Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Malam minggu bersama teman


__ADS_3

.


.


Fano menatap Yoshi dan Dave yang baru datang dengan tatapan aneh, padahal mereka main ke rumah Fano harusnya untuk main game saja, kenapa malah membawa buku pelajaran? Padahal besok juga weekend.


“Kenapa membawa buku?” tanya Fano, dia duduk dengan nyaman di ruang tengah apartemennya sambil menonton film dan menunggu game yang akan mereka mainkan selesai didownload dan diinstal.


“Huwaa ada cheesecake!” Yoshi langsung fokus dengan makanan yang tersedia diatas meja, Fano menatanya sedemikian rupa agar mudah dimakan, Fano juga sudah memotongnya menjadi beberapa bagian dan ditaruh di atas piring-piring kecil. Selain kue, ada juga sebotol cola dingin dan gelas-gelas kosong.


“Aku haus..” Dave menuang cola ke dalam gelas kosong lalu meneguknya dengan cepat.


“Jawab pertanyaanku” desak Fano tidak sabaran.


Dave mendongak menatapnya, karena Dave jauh lebih mungil dari Fano “Begini, aku bilang malam ini akan menginap di rumahmu” kata Dave


“Lalu?” Fano


“Mereka pikir aku akan mengerjakan PR bersamamu, jadi mau-tidak mau aku membawa buku” lanjut Dave


Fano mengernyitkan dahinya, masih tidak mengerti “Eum..”


“Gini Fano, kau itu terkenal sebagai siswa teladan di sekolah, mengingat kau selalu mendapat beasiswa, kau cukup terkenal sebagai anak pandai dan rajin... orangtua yang strict terhadap anaknya pasti menggunakanmu sebagai contoh” kata Yoshi


Fano mengangguk-angguk mengerti “Sekarang aku mengerti kenapa aku tidak punya banyak teman dan dijauhi, rupanya semua murid membenciku”


Yoshi terkekeh lalu merangkul bahu Fano “Aku juga tidak punya banyak teman selain kau dan Dave”


“Jangan mengatakannya dengan nada bangga, itu tidak keren” Dave


“Siapa yang bangga sih?!” Yoshi


“Diam kalian! Oh iya, akun medsos kalian baik-baik saja?” tanya Fano


“Selain datang banyak pengikut ku rasa baik-baik saja” jawab Dave


“Sampai kalian juga?” Fano


Yoshi menghela nafas lelah “Ku rasa itu karena foto kita yang kau upload, kau juga menandai akun kita jadi ada banyak orang datang ke akun kita hanya untuk menanyaimu atau Angel... bayangkan saja tiba-tiba pengikutku jadi 500 ribu dan hampir sebagian menanyakan tentang dirimu dan Angel”


“Ini gawat, kita terkenal mendadak” keluh Dave “Aku tidak suka mendapat banyak perhatian” lanjutnya.


“Aku juga.. yabai desu yo (gawat nih) haruskah ku hapus akun ku?” Yoshi


“Jangan, biarkan saja, lebih baik sekarang kita main game” Fano


Layar sistem muncul lagi, kali ini memberitahukan Fano jika salah satu misi penting hampir terselesaikan, itu adalah misi dengan bathbomb.


...--*--...


...MISI PENTING:...


...Membantu para wanita untuk berbahagia...


...dengan tubuh yang sehat ideal!...


...Kamu butuh 10 wanita untuk menyelesaikan misi (7/10)...


...Waktu adalah satu minggu dari sekarang...


...Hadiah: 20% saham Redpeach company...


...Hukuman: kamu akan disiksa dengan rasa sakit kepala yang hebat selama lima menit...


...--*--...

__ADS_1


Kurang tiga orang lagi.


Padahal ini baru sehari, tapi mungkin itu karena Fano sudah menyebar banyak bathbomb, belum lagi pesanan yang akan Fano kirim untuk besok. Fano tidak perlu repot-repot mencari kurir atau jasa pengiriman barang, karena sistem akan mengirim barangnya langsung untuk mereka. Jadi itu urusan sistem.


Meski begitu Fano juga perlu mendata siapa saja yang memesan padanya biar datanya tidak hilang, dia sudah melakukan itu sebelum Yoshi dan Dave datang, jadi aman.


Fano dan dua teman manisnya bermain game sambil memakan semua kue manis tersebut, setelah lelah mereka memilih nonton film.


“Kita menonton ini saja” Fano memutuskan untuk menonton sebuah film yang dia pikir menarik untuk ditonton. Selama dua puluh tahun dia baru kembali ke dunia, sudah ada banyak sekali film bagus yang rilis, Fano ingin menonton semuanya tapi tentu saja itu tidak mungkin. Jadi dia memilah-milah film yang benar-benar ingin ditontonnya saja.


“Gak mau!” tolak Yoshi


“Itu ngeri banget filmnya” sahut Dave


“Apanya yang ngeri sih?” Fano


“Jangan film thriller dong” Yoshi


“Bukannya kalian gak takut hantu ya?” Fano


“Kita gak takut hantu bukan berarti berani nonton film pembun*han, yang lain aja kak Fano.. horror aja lah lebih mending” timpal Dave.


Fano menyerahkan remote pada mereka, padahal dia sudah berlangganan dan membayar untuk bisa nonton film yang ingin ia tonton dengan yang lain, eh merekanya malah takut.


“Cemen kalian” Fano


“Diem! Kita nonton ini aja belum nonton aku” Yoshi


“Oh yang ini?” Dave menunjuk film horror yang sebenarnya tidak baru, tapi sepertinya mereka semua belum menonton, Fano juga tidak memiliki ingatan apapun terhadap film itu, jelas Fano asli belum menonton juga.


“Ku pikir kalian mau nonton film disney” celetuk Fano, menyindir.


“Yang Luca itu aku belum nonton juga” sahut Yoshi.


Meski penasaran Fano tidak bertanya karena film horror yang akan mereka tonton sudah terputar di layar televisi besar di dahapan mereka.


Rupanya itu adalah film yang sedang viral akhir-akhir ini, padahal dulu saat rilis tidak terlalu terkenal, tapi sekarang malah dibicarakan dimana-mana. Itu karena salah satu aktornya sudah debut menjadi penyanyi dan saat ini sedang booming, dia adalah idol pria yang ketampanan dan keahlian bernyanyinya dielu-elukan oleh banyak orang, tidak hanya di negara aslinya, Korea, tapi juga di hampir beberapa negara lain di Asia, Amerika, Eropa dan Australia.


Tentu saja Fano mengenalnya, namanya Kim Dojun, ahli waris dari KSH Ent dan Lova Ent yang sudah merger menjadi satu perusahaan terbesar di Korea, Royal Ent.


Bagaimana Fano bisa tau? Karena dia sedang mencari informasi tentang keluarganya yang telah dia tinggalkan, termasuk keluarga mantan istrinya. Apa bisa disebut mantan? Karena saat Albert meninggal mereka tidak bercerai.


Saat Fano mencari tau informasi terkini keluarga istrinya, nama Dojun muncul paling atas karena sedang berada di puncak ketenarannya.


Fano masih ingat dulu saat putranya lahir, Dojun masih ada di perut ibunya, tapi sudah diberi nama oleh ayahnya. Ayah Dojun orang yang sangat baik, sangat baik sampai Albert tidak merasa cocok dengannya.


Tidak heran, mereka keluarga musisi dan selebriti.


Dibandingkan yang lain sepertinya Albert memang yang paling buruk, tidak heran mertuanya tidak menyukainya, tapi padahal mertuanya juga ketua mafia. Meski begitu Albert sadar diri jika dia memang sangat kejam, jauh lebih kejam dibandingkan yang lain.


Fano ingin melupakan semuanya, tapi bayang-bayang masa lalu terus menghantuinya. Sangat susah menjadi sosok Fano yang baik hati tanpa mengingat orang-orang dari masa lalu, apalagi jika mereka terus berjaya, kekayaan mereka tidak pernah padam.


Sudahlah, membicarakan mereka membuat Fano lelah.


Mungkin dia kecewa? Iya.. mungkin kecewa, karena mereka tidak membantu Albert dahulu dan lebih memilih membiarkannya dihukum mati. Tapi, Fano juga tau Albert pantas dihukum mati.


Kenapa pula dulu Albert berurusan dengan keluarga konglomerat seperti itu?


“Fano!”


Fano berjengit terkejut saat tiba-tiba Yoshi mengguncangnya “Eh – iya?”


“Astaga kak Fano nglamun terus dari tadi, gak fokus sama filmnya” kata Dave


“Apa filmnya membosankan?” tanya Yoshi

__ADS_1


“Tidak itu.. aku hanya memikirkan Dojun” kata Fano


“Dojun? Oh, dia yang meranin hantunya itu kan? meski bukan pemeran utama dia ganteng banget ya” sahut Dave.


“Aku lebih ganteng tuh” sahut Yoshi


“Lebih imut iya!” Fano mencubit pipi Yoshi yang lentur seperti mochi


“Tolong lihat aku sebagai pria dewasa” protes Yoshi, menampik tangan Fano


“Maaf aku tidak bisa, Yoshi-kun” Fano


“Omae –” Yoshi


“Sshh diam semuanya!” Dave


Akhirnya mereka kembali fokus pada film yang mereka tonton. Mereka menonton film hingga selesai, jam sebelas malam baru semuanya berakhir. Mereka bersiap untuk tidur karena esok hari mereka memiliki pertandingan untuk dihadiri, mereka akan bertarung, jadi harus mempersiapkan diri dan tidak boleh sakit.


“Kenapa kalian berdua ada di kamarku?!” protes Fano yang melihat dua teman bocilnya sudah berbaring dengan nyaman di ranjang kesayangan Fano.


“Gak mau tidur sendirian” Dave


“Kita tidur bareng aja Fano” Yoshi


“Ujung-ujungnya kalian takut juga ya” Fano pun pasrah, beruntung karena ranjangnya ukuran king size, meski ada tiga orang masih luas dan muat untuk ditiduri.


“Jangan dimatiin lampunya” Yoshi


Tapi Fano mematikan semua lampunya.


“FANO!!”


Klik.


Fano menyalakan lampu tidur yang remang-remang.


“Udah nih, tidur sana” Fano


“Kalo nonton film lagi, mending disney aja, aku serius” lanjut Fano.


“Kalo inget ya kak Fano” Dave


“Aku gak akan mau tidur bareng lagi, ini yang terakhir” Fano


“Fano kejam..” Yoshi


“Emang” Fano


“Demo... Fano dai suki!” Yoshi


“Jangan deket-deket! Panas nih” Fano


“Berisik!” Dave


“Heh ini apartemen siapa?” Fano


“Gedung apartemen ini? Punya L.I Company kan?” Dave


“Bukan itu!” Fano.


Tunggu! Punya L.I Company? Verdinand?


.


.

__ADS_1


__ADS_2