Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Sebenarnya, Kaisar itu....


__ADS_3

.


.


Fano terbangun dari tidurnya setelah mencium aroma masakan yang menggugah selera, perlahan dia duduk lalu menguap, kemudian mengusak kedua matanya dan mulai melihat ke sekeliling.


Apa yang terjadi ya? Fano tidak mengingat apapun.


Setelah akhirnya nyawa Fano terkumpul semua, dia mengingat lagi, dia ada di tepi hutan, setelah berburu disiang hari. Belum juga Dojun dan Arthur kembali, karena memang belum satu jam, Fano sudah tepar di dalam tenda. Tentu saja dia telah mengeluarkan semua hasil buruannya dan memberinya pada Kaisar.


Itulah yang Fano ingat sebelum dia tidak sadarkan diri, tenggelam dalam lautan mimpi. Tendanya cukup besar, paling tidak agak longgar untuk ukuran Fano yang setinggi 186 cm. Ada alas tidur yang empuk dan juga bantal dengan isian bulu angsa yang empuk dan nyaman.


Tidur Fano cukup nyenyak.


Setelah Fano menyingkap pintu tenda, dia bisa melihat tepi hutan sudah ramai. Beberapa tenda lain dibangun, ada beberapa pelayan yang bertugas menguliti hasil buruan dan memotong dagingnya, kemudian yang tidak diolah akan diletakkan dalam wadah khusus. Kulit dan bulu binatang juga disimpan dengan baik.


Mereka memiliki wadah khusus yang dapat menyimpan benda apapun, mirip dengan kotak penyimpanan Fano,.jadi jika dikeluarkan, kualitasnya akan tetap bagus.


“Hei, nak, kau sudah bangun?”


Fano menoleh pada asal suara, terlihat Felix yang memakai baju santai dengan memakai apron tersenyum padanya, dan dia ... membawa kaki beruang.


Fano terbengong di tempatnya, Felix benar-benar memasakkan Fano beruang.


“Ngomong-ngomong, selamat ya, kau memenangkan pertandingan” kata Felix, kemudian dia memasukkan kaki beruang yang telah bersih tidak ada bulunya dan kuku kakinya ke dalam panci.


“Aku? Memenangkan pertandingan?” gumam Fano tidak mengerti.


Karena dia tertidur segera sebelum Arthur dan Dojun kembali, jadi Fano tidak tau dia menang atau tidak.


“Cucuku berhasil memburu dua serigala, lalu Arthur berhasil memburu beruang coklat, sementara kau berhasil memburu lima rusa, tiga serigala bertanduk dan satu beruang, tentu saja kau menang” jawab Felix, kemudian Felix berjongkak di depan Fano dan tersenyum.


Tangan Felix bergerak untuk mengusak kepala Fano, Fano hanya diam dan menerimanya saja, dia tidak tau


harus bereaksi seperti apa, dia masih tidak percaya jika dia menang pertandingan berburu, menang telak.


“Kerja yang bagus, Fano, aku tau kau dapat mengalahkan mereka dengan mudah, kau bukan tandingan mereka,.tapi – eum, kau rasa kau belum bisa mengalahkan Kaisar dalam berburu, atau Lino” kata Felix, setelah menarik kembali tangannya.


Fano bisa melihat orang-orang sangat sibuk, Fano mendengar suara tawa Abel, Queen, Lylac dan Yua, juga suara-suara lain. Tapi Fano tidak tergerak untuk mencari keberadaan mereka. Tau mereka ada didekatnya saja sudah membuatnya lega.


“Memang, biasanya mereka mendapatkan apa saja saat berburu?” tanya Fano.


“Eum – kalau perburuan satu jam, biasanya Kaisar akan mendapatkan dua beruang dan sepuluh rusa, sementara Lino, dia bisa mendapatkan dua kali lipat dari itu, karenanya, aku melarang dia berburu lagi, aku juga sudah melarang Kaisar untuk ikut perburuan. Karena berburu hanya untuk bersenang-senang, maksudku, tidak perlu sampai membuat mereka punah. Oh iya, bagaimana kau menemukan anak harimau putih?”

__ADS_1


Fano menyilangkan kakinya dan mencri posisi aman untuk duduk, dia masih ada di dalam tenda, duduk ditepi alas tidur yang empuk, sambil masih memeluk bantal. Fano belum sepenuhnya pulih dari rasa kantuk, dia butuh waktu untuk segar dan fokus kembali.


“Aku hanya menemukannya sendirian, menangis di atas rerumputan, setelah memburu rusa kelima. Jadi aku mengambilnya, dan berniat mencari kelompoknya atau induknya, tapi tidak ada aku temukan harimau putih, sama sekali, malah bertemunya dengan tiga serigala bertanduk, jadi aku buru juga mereka” kata Fano.


Felix terkekeh mendengar cerita Fano.


“Aku sudah mendengar ceritanya dari Kaisar, sebelum kau berangkat masuk hutan, kau terlihat marah dan juga kelelahan, Kaisar sangat khawatir padamu, dia sampai menghubungiku, akhirnya dia memutuskan untuk mendirikan tenda disini, apa kau memang marah? Kau rasa kau tidak menyukai cucuku, apa karena dia menikah dengan reinkarnasi ibumu?” tanya Felix.


Fano memeluk bantalnya semakin erat, menundukkan kepalanya dan menghindari bertatap muka dengan Felix.


“Fano, apa itu benar? Coba tatap aku” pinta Felix.


Perlahan Fano kembali mendongak, menatap Felix, lalu menggeleng pelan.


“Aku hanya kelelahan dan jadi sensitif, ada banyak pekerjaan dan misi yang harus ku selesaikan, kemudian aku harus menghadapi Dojun yang membuatku kesal juga, jadi aku tersulut emosi” kata Fano.


“Karena itu kau memburu beruang juga?” tanya Felix “Ku pikir kau akan menghindari memburu beruang karena takut makan daging beruang, ayolah, itu enak kok rasanya, asal bisa mengolah dengan baik” tambah Felix.


“Salah beruang itu karena lewat di hadapanku” jawab Fano.


Felix kembali terkekeh, kemudian mengusak kepala Fano lagi “Baiklah-baiklah, tapi ku sarankan kau memberitahu Kaisar, karena – dia khawatir padamu, dia berpikir kau membencinya” kata Felix, sebelum kemudian kembali berdiri untuk melanjutkan memasak.


“Tunggu!”


Perlahan Fano mengangguk “Itu ... aku menggunakan cermin yang dibuat untuk Lylac” kata Fano.


“Ah, cermin itu – bocah itu keras kepala, jadi kami terpaksa membuat cermin itu, lalu bagaimana, kau melihat Lady Lydia kan?” tanya Felix.


Fano mengangguk “Iya, dan Kaisar.”


“Eh? Serius?”


Fano kembali mengagguk.


“Jadi begitu ya, memang kebanyakan reinkarnator itu seperti itu, tidak sadar jika mereka itu reinkarnasi, jadi kasusmu dan Lady Lydia itu cukup langka. Hmm – apa kau marah dengan Kaisar karena itu? Aku dengar ayah Albert meninggal saat masih kecil kan?” tanya Felix.


“Iya, aku tidak tau bagaimana ayahku, seperti apa dia, apa dia menyayangiku, aku tidak tau.”


“Kenapa ayahmu bereinkarnasi menjadi cucuku ya? Tapi Kaisar tidak tau apapun, jangan katakan hal ini padanya, okay?”


Fano mengangguk pelan.


“Aku akan lanjut memasak, by the way, ini adalah beruang yang kau buru, Lady Lydia juga memasak daging rusa untukmu, oh itu dia datang.” Felix tersenyum pada lady Lydia dan Kaisar yang datang, Lady membawa sebuah mangkuk, sementara Kaisar membawa satu gelas besar minuman.

__ADS_1


“Fano sudah bangun? Kau pasti lelah kan? ayo makan sup ini untuk memulihkan energimu, dan minum juga ini untuk membuatmu segar kembali” kata Lady Lydia.


Fano hanya mengangguk-angguk dan menurut saja, karena kebetulan dia juga lapar, sup itu bisa menjadi makanan pembuka baginya sebelum makanan utama matang.


Kaisar menarik meja lipat yang ternyata juga ada di dalam tenda Fano, kemudian meletakkan mangkuk dan minuman diatas meja lipat itu, yang diletakkan di depan Fano.


“Makanlah, kamu sudah baikan?” tanya Kaisar.


“Oh, perhatian sekali” sahut Felix, yang sudah kembali mengolah daging beruangnya.


“Shut up grandpa!” sahut Kaisar, yang sekarang terlihat malu.


Suasana jadi makin canggung setelah Felix menggoda Kaisar. Fano sendiri hanya diam sambil memakan supnya, ternyata itu adalah sup jamur, karena ada banyak sekali jenis-jenis jamur, jadi Fano kesulitan untuk memastikan jamur apa. Yang Fano tau pasti hanya jamur yang memilikikhasiat seperti jahe, rasanya agak kuat, dapat menghangatkan tubuh, itu bagus kesehatan. Namun, sepertinya ada rasa dari jamur lain.


Baru bangun tidur Fano jadi tidak bisa berpikir jernih, dia malah merasa sedikit pusing.


“Fano?” tanya Kaisar lagi, sekarang dengan agak berbisik, dia sudah duduk di dalam tenda juga bersama Fano, karena pintu tenda dibuka lebar, jadi mereka masih kelihatan dari luar.


“Aku minta maaf” kata Fano tiba-tiba.


Kaisar menyernyitkan dahinya bingung, karena pertanyaannya adalah ‘apakah Fano sudah baikan?’. Namun, Fano malah menyahutinya dengan permintaan maaf.


“Maaf kenapa?” tanya Kaisar.


“Aku sempat berkata kasar padamu sebelum memasuki hutan, aku hanya kelelahan dan kesal dengan Dojun, aku tidak bermaksud membentakmu” kata Fano.


“Oh itu, yah – tidak apa, aku sudah memarahi Dojun, aku tidak mengerti apa yang terjadi pada kalian, tapi, ku rasa Dojun sudah keterlaluan denganmu, kau juga tidak perlu ikut casting seperti yang Dojun katakan padamu, aku tau kau sangat sibuk” kata Kaisar.


Fano menggeleng “Tidak aku akan mengikuti castingnya” kata Fano.


“Dan mempermalukan dirimu sendiri?”


“Aku hanya ingin.mencobanya!” teriak Fano.


Fano bisa melihat Kaisar sedang menahan emosinya, pasti sangat sulit menghadapi Fano yang keras kepala.


“Baiklah jika itu maumu, good luck” setelah itu Kaisar memilih pergi dari sana, menyusul Lady Lydia yang kembali memasak daging rusa.


Felix yang memperhatikan mereka berdua hanya bisa menghela nafas lelah, dia memilih untuk tidak ikut campur masalah mereka, biar mereka mengatasinya sendiri.


.


.

__ADS_1


__ADS_2