Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Penelfon misterius


__ADS_3

.


.


Akhirnya rapat selesai jam dua belas siang, tenaga Fano terkuras habis, yah ... bukan tenaga, namun pikiran, tapi badannya jadi ikut capek.


Fano sebenarnya ingin membuat produk baru, tapi jika memanfaatkan dunia lain seperti keluarga Raynold


dia tidak bisa. Fano juga tidak banyak tau apa saja yang ada di dunia itu, lagipula semuanya dikuasai oleh keluarga Raynold.


Mereka ada banyak, sedangkan Fano hanya satu, tentu saja Fano kalah.


Yang bisa Fano manfaatkan hanya Lady Lydia, itu pun dia akan segera menjadi menantu keluarga Raynold. Bisa dibilang, untuk F&A Group, Fano mendapat banyak bantuan Royal Group. Setelah diajari memasak oleh Lady Lydia, Fano jadi tau ingin membuat makanan seperti apa, namun bahan-bahan tidak biasa itu hanya bisa Fano dapat dari Royal Group.


Intinya, Fano belum bisa mandiri. Apapun yang dia buat, masih ada campur tangan Royal Group. Satu-satunya yang tidak mereka miliki hanyalah Floutesse Beauty.


Oh iya, berarti wilayah yang tidak dikuasai keluarga Raynold adalah Floutessia. Fano harus mencari tahu banyak hal tentang Floutessia, apa saja yang bisa dia manfaatkan disana.


Tapi masih butuh Lylac sih, untungnya meski Lylac masih keluarga Raynold, dia itu ada di pihak Fano.


“Wan, pijetin dong, capek nih” keluh Fano.


Dia dan Wawan masih ada di ruangan rapat, ruangan itu sudah sepi, Surya dan Andy pergi keluar untuk membelikan makan siang untuk Fano dan Wawan.


Wawan sendiri sedang asyik mengutak-atik laptopnya, itu laptop canggih yang ia beli dengan harga puluhan juta, itupun dia mendapatkan diskon karena penjualnya tau Wawan dari Floutesse beauty. Memang Fano sering membeli komputer dan peralatan lain pada toko itu, jadi mereka sudah hafal.


“Aku sibuk kak, aku juga pegel kok” balas Wawan.


“Gitu ya, anak muda jaman sekarang, susah untuk dimintai tolong” keluh Fano lagi, yang sedang mengutak-atik ponselnya.


Wawan menoleh pada Fano, “Kak Fano ngomong gitu udah kayak jarak kita jauh aja, kak Fano juga masih anak muda!” balas Wawan.


“Aku aja yang pijitin kalo gitu!”


Fano dan Wawan menoleh pada asal suara, Vivi dan Bella datang. Seperti biasa Vivi sangat ceria, beda dengan Bella yang kalem dan anggun.


“Kalian pake baju bagus gitu abis pemotretan?” tanya Wawan.


Vivi buru-buru pergi mendekati Fano lalu memijit bahunya, lalu menjawab pertanyaan Wawan “Enggak kok, kita habis dari jalan-jalan aja, beli banyak makanan juga tadi, wafel, donat, burger, apalagi ya?”


“Corndog” jawab Bella, dia duduk di depan Wawan, mengeluarkan corndog yang belum makan. Habisnya perut mereka sudah tidak kuat memakan banyak makanan. Ada empat corndog yang mereka beli, dua diantaranya original, dua yang lain adalah corndog kentang.

__ADS_1


“Minta kak!” pinta Wawan sambil menatap Bella dengan wajah memelas. Kemudian Bella menggeser semua wadah corndog ke depan Fano dan Wawan “Makan saja, kami kenyang – ngomong-ngomong, ini baju yang kita beli saat di Korea dulu, bagus ya?” kata Bella.


“Benar, kalian sangat cantik. Oh iya, nanti ke apartemen ya, ada oleh-oleh dari Jepang, kalian belum dapat kan?” sahut Fano, dia mengambil corndog dengan kentang.


Sungguh nyaman sekali, makan sambil dipijit gadis cantik, hehe.


“Oh iya kak Fano, kabarnya Noa gimana? Baik-baik aja” tanya Vivi.


“Uhuk – ehem ... baik kok, kenapa?” Fano balik bertanya, Vivi sudah selesai memijit Fano lalu duduk di kursi kosong diantara Fano dan Wawan, sambil menatap Fano dengan mata berbinar-binar “Anu .. itu – apa dia ada menanyaiku?”


Aduh, Fano jadi tidak enak dengan Vivi. Dia lupa jika Vivi kan penggemar berat Noa, kalau dia tau Noa sedang diincar nenek sihir macam Lylac, apa dia tidak marah ya?


Kemudian Fano mengingat-ingat apa pernah Noa menanyai Vivi?


“Oh, iya pernah. Saat itu aku menemaninya membuat lagu, dia menanyai mu, bagaimana aku bisa kenal denganmu, lalu aku menceritakan kisah mu saat dulu dibully itu” jawab Fano, untung saja Noa pernah menanyai Vivi, meski sebenarnya Bella juga ditanyai sih.


“Terus Noa bilang apa? Gimana reaksinya?” desak Vivi.


“Dia terlihat sedih, lalu dia bilang dia terinspirasi membuat lagu tentang pembullyan, selain kisah mu, aku juga menceritakan kisah teman-teman lain, dia sangat terinspirasi. Ku rasa sekarang dia sedang mengerjakan lagu itu bersama Sahi dan Suho, lagu tidak akan ada di comeback yang akan datang, tapi mungkin comeback selanjutnya” kata Fano.


“Aku sangat menantikannya” sahut Vivi.


“Aku juga, pasti lagunya akan sangat bagus, ku harap lagu itu bisa trending” timpal Bella.


“Tentu saja kita harus mendukung –” Fano tidak meneruskan ucapannya, saat tiba-tiba ponselnya berdering. Seseorang menelfon nya dengan nomor tidak dikenal.


“Wan, lacak nomor ini” Fano memberikan nomor itu pada Wawan, setelah selesai, baru dia mengangkat telfon itu.


“Halo?”


“Hai Fano”


Fano mengernyitkan dahinya, suara yang keluar disamarkan, sudah seperti di film-film saja, ini jelas tidak baik.


Padahal fano baru saja istirahat setelah otaknya sibuk bekerja beberapa jam.


“Kau siapa? Apa maumu” tanya Fano, dengan nada yang santai, dia tidak mau panik, buat apa juga.


“Aku hanya ingin sedikit mengerjai mu, mumpung kau sekarang ada di negara ini”kata orang di sebrang telfon, yang Fano curigai adalah Indra. Hanya dia orang lain yang tau jika Fano ada di Indonesia, bahkan media-media saja tidak memberitakan kedatangan Fano, memang sengaja dirahasiakan agar tidak heboh saja.


“Mengerjai ku seperti apa?” tanya Fano lagi, kini nadanya sudah terdengar dingin, sampai Vivi di sebelah Fano merasa agak merinding.

__ADS_1


“Seperti meletakkan bom di panti asuhan yang kau tolong waktu itu”


Fano mengepalkan tangannya karena geram, bagaimana bisa ada manusia yang menaruh bom di tempat anak-anak panti? Dia pasti sudah gila, atau memang psikopat.


Fano segera mematikan telfon itu karena sangat kesal.


“Penelfonnya ada di kos-kosan kecil yang tidak jauh dari panti asuhan, atas nama Muklis Wijaya, tapi NIK yang didaftarkan kartunya setelah ku lacak lagi orangnya meninggal, salah satu korban teman kak Fano yang jahat itu, Indra” kata Wawan.


“Sejak kapan dia temanku! Dia mantan temannya Andy!” bantah Fano, buru-buru dia menghabiskan corndognya lalu minum air putih.


“Ada apa? Kenapa namaku disebut-sebut?” tanya Andy, dia baru datang bersama Surya.


“Kalian semua ikut aku, Indra berulah dengan meletakkan bom di panti asuhan” kata Fano, sistem


yang sudah otomatis memperlihatkan map panti yang memang memiliki bom di gudang, lalu juga memperlihatkan keberadaan Indra, si pelaku.


Fano geram sekali, dia ingin membunuh makhluk satu itu, tapi dia tau dia tidak bisa sembarangan.


Pada akhirnya yang ikut Fano adalah Andy, Surya, Wawan, Vivi dan Bella, menaiki mobil mini Van yang Fano bawa. Fano pagi ini bertukar mobil dengan Yoshi, itulah kenapa dia yang memakai mini van. Karena Lylac ingin naik mobil mahal.


“Pertama, aku akan mematikan bom di dalam panti, Vivi dan Bella membantu mengeluarkan semua anak panti dan pengurus panti, sementara itu sisanya menahan Indra jangan sampai kabur” kata Fano.


Mereka yang naik mobil bersama Fano hanya mampu mengangguk saja, habisnya Fano menyetir seperti orang kesetanan, menyalip sana-sini, tapi untungnya tidak melanggar lalu lintas, kalau melanggar bisa-bisa mereka ditilang polisi.


“Apa kita tidak lapor pihak berwajib saja?” tanya Surya.


“Aku ingin menghabisinya sendiri” jawab Fano.


“Tapi Fano, kau tidak boleh sampai membunuhnya!” sahut Andy.


“Tidak kok, aku hanya akan menyiksanya” timpal Fano.


Mobil itu tidak lama kemudian sampai di depan panti, Wawan sudah tau dimana letak Indra, jadi Fano tidak perlu menjelaskan lagi.


“Ayo keluar” kata Fano.


Teman-teman Fano yang masih berdebar-debar setelah Fano menyetir dengan tidak manusiawi, mau tak mau keluar dari mobil karena Fano sedang marah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2