Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Seperti batu opal


__ADS_3

.


.


“Haahh haahh”


Fano yang sedang mengatur nafasnya itu akhirnya ambruk juga, di gua yang ada di padang pasir merah muda. Fano pagi ini sudah ada di dungeon pelangi tingkat tiga. Harusnya hari ini Fano tidak perlu pergi ke dungeon ini, Lylac juga masih meliburkannya. Namun, Fano ingin masuk, sekalian latihan sebelum pertandingan berburu melawan pangeran songong yang namanya – sebentar Author scroll dulu – oh namanya Arthur.


Fano hanya tidak ingin kalah darinya, karena dia tidak tau bagaimana kehebatan dia, meski tidak terlihat meyakinkan, bisa saja dia aslinya ahli berburu, Raja juga tidak tau dan tidak mau tau tentangnya, jadi tidak bisa ditanyai.


Oh iya, Lylac dari tadi cemberut terus, tadi Fano ingin bertanya tapi kelupaan karena tiba-tiba diserang monster.


Sekarang mereka telah selesai, sudah masuk gua tempat beristirahat juga. Ada gua di dalam gua. Gua ini berbeda, meski dindingnya juga berwarna-warni, namun dindingnya halus sekali jika disentuh, lantainya hanya berupa tanah biasa. Yang menakjubkan dari gua ini adalah di dalamnya sangat hijau, ada rerumputan, tumbuhan dan pepohonan, bahkan sungai. Kali ini sungainya hanya jernih seperti biasa, di dalamnya ada bebatuan, tapi bukan berlian, jadi Fano tidak terlalu bersemangat.


Tapi batu yang ada di dalam sungai juga cantik sih, ada batu ruby, yang merah itu, ada pula batu emerald yang hijau agak gelap, hijau muda adalah batu peridot, lalu ada yang warna ungu yaitu amethyst, ada pula batu yang jernih seperti air bernama aqua marine, ada pula batu safir warna biru tua yang indah. Ada juga jenis batu permata lain seperti garnet, topaz dan opal.


Semuanya sebenarnya sangat indah.


Tapi, entah kenapa Fano lebih bersemangat dengan berlian.


“Itu juga bisa dijadikan perhiasan” kata Lylac, dia duduk di batu besar di tepi sungai, sementara Fano sekarang berjongkok dan melongok mengintip bebatuan permata di dalam sungai yang jernih.


Sungai itu sangat dangkal, hanya sedalam sekitar 10-15 cm, jadi Fano dapat dengan mudah mengambil bebatuan di dalamnya, apalagi sungainya sangat-sangat jernih.


“Aku tau, tapi jika bukan berlian, aku tidak tertarik” kata Fano.


“Dasar! Tapi ternyata kamu bisa hafal nama-nama batu permata ya” sahut Lylac.


Fano mengangguk “Aku harus bisa mengetahui bedanya, aku kan dulu ketua mafia, jadi harus lebih pintar dari anggotaku, apalagi jika itu tentang permata, aku harus bisa membedakan mana yang asli atau palsu, agar tidak mudah tertipu. Kan tidak lucu jika ketua mafia ditipu mentah-mentah – karena kadang ada juga orang yang bisa memalsukan barang asli yang kemiripannya hampir 90% dan sangat-sangat sulit untuk dibedakan” kata Fano.


Lylac mengangguk-angguk mengerti, tentu saja ilmu dasar seperti itu harus dimiliki, tidak hanya ketua mafia, tapi orang-orang kalangan atas juga. Karena orang berduit yang tidak tahu bedanya akan mudah tertipu dan uang mereka juga mudah sekali untuk dikuras.


Kemudian Fano mengeluarkan batu ruby, warnanya merah agak gelap, permukaannya mengkilap karena air dan cahaya yang masuk.


Sangat indah.


Kemudian Fano mengeluarkan bau lain, kali ini warnanya merah muda, Fano berpikir sejenak, kemudian mengeluarkan batu lain, kali ini berwarna biru muda.


“Itu batu apa?” tanya Lylac.


“Kau tidak tau bedanya?” Fano malah balik bertanya.

__ADS_1


Lylac mengedikkan bahunya “entah, semuanya terlihat seperti batu biasa bagiku, tapi jika kau mau aku bisa mencari tahu informasinya dengan sihir” kata Lylac.


Fano berdecak malas “Semuanya ini batu safir” kata Fano.


“Ku pikir batu safir itu yang biru tua kan?” tanya Lylac.


Fano mengangguk “Yang terkenal memang itu, tapi safir memiliki warna lain juga, seperti ini – menurutku warna yang bagus itu batu opal, karena satu batu memiliki berbagai warna, cantik sekali” kata Fano, dia kemudian mengeluarkan batu opal dengan warna antara putih, biru, merah muda, ungu dan kuning. Meskipun warnanya ramai, namun warna-warna itu selalu dapat menyatu dengan baik dan terlihat indah.


Melihat batu itu mengingatkan Fano pada dirinya sendiri, karena dia kan saat ini adalah gabungan dari dua kepribadian berbeda, antara Albert dan Fano. Apalagi keduanya memiliki warna kepribadian yang bisa dibilang bertentangan.


Fano bahkan tidak tau sekarang dia ini masih Albert atau sudah cenderung pada Fano, sekarang semua sudah seperti batu opal, semua warna menyatu menjadi harmoni yang baru.


“Oh iya, Lylac, aku mau nanya” kata Fano.


“Apa?”


“Kau pagi ini terlihat cemberut terus, apa ada yang terjadi?” tanya Fano.


“Ti – tidak ada” sahut Lylac dengan cepat.


“Bukankah kau diseret kakakmu pergi kemarin sore? Apa yang terjadi? Apa kalian membicarakan sesuatu? Pasti gara-gara itu kan?” tanya Fano dengan beruntun, malah membuat Lylac kembali cemberut.


“Kau benar, kak Lino sudah tau tentang aku yang menyukai Noa, kak Lino bilang bukankah lebih baik jika aku dengan dewa dari dunia lain yang pernah ku ceritakan itu – tapi, aku tidak menyukainya, kenapa mereka malah memaksaku sih? Aku tidak masalah menjadi manusia normal. Lalu, sama sepertimu, kak Lino menganggap Noa masih terlalu kecil untukku – maksudku, kami hanya terpaut dua tahun! Apa itu sangat jauh bagi kalian? Apa aku salah jika menyukai seseorang?”


Fano tidak suka, dia jadi ikutan sedih dan ingin menangis.


Mungkin karena Fano dan Lylac memiliki koneksi, jadi apa yang Fano rasakan bisa dirasakan Lylac begitu juga sebaliknya.


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu kok, aku – tidak benar-benar melarang mu, aku – minta maaf” kata Fano, dia jadi tidak enak sendiri karena sering melarang Lylac.


“Tidak apa, aku mengerti, kau tidak sungguh-sungguh, tapi kak Lino – hiks, dia memarahiku ... hiks, dia kejam sekali!”


Fano menepuk-nepuk punggung Lylac, berharap dengan begitu dia bisa tenang.


“Bagaimana dia memarahi mu? Mungkin dia tidak bermaksud seperti itu, tenang dulu ya?”


Lylac mengangguk pelan “Maaf, aku jadi sangat cengeng, aku sensitif akhir-akhir ini.”


“Aku minta maaf jika aku pernah menyinggung mu” kata Fano.


Lylac menggeleng “Aku tau kau hanya bercanda, aku bisa membaca pikiranmu, ingat?”

__ADS_1


“Ayo kita kembali, aku harus bersiap-siap untuk menerima tantangan Arcer” Fano.


“Arthur” Lylac.


“Oh, iya, itu.” Fano.


“Kau yakin mau menerimanya? Aku tau semalam kau bekerja kan?” Lylac.


“Iya, aku menyelesaikan setengah pekerjaan untuk hari ini, karena sangat mendesak, aku baik-baik saja kok, jangan khawatir” kata Fano, sambil tersenyum untuk meyakinkan Lylac.


“Meski kau bilang begitu, bukan berarti tubuhmu akan mengikuti keinginanmu, jika tubuhmu lelah, nanti akan lelah dengan sendirinya” ucap Lylac.


“Aku akan berhenti jika memang nanti tidak kuat, aku janji” kata Fano.


“Janji ya? Jangan paksakan dirimu, Arcer tidak sehebat itu” Lylac.


“Maksudmu Arthur?” Fano.


“Iya, dia” Lylac.


Mereka pun keluar dari dungeon lalu kembali ke kerajaan, karena mereka diminta untuk sarapan di kerajaan saja. Lady Lydia dan beberapa koki dari restorannya telah berjanji untuk memasakkan anggota kerajaan sarapan spesial, jadi tentu saja Fano dan Lylac harus ikutan.


Sampai di kerajaan, sudah banyak yang datang dan duduk manis di meja makan panjang. Hampir semua anggota keluarga Raynold ada disini.


Seperti Felix, Chris, Roi, Subin, Felly, Sky, dan lain-lain, pokoknya keturunan Raynold semuanya ada. Sampai Dojun dan Yua juga ada, Abel dan Aron pun ada. Abel melambai pada Fano dan Lylac dengan antusias. Chrystal dan Peter juga tentu saja ada, lalu ... eum – mana Queen?


“Fano, bisa kah kau panggilkan Queen di kamarnya? Kami sangat sibuk, bisa kau panggilkan dia?” pinta ibunya Queen, Luna.


Fano tersenyum lalu mengangguk “Baiklah, saya akan panggilkan.”


Bukannya Fano tidak mau memanggil Queen, tapi padahal ada sepupu lain yang tidak melakukan apapun, tapi yang disuruh malah Fano. Sekali lagi, Fano tidak keberatan, tapi kan Fano takut disembur calon ayah mertua lagi jika ketahuan memasuki kamar Queen.


Sudahlah, kan yang menyuruh juga ibunya Queen, jadi pasti aman lah.


“Queen? Apa kau sudah bang - hmm” Fano berdecak melihat kekasihnya masih tertidur lelap di atas ranjangnya.


Fano tau, Queen pasti capek, sampai tidur  selama ini.


Fano pun mendekati Queen lalu mengguncang pelan bahunya “Queen, bangun sayang, sudah pagi” ucap Fano, sengaja dia berbisik tepat di depan telinganya, biar kedengaran jelas.


.

__ADS_1


.


__ADS_2