Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Perasaan yang aneh


__ADS_3

.


.


Queen dan Raja mengajak Fano makan di sebuah restoran yang kata mereka nomor satu di kota Fleur. Tempatnya bagus sekali, cantik dan elegan. Sama seperti ciri khas kota ini, banyak terdapat bunga-bunga unik yang menghiasi gedungnya.


Mereka ditempatkan di tempat privat yang paling khusus, mungkin seperti VIP, maklum saja Queen dan Raja adalah pangeran dan putri di negri ini.


Para pelayan berdatangan membawakan berbagai makanan untuk mereka, yang semua makanannya unik-unik, terlihat cantik dan menggiurkan. Fano kembali teringat dengan bisnisnya sendiri yang bergerak dibidang resto dan cafe. Banyak orang yang memuji resep dari Fano sangat unik, namun ternyata makanan disini jauh melebihi ekspektasi Fano, sangat-sangat unik.


Saat merasakan masakan unik itu, rasanya pun unik, Fano jadi memiliki banyak ide di kepalanya. Mungkin memang lebih baik jika Fano juga banyak belajar tentang masakan disini.


Apa itu bisa membantunya? Mengingat bahan disini juga pasti sangat unik, seperti teh mawar biru yang Queen sediakan untuknya tadi pagi.


“Kau seperti orang kelaparan Fano” cibir Raja.


Fano melirik Raja dengan lirikan malas, memang si Raja tidak akan tenang hidupnya jika tidak mengganggu Fano barang sebentar saja.


“Bisakah kau mengatakan seperti, apa kau sangat suka makanannya? Ku rasa itu lebih tepat - pangeran” kata Fano, sambil menekankan kata ‘Pangeran’, berniat untuk menyindir juga.


“Berhenti memanggilku pangeran! Kalau kau yang mengatakannya itu terdengar seperti sebuah ejekan” protes Raja.


“Memang niatnya gitu kok” sahut Fano.


“Duh jangan ribut dong, gak malu apa sama pelayan disini” desis Queen, dia sudah lelah dengan kekasih dan kakaknya yang tidak pernah akur, kalaupun akur itu sangat teramat langka.


“Queen, apa restoran ini memang sangat terkenal?” tanya Fano.


Queen mengangguk “Benar, pemiliknya juga menjadi koki di kerajaan, dia sudah sangat menyukai memasak sejak kecil, masih muda lho, umurnya masih sekitar 25 tahunan” kata Queen.


“Seumuran Kaisar?” tanya Fano.


“Enggak lah, Kaisar masih 22 tau” sambar Raja.


“Aku gak nanya dirimu!” Fano.


“FYI aja sih” Raja.


Queen memutar bola matanya malas, memang ide yang buruk untuk menyatukan Fano dan Raja. Tapi Rajanya ngotot ingin ikut padahal Queen tidak mengajak, maunya sih Queen hanya berdua dengan Fano.


“Fano ingin bertemu dengan pemilik restoran ini?” tanya Queen.


“Oh, boleh? Aku sebenarnya ingin banyak belajar resep dari restoran ini, itupun kalau boleh” kata Fano.


“Tentu saja boleh! Kalau itu untuk Fano boleh aja kok” jawab Queen.


“Idih bucin” sindir Raja, yang kemudian mendapat tendangan sayang dari Queen, kebetulan mereka berdua duduk berhadapan.


Fano terkekeh melihat Raja yang meringis kesakitan.


Kemudian Queen meminta pelayan untuk memanggilkan pemilik restoran. Tidak lama kemudian seorang wanita cantik datang, dia tersenyum ramah dan hangat pada mereka.


Entah mengapa, Fano tidak bisa melepas pandangannya dari wanita itu, ada perasaan rindu yang tidak bisa dia katakan dengan sebuah ucapan, namun hatinya sangat ribut mengatakan jika dia merindukannya.


Ini aneh sekali.


Wanita itu juga menatap Fano sangat lama, hingga kemudian setitik air mata jatuh dari ujung mata wanita itu.


“Lady Lydia baik-baik saja?” tanya Raja.


Lyldia menggeleng pelan “Saya baik pangeran, ada yang bisa saya bantu?”

__ADS_1


“Lady Lydia, kenalkan ini Fano, kekasihku, dia sangat menyukai masakan Lady, bolehkah Fano mempelajari cara Lady memasak?” tanya Queen.


Lydia mengangguk pelan “Tentu saja boleh, dengan senang hati saya akan mengajarkan tuan Fano”


“Jangan panggil tuan, cukup Fano saja”


Lydia tersenyum “Baiklah, Fano”


***


Fano keluar dari portal kembali ke dunianya sendiri, dia memegangi dada kirinya yang terasa aneh, jantungnya berdebar-debar seakan dia sangat senang. Ini bukan seperti perasaan jatuh cinta. Ada rasa yang sesak juga.


Seakan Fano baru bertemu seseorang yang sangat dia rindukan setelah sekian lama.


Jika ada Lylac, dia pasti tau apa yang terjadi pada Fano.


Lady Lydia itu siapa?


Fano merasa dia sangat menganalnya, tapi siapa?


Fano sangat ingin memeluknya, tapi dia menahan dirinya sendir. Bagaimana bisa – Fano berpikir jika wanita itu adalah ibunya?


Mengingat Felix dan Chris mengatakan ibunya ada di dunia itu, kemungkinannya masih ada bukan?


Tapi, Fano tidak berani untuk bertanya.


Bagaimana jika dia salah?


Tapi – mana mungkin Fano merasa seperti ini pada orang yang benar-benar asing?


Tubuh Fano merosot, terduduk di lantai dengan punggungnya bersandar pada pintu kamarnya. Setelah keluar dari portal yang dibuat Raja, Fano kembali lagi ke kamarnya.


Kamar Fano sangat gelap. Tidak ada cahaya yang masuk selain dari jendela yang tirainya tertutup rapat.


Dia kembali mengingat saat-saat bersama ibunya dulu. Semuanya masih sangat indah walau mereka tidak memiliki uang sepeser pun, mereka terbiasa berbagi mimpi yang rasanya terlalu jauh untuk diraih.


Mungkin karena Lydia mirip dengan ibunya, makanya Fano merasa seperti ini.


“Mom, i miss you” gumam Fano.


Ini masih siang hari, langit di luar sana masih terang benderang, udara juga terasa hangat.


Namun, kenapa Fano merasa sangat dingin dan kesepian?


Fano memunculkan layar sistem di depannya, hanya seperti robot yang diatur. Tidak ada sapaan atau ocehan tidak bermutu dari Lylac lagi.


“Dia benar-benar akan kembali kan?”


Tidak pernah Fano merasa sesepi ini setelah hidup kembali di tubuh baru.


Rasanya juga dingin dan hampa.


Apa yang harus Fano lakukan?


Kini tidak ada Lylac yang mengaturnya, yang akan menyuruhnya melakukan banyak hal, yang akan mengomel jika Fano menolak.


“Aku tidak tau jika hidupku menjadi sepi tanpa Lylac”


Fano memiliki banyak pertanyaan dalam kepalanya, tapi tidak ada lagi yang dapat menjawabnya.


Fano tidak boleh begini, dia harus tetap tegar dan tersenyum. Walau tidak akan sama seperti sebelumnya, dia akan berusaha sendiri kali ini.

__ADS_1


Dia kembali bangkit berdiri, menyibakkan tirai jendela kamarnya.


Cahaya mulai masuk dan kamar mulai terlihat terang.


Cuaca di luar sedang bagus, mungkin hanya hati Fano saja yang sedang mendung.


Perlahan dia mencoba untuk tersenyum. Sepertinya Fano terlalu sensitif siang ini.


Semangat Fano! Tersenyum saja walau semua terasa pahit.


Lamunan Fano buyar saat ia mendengar ponselnya berbunyi, rupanya ada yang menelfonnya.


Jungyu ternyata.


“Iya, kenapa?” tanya Fano setelah ia mengangkat telfon itu.


“Fano ada dimana?” tanya Jungyu.


“Aku? Sudah sampai di mansion” jawab Fano, kemudian dia merebahkan diri di ranjang, padahal tadi sudah ada niat untuk mandi, tapi urung karena telfon dari Jungyu.


“Memangnya kau dari mana? Angel saja tidak tau kau ada dimana, aku baru saja mengantarnya ke lokasi syuting, aku sedang menuju mansion ini, tapi mampir dulu beli burger” kata Jungyu.


Fano kembali duduk mendengar kata burger “Aku juga beliin dong”


“Nanti bayar dua kali lipat ya” kata


Jungyu.


“Hmm?”


“Beli minuman juga? Aku lagi mesen aa”


“Aa apaan?”


“Ais Amerikano”


“Pffttt – hahaha, kirain apaan”


“Pesen gak nih? Jangan malah ketawa” Jungyu mulai esmosi.


“Maaf deh mau itu dong, apa namanya avocado?”


“Jus?”


“Bukan, itu kopi juga kayaknya”


“Afogato gak sih?”


“Iya, Afocado”


“Udah gitu aja ya, jangan banyak-banyak”


Kemudian Jungyu memutus sambungan telfonnya.


“Yang bener avocado apa afokato – aduh, udahlah mandi aja” Fano pun meninggalkan ponselnya di atas ranjang, sementara dia pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


.


.


.

__ADS_1


author ngetik sambil dengerin lagu sedih guys, jd maaf kalo rada mellow 🥺🥺


eh reviewnya lama 😭😭 kalian sabar ya


__ADS_2