebaikan. Apa Fano tidak pernah membuat orang bahagia akhir-akhir ini?
[Memang tidak kok]
“Maksudnya?”
[Pikir sendiri]
Kembali Fano menghela nafas.
Pagi ini Fano sudah selesai melakukan misi pagi, dia sudah jogging beberapa putaran di jooging track, sedangkan Dave dan Yoshi masih baru dua kali dan itu saja mereka sudah melambat.
Mereka lemah sekali.
Beda lagi dengan Bima yang juga ikutan jogging, dia sudah selesai bersama dengan Fano, tapi sekarang anaknya sudah hilang mencari makanan di luar sana. Dia bilangnya sih mau beli bubur ayam, dia juga bilang akan membelikan yang lain juga.
Setelah Dave dan Yoshi selesai dua putaran mereka menghampiri Fano dan ambruk di rerumputan.
“Capek?” tanya Fano
“Masih ditanya lagi! Ya capek lah” sahut Yoshi kesal.
Fano terkekeh melihat mereka berdua, padahal tadinya mereka ribut sekali ingin ikut olah raga, tapi sekarang malah sudah tidak kuat.
“Tidak apa, jangan memaksakan diri, kalian harus mulai dari perlahan-lahan” kata Fano lagi.
“Oh iya, data pembeli kemarin sudah kau terima?” tanya Yoshi, dia dan Dave memang bertugas untuk mengawasi toko online, tentu saja mereka dibayar.
“Sudah kok, sudah ku kirim juga” sahut Fano
“Aku senang kita sudah bekerja sekarang” timpal Dave
Yoshi mengangguk “Benar! Ibuku bilang gajiku dari Fano lebih besar dari pada karyawan biasa di kantornya”
“Kak Fano, apa tidak ada produk baru? Beberapa klien menayakan produk kecantikan lainnya, mereka menanyakan sabun, krim wajah, lotion, bahan parfum juga” kata Dave
“Benar, banyak yang bilang, jika ada parfum dengan wangi yang sama dengan bathbomb atau shampoo pasti banyak yang beli” sahut Yoshi.
Fano mengangguk-anggukkan kepalanya “Benar juga, wanginya memang lembut dan tidak berlebihan... kalian tenang saja, setelah ini produk baru akan datang sampai kalian tidak bisa menghandle semuanya, kita butuh karyawan yang baru”
“Boleh aku memberi usul?” tanya Yoshi
Fano mengangguk “Tentu saja, silahkan Yoshi-kun”
“Anou.. aku tau kau menginginkan karyawan yang sudah profesional dan sebagainya.. tapi, kau tau, banyak anak yang setelah lulus SMA tidak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya? Maksudku –”
“Kau ingin mempekerjakan anak SMA atau SMK yang tidak bisa melanjutkan kuliah tapi masih memiliki potensi?” sahut Fano, Yoshi mengangguk.
“Kak Yoshi benar juga, aku setuju” timpal Dave
“Baiklah, aku terima usulan itu, itu tidak buruk.. meski begitu aku tetap membutuhkan manager yang profesional, yah.. meski ku rasa aku sudah mendapatkannya” kata Fano.
“Oh ya? Siapa yang kau maksud?” tanya Yoshi.
Fano tersenyum jahil “Rahasia”
.
.
__ADS_1