
.
.
Yoshi dan Fano jalan-jalan di tepi pantai, ada beberapa orang juga yang mungkin berasal dari villa atau dari resort milik keluarga Samudra yang juga ada disana. Ada pula beberapa pekerja karena disana juga menyewakan kapal feri, bisa snorkling atau diving juga.
Beberapa orang dari kalangan atas akan menggunakan kapal feri untuk memancing, atau hanya untuk berpesta, untuk pemotretan.. dan banyak lagi.
Albert dulu memiliki kapal feri juga, waktu itu kapal feri miliknya adalah yang paling mewah di Eropa. Albert hanya menggunakannya untuk pesta atau keperluan tertentu. Entah sekarang masih ada atau tidak.
Fano tidak ingin mencari hartanya yang dulu, dia hanya ingin harta itu jatuh ke tangan putranya dan bukan orang lain.
Astaga, susah sekali untuk tidak memikirkan Gio barang sebentar saja, padahal Fano ingin merilekskan diri.
Fano dan Yoshi tidak memakai alas kaki, kedua pasang kaki mereka menapaki pasir putih pantai. Pasirnya tidak panas, hanya terasa sedikit hangat, mungkin karena ini juga sudah sore.
Fano sedikit mendekat agar kakinya terkena air laut, saat itu Yoshi menemukan kerang unik yang cukup besar berwarna putih gading.
“Fano, aku menemukan sesuatu”
Fano menoleh pada Yoshi, menatap kerang berbentuk unik tersebut “Itu bisa ditiup seperti terompet, cobalah” kata Fano.
Yoshi menatap kerangnya tidak yakin, tapi kemudian dia berikan kerang itu pada Fano “Kau saja coba yang tiup”
Fano menerima kerang itu lalu membersihkannya, saat Fano mulai bersiap ingin meniup kerang Yoshi sudah berinisiatif mengambil ponsel Fano dari kantong celana Fano lalu memotret Fano.
Fano meniup kerang itu, Yoshi berdecak kagum ketika ada suara keluar, suara yang unik lebih mirip dengan seruling.
“Lakukan lagi, akan ku rekam” Yoshi beralih merekam vidio untuk Fano, dia sangat puas dengan hasil vidionya.
Mereka mengedit vidio pendek tersebut untuk diupload di akun medsos milik Fano, sekalian juga dengan foto Fano sebelumnya.
“Fano sangat tampan, CEO muda tampan”
kata Yoshi.
“Apa sih, biasa aja” sahut Fano.
“Biasa apanya sih?” balas Yoshi “Oh iya, apa kau ingat jika kakekku ingin aku meneruskan bisnis keluarga?” tambah Yoshi.
“Tentu saja ingat, apa kau sudah ingin memulai?”
Yoshi menggeleng “Tidak, masih belum. Kakekku menghubungiku, beliau tau aku sedang bekerja bersama denganmu. Kakek tidak marah, malah sangat bangga padaku, beliau ingin aku belajar dahulu sebelum benar-benar meneruskan bisnis keluarga”
“Itu bagus, setelah bisnis kita lebih besar, kita bisa bekerjasama dengan bisnis kakekmu – tapi bagaimana dengan ayahmu?”
Yoshi mengedikkan bahunya “Entah, ayah tidak mau berubah, aku sudah kehilangan harapan, mana istri baru ayah kabarnya sedang hamil”
Fano terkekeh mendengarnya “Sudah sebesar ini kau akan punya adik”
“Aku harap adikku perempuan”
__ADS_1
“Agar tidak bisa bersaing denganmu?”
Yoshi menggeleng “Tidak bukan begitu.. hanya saja aku jadi ingin punya adik perempuan setelah mengenal Abel, pasti seru jika adikku cantik dan imut seperti dia”
Fano kembali menatap lurus ke depan, jauh ke ujung lautan yang tak terlihat, langit dan awan-awan yang bergerak beriringan.
Angin laut perlahan menerpa tubuh dan wajah mereka, anginnya terasa dingin tapi juga terasa nyaman disaat yang bersamaan.
“Ku rasa Abel menyukaimu” celetuk Fano tiba-tiba.
“Aku juga menyukainya, aku ingin punya adik sepertinya”
Fano hanya diam mendengarnya, dia tidak berpikir Abel menyukai Yoshi sebagai kakak. Entah itu hanya perasaan Fano yang kadang memang random atau bagaimana, yang pasti Fano berharap semua akan baik-baik saja.
Memiliki hidup yang cukup damai dan tentram seperti ini ternyata menyenangkan. Kenapa dulu Albert memilih hidup yang sulit dan berbahaya ya?
Seandainya dulu Albert dan ibunya hidup di pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, pasti mereka bisa hidup dengan damai.
Tidak.. tidak perlu menyesali sesuatu yang telah terjadi.
“FANO YOSHI!!”
Fano dan Yoshi berbalik, menatap Queenza yang berjalan menuju tempat mereka berada.
Queenza terlihat cantik memakai kaos off shoulder warna hitam dengan lengan panjang dan juga mini skirt kotak-kotak hitam-biru, dia juga memakai choker hitam di lehernya, rambut pirangnya yang indah juga tergerai dan sedikit melambai tertiup angin.
“Huwaa cantik banget gak sih? Kayak boneka barbie” gumam Yoshi.
Fano juga berpikir seperti itu, tapi tentu dia jaim untuk mengungkapkannya secara terang-terangan.
Brand itu juga mengajak kerjasama dengan Flouby, tentu saja Fano dengan senang hati menerimanya, hanya saja kerjasama tersebut baru akan dimulai nanti setelah toko milik Fano selesai disiapkan.
Fano menyenggol rusuk Yoshi yang tidak mau berhenti menatap Queenza, tapi Yoshi yang sedang terpana tidak merasa saat Fano menyenggolnya, akhirnya Fano menutup mata Yoshi dengan tangan besarnya.
“Fano apaan sih?” protes Yoshi.
“Jangan dilihat terus!”
“Kenapa? Kan ada di depanku apa salahnya dilihat”
Mereka berhenti ribut saat Queen sudah berada di dekat mereka.
“Kalian ngapain ribut sih?” tanya Queen.
“Gak ada kok, aku pergi dulu ya.. kalian bisa ngomong” kata Yoshi, dia melepaskan diri dari Fano lalu berlari kecil menjauh dari sana.
Fano berdecak malas, untuk apa juga Yoshi pergi? Kan dia jadi canggung jika berdua saja dengan Queen. Meski sudah cukup dekat, Fano tetap saja merasa canggung jika berdua saja dengan Queen begini.
Mungkin Fano merasa bersalah? Karena Queen kan harusnya keponakan Albert, aneh saja jika jika Fano memiliki rasa yang berlebih padanya.
Sikap Queen yang agak agresif juga tidak membantu.
__ADS_1
Queen menarik lengan Fano “Ayo kita jalan-jalan ke sana! Kau tidak memakai alas kaki?”
“Begini lebih nyaman” jawab Fano.
Mendengar itu Queen jadi penasaran dan mencoba melepas sepatunya juga, dia sedang memakai sepatu kets warna putih.
“Rok mu terlalu pendek” Fano melepas kemeja yang ia kenakan, jadi sekarang dia hanya mengenakan kaos putih polos. Kemeja itu ia berikan pada Queen agar rok mininya bisa tertutupi.
Jadi Queen mengikat kemeja itu di pinggangnya agar bisa menutupi bagian belakang yang sedikit terlalu pendek.
“Thanks... aku malas untuk berganti baju, mereka memberiku baju ini setelah selesai pemotretan” kata Queen, mereka mulai berjalan lagi.
“Jadi mereka memberikan secara gratis?”
“Iya, mereka juga memberi satu tas kecil, Vivi dan Bella juga dapat”
“Hmm, begitu”
Setelah itu tidak ada obrolan lain, mereka hanya diam dan terus berjalan hingga sampai pada menara pengawas pantai, itu adalah menara yang terbuat dari kayu dan tidak terlalu tinggi, tapi dari atas sana bisa terlihat seluruh bagian pantai.
Fano dan Queen memilih naik ke menara.
Angin di atas menara jauh lebih kencang, rambut Queen beterbangan tapi tidak sampai membuat rambutnya berantakan.
“Boleh aku tau kenapa kau membeli saham Deline?” tanya Queen.
Fano menghela nafas malas, dia tau Queen akan mempertanyakannya lagi, tapi bukan berarti dia sudah siap untuk membahasnya.
“Aku tidak mengerti kenapa kau mempermasalahkan ini, lagipula yang membeli itu atasanku”
“Alfredo Maverick itu kau sendiri kan Fano? Kau tidak bisa membohongiku, tidak ada yang namanya Alfredo apalah itu.. yang ada cuma dirimu saja” kata Queen.
Fano merasa de javu dengan pertanyaan ini, Angel pernah menanyakan hal serupa sebelumnya.
“Alfredo itu ada Queen, dia nyata”
Queen berbalik pada Fano, meraih wajah Fano dengan kedua tangan lentiknya “Tatap aku, apakah benar Alfred itu nyata? Bukankah dia hanya nama yang kau gunakan?”
Menatap kedua bola mata biru itu membuat Fano terdiam, bola mata indah yang begitu mirip dengan istri Albert, Reina. Sebenarnya, Queen terlihat sangat mirip dengan Reina. Yah walaupun itu memang wajar terjadi, karena Reina sendiri mirip ayahnya, jadi bisa saja Queen juga mirip dengan kakeknya.
Tapi entah kenapa, menatap Queen seperti ini terasa sangat familiar.
“Fano jawab aku!”
Fano kembali tersadar dari lamunannya, kemudian dia menyingkirkan tangan lentik Queen dari kedua sisi wajahnya.
“Aku serius Queen, Alfred itu nyata, dia benar-benar nyata”
“Fano, aku berusaha mencari data-data tentang Alfredo tapi hampir tidak ada apapun.. satu-satunya jawaban yang ku dapatkan hanya dari paman Roi saja. Jika Alfred itu adalah sepupuku, nama belakangnya juga mirip, Maverick. Tapi pamanku bilang Alfred belum ditemukan, apakah... apakah Alfred yang kita maksud itu sama? Kenapa juga kau menggunakan nama itu?”
Bagaimana Fano menjawab pertanyaan yang sangat ingin dia hindari ini?
__ADS_1
.
.