
.
.
Akhirnya Fano bisa bangun pagi, setelah selama ini seringnya bangun siang. Semalam Fano belum
tengah malam sudah tertidur, biasanya malah lebih dari tengah malam baru bisa tidur. Bagaimana Fano tidak tidur awal jika ada Dave dan Wawan, Fano kan ingin memberikan contoh yang baik bagi mereka.
Untungnya ranjang Fano ukurannya sangat besar, jadi tiga orang bisa muat tidur disana. Fano dan Dave sih tidurnya tenang, beda dengan Wawan yang banyak tingkah.
Pagi ini saja Dave sampai merapat pada Fano karena Wawan menguasai ranjang. Fano geleng-geleng kepala melihat posisi Wawan yang kepalanya sudah ada di bawah saja, sedangkan Dave tidur melingkar seperti kucing.
Setelah bangkit berdiri Fano membenarkan posisi mereka lalu menyelimuti mereka, baru setelahnya keluar kamar untuk ke dapur, meneguk segelas air hangat, baru melakukan peregangan ringan.
Fano akan mencoba olah raga pagi seperti biasa, misi pagi selalu ada karena otomatis, namun tidak ada
tambahan hadiah seperti koin.
Lylac memang menyebalkan.
Itu sih, bukan mengerjakan misi, tapi olah raga biasa saja.
Fano pun berangkat olah raga sampai berkeringat, setelahnya baru pergi ke supermarket untuk belanja bahan-bahan makanan.
“Ku kira siapa, ternyata Fano ya”
Fano yang sedang memilih sayuran segar, menoleh pada asal suara, seorang pria dengan tampang menyebalkan muncul di hadapannya, seperti mimpi buruk.
Malas menanggapi, Fano segera memilih sayur yang dia inginkan lalu pergi, namun pria itu malah mengikuti Fano.
“Bukannya kau sudah sukses dan terkenal dimana-mana? Kenapa tidak menyuruh pembantu untuk.berbelanja?” tanya pria itu.
Fano pun berhenti, menatap pria itu malas.
Dia Indra, masih ingat? Yang mendorong Fano asli hingga jatuh dari gedung?
Penampilannya sudah mirip sekali dengan preman, banyak tato dan tindik, mungkin sudah keluar dari
penjara, entahlah, Fano tidak pernah ambil pusing tentang keadaan dia, tidak mau mencari tau dan tidak mau tau.
“Pertama, itu bukan urusanmu, kedua, tidak perlu ikut campur, jangan dekat-dekat seolah kita saling
mengenal” kata Fano, kemudian berjalan dengan cepat menjauh dari Indra, akan tetapi Indra belum menyerah juga, dia kembali menghadang Fano.
“Kau sombong sekali ya sekarang mentang-mentang sudah sukses, kita kan teman, bagaimana jika kau berbagi rejeki denganku?”
“Sekarang kau masih ingin memalak ku? Ternyata kau tidak tau malu ya, jika kau tau betapa suksesnya aku, harusnya kau tidak mendekat dan mencari gara-gara, aku bisa saja menyingkirkan mu”
Indra hanya tertawa mendengar ancaman Fano, seperti baru saja mendengar lelucon konyol.
“Ternyata kau memang sudah sombong, hah, aku pergi” Indra pun berbalik dan pergi begitu saja.
“Orang ga jelas” gumam Fano kesal.
Fano tidak mau belanja lama-lama, jadi dia hanya belanja seperlunya saja, namun kemudian di luar supermarket Fano melihat ada orang yang menjual bubur sumsum. Fano yang sudah lama tidak merasakannya akhirnya membeli beberapa porsi untuk dibagi dengan yang lain juga.
Fano bertemu Nia, ibunya Yoshi, saat sampai di depan apartemen ibunya Yoshi.
“Selamat pagi tante” sapa Fano.
__ADS_1
“Eh, Fano, kamu makin ganteng aja, Yoshi masih tidur di dalam, bisa kamu bangunkan, tante pagi ini ada pekerjaan jadi buru-buru” kata ibunya Yoshi.
“Oh iya, tante bisa makan bubur ini jika belum sarapan” Fano memberikan satu bubur untuk ibunya Yoshi “Kamu baik sekali, terimakasih Fano, sampai jumpa lagi!”
Ibunya Yoshi itu memang suka sekali bekerja, padahal Yoshi sudah melarang, kan sekarang penghasilan Yoshi banyak, harusnya ibunya tidak perlu bekerja sekeras itu. Tapi ibunya Yoshi keras kepala, jadi ya tetap kerja.
Fano memasuki apartemen ibunya Yoshi, langsung menuju kamar Yoshi yang sudah Fano hafal diluar kepala, dia juga sering menginap di di apartemen ini, jadi bukan hanya Yoshi yang sering mampir ke apartemen Fano. Biasanya Fano menginap hanya jika
ibunya Yoshi tidak pulang.
Sebelum membuka kamar Yoshi, Fano meletakkan belanjaannya dulu ke atas meja.
Betapa kagetnya Fano melihat pemandangan di dalam kamar Yoshi, hampir saja Fano menelfon FBI, tapi
dia lupa jika berada di Indonesia, jadi tidak mungkin FBI muncul dengan kilat sambil membobol tembok – oke, itu berlebihan.
“YOSHI!! Kamu ngapain hah?!” teriak Fano.
“Fano berisik! Aku cuma tidur aja kok” balas Yoshi.
“Sama Abel? Lagian Abel bukannya tidur sama Lylac ya? Kok bisa ada disini sih?” Fano gregetan ingin menjewer telinga mereka satu-satu.
“Abel kangen kak Oci, lagian mamanya kak Oci bolehin Abel masuk kok, hehe” jawab Abel dengan polosnya.
“Tuh, dengerin Fano, jangan nethink mulu!” Yoshi, Fano mengambil bantal lalu memukulkannya pada Yoshi.
“Ah! Sakit!”
Fano semakin bersemangat memukul Yoshi dengan bantal, Abel juga bukannya membantu pacarnya
malah tertawa kencang sambil menepuk-nepuk tangannya.
Yoshi pasrah saja punya pacar seperti itu, yang penting cantik, seksi dan lucu, itu sudah cukup bagi Yoshi.
“Pergi sana Fano, kamu mau jadi obat nyamuk disini hah?”
Tapi Yoshi mengundang Fano untuk kembali memukulinya, Fano kembali memukulnya dengan bantal, tapi hanya sekali, Fano lelah, tadi kan juga habis olah raga.
“Jangan macem-macem, bangun sana! Jadi ke villa gak sih? Mumpung weekend, anak-anak libur” kata Fano.
“Bukannya kamu mau ketemu ayahnya Fira?” tanya Yoshi.
“Kamu pergi duluan sama yang lain, aku nanti nyusul, ketemunya di cafe gitu soalnya” Fano.
“Ke sana pake apa?” tanya Yoshi.
“Pake kaki! Ya pake mobil lah, kan ada itu yang mobil van di tempat parkir” Fano.
“Aku maunya pake mobil yang sport” Yoshi.
“Jangan bego ya, itu cuma bisa buat dua orang aja, kamu harus bawa tiga orang lho, pake mini van aja, kita cuma mau ke villa, bukan balapan mobil sport” Fano.
“Itu kan mobilku sendiri, kenapa aku ga boleh pake?” keluh Yoshi.
Memang mbil sport yang Yoshi maksud, itu miliknya sendiri, dia mendapatkan itu dari hasil kerja kerasnya sendiri, tapi memang jarang dia pakai.
“Yoshi, aku ngambek nih” Fano.
“Ya udah ngambek aja, itu kan emang tujuan hidupku” Yoshi.
__ADS_1
Fano kembali meraih bantal tadi dan kembali memukul Yoshi, punya teman satu sukanya memancing emosi Fano saja, mirip-mirip ini sama Raja.
Untung Fano sayang, sayang kalo dibuang.
“Iya iya, nanti pake mobil mini Van, puas?” Yoshi akhirnya mengalah.
“Jangan ikut sarapan denganku, awas ya!” Fano pun keluar dari kamar Yoshi, dia sudah capek.
“Idih ngambekan!!” Yoshi.
BRAK
Fano membalasnya dengan membanting pintu kamar Yoshi, biar saja meski rusak, kalau rusak ya tinggal ganti dengan yang baru, mudah.
Sementara itu di kamarnya Yoshi terkekeh puas, melihat wajah Fano yang marah merupakan hiburan
tersendiri baginya, lagian Fano itu anaknya tidak jelas, suka marah tidak jelas, mana kalau marah lucu sekali.
Yoshi juga pernah diam-diam berbincang dengan Lylac, Lylac juga setuju dengan Yoshi jika Fano lucu jika marah. Itulah kenapa Lylac dan Yoshi suka sekali memancing emosi Fano. Tapi Fano itu tidak pernah serius marahnya, seperti tadi, dia tidak mungkin serius marah.
“Abel sini peluk lagi ... kita tidur lagi aja ya, sambil nunggu Fano masak”
“Oke”
“Kamu imut banget sih”
“Hehe”
Entah mengapa Yoshi selalu merasa dia seperti pedo jika pacaran dengan Abel, padahal ya umur mereka
tidak terpaut jauh, tapi kalau umur mental tidak tau lagi. Abel memang memiliki tubuh yang indah dan menggoda, tapi Yoshi tidak mau menyentuhnya berlebihan, karena dia sangat menyayangi Abel, dan ingin menjaganya.
“Kak Oci?”
“Hmm?”
“Selingkuh itu apa?”
Yoshi mengerutkan keningnya “Maksudmu apa?”
“Abel pernah denger, terus pelakor itu apa?”
“Belum saatnya kamu tau itu, kamu kan belum dewasa”
“Tapi Chrystal pernah bilang gini, jangan-jangan pacarmu selingkuh disana, gitu, kan aku ga ngerti”
“Dia mengatakan itu padamu?” tanya Yoshi, dia sangat terkejut, bisa-bisanya nenek sihir itu memfitnah Yoshi segala, faedahnya apa coba?
“Gini ya Bel, maksudnya selingkuh itu – eum, jika salah satu dari sepasang kekasih malah menyukai orang lain, sedangkan aku, kan hanya menyukaimu, mana mungkin aku selingkuh?”
“Kayak Kak Fano sama kak Quen dan kak Angel?”
“Bukan gitu, mereka kan sudah berkompromi – aduh gimana jelasinnya ya” Yoshi jadi bingung sendiri.
Seperti Yoshi masih membutuhkan Fano di hidupnya.
“Ayo kita bangun dan tanyakan Fano saja ya?”
“Oke”
__ADS_1
.
.