
.
.
Yang datang bukan hanya Queenza, ada Bima juga bersamanya. Selain itu teman-teman Fano juga datang bersamaan dengan Queen dan Bima, yang datang ada Yoshi, Dave dan Wawan.
“Padahal yang aku suruh cuma Yoshi, kenapa dua bocil ini ikutan?” protes Fano.
“Kita lagi barengan tadi, main game, mereka maksa ikut” kata Yoshi.
Bima mengeluarkan sesuatu dari paper bag besar yang Queen bawa tadi, flying dog, bentuknya seperti piring, biasanya itu dilempar lalu anjing akan menangkapnya, intinya itu adalah mainan anjing.
Tapi mereka tidak ada yang membawa peliharaan, untuk apa mainan itu?
“Abel.. ayo main” ajak Bima.
Yoshi, Dave dan Wawan shock mendengarnya, bagaimana bisa mainan untuk peliharaan dibuat untuk main dengan gadis cantik nan anggun seperti itu? Maklum saja ketiga orang itu belum tau bagaimana kelakuan Abel.
“Nanti dulu Abel mau kenalan dulu sama kakak-kakak ganteng!” sahut Abel, sambil menatap Yoshi, Dave dan Wawan yang baru dia temui hari ini. Dia terlihat senang sekali karena ada banyak teman yang datang.
“Yang ini siapa? Ganteng kayak orang Jepang!” Abel menunjuk Yoshi
“Aku memang dari Jepang, namaku Nakamoto Yoshi..” kata Yoshi sambil tersenyum tampan, membuat Abel terpesona, mungkin dia melihat Yoshi seperti ikemen di Anime atau Dorama.
“Apa? Kanemoto?” tanya Bima
“Yang fokus! Dia bilang Sakamoto” sahut Queen
“Bukan! Kakaknya bilang tadi Ajinomoto” Abel
Fano yang mendengar perdebatan mereka hanya terkekeh dipojok sambil memakan onigiri, dia senang melihat raut Yoshi yang kesal tapi tidak berani untuk mengoreksi.
“Ya kan kak?” tanya Abel.
“Naka.. moto” Yoshi
“Okay, next!” Queen menatap Dave agar melanjutkan perkenalannya.
Dave berdehem sebentar mengenalkan diri, tapi baru juga dia membuka mulut ingin berbicara, Queen sudah menyahut duluan.
“Oh ini anaknya om Zeus kan? Abel masih inget Om Zeus gak? Dia doktermu waktu kamu sakit dulu” kata Queenza
Abel menggeleng “Yang mana?”
“Abel pasti udah lupa, apa sih yang dia inget – ADUH! Sakit Bel” Bima memegangi rusuknya yang barusan disikut oleh Abel.
“Inget kok! Pak dokter yang naksir mama kan?” Abel “Kakak namanya siapa? Kakak ganteng deh, tapi masih ganteng kak Fano sih” lanjut Abel
“Gak usah bawa-bawa namaku, lagian masih kecil kok udah tau naksir segala” sahut Fano.
“Diajarin kak Bima” Abel
“Kok aku?” protes Bima tidak terima meski memang dia yang banyak mengajari Abel hal-hal seperti itu, makanya mamanya Abel lebih memilih babysitter daripada dijaga oleh sepupunya, nanti diajari yang tidak-tidak.
“Nama kak ganteng siapa?” tanya Abel lagi.
“Dave” jawab Dave singkat, jika dengan orang baru dia malu-malu.
“Lalu yang ini?”Abel beralih pada Wawan yang terus menunduk, dia bukan hanya malu, tapi agak takut dengan orang baru, dia sangat tertutup.
“Ri.. Ridwan..”
“Wawan! Namanya Wawan” sahut Bima, dia kan sudah kenal Wawan kemarin saat Wawan datang ke apartemen Fano.
__ADS_1
“Namaku Arabelle, panggil aja Abel, ayo kita main kak!” Abel sudah berdiri, sudah kembali bersemangat untuk bermain, energinya tidak habis-habis memang.
Queen merebut mainan dari tangan Bima lalu ikut berdiri “Siapa pun yang berhasil menangkap ini duluan akan mendapat uang 10 juta”
Mendengar itu Bima, Yoshi, Dave dan Wawan ikut berdiri, siapa yang akan menyia-nyiakan mendapat uang dengan instan? Bahkan Fano juga sedang memikirkan mau ikutan atau tidak.
Bukan hanya mereka, anak-anak yang kebetulan juga sedang piknik di sekitar sana dengan orangtuanya juga ribut mau ikutan. Orangtuanya sepertinya mau ikut juga tapi tentu saja jaim, jadi mereka menyuruh anaknya saja.
“SIAP SEMUANYA?!” teriak Queen
“SIAP!!”
Setelah itu Queen melempar benda tersebut tinggi-tinggi, benda itu melayang tinggi sekali, lalu para bocah berlarian untuk mendapatkannya.
Setelah mereka pergi Queen menarik Fano untuk kembali duduk “Gak usah ikutan” kata Queen.
“Tapi aku juga ingin uang 10 juta secara cuma-cuma” sahut Fano
“Kalau kamu ikut yang lain tidak punya kesempatan menang”
Fano mengangguk setuju “benar juga – tapi kau benar-benar memberi uang 10 juta?”
Queen tersenyum “Tentu saja, kalau gak gitu teman-temanmu sama Bima gak bakalan mau ikutan, iya kan? aku hanya ingin mereka main dengan Abel”
Fano mendesah malas, lalu bersandar pada batang pohon apel besar di belakangnya. Mereka pas sekali berteduh di bawah pohon apel yang cukup langka, yaitu apel hitam, atau black diamond apel. Itu adalah apel yang biasanya tumbuh di sekitar dataran tinggi di tibet, tempat-tempat yang sejuk, karena agak susah menumbuhkannya jadi buahnya juga agak langka, karena itu harganya jadi mahal sekitar 105 ribu satu buah.
Memang keluarga Raynold tidak akan sulit untuk mendapatkan black diamond aple, karena adik dari mertuanya Albert kan menikahi konglomerat Shanghai, tentu saja untuk mendapatkan apel hitam itu sangat mudah.
Tapi ini bukan hanya buahnya, tapi pohonnya juga lho.. mana sudah tumbuh besar sekali dan buahnya sudah cukup banyak.
Tiba-tiba sebuah aple hitam dengan ukuran sangat besar muncul di depan wajah Fano “Kau mau?” tanya Queen.
Fano menoleh padanya, dia terkejut melihat Queen sudah mendapat beberapa apel hitam bersamanya.
“Seperti ini”
Kemudian Queen menepuk batang pohon, buah-buah berjatuhan, tapi seakan memiliki sedikit gravitasi, jatuhnya buah lebih lambat dari biasanya, hingga mendarat di tikar dengan keadaan baik-baik saja dan masih mulus.
Fano menatap Queen tidak percaya.
“Jangan banyak tanya, makan saja” Queen meraih tangan Fano, meletakkan apel bersih tersebut ke tangan Fano.
Kemudian seorang petugas kebun datang membawakan keranjang buah untuk Queenza, lalu dia memasukkan semua buah yang Queenza jautuhkan ke dalam keranjang.
“Saya akan mencucinya untuk tuan putri” kata petugas itu, setelahnya dia pergi untuk membersihkan apel.
Kalau sudah memanggil tuan putri, berarti dia seorang butler yang memang bertugas menjaga kebun ini.
“Bagaimana? Enak?” tanya Queen, kembali menoleh pada Fano yang sudah mengigit apel hitamnya. Fano mengangguk karena memang rasa buahnya enak, buah apel hitam ini lebih manis dan lebih segar dari apel biasanya.
“Selain apel hitam, kami punya apel putih.. tapi kalau tidak salah itu ditanam di kebun buah yang di Bogor” kata Queen, dia mengambil salah satu kotak bekal yang dibuat oleh Fano lalu membukanya. Dahi gadis itu mengernyit melihat di dalam kotak ternyata potongan buah. Ada yang berbentuk kelinci lucu, ada juga yang berantakan.
Queen mengangkat yang bentuknya berantakan dengan garpu buah “Apa ini?”
“Itu buatan Abel, hargai dia, jangan dicela” sahut Fano.
Mendengar itu Queen hanya diam dan memakan potongan buah yang berantakan itu “Kalau yang kelinci ini?” tanya Queen.
“Jangan dimakan, itu buatanku.. Abel bisa marah – Hei aku sudah bilang jangan dimakan juga” Fano menatap Queen kesal karena memakan potongan buah yang ia buat khusus untuk Abel.
Queenza tidak peduli dengan peringatan Fano, dia malah ikut bersandar di sebelah Fano.
“Kenapa kau bisa menjaga Abel?” tanya Queen
__ADS_1
Fano mengedikkan bahunya “Entah, mungkin aku harus melatih kesabaranku”
Queenza terkekeh mendengarnya “Itu benar, tidak mudah menjaga Abel, selain kau harus memiliki kesabaran ekstra, kau juga harus memiliki energi ekstra”
“Apa Abel punya kakak?” tanya Fano
“Punya kok.. seumuran denganku”
“Umurmu berapa?”
“17? Bukankah kita seumuran?”
Fano menggeleng “Aku 18 tahun”
“Sama aja.. gak beda jauh. Tapi, kakaknya Abel ada di New York, membantu rencana membuat resort baru di Malibu” kata Queenza
“Kau tidak ikut membantu?”
Queenza menggeleng “Tidak, aku kan perempuan, jadi tidak wajib.. aku akan membantumu”
“Kenapa membantuku? Apa yang kau inginkan dariku?”
Queen menoleh pada Fano “Hatimu?”
Fano juga menatap Queen, mencari ketulusan disana, tapi Fano juga tidak menemukan kebohongan.
“Kenapa aku?”
Queen mengangkat tangan, mengusap pipi Fano dengan jemari lentiknya, kini jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja. Fano bisa menghirup aroma wangi yang terasa lembut, segar dan juga mewah tercium dari tubuh Queenza.
Terbawa suasana, Fano ikut mendekatkan wajahnya, dia seakan terperangkap dalam pesona kecantikan itu.
Sedikit lagi bibir mereka tertem – “KAK QUEEN!!!”
Mereka saling menjauh, suasana
canggung pun tak dapat dihindari.
“Kalian lagi ngapain sih?” Bima
“Kak Queen kita udah nangkep piringnya!!” teriak Abel semangat.
Queen melihat mainan itu ada di tangan Wawan, si Wawannya terlihat takut-takut untuk mendekat, sampai harus ditarik Abel untuk mendekat.
“Kamu yang juara satu?” tanya Queen, Wawan hanya mengangguk pelan.
Queenza menarik tasnya mendekat, dia menggunakan tas tangan cantik warna putih dari merek gucci, dari tas itu Queen mengeluarkan banyak sekali uang lembaran merah.
“Ini sepuluh juta untukmu” Queen memberikan segepok uang untuk Wawan, yang lain melotot tidak percaya Queen benar-benar memberi uang 10 juta.
“Kak Queen Abel juara dua!!” teriak Abel lagi, Queen memberinya segepok uang juga “Lima juta aja ya”
Abel meloncat-loncat bahagia mendapat uang dari Queen, padahal dia sendiri punya kartu warna hitam untuk dia jajan, tapi memang mendapat sesuatu dari orang lain membuat bahagia juga.
“Apa ada yang juara tiga?” tanya Queen.
Tidak ada yang menjawab, tapi Abel menunjuk Dave “Dia juara tiga”
Dave menggelengkan kepalanya pelan, dia malu jika diberi uang padahal dia tidak menang.
Queenza memberikan uang tiga juta untuk Dave, setelah itu Queen masih membagikan uang untuk yang lain masing-masing satu juta. Bocah-bocah tidak dikenal yang ikutan senang sekali mendapat uang gratis.
.
__ADS_1
.