Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Meet Felix and Cris


__ADS_3

.


.


Fano menyedot bobanya hingga kandas. Dia masih berada di dalam mobil dan tidak yakin untuk keluar. Fano belum siap bertemu kakeknya Queen, dia gugup.


Dulu albert membawa kabur putri kesayangannya, lalu sekarang Fano menjadikan cucunya kekasih juga. Bagaimana jika Fano diusir lagi?


Fano menghela nafas berat, dia masih berada di dalam mobil sampai kemudian Queen datang membuka pintu mobilnya.


“Kau akan terus di dalam? Ayo keluar, kita akan mengadakan barbeque party di kolam, kakek ingin menemuimu” kata Queen sambil menarik Fano keluar.


“Bagaimana jika kakekmu tidak menyukaiku?”


Queen berdecak malas “Kau selalu menanyakan hal sama selama beberapa bulan dan aku sudah lelah untuk mengatakan semua akan baik-baik saja, ayolah”


Karena tidak ingin dicap pengecut, Fano pun memberanikan diri untuk memasuki mansion mewah tersebut.


Ngomong-ngomong mansion, Fano juga mendapatkan mansion besar, tempatnya sangat indah dan asri. Itu adalah hadiah naik level untuk level 11, baru beberapa bulan lalu.


Meski begitu, Fano masih betah tinggal di apartemennya yang lama. Tapi kadang Fano dan teman-temannya menginap di mansion, terutama saat liburan.


Banyak sekali orang di mansion ini, beberapa Fano bisa mengenali, yang lain Fano tidak kenal sama sekali.


“Fano kesini sebentar, kenalkan ini pamanku, Paman Darko” kata Queen, mengenalkan seorang pria tampan dengan kulit putih pucat dan rambut hitam. Fano merasakan aura gelap darinya, meski begitu Darko tersenyum manis pada Fano.


Fano pikir dulu Albert pernah melihat pria ini beberapa kali, tapi melihatnya lagi seperti ini terasa agak asing baginya. Tapi aura gelap Darko menurut Fano sangat keren, dia tidak takut atau terintimidasi.


“Jadi ini yang namanya Fano?” tanya Darko.


Fano tersenyum dan memberi salam padanya, Darko hanya tersenyum kecil. Fano tau dari dulu dia tidak banyak bicara, jadi dia memakluminya.


Setelah itu Queen mengenalkan Fano pada anak dari Darko, namanya Hendry. Beda dengan ayahnya, Hendry lebih ramah dan lebih banyak bicara, terlihat seperti orang yang sangat menyenangkan untuk diajak bergaul.


Setelah Hendry, Queen mengenalkan Fano pada pamannya yang lain, dia adalah saudara dari ibunya Queen juga, namanya Sam.


Kalau Sam, Fano mengenalnya. Albert tidak terlalu menyukai Sam karena dia sangat ceria dan juga berisik, ternyata dia tidak berubah.


Kemudian.. Queen juga mengenalkan Fano pada anak dari Sam, dia sangat cantik, sepertinya seumuran dengan Abel. Beda dengan ayahnya yang berisik, Joanna, nama dari gadis itu, dia sangat lembut dan kalem. Kalau ada yang bilang dulu Joanna dan Abel tertukar pasti Fano akan percaya. Karena Abel yang berisik lebih cocok jadi anak Sam dari pada Joanna yang kalem.


Tapi meski ada pepatah buah tidak jauh dari pohonnya, kadang anak juga tidak mirip sifatnya dengan orangtua. Contohnya Alfred, sifatnya tidak mirip dengan Albert ataupun Reina, hanya fisiknya saja yang mirip.


Tapi tidak masalah, anak tetaplah anak, orangtua akan selalu menyayanginya meski anak memiliki sifat yang berbeda dengan yang diharapkan.


“Aku ingin mengenalkanmu pada semuanya, tapi sayangnya kakek sudah menunggumu, ayo kita menemui kakek dulu” Queen menyeret Fano ke lantai atas, menuju sebuah ruangan yang di depannya dijaga oleh dua butler.


Bukankah ini berlebihan ada penjaga di dalam rumah? Atau ruangan ini sangat penting sampai dijaga seperti itu?


Fano tidak tau, tapi dia terus mengikuti Queen sampai masuk ruangan. Ruangan ini tidak terlalu terang, bisa dibilang remang-remang. Ada meja bar dan rak-rak kaca dengan koleksi bir atau alkohol langka yang mahal. Ada pula butler yang menjadi bartender.

__ADS_1


Dan.. yah, ada dua pria tampan yang meski Fano tau umur mereka sudah sekitar 60 tahunan, tapi mereka tidak terlihat tua sama sekali. Hanya seperti pria berumur 25 sampai 30 tahunan.


Fano mulai yakin keluarga Raynold ini vampire, tidak ada yang terlihat menua. Apa rahasia mereka kira-kira ya?


“Queen my baby, come here!”


“Grandpa!”


Queen berlari lalu memeluk salah satu pria, yang tentu saja Fano bisa mengenalinya. Fano tiba-tiba jadi gugup dan berdebar tak karuan, tidak mungkin dia takut pada mereka kan? sekarang dia berada di tubuh yang berbeda, bukan lagi Albert.


Ayolah Fano, mereka tidak mungkin membencimu seperti dulu, positive thinking saja.


Mereka adalah Felix dan Chris. Mertua Albert atau ayahnya Reina adalah Felix, lalu Chris adalah kakak dari Felix.


Felix membisikkan entah apa pada Queen, kemudian Queen tersenyum dan mengangguk, setelah itu Queen mengecup pipi Felix dan pergi.


Tunggu! Kok pergi?


“Fano semangat ya.. mereka baik kok, aku tinggal dulu” Queen terkikik melihat ekspresi bingung Fano, kemudian Queen menepuk-nepuk bahu Fano lalu benar-benar pergi dari sana.


“Come here son” Felix menepuk tempat kosong agar Fano duduk disana, Fano yang tidak tau harus bagaimana hanya menurut saja dan duduk.


“Do you like wine? Can you drink?” (apakah kamu suka wine? kau bisa minum?) tanya Chris, dia sudah menuangkan wine ke dalam gelas, setelah gelas terisi seperempatnya dia berhenti lalu menyodorkannya ke depan Fano.


“No, he’s not.. he still a kid, he cannot drink” (tidak, dia tidak bisa, dia masih bocah, tidak bisa minum) Felix mengambil gelas itu lalu meminumnya sendiri.


“He’s still a kid, right kiddo?” Felix menoleh pada Fano, kemudian berhenti menatap wajah Fano sampai kemudian dia terbelalak tidak percaya “Chris! Look! He look just like Haruto!” (Chris lihat dia mirip dengan Haruto) Felix menunjuk wajah Fano, masih dengan wajah tidak percaya.


Chris mendekat untuk melihat wajah Fano, maklum saja, seperti yang ku bilang di awal, ruangan ini remang-remang, sepertinya memang sengaja tidak semua lampu dinyalakan.


“You’re right... he look like young Haruto, so cute” (kau benar dia terlihat seprrti Haruto muda, imut sekali) Chris menepuk-nepuk kepala Fano seolah Fano masih bocah berusia 5 tahun.


Fano tau siapa Haruto, dia adalah adik mereka yang sebenarnya adalah adik sepupu. Tapi orangtuanya meninggal, Haruto diadopsi menjadi adik mereka. Meski begitu, Haruto tetap menggunakan marga ayahnya, Doma.


Reina pernah bercerita pada Albert tentang pamannya tersebut, sekarang keluarga Doma juga menjadi keluarga yang terkenal dan kaya raya di Jepang sana. Doma adalah keluarga Raynold di Jepang, sama seperti keluarga Kim adalah keluarga Raynold di Korea.


Ayahnya Dojun, Subin mengambil marga ayah tirinya, yaitu Kim. Makanya Dojun juga jadi Kim dan bukan Raynold.


“No way! my baby is more cute” sahut Felix.


“Lino is not a baby anymore, he’s like fourty now, he’s old” timpal Chris.


“Lino is still a baby, Roi and Subin still a baby too, they’re my babies” Felix.


Chris memutar bola matanya malas, Felix sangat keras kepala “oh c’mon!”


“We’re not getting older, young forever” Felix.


“Kalau Lino masih bayi aku apa?” gumam Fano, dia pikir Felix dan Chris tidak mendengarnya, karena mereka sibuk berdebat sendiri, tapi kemudian Felix menjawabnya.

__ADS_1


“You’re a fetus” Felix.


“Siapa namamu?” tanya Chris pada Fano.


“Fa –”


“Albert” sahut Felix.


Fano membelalak tidak percaya, apa dia salah dengar? Tidak mungkin Felix menyebut Fano sebagai Albert kan? tidak.. sepertinya Fano salah dengar.


“Ya, maksudku dia kan sudah memasuki tubuh yang baru, kita tidak bisa menyebutnya Albert lagi, he’s a diffrent person now” sahutan Chris makin membuat Fano terkejut.


Ini bohong kan?


“Ap – apa.. maksudnya?” tanya Fano dengan sedikit terbata-bata, karena dia terlalu shock.


“Jangan-jangan bocah ini reinkarnasi Haruto! Dia sangat mirip dengan Haruto” kata Felix, tidak menghiraukan pertanyaan Fano barusan.


“Tidak Felix, dia ini reinkarnasi Albert” sahut Chris.


“Maksudku tubuh bocah ini.. bisa saja kan?” Felix.


“Kau terlalu mengada-ada, mungkin dia hanya mirip.. ini hanya kebetulan” Chris.


“Aku merindukan Haruto..” Felix.


Yang Fano tangkap dari pembicaraan mereka, sepertinya Doma Haruto sudah meninggal, mungkin setelah Albert meninggal.


“Maaf, Albert, siapa namamu?” tanya Felix lagi.


“Farelino Adhitama, panggil saja Fano” jawab Fano, dia lega akhirnya sudah memberitahu namanya.


“Kenapa namanya mirip dengan anakmu Lix?” tanya Chris.


“Kenapa namamu mirip dengan nama Lino? Untung saja kamu dipanggil Fano, orangtuamu dimana?” tanya Felix.


Fano tersenyum lemah “Sudah meninggal”


Mendengar itu Felix dan Chris terlihat kasihan dengan Fano.


“Malang sekali.. Albert kehilangan orangtuanya, dan setelah kau kembali kau juga keilangan orangtuamu” ucap Chris, dia kemudian menepuk-nepuk bahu Fano.


“Harusnya kita memilih tubuh yang lebih baik untuknya” kata Felix “Ah, tidak.. lebih baik kau dengan tubuh ini saja, jadi aku bisa melihat Haruto lagi” tambah Felix.


“Tunggu dulu, bisa kalian jelaskan apa yang terjadi? Aku masih tidak mengerti” tanya Fano.


.


.

__ADS_1


__ADS_2