
.
.
Fano menguap untuk yang entah keberapa kalinya malam ini. Saat itu sudah sekitar jam sebelas malam. Padahal Fano ingin tidur karena sepanjang sore dia memeriksa beberapa laporan, matanya sudah lelah dan ingin istirahat namun, Raja meminta Fano dan Yoshi untuk berkumpul di kamar Fano.
Dia membicarakan tentang dirinya yang tidak bisa menolak perjodohan dengan putri kerajaan es karena dia mulai menerima putri itu. Sementara disisi lain, Raja juga mulai dekat dengan pujaan hatinya, si Cherin.
Masih ingat Cherin kan? dia satu grup dengan Wonhi. Raja mendapatkan nomornya dan sering mengirimkan pesan, yah ... bisa dibilang hampir setiap hari.
Mereka sudah sangat dekat, hanya saja Raja masih bimbang untuk memulai suatu hubungan dengannya, mengingat posisinya sebagai pangeran dan Cherin juga baru debut sebagai idol.
Karena itu Raja minta saran Fano dan Yoshi, yang seumuran dengannya.
“Apa kalian mendengar ku?” tanya Raja kesal, bagaimana dia tidak kesal jika Fano dan Yoshi menguap terus tidak mau mendengarkannya dengan baik? Bahkan Yoshi sudah menutup kedua matanya, dia juga berkali-kali sempat ketiduran.
“Kau curhat di waktu yang salah!” sambar Fano, kemudian kembali menguap.
“Itu benar – hoaamm, aku tidur saja” Yoshi akhirnya meraih selimut dan berbaring di samping Fano.
“Boku mo” sahut Fano, dia juga ikutan tidur, meninggalkan Raja yang duduk di depan mereka.
“Kalian ini!” protes Raja, kemudian memukuli kedua temannya dengan pelan, pelan menurut Raja sih ... habisnya Yoshi langsung mengaduh kesakitan setelahnya.
“Sakit woe!” Yoshi.
“Lebih baik kau sepertiku saja, ambil dua-duanya, beres kan?” usul Fano.
“Bagaimana jika nenek Cherin tidak menyukaiku karena aku punya tunangan orang lain?” tanya Raja.
Yoshi yang tidak peduli sudah mendengkur halus di sebelah Fano.
“Kan tunangan mu di dunia lain, kau tidak berniat mengajaknya ke dunia ini kan?” kata Fano.
“Iya sih, tapi tetep aja” Raja.
“Ayolah, ayahmu saja memiliki tiga istri biasa-biasa saja tuh, kau pasti bisa juga” Fano.
Tiba-tiba saja Yoshi terbangun lalu dan duduk, kemudian memegang lengan kiri Raja.
“Kenapa? Serem banget tiba-tiba kebangun?” Raja menyingkirkan tangan Yoshi darinya.
“Draco siapa?” tanya Yoshi.
Raja mengernyitkan dahinya bingung, dari mana Yoshi tau Draco? Fano saja belum tau.
“Mungkin maksudmu Darko, pamannya Raja” sahut Fano, Yoshi menggeleng “Bukan, Dragon – maksudku, Draco.”
“Dia teman kami, paling dekat dengan Abel, apa dia yang memberitahumu?” tanya Raja, Yoshi mengangguk kemudian kembali menguap untuk yang kesekian kalinya.
“Dia seumuran Abel, tapi fisiknya seperti bocah berumur tujuh tahunan, bukan makhluk yang akan kau mengerti dengan mudah” jawab Raja.
__ADS_1
“Makhluk apa?” tanya Fano.
“Naga, kata Abel naga, jadi itu sungguhan ya?” sahut Yoshi.
Raja terdiam, menimbang apakah dia harus menghapus ingatan Yoshi atau tidak, Fano yang mengerti isi pikiran Raja menatapnya lalu menggelengkan kepalanya, memberi kode agar raja tidak menghapus ingatan Yoshi lagi.
Jika nanti Yoshi menjadi suami Abel, dia harus tau juga kan? mengetahi dari awal bukan hal yang buruk, lagipula Fano sangat percaya dengan Yoshi.
Raja menghela nafas berat, dia berada dalam dilema, dimana dia tidak tau harus bagaimana menghadapi Yoshi. Meski sedang mengantuk dan mata sipit Yoshi makin sipit saja, tapi terlihat sekali jika dia sedang sangat penasaran.
Raja ingin menghapus ingatannya tapi Fano melarang.
Baiklah, ini sudah terlanjur.
“Yah, dia seekor naga, tapi bisa berubah menjadi wujud manusia seperti kita” kata Raja.
“Dan dia seperti anak berumur tujuh tahun?” tambah Yoshi.
Raja mengangguk “Begitulah.”
Fano kemudian menarik Yoshi agar tidur lagi saja, dari pada dia bangun dan menanyakan hal yang tidak-tidak. Yoshi belum boleh mengetahui banyak hal, lagipula dia tidak akan mampu mengolah informasi sebanyak itu, otaknya akan meledak. Lebih baik otak Yoshi diisi dengan pekerjaan saja, agar dia fokus.
“Tidur tidur tidur, besok kerja lagi, kau pergi saja kembali kalau bisa ke kerajaanmu saja” Fano.
Bukannya pergi Raja ikutan tidur disana, karena ukuran ranjangnya yang besar, tiga pria dengan tinggi badan rata-rata 182,6 cm bisa muat. Meski agak sesak juga.
“Raja pergi! Ranjangnya gak muat!” protes Fano.
“Yoshi aja yang pergi, aku kan gak punya kamar disini” sahut Raja.
“Aku disini aja, ada Abel yang tidur di kamarku” Yoshi.
“Hah?” Raja.
“Ngapain dia tidur di kamarmu? Bukannya Abel tidur sama Queen ya?” Fano.
“Kan ada Angel juga, Abel merasa kurang luas, jadi dia ke kamarku” kata Yoshi, sebenarnya bohong, Abel bilang ingin tidur dengan Yoshi, jadi Yoshi menunggu Abel tertidur, baru kabur ka kamar Fano.
Yoshi hanya tidak mau dia ketahuan dan berakhir di cincang oleh keluarga Raynold.
Apalagi kabarnya besok ayahnya Raja datang, kan serem banget.
“Jangan bohong, pasti Abel yang maksa kan?” sahut Raja.
“I – iya...” timpal Yoshi “Abel terus dekat-dekat denganku, sementara tatapan Kaisar selalu penuh selidik, aku padahal kan tidak salah apa-apa” tambahnya.
“Abel hanya sedang puber, jadi kau yang sabar ya” kata Fano.
“Iya, terimakasih.” Yoshi.
“Kalo Yoshi aja dikasih saran yang benar, kalo aku engga” sahut Raja.
__ADS_1
“Hah? Kan saranku sudah benar itu tadi? Embat dua-duanya!” kata Fano tidak terima, padahal dia sungguhan memberi saran, malah Raja pikir dia bercanda.
“Aku setuju, biar adil” sahut Yoshi.
“Kalian ini sesat ya” Raja.
“Tapi, sarannya boleh juga, aku kan Raja, jadi bebas” tambah Raja.
“Iya iya kau Raja, sekarang biarkan aku tidur” Fano.
***
Keesokan paginya, Lino benar-benar datang, Fano menyambutnya dengan wajah ceria, karena dia pikir Lino akan datang bersama anak harimau yang dia temukan.
Tapi Fano kecewa, karena Lino tidak membawanya.
“Apa kau gila? Mana mungkin aku membawanya?” sambar Lino setelah Fano menanyakan tentang anak harimau itu, suara Lino yang tajam dan menggelegar membuat Fano harus mengelus dada, sabar Fano ... sabar, dia calon mertua.
“Tapi –” ucapan Fano terhenti karena Lino menyambar duluan.
“Dia itu harimau putih, tidak mungkin dibawa ke bumi, orang-orang akan memandangnya aneh, dan kau ingin merawatnya? Kau itu sangat sibuk, tidak mungkin bisa dan lagipula – kita tidak bisa menjaganya, karena Leonard bisa menyerang kita” kata Lino, dia memelankan ucapannya saat di akhir kalimat.
“Leonard?”
Lino menghela nafas lelah “Itu adalah salah satu kerajaan di Landearth, temanku adalah Raja di Darkwolf, dia mengatakan jika tidak mudah untuk mengadopsi bangsa Leonard, tapi tenang saja, kami sedang menyelidiki masalah itu, tentang siapa dan kenapa bayi harimau putih bisa ada di hutan kita – sini, Fano, pijit bahuku, rasanya pegal.”
Fano pun mendekat dan berdiri di belakang Lino, memijit bahunya dengan tenang, sementara itu pikiran Fano ribut memikirkan ucapan Lino barusan.
“Jangan kira harimau yang kau temukan itu harimau biasa, memang beberapa orang kaya ada yang memelihara harimau, kau pasti sering lihat di internet kan? namun, bayi harimau putih itu berbeda” kata Lino, dia tidak menyangka Fano yang terlihat tidak meyakinkan itu pandai memijit juga.
“Bedanya dimana?”
“Setelah genap satu tahun, atau kadang lebih, bayi itu akan berubah lagi, selama satu bulan akan membungkus dirinya menjadi telur, atau seperti kepompong, setelah satu bulan akan pecah lalu keluar menjadi sosok bayi yang mirip dengan manusia, namun memiliki telinga dan ekor harimau, taringnya juga mungkin akan tetap” jawab Lino.
Jadi karena itu Fano tidak boleh membawanya ke bumi, ya?
“Jangan sedih, aku akan membelikanmu boneka harimau putih sebagai gantinya” kata Lino.
“Saya tidak butuh” sahut Fano.
“Eh, kenapa? Padahal Raja masih suka boneka, di kamarnya ada boneka anjing dan lumba-lumba” kata Lino.
“PAPA!! Jangan ngomong yang enggak-enggak!” sahut Raja yang baru bangun tidur, mungkin dia bisa merasakan jika ayahnya sedang meyebar aibnya.
Mata Raja membelalak melihat Fano di belakang ayahnya menyeringai lebar.
Jatuh sudah harga diri Raja di depan Fano.
“Apaan, aku mengatakan kenyataan!” sambar Lino.
“Haha” Fano.
__ADS_1
.
.