Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Merawat rambut rusak


__ADS_3

.


.


Fano membawa gadis itu ke depan mini market, disana ada meja dan kursi yang disiapkan di depan, Fano meminta gadis itu duduk disana.


“Kau lapar atau haus?” tanya Fano


“Aku hanya haus” jawab gadis itu.


Kemudian Fano pergi ke dalam mini market untuk membeli dua botol minuman dan dua bungkus roti krim susu, setelah membayarnya, Fano kembali pada gadis itu. Dia sudah lebih tenang dari yang tadi, dia sudah tidak menangis juga.


Fano memberikan satu botol minuman dan satu bungkus roti pada gadis itu.


“Terima kasih, kak Fano”


“Kau mengenalku?” tanya Fano


Gadis itu mengangguk pelan “Kak Fano sangat terkenal akhir-akhir ini, aku yang masih kelas satu jarang bertemu kak Fano, tapi kak Fano berteman dengan salah satu anak dari kelasku”


Past Dave, siapa lagi teman Fano yang kelas satu SMA jika bukan dia.


Setelahnya gadis itu memperkenalkan dirinya pada Fano, dia bilang namanya Vivi. Dia bercerita jika teman-teman kelasnya tidak menyukainya tertama yang perempuan, tapi teman sekelas laki-laki sangat baik padanya. Padahal Vivi juga ingin memiliki teman perempuan. Itu tadi adalah hal terparah yang pernah Vivi terima, dia dituduh menggoda pacar salah satu anak perempuan, padahal Vivi saja tidak pernah mendengar nama pacarnya.


Vivi kembali menangis saat bercerita, jadi Fano memberikan satu kotak tisu kecil untuknya.


Hari sudah semakin gelap, tapi Vivi takut untuk pulang karena rambutnya yang berantakan setelah dipotong paksa oleh para perempuan jahat tadi.


[Ada produk shampoo yang dapat memperbaiki rambut dan menjadikannya sehat dan indah]


‘Bisa memanjangkan rambut seperti semula juga?’


[Iya, harganya satu koin]


“Vivi, jika kau mau, aku bisa memperbaiki rambutmu seperti sedia kala – tidak, bahkan lebih indah lagi” kata Fano


Vivi menggeleng “Tidak mungkin kak, rambutku harus dipotong sangat pendek... mama pasti marah padaku”


Fano meraih tangan Vivi dan menatapnya dengan tatapan meyakinkan, Vivi yang baru kali ini ditatap orang setampan Fano malah jadi salah tingkah.


“Percaya saja padaku ya?”


Tanpa Vivi sadari, dia menganggukkan kepalanya. Seperti orang terhipnotis, Vivi mengikuti Fano hingga sampai ke apartemennya.


Menurut Fano, Vivi adalah gadis yang sangat cantik, meski tidak mengenakan make up tebal seperti gadis kebanyakan dia sudah cantik alami. Kulitnya yang putih mulus, matanya yang besar dan indah, bibirnya yang merah alami, tubuhnya yang langsing dan indah... tidak heran anak-anak perempuan di kelasnya sangat iri dengannya.


Tapi mungkin karena Vivi tidak pandai bergaul, dia bisa jadi bahan bullyan anak perempuan, saat anak laki-laki membelanya, anak-anak perempuan malah makin membencinya.


Lagipula wajar saja laki-laki melirik Vivi, karena dia memang cantik.

__ADS_1


“Kau sudah makan malam?” tanya Fano.


Saat ini mereka sudah berada di dalam apartemen Fano, Vivi menggeleng pelan “Belum.. tadi aku dari toko buku dan alat tulis” Vivi menunjukkan belanjaannya berupa beberapa buku pada Fano.


“Mau makan malam disini?” tawar Fano


Malu-malu Vivi mengangguk pelan, sepertinya dia sudah terhanyut dalam pesona Fano.


“Baiklah, sebelum makan malam, mandilah dulu memakai shampoo ini, ini akan membantu rambutmu kambali seperti semula”


Fano memberikan sebuah botol shampoo yang terlihat cantik, memiliki bau mawar yang wangi juga.


Vivi tidak menyangka dia disuruh mandi di rumah seorang laki-laki dan hanya ada mereka berdua, tiba-tiba pikiran Vivi melayang-layang hingga jauh, wajahnya memerah.


“Kalau kau tidak mau, kau bisa saja pulang membawa shampoo itu” kata Fano lagi


“Tapi keluargaku akan tau rambutku rusak” sahut Vivi.


Fano menghela nafas lelah, membantu seorang gadis memang sangat ribet, banyak maunya. Sabar Fano... demi 500 koin.


Fano menarik Vivi menuju salah satu kamar mandi, memberikan bathrobe bersih lalu menutup kamar mandinya.


“Aku akan memasakkan sesuatu untukmu!” teriak Fano sebelum pergi ke dapur.


Fano benar-benar memasakkan sesuatu untuk Vivi, berhubung Fano sedang ingin memakan ramen, dia pun membuat ramen ala Jepang dengan melihat resepnya. Fano memiliki mie instan ramen, hanya saja kuah dan isinya dia tambah seperti resep.


Menurut Fano setelah melihat-lihat resep ramen, bagian paling penting adalah kuahnya, rasanya tidak boleh terlalu kuat hingga menya ingin mienya, juga tidak boleh terlalu ringan.


Dengan rambut basah seperti itu, Fano tidak tau apakah rambutnya sudah kembali seperti semula atau belum. Karena rambut panjang Vivi ada bagian yang panjang dan pendek, tidak beraturan saat dipotong.


Gadis-gadis pengganggu itu mungkin melakukannya agar Vivi terlihat konyol. Katanya rambut adalah mahkota perempuan. Ada sebagian perempuan yang sangat menyayangi rambut panjangnya, ada yang tidak suka dengan rambut pendek, adapula yang lebih menyukai rambut pendek.


Sepertinya Vivi menyukai rambut panjang, karena dia terlihat sangat sedih saat rambutnya terpotong.


“Kemari dan makanlah, aku akan membantu mengeringkan rambutmu” kata Fano


Malu-malu Vivi mendekat ke tempat makan, matanya berbinar-binar melihat ramen porsi lengkap tersebut, ada daging cincang goreng segala di dalamnya. Tanpa sungkan, Vivi memakan ramen tersebut.


Fano tidak menyangka Vivi pandai memakai sumpit, Fano memang menyediakan sumpit, sendok dan garpu di meja makan. Karena Yoshi pandai memakai sumpit, jiwa bersaing Fano tidak ingin kalah, jadi dia membeli beberapa pasang sumpit juga untuk belajar memakainya.


Sementara Vivi memakain ramennya, Fano mengeringkan rambut basah Vivi dengan pengering rambut. Dia melakukannya dengan perlahan tanpa mengganggu Vivi makan, sudah seperti tukang salon profesional.


Albert sangat mencintai istrinya, istrinya memiliki rambut pirang panjang yang indah, jadi Albert sudah biasa membantu istrinya mengeringkan rambut, dia juga tau bagaimana cara merawat rambut.


“Sepanjang apa rambutmu sebelumnya?” tanya Fano.


“Sepinggang” jawab Vivi.


“Saat ini rambutmu hanya sepunggung, tapi jika kau rutin memakai shampoo dariku lama-lama juga akan kembali panjang seperti semula” kata Fano

__ADS_1


“Tidak apa, yang penting rambutku tidak rusak lagi”


Fano terseyum, rupanya Vivi sedang sangat berbahagia. Tidak hanya misi Fano selesai, presentase kebaikan juga bertambah, kini menjadi (220/400). Meski masih kurang 180 untuk naik level tapi tidak apa, tidak perlu terlalu terburu-buru juga.


“Kak Fano” panggil Vivi setelah dia selesai memakan ramennya.


“Kenapa?”


“Apa kak Fano pacaran sama kak Angel?” tanya Vivi


“Tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?” Fano sudah selesai mengeringkan rambut Vivi, sekarang rambutnya jauh lebih baik dari sebelumnya, sudah terlihat seperti rambut di iklan shampoo.


Fano kembali duduk di kursi di sebelah Vivi, kemudian mengambilkan segelas air untuk Vivi, dia tamu saat ini, jadi harus diagungkan. Itu yang diajarkan orangtua Fano yang asli.


Asal tamunya tidak menyebalkan Fano tidak masalah melayaninya, lagipula sekarang dia berbuat baik akan mendapat uang.


[Siapa bilang?]


‘Ssshh diam, Vivi ingin bicara’


“Kalian terlihat dekat, kalian juga cocok satu sama lain, seperti pangeran dan putri” kata Vivi sambil meraih gelas air putih yang Fano berikan padanya, kemudian meminumnya hingga sisa setengah gelas.


“Jadi kau berpikir seperti itu? Angel adalah gadis yang baik.. sangat baik, aku tidak berpikir aku adalah orang yang baik untuknya” kata Fano


“Tapi kak Fano juga baik kok, buktinya kak Fano sekarang menolongku”


Fano tersenyum kecil lalu mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Vivi yang halus dan indah “melihatmu aku teringat seseorang yang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, dia juga perempuan yang cantik dengan rambut yang indah”


Jujur saja Vivi agak kecewa karena Fano hanya memandangnya sebagai ‘adik’, tapi ia sudah senang, jadi dia tersenyum mendengarnya.


“Oh ya? Dimana dia sekarang?”


Fano menghela nafas berat “Entah, mungkin sudah melupakanku, mungkin ada di Eropa, atau Amerika, atau bahkan Indonesia, aku tidak tau”


Vivi menatap Fano dengan dahi berkerut “Dia anak orang kaya?”


Fano mengangguk “Benar, anak keluarga Verdinand” gumam Fano, dia pikir Vivi tidak mendengarnya, tapi telinga Vivi tajam.


“Verdinand? Yang punya gedung apartemen ini? Bukankah ahli warisnya laki-laki?”


Jadi dia punya anak laki-laki..


Fano tertawa canggung “Bukan.. Verdinand yang lain, bukan yang punya gedung apartemen ini”


Vivi mengangguk paham “Oh begitu..”


“Gantilah bajumu, lalu aku akan mengantarmu pulang”


Vivi masih ingin tetap berada disini, tapi dia tau itu tidak mungkin dia lakukan, jadi dia bangkit berdiri “Baiklah”

__ADS_1


.


.


__ADS_2