Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Ingatan indah menjadi pahit


__ADS_3

.


.


Tiba-tiba Fano terbangun, perlahan dia bangkit duduk lalu mengusak matanya.


Dimana yang lain? Kenapa dia sendirian?


Setelah itu Fano mencari ponselnya, dia malas sekali melihat banyak notif, mulai dari chat, medsos, mbanking dan lain-lain.


Sudah jam tujuh malam, itu artinya Fano hanya tidur selama tiga jam. Kepala Fano nyut-nyutan, terasa sakit.


Perlahan Fano menyingkap selimutnya, lalu bangkit berdiri, dia berjalan keluar dari kamarnya, terus berjalan hingga sampai di pantai. Kemudian Fano duduk di kursi dan merenung.


Semilir angin pantai terus berhembus menerpa kulitnya.


Dingin.


Fano merasakan dingin, namun dia baik-baik saja.


Tadi dia bermimpi buruk lagi, namun itu adalah ingatan saat Albert masih kecil, masih hidup


sederhana nan bahagia bersama ibunya. Suatu saat ada seorang pria yang mendekati ibunya, namun pria itu tidak menyukai Albert. Pria itu bahkan sering menyakiti Albert dan diam-diam ingin menyingkirkan Albert.


Namun niatan busuk itu kemudian diketahui oleh ibunya, jadi ibunya memilih untuk menjauh, tapi karena itu ibunya malah dipecat dari pekerjaannya.


Ibunya masih bisa tersenyum pada Fano seakan tidak ada yang terjadi.


Ingatan itu menjadi mimpi buruk, karena Fano mengingat kesedihannya lagi, kesedihan di masa-masa yang sulit itu. Tapi, kemudian muncul mimpi lain.


Mimpi selanjutnya harusnya bukanlah mimpi buruk. Itu adalah ingatan dari Fano yang asli. Ingatan saat


masih kecil bersama ayah dan ibunya yang sangat menyayanginya. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Saat itu Fano dan keluarga pergi ke pantai, bermain pasir bersama anak-anak lain yang sebenarnya baru Fano temui di pantai itu.


Setelahnya Fano diajak menaiki perahu, karena air laut sangat jernih, jadi dia bisa melihat ikan-ikan dan terumbu karang.


Itu memang kenangan yang indah, tapi karena orangtuanya telah meninggal, kenangan indah itu terasa begitu pedih dan pahit. Apalagi setelah orangtuanya meninggal Fano hanya mengalami kesulitan.


“Ternyata kau ada disini”


Fano mendongak setelah mendengar suara sohibnya mendekat, Yoshi datang dengan memakai baju santai,


hanya kaos putih polos, celana selutut dan juga jaket tipis warna hitam.


Yoshi kemudian duduk di sebelah Fano.


“Apa kau mencari ku?” tanya Fano, Yoshi mengangguk “Iya, kau tidak ada di ruangan mu, anak-anak yang

__ADS_1


lain setelah makan-makan, mereka pergi menonton pertunjukan, ada games juga disana, sepertinya menyenangkan” kata Yoshi.


“Lalu kenapa kau tidak ikut dan malah kemari?” tanya Fano, kemudian dia merangkul bahu Yoshi, tumben sekali Yoshi tidak protes dirangkul-rangkul oleh Fano.


“Aku tau kau belum makan malam, ayo makan malam denganku”


“Eh? Tumben kau perhatian”


“Kau ini, aku menjahili mu kau marah, sekarang aku perhatian padamu kau malah mempertanyakannya, tentu saja aku perhatian, kau sahabatku!”


“Benar juga, oh iya – Fira harus bertemu dengan ayahnya di Indonesia, jadi ku rasa aku akan pergi Indonesia sebentar” kata Fano.


“Kenapa kau harus mengantarnya? Dia tidak bisa sendiri? Lagian, kau kenal dia dari mana?”


Benar juga, pasti bagi Yoshi itu sangat aneh. Karena Fira muncul entah dari mana, Fano baik padanya, memberinya tumpangan, membayarkan makan, lalu sekarang mengantarkan ke Indonesia.


Pasti aneh bagi Yoshi.


“Dia kenalan dari jauh, dia tidak tau banyak tentang dunia ini – eum, pokoknya, aku harus membantunya” kata Fano.


“Harus kau?” tanya Yoshi.


“Apa kau mau mengantarkan dia ke Indonesia?” Fano malah balik bertanya, refleks Yoshi menggeleng karena memang tidak mau.


“Aku juga harus mencari ayahnya, Lylac akan pergi bersamaku juga” tambah Fano.


“Justru karena kau tidak ikut, aku ingin kau menggantikanku mengawasi Noa” jawab Fano.


“Ngrepotin banget sih, tapi karena Noa anaknya nurut, aku sih mau-mau aja, asal tidak mengawasi bocah semacam Leon dan Abel” Yoshi.


“Hey, Abel itu pacarmu!” Fano.


“Iya, tapi kau sebagai mantan baby sitternya pasti mengerti bagaimana capeknya mengurusi Abel bukan?”


Fano mengangguk karena dia sangat mengerti, mengurusi Abel itu seperti mengurusi lima balita sekaligus.


“Tapi Fano, apa kau serius dengan Fira? Maksudku, dia kelihatannya menyukaimu, apa Angel dan Queen tidak akan marah? Terutama Queen, dia pasti akan marah padamu” tambah Yoshi.


Fano mengangguk lagi, dia pikir, Queen pasti marah jika itu sungguh terjadi. Tapi Fano tidak ada niatan untuk melakukan itu, Fira memang cantik, tubuhnya indah, dia juga menarik. Memang Fano ada sedikit napsu dengan Fira, tapi untuk hubungan yang lebih Fano harus memikirkannya berulang-ulang kali.


Fano juga sedang menahan pikiran-pikiran buruk yang menjurus pada hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi yah, godaan yang datang sangat besar hingga Fano berpikir dia bisa saja kalah melawannya.


“Tapi aku sebenarnya tidak ingin menambah” gumam Fano.


“Kan belum menikah, ku rasa jika kau memang menyukainya tidak masalah” kataYoshi.


“Kenapa tidak kau saja, bukankah Fira sangat menarik?” tanya Fano, Yoshi mengangguk “Benar, dia

__ADS_1


sangat seksi, dia juga sangat cantik, kalau dia mau denganku mungkin aku akan memikirkannya, atau bisa saja aku membicarakannya baik-baik dengan Abel. Abel ku rasa akan menerima keputusanku, tapi kau tau sendiri keluarga Abel seperti apa, yang ada mungkin aku langsung digantung di rumah pohon depan mansion besar mereka” kata Yoshi, dia bergidik sendiri jika membayangkan hal itu benar-benar terjadi.


“Tapi yah ... jika itu kamu, keluarga itu tidak akan banyak bicara, bukankah kakeknya Queen sangat menyukaimu ya?” tambah Yoshi.


“Aku tidak tau, jangan bahas itu, aku sudah lapar, ayo kita makan malam, kau sungguhan belum makan?” Fano mengajak Yoshi untuk bangkit berdiri, merekapun kembali lagi ke dalam resort.


“Aku sengaja tidak ikut yang lain makan karena kau tidak ada, kalau tidak percaya coba tanya saja Noa, dia pasti menjawab dengan jujur” balas Yoshi.


“Baiklah, aku percaya padamu”


***


Karena di sore hari Fano sudah tidur, malam ini dia malah sulit untuk tidur. Di kamar Fano ada Noa dan Yoshi, mereka menggelar futon dan telah terlelap di sebelah Fano.


Dari pada bengong, Fano memilih untuk keluar lagi, mungkin Fano akan mencoba pemandian air panas, mumpung hawa di malam hari sudah dingin.


“Ssstt”


Fano hampir saja berteriak karena terkejut, Lylac tiba-tiba muncul di belakangnya bersama dengan Fira.


“Kalian ini mengagetkan saja” bisik Fano. Lylac dan Fira terkekeh melihat Fano yang kesal.


“Ngomong-ngomong, kenapa kau keluar kamar?” tanya Lylac.


Fano mendengus malas lalu menjawab “Aku tidak bisa tidur karena sudah tidur di sore hari, kalian sendiri kenapa malah berkeliaran di malam hari?”


“Aku tau jika kau akan keluar kamar, jadi aku juga keluar, lalu Fira mengikutiku” jawab Lylac dengan senyuman polosnya.


“Aku akan pergi untuk berendam di pemandian air panas, jadi jangan ikuti aku” sahut Fano.


“Bagaimana jika kita pergi ke pemandian di Floutessia?” usul Lylac.


“Aku penasaran Floutessia itu seperti apa” sahut Fira, dia selama ini hampir tidak pernah keluar dari Bluequa, jadi mengunjungi tempat lain pun dia tidak pernah. Karena itu Fira bahagia bisa sampai di tempat ini, karena suasananya jauh berbeda dengan tempat tinggalnya. Semuanya sangat menarik dan unik baginya.


“Aku juga akan mengajarimu tentang elemen permata” tambah Lylac.


Baiklah, Fano tidak ingin mengakui ini, tapi itu tawaran yang bagus.


“Baik, aku akan pergi jika kau memaksa” kata Fano.


“Aku tidak memaksa tuh” Lylac.


“Sudah, ayo pergi” Fano.


“Dasar cerewet!” Lylac.


.

__ADS_1


.


__ADS_2