Sistem Kekayaan Hukuman

Sistem Kekayaan Hukuman
Gender anak pertama


__ADS_3

.


.


Fano dan Queen sudah sampai di dalam kamar, setelah itu Queen membuka bungkusan kain, seperti


bundelan yang mewah karena kainnya adalah kain sutra, serta diikat dengan pita emas. Queen memberikan bundelan kain itu pada Fano.


“Apa ini?” tanya Fano.


“Coba buka saja – itu adalah benih mawar biru, ku pikir kau sangat menyukainya, jadi kami memberikannya untukmu, tanam saja di pekarangan rumah ini” kata Queen.


Fano membuka bungkusan itu, terdapat banyak benih di dalamnya. Benihnya unik, berbentuk bulat dan berwarna biru, seperti kelereng namun itu jauh lebih kecil dari kelereng.


“Ini bisa ditanam di dunia ini?” tanya Fano, dia masih tidak yakin benih itu dapat dia tanam di pekarangan rumahnya.


“Menanamnya membutuhkan energi sihir, kau dan lylac kan punya, jadi pasti bisa lah, aku juga melihat energi sihir darimu sudah semakin kuat lalu – kenapa kau tiba-tiba memiliki elemen?” tanya Queen, matanya menatap Fano penuh selidik.


“Apa itu aneh?” tanya Fano.


Queen berdecak malas “Ya aneh lah Fano, kau tau tiap orang memiliki elemen sihir yang berbeda-beda dan


itu sesuai dengan bawaan lahirnya, aku misalnya, elemen sihirku hanya cahaya, es, air dan angin. Aku tidak bisa tiba-tiba memiliki elemen sihir kegelapan atau api”


Fano mengangguk-angguk mengerti “Begitu ya”


“Apanya yang ‘begitu ya’? lalu sekarang kenapa kau memiliki hampir semua elemen? Meski semuanya


elemen dasar sih, eh tapi kegelapan sudah level dua” kata Queen “Aku bisa melihatnya, jadi tau, yang bisa melihat kemampuan sihir orang lain hanya aku, Chrystal dan Peter. Yang lain tidak tau” tambah Queen.


Fano mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Queen lalu tersenyum “Jangan pikirkan itu dulu, itu tidak penting – oh iya, kenapa tadi mencari Lylac?”


“Oh hampir lupa, dia kabur setelah suami untuknya telah diputuskan, kakek bilang calon suami untuknya adalah penguasa di salah satu dunia yang sangat makmur, aku tidak tau yang dimaksud itu dunia mana” kata Queen.


“Ada dunia lain lagi selain Ardez?” tanya Fano.


Queen mengedikkan bahunya “Entah, aku saja juga baru dengar kok, tapi ku rasa dunia itu isinya tidak jauh berbeda dengan Ardez, hanya saja lebih di dominasi manusia, kau tau kan kalau Ardez banyak di dominasi oleh makhluk mistis?”


Fano memegangi kepalanya, terlalu banyak informasi membuatnya pusing. Masalahnya ini adalah informasi yang harus bisa diterima oleh akal sehat Fano. Padahal ada dunia lain bernama Ardez saja sudah seperti jauh sekali dari logika, eh ternyata ada dunia lain lagi.


Memang sih Ardez banyak didominasi oleh makhluk mistis seperti elf, iblis, peri, dan lain-lain. Manusia ada namun tidak sebanyak itu.


“Yang pasti, dunia itu diawasi oleh seorang dewa, yang juga peri roh tentunya, sama seperti Charlize dan Diamond” kata Queen.


“Diamond siapa?” tanya Fano.


“Kalau Charlize mengawasi bumi, nah Diamond itu yang mengawasi Ardez” jawab Queen.


Fano pikir selama ini Charlize itu dewi di Ardez, ternyata bumi ya? Pantas saja Felix tau banyak hal tentang Fano dan bisa membantu reinkarnasi Fano segala.


Tapi jika Lylac memilih kabur ke tempat ini bukankah itu sama saja? ibunya adalah dewi yang mengawasi bumi, bukankah harusnya dia bisa cepat ketahuan?


Entahlah, Fano jadi pusing, memang Lylac datang-datang memberi Fano banyak beban pikiran saja.


“Jadi calon suami Lylac seorang dewa?” tanya Fano.


“Lebih tepatnya dewa baru, baru diangkat tidak lama ini, ceritanya begitu, aku diberitahu kakek dan aku kemari untuk menengok Lylac, dia tidak membuat masalah kan?” tanya Queen.


“Tidak membuat masalah bagaimana? Dia menampakkan dirinya pada semua orang, mengatakan ingin jadi manusia dan berniat menikahi Noa segala” jawab Fano.


“APA?!!! NOA?? TIDAK BOLEH!!”


Fano sampai harus menutup telinganya, jika tidak dia bisa tuli mendadak, teriakan Queen begitu menggelegar hingga jantung Fano hampir copot.

__ADS_1


“Berano-beraninya dia menyentuh anakku!”


“Queen, Noa bukan anakmu!”


“Tapi aku sudah menganggapnya anakku, soalnya mirip denganmu”


Fano tidak tau harus membalas Queen bagaimana, sampai kemudian Queen kembali berkata “Ya udah kalo gitu kita buat sendiri aja ya? anak” kata Queen, kemudian dia memeluk Fano erat.


“Aku ingin anak perempuan” kata Fano, buru-buru Queen melepas pelukannya “Kau bilang apa?”


“Perempuan, pasti cantik sekali kan?” kata Fano. Karena dia pernah punya anak laki-laki sebelumnya, Fano pikir akan menyenangkan memiliki anak pertama perempuan.


“Tidak Fano, anak pertama harus laki-laki!” tolak Queen.


“Anak perempuan bisa menjadi kakak yang baik, kakak pertama laki-laki agak menyebalkan” kata Fano.


“Kau tau apa sih? Kakak pertama laki-laki – yah ... Kaisar memang menyebalkan, tapi kakak pertama


laki-lakinya kakek, kakek Chris sangat baik, ayolah, kita harus melihat contoh-contoh yang bagus saja” ucap Queen, tetap bersikeras.


“Dojun kakak pertama laki-laki dan dia tidak menyenangkan” sahut Fano.


“Kenapa kau harus melihat contoh yang buruk? Kaisar dan Dojun itu sejenis – kita harus melihat kakek Chris saja, okay?” Queen.


“No!”


“Fano!”


Kemudian mereka terdiam saat pintu kamar Fano dibuka oleh seseorang, ternyata itu Angel, dia


masuk sambil membawa beberapa paper bag di tangannya, tersenyum cerah melihat Queen ada disana.


“Halo Queen!!”


“Angel!!”


Fano tidak mengerti dengan perempuan.


“Kalian tadi membicarakan apa? Sepertinya seru” tanya Angel.


“Oh itu, kita membicarakan anak pertama, menurutmu harus laki-laki dulu atau perempuan dulu?” tanya Queen.


“Oh, tentu saja harus laki-laki dulu” jawab Angel.


Fano membelalakkan matanya tidak terima, kok mereka berdua kompak sih?


“Tuh, Fano dengar, harus laki-laki dulu, masa Fano bilang harus perempuan sih” kata Queen.


Angel menatap Fano tidak percaya “Memang kita tidak bisa memilih gender dari bayi, tapi jika disuruh memilih harusnya anak laki-laki duluan lah Fano, agar bisa melindungi adik-adiknya” kata Angel.


“Kakak perempuan juga bisa melindungi adik-adiknya dengan baik” sahut Fano.


“Fano dengar –”


Setelah itu Fano menyesal karena mengajak mereka berdua berdebat. Malam itu jadi lebih panjang dari sebelumnya, ujung-ujungnya Fano yang tidak tahan memilih keluar dengan keputusan dia tidak peduli lagi gender anak pertamanya. Mau perempuan atau laki-laki sama saja.


Fano jadi lupa jika Lylac, Noa, Yoshi, Abel dan Aron sedang keluar. Tau-tau sudah jam sepuluh malam saja.


Buru-buru Fano mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Yoshi.


“Yoshi kalian dimana? Cepat pulang ini sudah malam, anak dibawah umur tidak boleh keluar lebih dari jam sepuluh” kata Fano.


“Kau ini kolot sekali Fano, ini sedang perjalanan pulang, sabar dulu” sahut Yoshi dari sebrang telfon, kemudian telfon dimatikan begitu saja oleh Yoshi.

__ADS_1


“Haduh, dasar mereka itu”


Angel merebut ponsel Fano, lalu menjauhkannya dari Fano “Gak usah telfon-telfon Yoshi, biar saja dia” kata Angel.


“Masalahnya dia membawa anak-anak pergi keluar, malam-malam begini” sahut Fano.


“Kan ada Aron dan Lylac juga – eh, Lylac itu seumuran kita ya?” tanya Angel, dia kan belum kenal dengan Lylac.


“Katanya sih seumuran denganku” jawab Fano.


“Berarti kalau sama Noa, lebih tua Lylac dong, berapa tahun itu?” tanya Angel.


“Berapa ya? Tiga? Atau dua?” jawab Queen.


Mereka bertiga hanya duduk-duduk di atas ranjang, dengan Fano berada di tengah, Fano mau keluar tidak boleh.


Mungkin karena besok Fano sudah pergi ke Jepang, jadi mereka ingin bersama Fano lebih lama. Karena kan mereka tidak bisa ikut, Angel sangat sibuk, Queen sendiri juga sibuk dengan kerajaan di dunia lainnya. Kan kerajaan Queen ada persiapan pernikahannya Kaisar dan Lady Lydia.


Fano tidak ikut persiapan itu, tapi dia mungkin akan datang ke pestanya, Fano cuma terima jadi saja. lagipula dia memang tidak perlu ikutan mempersiapkan apapun.


“FANO!!!”


Teriakan Lylac sudah terdengar, Fano ingin bangkit untuk menemuinya, tapi Queen menghentikan Fano. “Tidak perlu, biarkan dia saja yang jalan kemari” kata Queen, kemudian menahan Fano dengan memeluk Fano dari samping.


Sementara itu Angel sudah tidak sabar untuk melihat siapa dan bagaimana rupa Lylac, tapi dia juga tidak ada niatan untuk beranjak dari atas ranjang.


BRAK


“Hei!! Pelan-pelan jika membuka pintu!” protes Fano kesal, lebih kesal lagi setelah melihat Lylac datang dengan menggandeng Noa.


“Hei kau! Lepaskan Noa ku!!” teriak Queen.


“Tsk! Keponakan tidak sopan, Noa ini calon pamanmu, jangan mengatakan ‘Noa ku’ seolah dia milikmu, ingat ya, Noa itu milikku, dan dia sudah setuju untuk menjadi milikku, iya kan Noa?”


Noa mengernyitkan keningnya tidak mengerti, tapi dia kemudian memilih untuk mengangguk saja biar cepat.


“Tuh kan” Lylac.


“Tuh kan tuh kan apanya! Dia terpaksa, Noa, kemari kamu nak” Queen melambaikan tangannya agak Noa berjalan mendekatinya. Noa sudah menurut untuk pergi menemui Queen, bagi Noa, Queen sudah seperti kakak perempuan, apalagi dia kan pacarnya Fano. Queen juga sayang sekali dengan Noa, jadi Noa menyukainya, sebagai kakak perempuan.


“Tidak Noa, kau tetap bersamaku” Lylac kembali menarik lengan Noa agar tetap berdiri di depan pintu kamar Fano.


“Tunggu! Tunggu! Aku masih tidak mengerti, Lylac ini siapa sih?” tanya Angel, dia masih bingung dengan


keadaan sekarang, apalagi setelah Lylac mengatakan jika Queen adalah keponakannya.


“Gini Angel, Lylac ini anak kakekku dari istri yang baru, jadi bisa dibilang, dia bibiku” jawab.Queen.


Angel terlihat shock kemudian kembali menatap Lylac dan Noa, menggelengkan kepalanya dengan dramatis


lalu berkata “aku tidak merestui kalian berdua! Tidak mungkin Queen memanggil Noa sebagai pamannya, pokoknya aku tidak setuju” kata Angel.


Mendengar itu Lylac berdecak malas “Status tidak penting, yang penting itu cinta!”


“Dia bahkan masih tidak mengerti dengan konsep pernikahan, iya kan Noa?” tanya Angel.


Noa hanya menatap mereka semua bingung, sampai kemudian dia melepaskan tangan Lylac dari lengannya lalu berkata “Aku ngantuk” dengan nada polosnya.


“Ayo Noa, ku antar tidur, Noa dan Abel sudah harus tidur ya, oh iya, pertama-tama cuci muka dan gosok gigi dulu” Queen turun dari ranjang, lalu membawa Noa menjauh dari kamar Fano.


“Menyerahlah Lylac” kata Fano, dengan senyuman sinis.


“Tidak dan tidak akan pernah, aku tidak mau menikah dengan dewa – ah sudahlah”

__ADS_1


.


.


__ADS_2